NovelToon NovelToon
Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

​“Eh, Jing! Sini lu!”
“Apaan sih, Sin? Dasar Sinting!”
​Di kantor, Jingga dan Sinta adalah musuh bebuyutan yang hobi cakar-cakaran. Namun di balik meja kerja, mereka menyimpan satu rahasia besar: Sebuah Buku Nikah.
​Terjebak perjodohan kolot, mereka terpaksa menikah secara rahasia dengan tiga aturan maut:
​Tetap jadi musuh di kantor.
​Jangan campuri urusan kekasih masing-masing.
​Dilarang jatuh cinta!
​Sanggupkah mereka menjaga rahasia saat cemburu mulai terasa lebih nyata daripada sekadar kontrak di atas kertas?
​"Pernikahan ini cuma bisnis, tapi kok gue pengen pecat pacar lu sekarang juga, ya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kisah Masa Kecil

Lilin di atas meja makan kini tinggal sepertiga, apinya menari-nari menciptakan bayangan raksasa yang bergerak lambat di dinding apartemen. Kegelapan yang menyelimuti unit 12-B terasa semakin pekat, namun anehnya, suasana di antara Jingga dan Sinta justru terasa semakin transparan. Seolah-olah tanpa cahaya lampu, mereka tidak perlu lagi mengkhawatirkan ekspresi wajah yang harus dijaga.

"Lu tadi tanya kenapa gue benci banget awal-awal kita pindah ke sini, kan?" suara Jingga memecah keheningan. Nadanya rendah, hampir menyatu dengan suara rintik hujan di luar.

Sinta mengeratkan selimut di bahunya, sedikit bergeser agar bisa menatap siluet Jingga lebih jelas. "Iya. Lu waktu itu ketus banget. Kayak gue ini virus yang merusak sterilisasi hidup lu."

Jingga terkekeh hambar, matanya menatap lelehan lilin yang mulai mengeras di piring. "Bukan lu yang gue benci, Sin. Tapi situasinya. Gue tumbuh di rumah yang isinya cuma soal 'tuntutan'. Mama, Jeng Lastri yang lu kenal sekarang, dulu jauh lebih ambisius. Dia pengen gue jadi piala berjalan. Nilai harus sempurna, pergaulan harus dengan anak pejabat, sampai hobi gue pun harus yang terlihat 'berkelas'."

Jingga menghela napas, jemarinya memainkan korek api gas yang tergeletak di meja. "Dulu, gue punya motor tua pemberian kakek. Motor butut yang olinya sering rembes. Itu satu-satunya benda yang bikin gue ngerasa bebas. Tapi Mama malu. Dia bilang itu sampah yang bikin malu nama keluarga. Suatu hari, pas gue pulang sekolah, motor itu udah nggak ada. Dijual ke tukang loak tanpa nanya gue dulu."

Sinta tertegun. Ia bisa merasakan kepedihan dalam suara Jingga, sebuah luka lama yang belum sepenuhnya kering.

"Makanya, pas kita dipaksa nikah dan pindah ke sini, gue ngerasa kayak motor itu lagi. Gue ngerasa hidup gue bukan milik gue sendiri. Gue ngerasa dipaksa masuk ke dalam kotak yang udah disiapin orang tua, dan gue benci ngerasa nggak berdaya. Lu... lu cuma jadi pengingat konstan kalau gue kalah lagi sama kemauan mereka," lanjut Jingga.

Sinta terdiam cukup lama. Ia tidak pernah menyangka bahwa di balik sikap dingin dan angkuh Jingga, ada seorang anak laki-laki yang kehilangan dunianya karena ambisi orang tua. "Gue nggak tahu, Jingga... Maaf kalau kehadiran gue bikin lu ngerasa terkurung."

"Nggak apa-apa. Itu dulu," Jingga menoleh ke arah Sinta. "Sekarang gue sadar, lu juga korban yang sama kayak gue. Terus, gimana sama lu? Kenapa lu ambisius banget di kantor? Pak Adrian bilang lu selalu kerja dua kali lipat lebih keras dari orang lain."

