NovelToon NovelToon
Fall In Love With My Lil Sister

Fall In Love With My Lil Sister

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Kehidupan di Kantor / Romantis / Saudara palsu / Rumah Tangga
Popularitas:749
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bidak

Pagi ini, suasana kantor pusat Sinclair Mall terasa sedikit berbeda bagi Alessia. Tanpa bayangan tinggi Nathaniel yang biasanya berdiri kaku di sampingnya, ia merasa memiliki ruang bernapas lebih luas. Mentornya itu sedang terjebak dalam rapat maraton di cabang Gimpo, memberinya kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri sejenak.

Namun, menjadi diri sendiri bagi seorang Alessia Sinclair berarti tetap tampil paripurna. Sebelum lift membawanya ke lantai teratas, ia membelokkan langkah ke salon eksklusif yang berada di area retail lantai dasar gedung kantor.

Baru saja ia akan melangkah masuk, ia berpapasan dengan tiga staf divisi pemasaran yang tampak kelelahan dengan tumpukan berkas di tangan mereka.

"Hai... Ms. Alessia," sapa mereka serentak sambil membungkuk sopan, wajah mereka tampak sedikit tegang melihat sang calon CEO.

Alessia menghentikan langkahnya, menatap wajah-wajah lesu itu dengan senyum cerah.

"Heyy you guys... kalian kelihatan kurang tidur. Ayo, join buruan!"

Ketiga staf itu saling lirik, bingung. "Maksudnya, Ms.?"

"Masuk ke dalam," Alessia menarik pelan lengan salah satu dari mereka. Ia menoleh ke arah resepsionis salon yang sudah mengenalnya baik. "Kak, tolong dong, paket perawatan kilat yang sama dengan saya untuk mereka bertiga. Manicure dan hair spa singkat, ya?"

"Tapi Ms. Alessia... kami harus segera naik, laporan untuk Direktur Luca harus selesai jam sepuluh," salah satu staf mencoba protes dengan suara gemetar. Membayangkan kemarahan Nathaniel jauh lebih menakutkan daripada godaan perawatan salon.

"Hei... santai aja," potong Alessia santai, ia mengibaskan tangannya seolah sedang mengusir lalat.

"Kan saya yang ajak. Kalau si Tembok Berjalan itu marah, bilang saja ini perintah langsung dari Sinclair. Lagipula, kalian tidak bisa membuat strategi pemasaran yang cantik kalau wajah kalian sendiri terlihat stres seperti itu, kan?"

Akhirnya, dengan ragu namun antusias, ketiga staf itu mengikuti Alessia masuk. Di dalam salon yang harum aromaterapi lavender, Alessia duduk berdampingan dengan mereka. Sambil rambutnya dicuci, ia mulai mengobrol ringan, bukan soal angka, tapi soal tren apa yang sedang disukai anak muda seusia mereka.

"Jadi, kalian merasa Sinclair Mall terlalu kaku untuk nongkrong?" tanya Alessia, mendengarkan dengan saksama masukan jujur dari para stafnya yang biasanya terlalu takut untuk bicara.

Momen santai ini ternyata menjadi sesi riset pasar yang jauh lebih efektif daripada rapat formal manapun. Alessia menyadari bahwa untuk memimpin, ia tidak harus selalu menjadi menakutkan seperti Nathaniel. Ia bisa menjadi pemimpin yang merangkul.

Namun, tepat saat ia sedang menikmati pijatan di kepalanya, ponselnya yang tergeletak di atas meja kecil bergetar hebat.

[Nathaniel Luca]:

Saya sudah selesai di Gimpo dan akan sampai di kantor dalam 15 menit. Saya harap Anda sudah menyelesaikan tinjauan kontrak vendor yang saya tinggalkan di meja Anda.

Alessia menelan ludah. Ia melirik jam dinding. Waktunya hampir habis.

"Kak, tolong percepat sedikit ya!" bisik Alessia panik pada penata rambutnya. "Singa lapar sebentar lagi sampai di kandang!"

———

Pintu kaca otomatis salon itu terbuka dengan denting yang biasanya terdengar menenangkan, namun bagi Alessia, suara itu kini terdengar seperti bel kematian.

Tepat di depannya, berdiri sosok jangkung dengan setelan jas abu-abu arang yang tampak sangat kontras dengan suasana salon yang serba pastel. Nathaniel Luca berdiri di sana, memegang tablet di tangan kiri, sementara tangan kanannya terangkat seolah baru saja hendak mengecek jam tangan.

Tatapannya tajam, namun ada kilat keheranan yang tak bisa ia sembunyikan. Ia menatap Alessia seperti seorang detektif yang baru saja memergoki anak kecil mencuri stoples kue di rak paling atas.

Alessia membeku sejenak, lalu hanya bisa nyengir kuda, menampilkan deretan giginya yang rapi sambil mencoba merapikan anak rambutnya yang masih terasa sedikit lembap.

"Kalian naik saja," bisik Alessia cepat kepada ketiga staf di belakangnya. Mereka bertiga membungkuk dalam-dalam, hampir berlari menuju lift tanpa berani menoleh ke arah Nathaniel yang auranya sedang berada di titik beku.

