NovelToon NovelToon
Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Fantasi Timur / Roh Supernatural
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Pewaris Tubuh Suci Legendaris adalah novel fantasi kultivasi yang mengikuti perjalanan Shou Wei, seorang pemuda yang sejak kecil dianggap biasa, lemah, dan tidak menonjol, tetapi ternyata menyimpan rahasia besar dalam tubuhnya. Di balik kehidupannya yang penuh penindasan dan kehilangan, tersimpan benih kekuatan langka yang perlahan membawanya ke jalan berbahaya: jalan warisan kuno, formasi legendaris, tubuh naga, dan konflik antar dunia.

Cerita ini menyuguhkan banyak tempat skala dunia: sekte-sekte manusia, negeri demon, pulau-pulau melayang, kerajaan asing, hingga dunia lain yang memiliki teknologi, formasi, dan kekuatan jauh melampaui bayangan manusia biasa. Pertarungan yang dihadapinya bukan lagi sekadar soal hidup dan mati, melainkan soal masa depan banyak dunia.

Perpaduan cerita antara kultivasi, pertarungan, formasi, warisan kuno, intrik politik, dunia demon, perjalanan lintas dunia, dan rahasia takdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menuju Minor Auction

Pagi berikutnya, langit di atas Stone Reed Town bersih untuk pertama kalinya dalam beberapa hari.

Kabut sungai masih tipis, tapi hujan telah benar-benar pergi. Papan-papan jalan yang semalam basah kini mengering perlahan di bawah matahari pucat. Bagi para pedagang, itu pertanda baik. Bagi para pembawa barang, itu berarti muatan bisa bergerak lebih cepat. Dan bagi Shou Wei, itu berarti satu hal lain:

hari ini ia harus menyerahkan concealment mark kepada Jin Pel.

Ia tidak membawa dua lembar kayu berukir itu secara terbuka. Keduanya diselipkan di antara dua potong papan kasar dalam buntalan kerja, seolah hanya sisa bahan bangunan murah. Di tempat seperti Stone Reed Town, orang yang berjalan dengan barang hati-hati justru lebih mudah menarik perhatian daripada orang yang membawa barang seperti sampah.

Sebelum pergi ke gudang timur, Shou Wei tetap menyelesaikan pekerjaan paginya di Mud Heron Inn. Menyapu, mengangkat tempayan, membuang air kotor, memotong alang-alang. Pemilik penginapan sempat mengawasinya beberapa lama dari depan pintu, lalu berkata dengan nada mencibir yang sudah biasa:

“Kalau suatu hari kau jadi kaya, jangan lupa pernah tidur di gudangku.”

Shou Wei menjawab tanpa menoleh, “Kalau aku jadi kaya, aku akan beli gudang yang tidak bocor.”

Pria botak itu terkekeh kasar. “Bagus. Lidahmu mulai cocok dengan kota ini.”

Setelah pekerjaan selesai, Shou Wei baru bergerak ke gudang timur.

Suasana di sana lebih sibuk dari biasa. Dua kereta dorong besar sedang dibongkar. Seorang pria tua memeriksa segel peti sambil berteriak soal urutan barang. Dari jauh terdengar dengus beast angkut dan bunyi rantai ditarik. Di pintu gudang utama, Jin Pel berdiri dengan jubah birunya yang sama, satu tangan memegang daftar, satu lagi memukul bahu pekerja yang lambat.

Saat melihat Shou Wei mendekat, matanya menyipit sedikit.

“Kau datang,” katanya.

“Aku bilang butuh waktu tiga hari. Ini baru dua.”

“Itu berarti ada dua kemungkinan. Barangmu jelek, atau kau cukup percaya diri.”

Shou Wei tidak menjawab. Ia hanya mengangkat buntalan kayu itu sedikit.

Jin Pel melirik halaman sekeliling, lalu mengisyaratkan dengan dagunya. “Ikut. Bukan di sini.”

Mereka masuk ke gudang kecil samping yang jauh lebih sepi. Ruangan itu berisi peti-peti kosong, gulungan tali, dan satu meja rendah. Tidak ada pekerja lain. Hanya bau kayu, kain, dan sedikit minyak.

“Letakkan,” kata Jin Pel.

Shou Wei membuka buntalannya.

Dua lembar kayu tipis berukir diletakkan di atas meja. Dari luar, keduanya tampak seperti potongan kayu biasa—murah, sederhana, nyaris tidak layak diperhatikan. Tapi saat lampu dari celah jendela miring mengenai permukaan, ukiran halus di dalam seratnya mulai tampak.

Jin Pel mengambil yang pertama.

Ia memeriksa tanpa tergesa. Miring ke kiri, ke kanan, ketuk sedikit, bahkan mengendusnya seperti orang yang sudah terlalu sering dibohongi.

“Cara pakainya?”

“Dipasang di dasar peti, dekat sisi belakang. Aktifkan dengan sentuhan qi kecil atau batu roh tipis. Jangan terlalu besar. Mark ini bukan untuk menyembunyikan sepenuhnya, hanya membuat perhatian mata mudah lewat.”