Sinta tersenyum pahit, jarinya menggambar pola abstrak di permukaan meja yang berdebu. "Ayah. Lu tahu kan Ayah itu mantan auditor bank? Dia pahlawan gue, tapi dia juga standar tertinggi gue. Pas gue kecil, setiap kali gue dapet peringkat dua, Ayah nggak bakal marah. Dia cuma bakal tanya, 'Siapa yang peringkat satu dan kenapa dia bisa lebih baik dari kamu?'."

Sinta menarik napas dalam, mencoba mengusir sesak yang tiba-tiba muncul. "Gue tumbuh dengan pemikiran kalau gue nggak boleh biasa-biasa aja. Kalau gue nggak jadi yang terbaik, gue nggak layak dapet perhatian Ayah. Pas Ibu meninggal pas gue SMP, Ayah jadi makin protektif. Dia naruh semua harapannya ke bahu gue. Gue pengen jadi pelukis, Jingga. Dulu kamar gue penuh sama cat minyak."

"Pelukis?" Jingga tampak terkejut. "Tapi lu sekarang di perbankan. Jauh banget."

"Ayah bilang pelukis itu masa depannya nggak pasti. Dia pengen gue punya hidup yang stabil. Jadi, dia 'mengarahkan' gue ke ekonomi. Gue nurut karena gue nggak mau ngecewain dia lagi setelah Ibu pergi. Setiap target kredit yang gue capai di kantor, itu bukan buat bonus uang, tapi buat bukti ke Ayah kalau gue bisa diandalkan. Tapi rasanya... capek banget, Jingga. Kadang gue ngerasa kayak robot yang baterainya hampir abis."

Di bawah temaram lilin, Jingga melihat sisi lain dari Sinta. Bukan Sinta si wanita karier yang tangguh, melainkan seorang gadis kecil yang merindukan kanvas dan kuas, yang hanya ingin dicintai tanpa harus memenuhi target apa pun.

Tanpa sadar, Jingga mengulurkan tangannya dan menepuk punggung tangan Sinta yang gemetar. "Lu bukan robot, Sin. Lu pelukis yang lagi salah pegang alat aja. Sekarang lu pegang kalkulator, tapi suatu saat... lu bakal pegang kuas lagi."

Sinta merasakan air mata mulai menggenang di sudut matanya. Kata-kata Jingga terasa lebih menenangkan daripada semua pujian yang pernah diberikan Adrian atas prestasinya. "Lu beneran mikir gitu?"

"Gue yakin. Sama kayak gue yang sekarang pelan-pelan lagi rakit motor itu di balkon. Kita mungkin terjebak di sini, tapi mimpi kita nggak harus ikut terjebak," ucap Jingga dengan nada yang sangat tulus.

Malam semakin larut, dan lilin tinggal menyisakan beberapa sentimeter saja. Namun, mereka tidak ingin berhenti bicara. Mereka mulai bercerita tentang hal-hal konyol lainnya. Jingga bercerita tentang bagaimana dia pernah kabur dari rumah saat SD hanya karena dilarang makan es krim, dan Sinta bercerita tentang betapa seringnya dia menangis diam-diam di toilet sekolah karena gagal dapet nilai sempurna di ujian matematika.

Mereka tertawa bersama, suara tawa yang terdengar sangat ringan dan membebaskan. Di dalam kegelapan itu, beban yang selama ini mereka pikul sendirian seolah-olah terbagi dua. Ada pemahaman yang tak terucapkan bahwa mereka berdua adalah produk dari harapan orang tua yang terlalu besar, dua jiwa yang sedang mencoba menemukan jati diri di tengah tuntutan dunia.

"Sin," panggil Jingga pelan saat lilin itu mulai redup dan akhirnya mati dengan sendirinya.

Kegelapan total kembali menyergap, tapi kali ini Sinta tidak takut. Ia bisa merasakan kehadiran Jingga di dekatnya, sebuah titik koordinat yang nyata dalam hidupnya yang penuh kepura-puraan.

"Iya?"

"Makasih udah cerita. Gue ngerasa... gue lebih kenal sama Sinta yang sekarang daripada Sinta yang gue liat di kantor setiap hari."

Sinta tersenyum, meski Jingga tidak bisa melihatnya. "Gue juga, Jingga. Makasih udah dengerin. Ternyata lu nggak sedingin yang gue kira."

