NovelToon NovelToon
SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:137
Nilai: 5
Nama Author: hai el

Arsa Kalandra — pria 30 tahun yang bekerja sebagai story archaeologist: ia dibayar keluarga untuk merekonstruksi kisah hidup orang-orang yang telah meninggal, menyusun kepingan memori menjadi sebuah warisan. Ia hidup di dalam cerita orang lain sementara hidupnya sendiri membeku sejak enam tahun lalu.
Wren Amara — perempuan 27 tahun, pengisi suara buku audio yang diam-diam memiliki kanal anonim bernama "Suara Asing" — tempat ia membacakan surat-surat cinta usang yang ia temukan di toko barang antik. Jutaan orang mendengarkan suaranya, tapi tak ada yang tahu wajahnya. Ia jatuh cinta pada penulis surat-surat itu, seseorang yang menulis untuk "Langit" — nama yang tak pernah bisa ia temukan.
Yang tidak mereka tahu: surat-surat itu adalah surat yang tidak pernah terkirim dari adik Arsa yang sudah tiada.
Dan ketika Arsa ditugaskan merekonstruksi kisah hidup seseorang yang ternyata terhubung dengan adiknya — mereka bertemu.
Dua orang yang sama-sama hidup di antara suara-suara masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hai el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KOMENTAR DUA KATA

Wren tidak tidur malam itu.

Bukan karena insomnia biasa — jenis insomnia yang ia kenal baik, yang datang dengan kepala penuh daftar pekerjaan dan deadline dan pertanyaan-pertanyaan kecil yang tidak penting tapi somehow terasa mendesak di jam dua pagi. Ini berbeda. Ini jenis terjaga yang terasa seperti tubuhnya tahu ada sesuatu yang sedang terjadi, dan tidur akan membuat ia melewatkannya.

Ia berbaring di kasurnya di kamar sebelah studio, menatap langit-langit, dengan ponselnya di atas dada. Layar sudah gelap. Tapi jarinya menyentuh tombol samping setiap beberapa menit — refleks — untuk melihat apakah ada balasan.

Belum ada.

Tentu saja belum ada. Ia baru membalas komentar itu dua jam lalu. Siapapun pemilik akun itu mungkin sudah tidur. Atau mungkin tidak melihat balasannya. Atau mungkin — dan ini yang membuat dadanya melakukan sesuatu yang tidak nyaman — mungkin ia menyesal sudah menuliskan komentar itu dan tidak akan pernah membalas.

"Itu adikku."

Wren memejamkan mata dan mencoba membayangkan siapa yang menulisnya.

Seorang kakak. Berarti pengirim surat-surat itu adalah adik — adik yang menulis kepada seseorang bernama Langit, surat-surat yang tidak pernah terkirim, yang entah bagaimana berakhir di kotak kayu di toko antik Kebayoran Lama. Adik yang, dari cara ia menulis, jelas seseorang yang menyimpan terlalu banyak di dalam dan tidak tahu caranya mengeluarkannya kecuali lewat kertas.

Tapi kenapa surat-surat itu bisa berakhir di toko antik?

Ada beberapa kemungkinan, dan semua kemungkinannya terasa berat dengan cara yang berbeda.

Satu: si adik sudah meninggal, dan keluarganya menjual atau membuang barang-barangnya tanpa tahu apa yang ada di kotak kecil itu.

Dua: si adik sendiri yang melepas surat-surat itu — sengaja, untuk alasan yang tidak bisa Wren tebak dari luar.

Tiga: ada cerita yang lebih rumit dari yang bisa ia bayangkan sekarang jam dua pagi sambil berbaring di kasur.

Ponselnya bergetar.

Wren duduk tegak begitu cepat sampai kepalanya pening sebentar.

Notifikasi dari aplikasi podcast — bukan pesan langsung, tapi notifikasi komentar. Ia membuka aplikasinya dan menemukan balasan di thread yang sama:

Dari akun yang sama. Username acak. Tidak ada foto profil.

"Maaf. Saya tidak tahu harus menghubungi lewat mana. Apakah ada cara lain?"

Wren memandangi pesan itu. Tangannya, yang biasanya cukup stabil bahkan saat merekam adegan paling emosional dalam audiobook, sedikit bergetar.

Ia mengetik:

"Email saya ada di bio. [suaraasing.kontak@gmail.com]. Tidak ada yang tahu ini akun saya, jadi aman."

Kirim.

Ia menaruh ponsel di samping bantal. Menarik napas. Satu, dua, tiga.

Ponselnya bergetar lagi. Kali ini bukan notifikasi aplikasi — melainkan notifikasi Gmail. Email baru.

Wren membukanya dengan jantung yang berdetak sedikit terlalu keras untuk jam segini.

From: akalandra.work@gmail.com

To: suaraasing.kontak@gmail.com

Subject: Tentang surat-surat itu

Halo.

Saya tidak tahu harus mulai dari mana. Ini pertama kalinya saya menghubungi siapapun tentang ini.

Adik saya bernama Raka. Ia meninggal empat tahun lalu, usia dua puluh tiga tahun. Kecelakaan.