Jin Pel mengangkat alis. “Bukan concealment penuh.”

“Untuk harga yang kau tawarkan, itu bukan yang kau butuhkan.”

Pria itu menatapnya lama.

Lalu untuk pertama kalinya sejak mereka bicara, sudut mulutnya bergerak sedikit.

“Bagus.”

Ia mengambil peti kecil yang sempat diperlihatkan sebelumnya, membukanya, lalu menyelipkan salah satu kayu itu ke bagian dasar sisi dalam. Setelah itu ia meletakkan satu gulungan surat kecil dan sekantong segel lilin di dalamnya, lalu menutup setengah peti.

“Aktifkan.”

Shou Wei menyentuh tepi kayu tipis itu dengan sedikit qi. Ia menahan alirannya sangat hati-hati. Kayu itu bergetar halus. Tidak menyala terang. Justru itu yang bagus. Concelament yang terlalu terang adalah lelucon.

Jin Pel lalu menggeser peti ke bawah cahaya berbeda, memandang dari berbagai sudut. Surat dan segel di dalamnya tidak hilang. Tapi mata memang lebih mudah menangkap urat kayu, lipatan bagian dalam peti, dan bayangan gelap di sudut daripada dua barang yang sebenarnya paling penting.

“Hm,” gumamnya.

Ia menutup peti penuh, membukanya lagi, mengguncangnya sedikit, lalu memeriksa apakah pola di kayu masih stabil.

Masih.

Yang kedua ia pasang di peti lain yang lebih kasar. Hasilnya sedikit lebih lemah, tapi tetap bekerja.

Jin Pel menatap kedua kayu itu cukup lama sebelum akhirnya menutup peti dan menyilangkan tangan.

“Lebih baik dari yang kuduga,” katanya.

“Itu berarti harga naik?”

“Itu berarti aku tidak menyesal memanggilmu kemari.” Ia membuka laci meja kecil, mengeluarkan tiga koin perak dan satu kantong tembaga, lalu meletakkannya di atas kayu. “Tiga perak untuk yang pertama. Dua perak, lima puluh tembaga untuk yang kedua.”

Shou Wei menghitung cepat.

Lebih dari yang ia harapkan.

“Kenapa beda?”

“Karena yang satu stabil, yang satu sedikit lebih rapuh. Jangan pasang wajah terkejut. Kalau kau menjual barang, belajar menerima orang yang bisa menilai.” Jin Pel mendorong uang itu ke depan. “Dan karena aku ingin kau kembali.”

Itu adalah kalimat paling jujur yang mungkin keluar dari seorang penjaga gudang.

Shou Wei mengambil uangnya satu per satu dan menyimpannya ke lapisan berbeda di bajunya. Tidak semua di satu tempat. Kebiasaan baru, tapi perlu.

Jin Pel lalu mengeluarkan secarik kayu tipis dengan cap gudang timur. “Ini tanda pengenal pekerja kiriman. Bukan resmi, tapi cukup kalau kau perlu masuk ke gudangku nanti tanpa dipukul dulu.”

“Apa kau mau pesan lagi?”

“Belum sekarang.” Jin Pel mengetuk meja. “Tiga hari lagi minor auction. Setelah itu akan ada lebih banyak barang lewat dan lebih banyak masalah. Kalau markmu bertahan, aku akan punya kerja untukmu.”

Ia berhenti sejenak, lalu berkata pelan, “Dan dengar, bocah. Kalau ada orang bertanya terlalu rinci soal barang ini, kau tak pernah membuat khusus untukku. Kau hanya menjual utility marks di pasar kecil. Paham?”

Shou Wei mengangguk.

Jin Pel jelas tidak ingin terlalu banyak orang tahu bahwa gudang timur mulai memakai pengabur peti.

Sebelum ia keluar, Jin Pel bertanya, “Nama lengkapmu?”

Shou Wei berhenti sepersekian detik.

Lalu menjawab dengan tenang, “Wei Shou.”

Jin Pel mengulanginya pendek di kepala, seolah mencocokkan bunyi namanya dengan wajahnya. “Baik. Wei Shou. Jangan mati sebelum auction. Orang yang bisa buat barang praktis tanpa banyak bicara lebih jarang dari yang kau kira.”

Itu pertama kalinya nama itu keluar penuh dari mulutnya.

Aneh, tapi tidak salah.

Shou Wei tetap ada di dalam dirinya.

Tapi untuk dunia luar yang semakin ramai dan berbahaya, Wei Shou adalah nama yang akan berjalan lebih dulu.

Keluar dari gudang timur dengan hampir enam koin perak tambahan di tubuh membuat langkahnya terasa sedikit lebih berat—bukan karena uang itu sendiri, tapi karena ia sadar kini dirinya mulai punya sesuatu yang benar-benar bisa dicuri orang.

Itu berarti ia tak bisa lagi menyimpan semua uang di penginapan.