"Gue cuma butuh kopi yang tepat buat mencair," canda Jingga, membuat Sinta tertawa pelan.

Dalam gelap, tangan mereka masih bersentuhan di atas meja. Tidak ada yang menarik diri. Ada kehangatan manusiawi yang mengalir di antara mereka, sebuah koneksi yang jauh lebih kuat daripada sekadar status suami-istri di atas kertas. Mereka duduk di sana selama beberapa menit dalam diam yang nyaman, hanya mendengarkan napas satu sama lain dan suara hujan yang mulai mereda.

Tiba-tiba, lampu-lampu di apartemen menyala serentak. Cahaya lampu neon yang putih dan terang seketika membanjiri ruangan, membuat mereka berdua menyipitkan mata, merasa silau.

Dunia nyata telah kembali.

Mereka dengan cepat menarik tangan masing-masing, seolah-olah cahaya lampu itu adalah peringatan bahwa masa transparan mereka telah usai. Sinta bergegas merapikan selimutnya, sementara Jingga langsung berdiri dan berdehem kaku.

"Ehem. Udah nyala. Gue... gue masuk kamar duluan ya. Udah malem," ucap Jingga tanpa menatap mata Sinta.

"Oh, iya. Gue juga. Mau beresin laptop dulu," sahut Sinta, tak kalah canggung.

Namun, sebelum Jingga benar-benar menghilang di balik pintunya, ia berbalik sejenak. "Sin, soal cerita tadi... itu rahasia kita berdua ya. Jangan sampai Luna atau siapa pun tahu kalau gue sebenernya suka motor butut."

Sinta mengangguk, sebuah senyum kecil menghiasi wajahnya. "Dan rahasia gue soal kanvas juga ya. Jangan sampai Pak Adrian tahu kalau staf terbaiknya sebenernya pengen jadi pelukis."

Jingga tersenyum tipis—senyum tulus yang kini mulai sering ia tunjukkan—lalu menutup pintunya.

Sinta berdiri sendirian di ruang tamu yang kini terang benderang. Ia menatap meja makan tempat lilin tadi berdiri. Masih ada bekas lelehan lilin di sana, sebuah bukti fisik bahwa percakapan tadi benar-benar terjadi dan bukan sekadar mimpi dalam gelap.

Ia menyadari satu hal: mati lampu malam ini telah mengubah segalanya. Dinding-dinding tebal yang mereka bangun untuk melindungi diri kini telah runtuh. Mereka bukan lagi dua orang asing yang dipaksa tinggal bersama. Mereka adalah dua orang yang telah saling melihat luka masing-masing.

Sinta masuk ke kamarnya, namun ia tidak langsung tidur. Ia mengambil sebuah buku catatan kecil di laci mejanya, dan di halaman paling belakang, ia mulai membuat sketsa kasar menggunakan pulpen. Sketsa seorang pria yang sedang melindungi api lilin dengan telapak tangannya.

Di kamar sebelah, Jingga berbaring menatap langit-langit. Pikirannya masih tertuju pada cerita Sinta tentang ayahnya. Ia menyadari bahwa rasa cemburunya pada Adrian mungkin bukan sekadar cemburu karena posisi pria itu sebagai "pacar" Sinta, melainkan karena Adrian mewakili semua hal yang membuat Sinta merasa tertekan: kesempurnaan, target, dan stabilitas.

Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka berdua tidur dengan sebuah kesadaran baru. Bahwa di balik sandiwara besar yang mereka jalani di kantor, mereka punya tempat untuk menjadi diri mereka sendiri. Dan meskipun esok hari mereka harus kembali memakai topeng, mereka tahu bahwa di bawah topeng itu, ada seseorang yang memahami setiap retakannya.

Namun, di tengah kedamaian baru ini, sebuah ancaman sedang mengintai. Di kantor, rumor mulai beredar. Gosip-gosip kecil tentang "keakraban yang aneh" antara Jingga dan Sinta mulai menjadi bahan pembicaraan di pantry. Dan bagi Jingga, menjaga rahasia ini akan menjadi jauh lebih sulit sekarang karena hatinya mulai ikut terlibat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!