Melvin Blastorios, merupakan seorang ahli waris dari keluarga bangsawan Blastorios, yang terkenal akan kehebatan dan kejeniusannya. Selain itu, Melvin juga merupakan pemimpin dari sebuah organisasi rahasia di Inggris yaitu Dragon Knight of Archangel.
Arabella Winston, seorang gadis muda, cantik, bijak dan cukup terkenal di kalangan para bangsawan, yang sedang mencari seorang suamin. Walaupun begitu, Bella dikenal sebagai salah seorang gadis bangsawan yang selalu menolak banyak lamaran dari para pemuda bangsawan lain.
Ini hanyalah sebuah kisah cinta romantis antara seorang pemuda dari organisasi rahasia dengan seorang gadis muda penolak lamaran.
.
.
.
.
terinspirasi dari seri pertama novel club Inferno...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
.
.
.
Malam sudah jauh larut ketika Melvin akhirnya meninggalkan mansion keluarga Fratellion.
Langkahnya tenang, tidak tergesa, seolah-olah pesta itu tidak meninggalkan kesan apa pun padanya. Namun jika seseorang cukup jeli memperhatikan, mereka akan melihat sesuatu yang berbeda malam ini.
Ada jeda kecil dalam langkahnya.
Ada tarikan napas yang sedikit lebih berat.
Dan ada sesuatu dalam tatapannya… yang tidak sepenuhnya dingin seperti biasanya.
Pintu samping itu tertutup pelan di belakangnya.
Udara malam langsung menyambutnya—dingin, lembap, dan jauh lebih jujur dibandingkan suasana penuh kepura-puraan di dalam.
Melvin berhenti sejenak di beranda kecil.
Matanya menatap lurus ke depan, ke arah taman gelap yang hanya diterangi oleh beberapa lampu redup.
Sunyi.
Namun bukan sunyi yang damai.
Lebih seperti sunyi yang penuh dengan sesuatu yang tersembunyi.
Ia menghela napas panjang.
“Ah…”
Suaranya rendah, hampir seperti keluhan.
Untuk pertama kalinya malam ini… ia merasa lelah.
Bukan karena pesta.
Bukan karena orang-orang.
Tapi karena—
Seorang gadis.
Melvin menutup matanya sejenak.
Dan seperti yang sudah ia duga…
Wajah itu langsung muncul.
Arabella Winston.
Tatapan matanya.
Cara ia berbicara.
Cara ia berdiri di hadapannya—gugup, namun tetap berusaha terlihat tenang.
Dan yang paling mengganggu—
Cara gadis itu memandangnya.
Bukan dengan takut.
Bukan dengan jijik.
Melainkan…
Dengan sesuatu yang terlalu jujur.
Terlalu… bersih.
“Sial…”
Ia menghembuskan napasnya pelan.
“Ini tidak seharusnya terjadi.”
“Yang Mulia.”
Suara itu memecah lamunannya.
Seorang pria berdiri tak jauh darinya, memegang payung hitam yang terbuka. Tubuhnya tegap, pakaiannya rapi, dan wajahnya tanpa ekspresi.
Pelayan kepercayaannya.
“Kereta sudah siap.”
Melvin membuka matanya.
Tatapannya kembali dingin.
Seolah semua yang tadi sempat muncul… langsung tertutup kembali.
“Baik.”
Ia melangkah turun dari beranda, melewati anak tangga dengan gerakan tenang.
Hujan mulai turun lagi.
Rintik kecil yang perlahan berubah menjadi deras.
Seperti malam itu di Exile Land.
Tanpa berkata apa pun, pelayan itu mengikuti di sampingnya, memastikan payung tetap melindungi tuannya dari hujan.
Namun Melvin tidak benar-benar peduli.
Matanya lurus ke depan.
Pikirannya… tidak sepenuhnya di sana.
Kereta hitam itu melaju menembus jalanan kota Vincent yang mulai sepi.
Lampu-lampu jalan memantul di genangan air, menciptakan kilau samar yang bergerak mengikuti laju kendaraan.
Di dalam kereta—
Sunyi.
Melvin duduk bersandar, satu tangannya bertumpu di dekat jendela, menatap ke luar.
Hujan memburamkan pandangannya.
Seperti pikirannya.
Ia mencoba.
Benar-benar mencoba untuk mengalihkan fokusnya.
Menghitung rencana.
Mengingat tugas.
