Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Bunga Tanjung di Ujung Jalan
Langkah demi langkah menyusuri gang sempit itu akhirnya membawa mereka pada sebuah jalan perumahan yang tertata rapi. Deretan rumah berpagar rendah dengan pekarangan yang ditumbuhi rupa-rupa kembang menyambut pandangan. Udara di sini terasa lebih sejuk, terbebas dari debu dan residu amarah yang ditinggalkan di simpang tiga.
Sinaca menghentikan langkahnya di depan sebuah rumah bercat putih gading. Sebuah pohon bunga tanjung tumbuh rindang di sudut halamannya, menaungi sebagian pagar besi yang bersahaja. Gadis itu memutar tubuhnya, menghadap Jenawa yang sedari tadi setia berjalan selangkah di sisinya.
"Kita telah sampai," ujar Sinaca, memecah kesunyian panjang yang sedari tadi membentang di antara mereka. "Ini adalah kediaman saya, Saudara Jenawa."
Jenawa menatap rumah itu sejenak, mengamati kesederhanaan dan kerapian yang begitu mencerminkan sosok penghuninya. Pemuda itu kemudian kembali menatap Sinaca. Ia memasukkan kedua belah tangannya ke dalam saku celana, mencoba menyembunyikan rasa canggung yang tiba-tiba menyusup saat menyadari bahwa perjalanan singkat ini telah usai.
"Rumah yang asri," puji Jenawa dengan nada tulus, jauh dari kesan merayu yang murahan. "Pantas saja kau memiliki pembawaan yang tenang. Lingkungan ini menempamu dengan baik, Sinaca."
Garis wajah Sinaca yang biasanya kaku perlahan melembut. Seulas senyum tipis—sangat tipis hingga nyaris tak kasat mata—terbit di sudut bibirnya. "Terima kasih atas apresiasi Anda. Dan, terima kasih pula karena telah bersedia mengantarkan saya hingga tiba di pelataran rumah dengan selamat."
"Itu sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang laki-laki, meskipun kau berkeras menolaknya sejak tadi," balas Jenawa, tak kuasa menahan senyum simpul di wajahnya.
Keheningan kembali mengambil alih sejenak. Namun, kali ini bukan keheningan yang kaku, melainkan jeda di mana sepasang mata saling membaca apa yang tak terucap oleh lisan. Angin senja berembus perlahan, menjatuhkan beberapa kelopak bunga tanjung yang menguning ke atas paving jalan, tepat di antara ujung sepatu mereka.
Sinaca menunduk sejenak menatap kelopak bunga itu, sebelum kembali menatap manik mata pemuda di hadapannya. Ada sebersit kekhawatiran yang tak mampu ia sembunyikan sepenuhnya.
"Saudara Jenawa," panggil Sinaca, suaranya sedikit merendah. "Tindakan Anda yang meninggalkan kawan-kawan Anda di tengah perseteruan... bukankah hal tersebut akan membawa konsekuensi bagi Anda esok hari di sekolah?"
Jenawa tertegun. Ia tak menyangka gadis yang sedari tadi menentang prinsipnya ini justru memikirkan keselamatannya di hadapan kawan-kawannya sendiri. Rasa hangat seketika menjalari dada Jenawa.
"Kau mengkhawatirkanku, Sinaca?" godanya dengan sebelah alis terangkat, memunculkan kembali raut wajah seorang pemimpin jalanan yang tangguh.
Sinaca segera menegakkan posturnya, merapatkan pelukan pada buku di dadanya. "Saya hanya mengutarakan sebuah probabilitas yang rasional. Dalam sebuah kelompok yang menjunjung tinggi apa yang Anda sebut 'solidaritas', desersi adalah sebuah pelanggaran yang serius."
Mendengar diksi baku dan tajam itu, Jenawa tertawa pelan. Tawanya terdengar renyah, mengusir sisa-sisa awan mendung di sore itu.
"Biarkan urusan hari esok menjadi tanggung jawab Jenawa esok hari," jawabnya menenangkan. Jenawa mengambil satu langkah mundur, memberikan ruang hormat bagi gadis itu. "Yang terpenting saat ini adalah, Nona Sinaca telah tiba di rumah tanpa kurang suatu apa pun. Jika kawan-kawanku menuntut penjelasan, aku akan memberikannya dengan caraku sendiri."
Sinaca menghela napas pasrah, menyadari bahwa watak keras kepala pemuda ini agaknya sama besarnya dengan miliknya sendiri.
"Baiklah jika itu keputusan Anda," ucap Sinaca seraya membuka slot pagar rumahnya. Ia melangkah masuk, lalu berbalik dari balik pagar. "Selamat sore, Saudara Jenawa. Berhati-hatilah dalam perjalanan pulang."
"Satu hal lagi, Sinaca," panggil Jenawa sebelum gadis itu membalikkan badan menuju pintu rumah.
Sinaca menghentikan gerakannya. "Ada hal lain yang ingin Anda sampaikan?"
Jenawa menegakkan tubuhnya, menghilangkan postur santainya. Ia menatap Sinaca lekat-lekat, menyalurkan sebuah kesungguhan dari balik sorot matanya yang tajam.
"Esok hari, dan hari-hari setelahnya, panggil aku Jenawa saja. Tanpa perlu embel-embel 'Saudara'. Aku ingin kau mengenalku bukan sebagai orang asing yang tak sengaja menghalangi jalanmu, melainkan sebagai seseorang yang kelak akan sering berjalan di sisimu."
Mata Sinaca sedikit melebar mendengar deklarasi yang diucapkan dengan bahasa yang tertata namun penuh kepastian itu. Ia tidak mengiyakan, namun ia juga tidak menampik. Gadis itu hanya mengangguk pelan, memberikan isyarat pamit, sebelum akhirnya berjalan gontai memasuki rumah, meninggalkan Jenawa yang masih berdiri mematung di bawah bayang-bayang pohon tanjung.
Sore itu, sang panglima jalanan SMA Bangsa pulang dengan langkah ringan. Ia tidak memenangkan pertarungan melawan SMA Pelita, namun ia menyadari bahwa ia baru saja memenangkan sesuatu yang jauh lebih berharga. Dan esok hari, ketika badai pertanyaan dari Seno dan kawan-kawannya menerjang, Jenawa tahu ia sudah memiliki perisai baru di dalam hatinya.
semangat Thor nulisnya...💪💪💪