Tidak pernah terpikirkan oleh Sarah bahwa dirinya akan diberi kesempatan kedua untuk kembali hidup.
Seumur hidup, hanya ia habiskan untuk berfoya-foya dan mengajar cinta Marvin yang tak pernah ia miliki hingga akhir hayatnya. Tak segan Sarah mencelakai wanita yang dicintai Marvin, Kayla. Namun di kehidupan sebelumnya, meskipun Sarah sering membawa kesialan dan membuat hidup Marvin dan Kayla menderita, mereka masih berbaik hati memberi Sarah bantuan ketika gadis itu sedang menghadapi masalah ekonomi karena ayahnya yang bangkrut.
Di kehidupan kali ini, Sarah hanya ingin mencoba membahagiakan dirinya sendiri dan melepas cinta pertama yang begitu membekas bagi dirinya.
Tapi siapa yang sangka kehidupan keduanya ternyata lebih rumit daripada yang Sarah bayangkan. Ia ditimpa bertubi-tubi kenyataan yang membuat logikanya tidak lagi berjalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Suasana di kedai itu begitu tenang. Cahaya remang-remang dari lampu sederhana yang menggantung di langit-langit menciptakan atmosfer yang hangat dan penuh pesona. Sarah berada di luar kedai sedang berdiri di dekat kaca jendela. Matanya terfokus pada sosok laki-laki yang berdiri di balik meja dapur yang terbuka.
Laki-laki itu telah sibuk dengan tugasnya, bergerak lincah di antara panci dan peralatan masak yang tersusun rapi. Suara percikan minyak yang terdengar dan bumbu-bumbu yang tercampur sempurna mengisi ruangan, menciptakan aroma yang menggoda selera. Gadis itu tersenyum kecil ketika melihat seorang pelanggan yang sepertinya tengah memuji laki-laki itu sehingga membuat laki-laki itu tersenyum simpul. Namun di tengah kekagumannya terhadap laki-laki itu, dia juga merasa bersalah karena perbuatan buruknya di masa lalu.
Sarah menggigit bibirnya. Dia merenung sejenak, mengalihkan pandangannya dari laki-laki yang sedang sibuk memasak itu. Hatinya berdebar kencang dan langkah-langkahnya yang hendak menghampiri laki-laki itu tiba-tiba terhenti.
Mata Sarah yang awalnya penuh tekad untuk menghampiri dan meminta maaf pada laki-laki itu, sekarang malah menjadi ragu.
Sarah bertanya pada dirinya sendiri. "Aneh nggak sih kalau gue tiba-tiba datang terus minta maaf?" Hanya beberapa langkah lagi untuk dapat memasuki kedai itu, tapi rasa ragu yang mendalam menghadapinya. Ingatannya membawanya kembali ke masa lalu, mengingat kejadian yang menyakitkan yang pernah terjadi di antara mereka.
Ketika Sarah sedang termenung, tiba-tiba pintu kedai itu terbuka. Dalam sekejap dunia Sarah terasa berhenti berputar sejenak. Pandangan mereka bertemu dan Sarah bisa merasakan jantungnya berdebar begitu cepat. Marvin membuka pintunya, memberinya akses untuk dapat masuk ke dalam.
"Lo kayaknya hobi banget ya berdiri di depan kedai ini?"
Sarah menelan salivanya, ia tidak langsung menjawab pertanyaan laki-laki itu. Gadis itu masih memutar otak untuk mencari alasan.
"Masuk."
Belum sempat Sarah menjawab, Marvin langsung mempersilahkan masuk. Gadis itu hanya mengekor dan duduk di tempat favoritnya di kedai ini.
"Loh neg, datang lagi?" Pramusaji yang Sarah tau bernama Dino itu menyapa. Sarah membalas dengan seulas senyum.
Sini mengangguk sopan, laki-laki itu melirik sebentar ke arah Marvin lalu segera berpamitan untuk pulang.
"Kedai lo-"
"Makan." Marvin menyajikan semangkok ramen dengan menu yang berbeda dari sebelumnya. Kali ini Marvin ikut duduk di samping Sarah dengan menu yang sama.
Mereka duduk dalam diam selama beberapa waktu, menikmati ramen mereka. Setelah merek selesai makan, suasana tetap sunyi tanpa ada yang memulai pembicaraan.
Marvin melirik ke arah Sarah. Dia merasa bahwa pasti ada alasan khusus mengapa gadis itu datang ke kedai ini di tengah malam. Tapi setelah beberapa menit berada di sana, gadis itu tata bongkar tanpa mengatakan apapun. Marvin merasa sebaiknya dia yang memulai pembicaraan, mungkin Sarah merasa enggan untuk memulai pembicaraan.
"Lo ada masalah apa?"
Sarah segera menggelengkan kepalanya.
"Serius?"
"Iya."
Hening.