Sore itu, alih-alih kembali langsung ke Mud Heron Inn, Shou Wei pergi ke pinggir sungai utara, ke tempat deretan batu besar membentuk cekungan kecil yang dulu dipakai nelayan menyembunyikan jala. Ia menggali dengan pisau pendek di sela batu yang paling retak, lalu membungkus sebagian koin peraknya dalam kain minyak tipis dan menyimpannya di sana. Hanya dua perak dan beberapa tembaga yang ia bawa kembali.

Cadangan tersembunyi.

Jika ada yang merampoknya, setidaknya tidak semuanya hilang.

Menjelang petang ia menuju Reed Hall lagi, bukan untuk menjual, melainkan untuk melihat suasana menjelang auction kecil. Aula depan lebih hidup dari biasanya. Di papan pengumuman samping pintu, seseorang sedang menempelkan lembar pengumuman baru berisi daftar umum kategori barang yang akan masuk:

low-grade pillsdamaged artifactsbeast materialsriver oresold manualsfragmented array platessealed boxes of uncertain originMata Shou Wei berhenti di dua baris terakhir.

Old manuals.

Fragmented array plates.

Dadanya bergerak sedikit.

Ia tidak perlu barang mahal. Bahkan potongan rusak pun cukup, selama di dalamnya ada sesuatu yang bisa dipelajari.

Namun satu masalah langsung tampak jelas:

ia masih terlalu miskin untuk menawar sembarangan.

Saat ia membaca, suara yang dikenalnya terdengar dari belakang.

“Jadi benar. Kau mencium daftar seperti anjing muda mencium daging.”

Gao Sen berdiri di sana sambil menggigit biji bunga matahari, jubah tuanya tetap kusut seperti biasa.

Shou Wei tidak membantah. “Barang seperti itu akan mahal?”

“Bagi orang bodoh? Ya. Bagi orang pintar? Kadang sangat murah.” Gao Sen melirik papan pengumuman. “Auction kecil bukan tempat semua barang bagus bersinar. Justru di tempat seperti ini, setengah yang hadir tak tahu apa yang mereka lihat.”

“Dan setengah lainnya tahu terlalu banyak.”

“Bagus. Kau memang belajar cepat.” Gao Sen menepuk bahu papan pengumuman. “Kalau kau mau pulang dengan sesuatu berguna, jangan kejar semua. Pilih satu atau dua tipe barang saja. Kalau kau menyebar perhatian, uangmu habis sebelum menemukan yang benar.”

Itu nasihat yang tepat.

Shou Wei bertanya, “Masuknya bagaimana?”

“Dengan uang atau bukti barang.” Gao Sen meliriknya dari sudut mata. “Kau sekarang punya sedikit dari keduanya. Kalau mau kursi di pinggir, cukup. Kalau mau duduk dekat penawar besar, mimpi dulu beberapa tahun.”

Shou Wei tidak mempermasalahkan itu.

Gao Sen lalu menurunkan suaranya. “Dan satu hal lain. Wei Kuan juga akan ada di sana.”

Shou Wei menoleh sedikit.

“Dia suka barang tua, pelat rusak, dan orang baru yang belum tahu kapan harus berhenti menawar. Kalau kau mengincar sesuatu yang sama dengannya, pikir dulu apakah barang itu benar-benar pantas membuatmu terlihat.”

Setelah berkata begitu, Gao Sen pergi tanpa menunggu balasan.

Namanya kembali muncul.

Wei Kuan.

Shou Wei tidak pernah suka orang seperti itu. Bukan karena ancamannya terang-terangan, tapi karena ia jelas paham pasar dan paham cara menunggu. Orang seperti itu tidak gegabah memukul di gang sempit. Mereka lebih suka membuatmu salah langkah di depan banyak mata.

Malam itu, di gudang belakang penginapan, Shou Wei menyalakan lampu kecil dan mengeluarkan semua hartanya yang tersisa:

dua perak yang ia bawalima lebih perak dari Jin Pelsisa tembagasalep luka dari Mu Qinglantoken gudang timurdua bukti transaksi Reed Hallalat ukir formasidan gulungan Mistwater Breathing MethodIa menghitung uangnya dua kali.

Masih jauh dari kaya.

Tapi cukup untuk minor auction jika ia sangat hati-hati.

Ia lalu membuat keputusan.

Besok dan lusa, ia tidak akan mengambil pesanan baru dulu. Ia akan tetap bekerja di penginapan sebagai penutup, tapi waktu malam akan dipakai untuk:

menstabilkan satu utility mark cadangan yang bisa dijual daruratberlatih Mistwater Breathing Methoddan menyiapkan pikirannya untuk auctionKarena sekarang tujuannya bukan sekadar makan.

Tujuannya adalah membeli sesuatu yang bisa membuat langkah berikutnya lebih besar.

Sebelum tidur, ia duduk bersila di atas jerami dan mulai mengatur napas.

1
Muhammad Arsyad
ini...kapan saktinya...lama amat🤭🤭
Simon Semprul
nie cerita pendekar apa misterii si thor /Gosh/
Daryus Effendi
ada b.ingrisnya jadi gak enak bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!