Nazwa Adzira Putri, atau sering di panggil Zira, adalah seorang wanita yang dulunya berselimut cahaya. Dengan nama pena Nana, dia menginspirasi banyak orang dengan kata-katanya yang bijak dan agamanya yang kuat. Namun, kebenaran pahit tentang ayahnya - seorang yang mengkhianati ibunya dengan perselingkuhan, merobek tirai kesucian itu. Luka itu membawanya ke jurang kegelapan, meninggalkan hijab dan agamanya, dan masuk ke dunia malam yang gelap. Tapi, di tengah-tengah badai itu, ada secercah harapan. Nathan Fernandez, anak kyai yang sholeh dan dingin, menjadi sosok yang menarik perhatiannya. Mata teduh dan menenangkan itu menjadi tempat pelariannya, dan tanpa disadari, cinta mulai tumbuh, membawa harapan baru di tengah-tengah kegelapan. Penasaran dengan kelanjutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Putus Asa
Keesokan harinya, Zira ke kampus dengan mood yang baik, "Pagi zir." Sapa Aliya dan Zita secara bersamaan, "2 hari lagi tantangan itu berakhir." Ucap Zita.
"Iyah, gue tau gak usah di ingetin lagi, gue pasti menang karna gue ngerasa semakin dekat dengan pak Nathan." Ucap Zira dengan kepercayaan yang tinggi. "Yuk masuk kelas sebelum pak Nathan datang." Tambah Zira.
Mereka bertiga menuju ke kelas sambil berbincang dan sesampainya di kelas mereka duduk dengan tenang sambil menunggu sang dosen datang. "Assalamualaikum, selamat pagi semuanya." Ucap Nathan.
"Waalaikumsalam, pagi pa." Jawab mahasiswa. "Hari ini ada quis, semua tas taro di depan dan hp di meja, hanya ada sobekan kertas dan pulpen." Ucap Nathan.
"Pak, kok dadakan banget kaya tahu bulat, belum priper nih pa." Ucap Rafa. "Kaya Lo belajar aja raf." Ucap Aliya. Zita yang mendengar perbincangan Rafa dan Aliya ingin ketawa, tapi dia berusaha menahan diri.
Kelas menjadi hening, hanya terdengar suara napas mahasiswa yang sedang menunggu soal quis. Nathan mulai membagikan soal, "Oke, kalian punya 60 menit untuk mengerjakan soal ini. Semoga berhasil."
Zira mengambil pulpen dan mulai mengerjakan soal. Dia merasa percaya diri dengan kemampuan dirinya, tapi dia juga merasa sedikit tekanan karena tantangan yang sedang berlangsung. Aliya dan Zita juga mulai mengerjakan soal, mereka berdua saling membantu dan berbisik-bisik.
"Aku gak tahu jawaban nomor 3, Zit." Bisik Aliya. Zita membisikkan jawaban, "Aku juga gak tahu, coba tanya Zira." Aliya memanggil Zira, "Zir, jawaban nomor 3 apa?" Zira membisikkan jawaban, "Aku juga gak tahu, coba cek buku."
Aliya dan Zita kembali mengerjakan soal, mereka berdua merasa sedikit lebih percaya diri. Nathan yang melihat mereka berbisik-bisik, tersenyum, "kalian bertiga jangan bisik-bisik." Dengan nada tegas.
Waktu terus berjalan, dan akhirnya waktu quis habis. Nathan mengumpulkan jawaban, "Oke, kalian bisa istirahat sekarang. Hasil quis akan diumumkan besok." Mahasiswa lainnya berteriak, "Yess, akhir selesai!"
Zira, Aliya, dan Zita tersenyum, merasa sedikit lega karena quis sudah selesai. Mereka bertiga keluar dari kelas, "Yuk, makan siang?" Ajak Zira. "Iyah, aku lapar." Jawab Aliya. "Aku juga." Tambah Zita.
Mereka bertiga menuju ke kantin, sambil membahas tentang quis dan tantangan yang sedang berlangsung. Sesampainya di kantin Zita langsung pesan makanan untuk dirinya dan kedua sahabatnya "ya, gue ke toilet dulu yah sebentar gak tahan nih." Ucap zira " oke deh."jawab Aliya ,Zita sudah selesai memesan dan kembali ke mejanya." Ya ,di mana zira." Tanya Zita "lagi ke toilet." Jawab Aliya , zira hanya mengangguk kan kepala nya sebagai jawabannya .
Di perjalanan menuju toilet zira melihat Nathan sedang berbincang sama seseorang " Nat, gue denger Lo akan menikah dengan sing Salwa yah?."tanya Jordi teman dekat Nathan " kalau Iyah, menurut gue cocok saja sih sama-sama paham agama dan Ning Salwa itu cocok loh sama kamu Nat." Ucap Jordi "doain aja yang terbaik ..." Ucap Nathan sebelum Nathan melanjutkan bicara nya zira yang mendengar nya rasa nya sakit hati bangett padahal Nathan bukan siapa-siapa nya. "Ya Allah sakit banget.... baru aja saya senang bisa lebih dekat dengan pa Nathan ehh ternyata langsung di jatuh kan seperti ini."ucap zira sambil meninggalkan ruangan tersebut "gak tau gimana nanti kalau jodoh yah pasti nikah kalau gak ya udah."lanjut Nathan.