Setelah staf itu menghilang, keheningan melanda koridor lantai dasar. Nathaniel masih diam, mengubah posisinya dengan melipat tangan di depan dada, posisi khasnya saat siap menerima seribu alasan atau pengakuan dosa.

"Hm... aku agak pusing. Jadi memutuskan creambath sebentar supaya saraf-sarafku rileks," kata Alessia, mencoba memberikan alasan medis yang terdengar masuk akal, meski aroma strawberry dan lavender yang kuat dari rambutnya sangat mengkhianati kata 'sebentar' itu.

Nathaniel mengangkat satu alisnya. "Pusing karena meninjau kontrak vendor, atau pusing memilih aroma vitamin rambut, Nona Sinclair?"

Alessia mengerucutkan bibirnya, menatap ujung sepatunya yang mengilap. Keberaniannya yang tadi membara di dalam salon mendadak menciut di bawah intimidasi Nathaniel.

"Dan... tugas yang diberikan terlalu sulit diselesaikan," gumamnya lirih, hampir seperti bisikan.

"Angka-angkanya kecil sekali, dan klausul hukumnya membuat kepalaku benar-benar berdenyut. Aku butuh... stimulasi kulit kepala."

Nathaniel menghela napas panjang, tipe helaan napas yang menunjukkan bahwa ia sedang berusaha keras untuk tetap sabar. Ia melangkah satu tindak mendekat, membuat Alessia refleks mundur hingga punggungnya hampir menyentuh pintu kaca salon.

"Tugas itu sulit karena Anda tidak fokus, Alessia," suara Nathaniel merendah, kali ini tidak ada nada bentakan, hanya ketegasan yang dingin. "Dunia bisnis tidak akan menunggu Anda selesai creambath. Saat Anda duduk di kursi itu, pesaing kita sedang bekerja dua kali lebih keras."

Nathaniel terdiam sejenak, matanya menatap wajah Alessia yang tampak sedikit merasa bersalah. "Ikut ke ruangan saya. Sekarang. Saya tidak akan membiarkan Anda menyentuh laporan itu sendirian jika hasilnya hanya akan membuat Anda lari ke salon setiap jam sepuluh pagi."

Alessia mendongak, matanya membelalak. "Ke ruanganmu? Bukan ke ruangan Ayah?"

"Ruangan Ayahmu terlalu nyaman untuk orang yang sedang malas," sahut Nathaniel sembari berbalik dan berjalan menuju lift pribadi. "Di ruanganku, hanya ada kursi keras, kopi pahit, dan aku. Pilihannya hanya dua: Anda paham kontrak itu, atau kita tidak pulang malam ini."

Ruangan Nathaniel tidak seperti ruangan eksekutif pada umumnya yang penuh dengan pajangan seni atau sofa empuk untuk bersantai. Ruangan itu lebih mirip "ruang karantina" bagi siswa ambisius yang sedang mempersiapkan ujian masuk universitas paling bergengsi.

Meja kerjanya yang luas dipenuhi dengan tumpukan dokumen yang disusun berdasarkan kode warna, beberapa monitor besar yang menampilkan grafik pergerakan pasar secara real-time, dan papan tulis whiteboard yang penuh dengan coretan strategi serumit rumus fisika kuantum.

"Duduk," perintah Nathaniel singkat sembari meletakkan tas kerjanya.

Alessia menarik kursi di hadapan meja Nathaniel dengan ragu. Benar saja, kursinya terasa lebih tegak dan kaku, seolah dirancang agar siapa pun yang duduk di sana tidak akan berani untuk terkantuk-kantuk. Di hadapannya, data-data yang tadi ia keluhkan "terlalu sulit" sudah berjejer rapi, siap untuk dibedah.

"Kita mulai dari klausul pembagian profit vendor kosmetik," ucap Nathaniel, menarik kursinya mendekat ke arah Alessia hingga lengan jas mereka hampir bersentuhan.

Ia memegang sebuah pulpen penunjuk, gerakannya sangat presisi. "Jangan melihat angka ini sebagai beban, Alessia. Lihat ini sebagai peluru. Jika kamu salah menghitung persentase, kamu memberikan peluru pada lawan untuk menembak Sinclair dari dalam."

Alessia menelan ludah, berusaha keras mengalihkan fokus dari aroma aftershave Nathaniel yang maskulin ke barisan angka di kertas. "Tapi... kenapa kita harus menekan vendor sampai sepuluh persen? Bukankah itu terlalu kejam?"

Nathaniel berhenti sejenak, ia menoleh dan menatap mata Alessia dalam-dalam. "Ini bukan soal kejam. Ini soal keberlangsungan panti asuhanmu, gaji ribuan staf yang tadi kamu ajak ke salon, dan warisan Ayahmu. Jika kita terlalu 'baik' tanpa perhitungan, Sinclair Mall hanya akan tinggal nama dalam dua tahun."

Alessia terdiam. Penjelasan Nathaniel selalu berhasil menariknya kembali ke realita. Ia mulai memperhatikan coretan pulpen Nathaniel, mencoba memahami logika di balik strategi dingin pria itu.