Mengulang strategi yang telah ia susun selama bertahun-tahun.
Namun—
Sialnya—
Setiap kali ia mencoba fokus…
Wajah itu kembali muncul.
“Kenapa harus sekarang…”
Gumamannya hampir tak terdengar.
Ia mengusap wajahnya pelan.
Tidak biasanya.
Tidak pernah.
Ia membiarkan seseorang… masuk sejauh ini ke dalam pikirannya.
Dan yang lebih buruk—
Ia tidak benar-benar ingin menghentikannya.
Melvin tersenyum tipis.
Namun senyum itu tidak hangat.
“Ini buruk…”
Kereta berhenti.
Gerbang besar terbuka perlahan.
Mansion Rostown berdiri megah di baliknya.
Lebih gelap dari kebanyakan rumah bangsawan lainnya.
Lebih sunyi.
Dan entah kenapa… terasa lebih dingin.
Melvin turun tanpa menunggu.
Langkahnya mantap saat memasuki halaman luas itu.
Para pelayan yang berjaga langsung menundukkan kepala.
“Selamat datang kembali, Yang Mulia.”
Ia tidak menjawab.
Tidak perlu.
Langkahnya terus berlanjut, melewati pintu utama yang langsung terbuka saat ia mendekat.
Interior mansion itu tak kalah megah dari Fratellion.
Namun tidak ada kehangatan di dalamnya.
Semua terasa… terlalu rapi.
Terlalu teratur.
Terlalu kosong.
Seolah rumah itu bukan tempat tinggal—
Melainkan… markas.
“Apakah ada laporan malam ini?”
Melvin akhirnya berbicara saat melepas sarung tangannya.
Seorang pria lain mendekat.
Berbeda dari pelayan biasa.
Tatapannya lebih tajam.
Gerakannya lebih terlatih.
“Sudah kami siapkan di ruang kerja, Tuan.”
Melvin mengangguk.
“Tidak ada yang mencurigakan?”
Pria itu sedikit ragu.
“Hanya satu hal.”
Melvin berhenti.
“Bicara.”
“Pergerakan dari sisi barat sedikit meningkat. Kami menduga… mereka mulai bergerak lebih cepat dari perkiraan.”
Hening.
Melvin tidak langsung menjawab.
Ia hanya berdiri diam beberapa detik.
Lalu—
Senyum kecil muncul di bibirnya.
“Bagus.”
Nada suaranya berubah.
Lebih rendah.
Lebih tajam.
“Sudah waktunya mereka keluar dari bayangan.”
Ia berjalan melewati pria itu.
Langkahnya kini berbeda.
Lebih ringan.
Lebih… hidup.
Seolah-olah dunia yang barusan ia tinggalkan di pesta itu hanyalah ilusi.
Dan inilah—
Dunianya yang sebenarnya.
Ruang kerja itu berada di bagian terdalam mansion.
Jauh dari jangkauan tamu.
Jauh dari mata orang luar.
Pintu kayu besar terbuka.
Dan suasana di dalamnya langsung terasa berbeda.
Peta-peta besar terpampang di dinding.
Beberapa meja dipenuhi dokumen.
Simbol-simbol aneh tergambar di beberapa bagian—sesuatu yang tidak akan dikenali oleh orang biasa.
Dan di tengah ruangan—
Sebuah lambang.
Samar.
Namun jelas.
Seekor naga bersayap.
Melvin berjalan masuk tanpa ragu.
Ia melepaskan jasnya, lalu meletakkannya sembarangan di kursi.
Sikap santainya hilang.
Digantikan oleh sesuatu yang lebih serius.
Lebih… berbahaya.
“Mulai.”
Satu kata.
Dan ruangan itu langsung hidup.
Beberapa orang yang sejak tadi menunggu langsung bergerak.
Dokumen dibuka.
Peta digeser.
Informasi mulai disampaikan.
“Pergerakan Darkangel semakin aktif di wilayah utara—”
“Kita kehilangan dua informan minggu lalu—”
“Ada kemungkinan kebocoran dari dalam—”
Suara-suara itu bersahutan.
Cepat.
Tepat.
Tanpa emosi.
Melvin berdiri di tengah.
Mendengarkan.
Menganalisis.
Menghubungkan semuanya.
Inilah dunia yang ia pilih.
Dunia yang penuh bayangan.
Penuh tipu muslihat.
Dan penuh darah… meskipun tidak selalu terlihat.