Zira merasa hatinya hancur, dia tidak bisa membayangkan Nathan menikah dengan orang lain. Dia merasa seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Zira mencoba untuk mengusir pikiran itu, tapi dia tidak bisa. Dia merasa seperti dia sedang jatuh ke dalam jurang yang dalam.
Zira kembali ke meja, dia mencoba untuk tersenyum, tapi Aliya dan Zita bisa melihat kesedihan di wajahnya. "Apa yang terjadi, Zi?" Tanya Aliya. Zira mencoba untuk menghindar, tapi Aliya dan Zita terus bertanya.
"Aku gak apa-apa, aku hanya merasa sedikit sakit kepala." Ucap Zira. Aliya dan Zita tidak percaya, tapi mereka tidak ingin membuatnya lebih sakit. "Yaudah, kita makan aja dulu." Ucap Aliya.
Mereka bertiga makan, tapi Zira tidak bisa menikmati makanannya. Dia merasa seperti ada yang mengganjal di tenggorokannya.
"Lo kenapa sih, zir? Dari tadi muka Lo di tekuk terus deh," ucap Aliya dengan nada peduli.
Zita menambahkan, "Iyah, bener kata Aliya, coba cerita sama gue dan Aliya, sapa tau masalah Lo dapat di hadapi bareng-bareng."
Zira mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawab, "Okay fine, gue jujur sama kalian. Pa Nathan mau tunangan sama Ning Salwa, guys. Kayane gue nyerah deh, gak bisa lanjutin tantangan itu lagi."
Aliya langsung merespons, "Masih dua hari, zir! Gue dan Zita kan sesuai kesepakatan sebelum sebulan Lo gak bisa nyerah. Ini kurang 2 hari lagi, Lo bisa cari apapun, meskipun sedikit sulit untuk menyelesaikan tantangan itu."
Zira terlihat sedikit terkejut dengan kata-kata Aliya, tapi dia juga merasa sedikit terinspirasi untuk terus berjuang.
Saat Zira menuju ke parkiran, dia melihat sosok yang tidak asing, Pa Nathan. Zira merasa ada sesuatu yang mendorongnya untuk mendekati Pa Nathan, seperti ada magnet yang menariknya. "Pa Nathan, tunggu!" Ucap Zira sambil berlari menuju Pa Nathan, suaranya terdengar sedikit terengah-engah.
Pa Nathan berhenti dan menoleh ke arah Zira, "Ada apa?" Jawabnya dengan nada yang santai, tapi Zira bisa melihat sedikit kebingungan di wajahnya.
Zira mengambil napas dalam-dalam sebelum bertanya, "Zita mau nanya, apakah benar pa Nathan bentar lagi mau menikah?" Pertanyaan itu terasa seperti bom yang meledak di hatinya, membuat Zira merasa sedikit gugup.
Pa Nathan tersenyum, "Insyaallah, jika takdir saya tahun ini menikah pasti menikah, jika tidak yah tidak." Jawabannya terdengar seperti mantra yang membuat Zira merasa sedikit bingung.
Zira merasa jawaban Pa Nathan tidak jelas, "Kok jawabannya gitu pak? Harus Iyah apa gak gitu." Suaranya terdengar sedikit frustrasi, tapi Pa Nathan hanya tersenyum.
Pa Nathan mulai merasa tidak nyaman, "Apa urusan kamu tanya gitu sama saya?" Nada suaranya sedikit berubah, membuat Zira merasa sedikit takut.
Tapi Zira tidak bisa menahan perasaannya, "Karna saya suka pa Nathan, jika pa Nathan benar-benar ingin menikah berarti Selesai sudah perjuangan saya untuk mendapatkan pa Nathan." Pengakuannya terasa seperti beban yang terangkat dari hatinya, membuat Zira merasa sedikit lega.
Pa Nathan tersenyum, "Perbaiki jalan kehidupan dulu zira, baru kamu minta jodoh ke Allah." Suaranya terdengar seperti nasihat yang bijak, membuat Zira merasa sedikit lebih tenang.
Zira merasa hatinya sakit, tapi dia juga merasa ada harapan. "Baik pak, saya akan perbaiki diri saya." Suaranya terdengar sedikit lembut, membuat Pa Nathan mengangguk.
"Itu yang terbaik, zira. Semoga Allah membimbing kita semua." Pa Nathan mengucapkan kata-kata itu dengan nada yang tulus, membuat Zira merasa sedikit lebih percaya diri.
Zira tersenyum, "Amin, pak." Mereka berdua berdiri sejenak, sebelum Pa Nathan melanjutkan, "Saya harus pergi, zira. Semoga kita bertemu lagi."
Zira mengangguk, "Baik pak, hati-hati." Pa Nathan pergi, meninggalkan Zira yang masih berdiri di tempat, merasa putus asa akan kalah dari tantangan yang di berikan oleh ke dua sahabat nya.
"Apa gue nyerah aja yah?." Tanya zira pada dirinya sendiri, suaranya terdengar sedikit lembut. "Tau ah pusing mikirin itu Mulu , mending pulang makan seblak." Ucap zira, mencoba untuk mengalihkan perhatiannya dari masalah yang sedang dihadapinya.