Saya tidak tahu ada surat-surat itu sampai saya mendengar episode pertama podcast Anda tiga minggu lalu. Teman mengirimkan linknya — katanya suaranya bagus untuk tidur. Saya putar sambil bekerja, tidak terlalu memperhatikan.

Sampai saya mendengar nama itu.

Langit.

Itu nama yang hanya Raka yang pakai untuk seseorang. Saya pernah sekali mendengarnya menyebut nama itu — satu kali, di meja makan, dan ketika saya tanya siapa itu, ia hanya menggeleng dan tersenyum dengan cara yang membuat saya tahu bahwa pertanyaan itu tidak akan dijawab.

Saya putar ulang episode itu dari awal. Mendengarkan setiap kata. Dan saya tahu — cara ia menyusun kalimat, cara ia memilih kata — itu Raka. Saya yakin.

Saya tidak tahu bagaimana surat-surat itu bisa sampai di toko antik itu. Kami — saya dan dua saudara perempuan saya — tidak pernah menjual barang-barang Raka. Semuanya masih di rumah orang tua kami. Tapi kotak kecil itu... saya tidak pernah melihatnya.

Mungkin Raka sendiri yang menyimpannya di tempat lain. Mungkin ada penjelasan yang saya belum tahu.

Yang ingin saya tanyakan: apakah mungkin saya bisa mendapatkan surat-surat aslinya? Bukan karena saya akan menghentikan podcast Anda — saya harap Anda melanjutkannya. Ada sebelas surat lagi yang belum dibacakan, dan saya ingin mendengar semuanya. Lebih dari yang bisa saya jelaskan sekarang.

Tapi saya ingin memegang kertasnya. Tulisannya. Saya belum pernah melihat tulisan tangan Raka selama empat tahun ini.

— A. Kalandra

Wren membaca email itu dua kali.

Lalu ia menaruh ponselnya, pergi ke dapur, mendidihkan air tanpa tujuan yang jelas, dan berdiri di depan kompor sambil menatap api biru di bawah panci.

Adik saya bernama Raka. Ia meninggal empat tahun lalu, usia dua puluh tiga tahun.

Ia sudah menduga. Tapi menduga dan membacanya dalam kalimat yang langsung dan tanpa dekorasi adalah dua hal yang berbeda. Kecelakaan. Satu kata untuk sesuatu yang pasti mengubah segalanya bagi keluarga itu.

Dan kotak surat itu — dua belas surat yang tidak pernah terkirim kepada seseorang bernama Langit. Ditulis oleh seseorang yang tidak pandai bicara tapi pandai menulis. Disimpan dalam kotak kayu yang entah bagaimana berpisah dari semua barang-barang lainnya dan berakhir di tangan pedagang antik yang tidak ingat dari mana ia mendapatkannya.

Saya ingin memegang kertasnya. Tulisannya. Saya belum pernah melihat tulisan tangan Raka selama empat tahun ini.

Air di panci sudah mendidih. Wren mematikan kompor. Tidak jadi membuat teh.

Ia kembali ke kamar, duduk di tepi kasur, dan mulai mengetik balasan.

From: suaraasing.kontak@gmail.com

To: akalandra.work@gmail.com

Subject: Re: Tentang surat-surat itu

Halo, A. Kalandra.

Terima kasih sudah menghubungi saya. Saya tahu ini pasti tidak mudah.

Surat-surat itu aman. Saya menjaganya dengan baik sejak pertama kali menemukannya, dan akan terus begitu.

Saya tidak keberatan untuk mengembalikan surat-surat aslinya. Sebenarnya, sejak awal saya sudah berpikir bahwa surat-surat ini seharusnya kembali ke orang yang tepat — saya hanya tidak tahu siapa itu. Sekarang saya tahu.

Tapi boleh saya tanya satu hal dulu?

Apakah Anda sudah mendengarkan semua episode yang sudah tayang?

— W.

Balasan datang lebih cepat dari yang ia ekspektasi. Rupanya A. Kalandra juga tidak tidur malam itu.

Sudah. Semuanya. Tiga kali.

Dan setiap kali, saya selalu berhenti di bagian yang sama.

"Kertas tidak memotong aku di tengah-tengah. Kertas tidak menatap aku dengan cara yang membuat aku lupa apa yang mau aku bilang."

Raka gagap ringan waktu kecil. Sudah hilang waktu dewasa, tapi ia selalu bilang bahwa ia tidak pernah benar-benar nyaman bicara. Saya pikir itu hanya gaya bicaranya — kebiasaan memilih diam daripada salah kata.

Ternyata ia menulis.

Ternyata ada sisi dari adik saya yang saya tidak tahu.

Itulah yang paling berat.

Wren membaca kalimat terakhir itu dan merasakan sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya ia deskripsikan — bukan sedih biasa, bukan empati biasa. Lebih seperti resonansi. Seperti garpu tala yang dipukul dan menggetarkan sesuatu di dalam dirinya yang bergetar pada frekuensi yang sama.

Itulah yang paling berat.

Mengenal seseorang ternyata tidak sepenuhnya. Kehilangan mereka. Lalu menemukan bahwa ada bagian dari mereka yang tidak sempat kamu kenal — dan tidak akan pernah bisa.

Ia mengetik:

"Kapan dan di mana Anda bisa bertemu? Saya akan membawa kotak itu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!