Tidak ada lagi yang melanjutkan pembicaraan. Marvin lalu merapikan sesama aku setelah mereka selesai makan. Sementara dia merapikan dapur, Sarah masih mencoba merangkai berbagai kata-kata untuk menyampaikan permintaan maafnya supaya tidak terdengar aneh.
"Vin-"perkataannya terhenti ketika melihat wajah panik Marvin yang sedang menatap ponselnya.
"Vin?"
"Maaf Sar, gue harus pergi. Lo naik apa ke sini?" Dengan cepat, Marvin melepas apron yang melingkar di tubuhnya dan segera bersiap untuk meninggalkan kedai.
"Gue naik mobil kok." Jawab Sarah lalu di respon anggukan oleh Marvin.
Setelah selesai bersiap, Marvin mendekati Sarah. Ia tahu ada maksud mengenai kedatangan gadis itu kepada ini, namun tampaknya sekarang dia tidak dapat menghabiskan waktu lebih lama bersama gadis itu. Akhirnya ia meraih kepala Sarah dan menepuknya dengan lembut.
"Maaf gue harus pergi. Lo bisa telepon gue kalau terjadi sesuatu." Ucap Marvin, baru saja dirinya akan melangkah, dia kembali berhenti ketika Sarah membuka suara.
"Lo pasti mau ke rumah sakit kan?"
Marvin berbalik dan melemparkan tatapan penuh tanya.
"Sebelum datang ke sini, sebenarnya gue baru saja dari rumah sakit,,, bareng Kayla,"ucap Sarah dengan sedikit ragu, tapi Marvin memilih diam.
"Dokter bilang, Tante Sari harus segera melakukan operasi lanjutan dan biayanya gak sedikit."
Marvin tidak menyela, ia masih setia mendengarkan ucapan Sarah.
"Itu aja kata dokter." Ucap Sarah pelan, ia tidak berani menatap mata Marvin entah mengapa, wajah laki-laki itu terlihat dingin.
"Jadi lo udah tau semuanya?"
Sarah mengangguk pelan.
Terdengar suara hal anak kelas dari laki-laki itu. Ia menyugar rambutnya ke belakang, lalu perlahan berjalan mendekati gadis itu. Ruangan itu tiba-tiba terasa sangat mencekam, terlebih tatapan tajam yang diberikan oleh laki-laki itu padanya.
"Terus tujuan lo datang ke sini apa?"
"G-gue, gue bisa bantu Lo bayar biaya rumah sakit." Setelah mengucapkan itu, Sarah terkejut sendiri, bukan ini yang ingin dia sampaikan sebelumnya, meskipun memang hal ini juga terlintas di pikirannya.
Marvin tertawa sinis. Ah, ini maksud gadis itu ke sini.
"Bukan, Vin. Bukan itu maksud gue, gue-"
"Apakah gue terlihat seperti orang yang sedang membutuhkan bantuan?"
Sarah menggeleng, tatapan itu, tatapan dingin yang dulu selalu Marvin berikan kepadanya. Tidak, Sarah seperti telah menginjak ranjau.
Marvin mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Tatapan Sarah kepadanya saat ini entah kenapa terasa lebih menyakitkan.
"Vin, tolong dengerin -"
"Terus apa? Setelah Lo bantu gue, gue harus balas budi sama Lo, dengan apa?" Marvin bergerak, melangkah lebih dekat ke arah Sarah. Sedangkan Sarah sendiri mundur begitu laki-laki itu mendekat.
"Apa yang harus gue lakukan setelah Lo bantu gue? Jual diri ke Lo? Jadi pacar Lo? Atau apa?"
Tanpa sadar, Sarah menampar wajah Marvin. Sedetik kemudian ia menutup mulutnya karena terkejut. Apa yang baru saja dia lakukan? Kenapa hari ini ia selalu bertindak tidak sesuai dengan pikirannya? Tapi, Marvin sudah keterlaluan.
Sudut bibir kanan laki-laki itu terangkat. Sebaiknya gadis ini tidak boleh terlalu jauh mengetahui masa lalunya. Seharusnya Marvin tidak boleh memberikan sedikitpun celah pada gadis itu untuk masuk ke dalam hidupnya. Ia bahkan terlihat sangat menyedihkan di mata gadis itu sekarang. Padahal, Marvin tidak pernah memiliki niatan untuk memberitahukan masalahnya pada gadis ini. Sebaiknya ia akhiri saja hubungan pertemanan ini-
"Marvin!" Teriak Sarah lalu menangkup wajah laki-laki itu supaya menatapnya.
Salah satu hal yang disadari Sarah mengenai muffin adalah sejak dulu saat mereka beradu argumen, dia merasa bahwa maafin tidak pernah memberikan penjelasan yang jelas. Laki-laki itu selalu membuat Sarah harus mencari jawaban sendiri atas perlakuan dan kata-katanya, yang akhirnya membuat Sarah seringkali salah paham.