Satu jam berlalu. Suasana ruangan yang tadinya tegang perlahan berubah menjadi sesi diskusi yang sangat intens. Nathaniel ternyata adalah guru yang luar biasa. Ia tidak hanya menyuruh Alessia menghafal, tapi ia menjelaskan filosofi di balik setiap keputusan bisnis.

"Tunggu, jadi kalau kita ambil risiko di sini, kita bisa mengamankan kontrak eksklusif untuk lima tahun ke depan?" tanya Alessia, matanya berbinar saat ia mulai menemukan "pola" yang dimaksud Nathaniel tadi pagi.

Nathaniel tertegun sejenak melihat antusiasme di wajah Alessia. Sudut bibirnya terangkat, kali ini benar-benar sebuah senyuman tipis yang tulus, bukan sekadar formalitas.

"Tepat. Akhirnya otak Sinclairmu mulai bekerja," puji Nathaniel rendah.

Alessia tersenyum lebar, merasa sangat puas. Namun, saat ia hendak meraih gelas kopinya, tangannya tidak sengaja menyentuh tangan Nathaniel yang masih berada di atas meja. Keduanya terdiam. Listrik statis seolah menyengat udara di antara mereka.

Nathaniel tidak segera menarik tangannya. Ia justru menatap jemari Alessia yang lentik, kontras dengan tangannya yang lebih besar dan kasar.

"Alessia..." suara Nathaniel berubah menjadi lebih berat, kehilangan nada otoriter yang biasanya mendominasi.

Suasana di ruangan itu mendadak berubah. Kehangatan yang baru saja muncul dari keberhasilan Alessia memahami materi, seketika digantikan oleh beban berat yang tersirat dari nada bicara Nathaniel.

Pria itu tidak menarik tangannya. Ia justru membiarkan jemarinya tetap berada di dekat tangan Alessia, seolah memberikan kekuatan yang tidak bisa ia sampaikan lewat pelukan.

"Berusahalah lebih keras, Alessia," suara Nathaniel rendah, hampir menyerupai bisikan yang bergema di antara tumpukan dokumen.

"Sinclair ada di tanganmu. Kelak... Ayahmu dan aku akan menghilang."

Alessia tersentak. Kalimat itu terasa seperti hantaman telak di dadanya. Ia mendongak, menatap mata Nathaniel yang biasanya sedingin baja, namun kini tampak menyimpan kabut kesedihan yang dalam, sebuah luka lama yang ia simpan rapat sejak kematian adiknya dan rasa hutang budi yang tak berujung pada William.

"Menghilang? Apa maksudmu, kak? Ayah baik-baik saja, dan kau... kau masih muda. Kenapa bicara seolah-olah besok adalah akhir dunia?" tanya Alessia dengan suara yang sedikit bergetar.

Nathaniel menarik tangannya perlahan, lalu berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah Sungai Han. Ia berdiri membelakangi Alessia, membiarkan cahaya sore menyinari bahunya yang tegap namun tampak lelah.

"Waktu adalah musuh terbesar dalam bisnis, dan dalam hidup," sahut Nathaniel tanpa berbalik.

"Tuan William tidak akan selamanya memiliki kekuatan untuk melindungimu. Dan aku... aku hanyalah bidak yang ditugaskan untuk menjagamu sampai kamu bisa berdiri sendiri. Suatu saat, peranku akan selesai."

Nathaniel teringat foto lusuh di apartemennya. Ia tahu posisinya. Ia bukan bagian dari darah Sinclair. Ia adalah pelindung yang suatu saat harus menepi agar sang ratu bisa bertahta dengan megah.

Alessia bangkit dari kursinya. Ia melangkah mendekat, berhenti tepat di belakang punggung Nathaniel. "Kau bukan sekadar bidak. Kau yang mengajariku cara memegang pena untuk menandatangani kontrak, bukan hanya untuk menulis cek belanja. Kalau kau pergi, siapa yang akan mengomeliku saat aku kabur ke salon?"

Nathaniel terkekeh hambar, namun ia tetap tidak berbalik. Ia takut jika ia melihat mata cokelat Alessia sekarang, benteng pertahanan yang ia bangun selama bertahun-tahun akan runtuh total. Ia takut ia akan melupakan janjinya pada diri sendiri bahwa ia tidak pantas untuk mencintai putri dari penyelamatnya.

"Maka dari itu, belajarlah," ucap Nathaniel, kembali ke nada bicaranya yang kaku meski lebih lembut. "Jadilah tangguh sehingga kau tidak butuh omelanku lagi. Sinclair Mall butuh pemimpin, bukan seorang putri yang manja."

Alessia terdiam, menatap punggung tegap pria di depannya. Ada rasa sesak yang aneh di dadanya. Ia menyadari satu hal: ia tidak hanya takut kehilangan Sinclair, tapi ia jauh lebih takut jika suatu hari nanti, saat ia berbalik di kantor ini, sosok Nathaniel Luca tidak lagi berdiri di sana untuk menjaganya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!