Dragon Knight of Archangel.
Nama yang hanya diketahui oleh sedikit orang.
Organisasi yang berdiri di antara terang dan gelap.
Dan Melvin—
Adalah salah satu pedangnya.
“Jika mereka mulai bergerak lebih cepat, berarti kita juga harus mempercepat langkah.”
Suara Melvin memotong semua pembicaraan.
Semua langsung diam.
Menunggu.
“Kita tidak bisa lagi hanya mengamati.”
Ia berjalan mendekati peta.
Jariny a menunjuk satu titik.
“Serang di sini.”
Beberapa orang saling berpandangan.
“Itu terlalu berisiko, Tuan.”
Melvin tersenyum tipis.
“Justru itu.”
Tatapannya tajam.
“Kalau kita tidak mengambil risiko sekarang… kita akan kehilangan kendali.”
Hening.
Tak ada yang berani membantah lagi.
“Siapkan semuanya.”
Perintah itu jelas.
Dan mutlak.
Namun—
Di tengah semua itu—
Ada satu hal yang terus mengganggunya.
Seperti bayangan yang tak mau pergi.
Seperti suara yang terus berbisik di belakang pikirannya.
Bella.
Melvin mengepalkan tangannya sedikit.
Sangat halus.
Hampir tidak terlihat.
“Fokus…”
Gumamnya dalam hati.
Ini bukan waktunya.
Bukan tempatnya.
Namun—
Sialnya—
Ia masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana gadis itu berdiri di depannya.
Bagaimana suaranya bergetar sedikit saat berbicara.
Bagaimana matanya tetap menatapnya… meskipun gugup.
Dan bagaimana—
Ia merasa…
Tertarik.
Bukan sekadar rasa ingin tahu.
Bukan sekadar ketertarikan sesaat.
Tapi sesuatu yang lebih dalam.
Lebih berbahaya.
Melvin menghembuskan napas pelan.
“Ini masalah.”
“Yang Mulia?”
Suara itu membuatnya kembali.
Salah satu bawahannya menatapnya dengan ragu.
“Apakah Anda baik-baik saja?”
Melvin menoleh.
Tatapannya kembali dingin.
“Tentu saja.”
Ia mengambil dokumen dari tangan pria itu.
“Lanjutkan.”
Rapat itu berakhir larut malam.
Satu per satu orang meninggalkan ruangan.
Hingga akhirnya…
Hanya tersisa Melvin seorang diri.
Ia berdiri di depan jendela.
Hujan masih turun.
Lebih deras dari sebelumnya.
Cahaya kilat sesekali menyambar, menerangi langit yang gelap.
Melvin menyandarkan tangannya di kaca.
Matanya kosong.
Namun pikirannya…
Penuh.
“Arabella Winston…”
Ia menyebut nama itu pelan.
Seolah mencoba merasakannya.
Mengujinya.
Dan memastikan bahwa ini bukan sekadar ilusi sesaat.
“Kenapa harus kau…”
Senyum tipis muncul di bibirnya.
Namun kali ini…
Ada sesuatu yang berbeda.
Bukan sekadar ketertarikan.
Bukan sekadar rasa ingin tahu.
Tapi…
Keinginan.
Keinginan untuk mengetahui lebih jauh.
Keinginan untuk mendekat.
Dan mungkin—
Keinginan untuk memiliki.
Melvin menutup matanya sejenak.
Lalu membukanya kembali.
Tatapannya kini lebih tajam.
Lebih fokus.
“Sepertinya… aku harus lebih berhati-hati.”
Namun di dalam hatinya—
Ia tahu.
Bahwa ini bukan sesuatu yang bisa ia kendalikan dengan mudah.
Karena untuk pertama kalinya…
Ada seseorang yang berhasil mengganggu keseimbangan hidupnya.
Dan itu—
Adalah sesuatu yang tidak pernah ia izinkan sebelumnya.
Di luar—
Hujan terus turun.
Tanpa henti.
Seperti malam itu.
Seperti awal dari sesuatu yang tak terduga.
Dan di suatu tempat di kota Vincent—
Seorang gadis mungkin juga sedang memikirkan hal yang sama.
Tanpa sadar—
Dua dunia yang berbeda itu…
Perlahan mulai saling mendekat.
Dan tidak ada yang tahu—
Seberapa besar dampak yang akan mereka bawa satu sama lain.
cerita nya keren👍👍👍