Marvin terkejut dengan tindakan salah yang tiba-tiba. Matanya membuat sempurna karena jarak diantara keduanya begitu dekat. Gadis itu menarik kepalanya mendekat ke arahnya sehingga Alvin bisa melihat dengan jelas wajah kesal gadis itu.
"Jangan terlalu berpikir berlebihan, jangan buat kesimpulan apapun di kepala lo atas apapun yang gue perbuat. Hal itu nggak akan menyelesaikan apapun. Jadi kali ini gue mohon lu harus dengerin apapun yang gua sampaikan sampai selesai," Sarah menjeda ucapannya.
Jangan menyimpulkan sesuatu atas dasar pikiran kamu sendiri mengenai apapun perbuatanku, Vin. Ditunggu tidak akan menyelesaikan masalah kita. Kamu harus mendengarkan penjelasan aku dulu.
"Gue mau minta maaf, atas segala perbuatan dan perkataan gue di masa lalu yang menyakiti lo. Gue bener-bener minta maaf. Gue bilang cinta sama lo tapi malah menyakiti adik lo. Hal-hal yang membuatku tersinggung dan apapun kesalahan gue di masa lalu gue minta maaf."Sarah menatap laki-laki itu dengan tulus.
"Gue tulus mau bantuin lo kali ini, nggak ada maksud apapun kayak dulu. Gue bener-bener terus mau bantu kalian, Vin. Gue lakuin ini bukan hanya karena masih ada perasaan sama lo, tapi gue juga sayang sama Kayla, dia teman gue sekarang. Jadi tolong jangan berpikir berlebihan tentang gue."
Aku tulus mau bantuin kamu. Aku mencintai kamu dan Kayla. Jadi tolong jangan terlalu berpikir berlebihan tentang aku. Kamu tahu aku nggak kayak gitu.
Maafin memegang kepalanya ketika tiba-tiba ada sesuatu yang terlintas di kepalanya. Katakan apa dirinya merasa Dejavu. Sepertinya ia pernah mendengar ucapan itu di suatu tempat. Mengapa suara-suara itu menggema di kepalanya terus menerus.
"Vin, Lo kenapa?" Sarah panik saat tiba-tiba Marvin mengarang sambil memegangi kepalanya.
"Vin."
"Marvin."
Marvin tidak menjawab, laki-laki itu terus mengarang kesakitan.
"Vin, kita ke rumah sakit aja ya."cara mencoba menarik tangan laki-laki itu untuk keluar dari kedai. Namun pergerakannya terhenti karena Marvin menahan dirinya di tempat.
"Vin, kita-"
"Maaf," ucap laki-laki itu terjeda. Tangan yang tadinya memegang kepala beralih memegang kedua tangan gadis itu. "Gue nggak bermaksud nyakitin lo."
"Iya gue tau."
"Tapi lo harus berhenti."
"Vin," Sarah masih bertahan dengan keinginannya untuk membantu. Kenapa laki-laki ini keras kepala sekali?"
"Lo nggak akan pernah tahu apa yang akan terjadi kalau lo terlibat dalam urusan keluarga gue."
Sarah bisa merasakan genggaman pada kedua tangannya tiba-tiba mengerat." Vin, gue punya banyak hutang salah sama lo dan Kayla. Jadi tolong izinin gue buat bantuin lo."
Tiba-tiba mata elang laki-laki itu menatap tajam Sarah seakan laki-laki itu bisa menusuk Sarah hanya dengan tatapannya. Marvin dan tidak membiarkan Sarah menghindar. Perlahan bibir laki-laki itu mendekat ke arah telinga Sarah.
"Sar, dengar gue baik-baik."bisikan itu membuat sekujur tubuh Sarah tiba-tiba merinding. Ia tidak pernah melihat sosok Marvin sedingin ini sebelumnya.
"Gue..."
Sarah menelan salivanya.
"Gue pernah bunuh orang."
Sesaat setelah kata-kata itu keluar dari bibir Marvin, ruangan tiba-tiba terasa mencekam. Detak jantungnya berpacar tanpa henti dan matanya terpaku pada orang yang saat ini berdiri di depannya. Cahaya lampu di ruangan itu seakan memudar, memberikan nuansa yang lebih gelap dan mencekam.
Tiba-tiba ada kebingungan yang menjalar dipikiran Sarah. Dia merasa terkejut dan juga bingung, seolah terjebak dalam kabut ketidakpercayaan. Kepalanya terasa berat dan dia merasakan ketakutan melanda bagaikan badai yang mendekat.
Namun yang paling mengejutkan adalah pandangan tajam dari orang di depannya ini. Mata laki-laki itu seolah memiliki kekuatan untuk menembus jiwa. Seakan melalui pandangan nya itu dia bisa merasakan beratnya pengakuan itu.
Saat ini Sarah kebingungan. Apakah ucapan laki-laki itu benar adanya atau hanya sekedar kebohongan belaka?
Marvin, dia adalah laki-laki misterius yang menakutkan.