NovelToon NovelToon
Aku, Kamu,Dan Duniamu Yang Lain

Aku, Kamu,Dan Duniamu Yang Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:375
Nilai: 5
Nama Author: firsty aulia

Sora Kalani menghabiskan hidupnya di antara detak mesin jam, menunggu satu detik di mana Ezrael Vance akan menoleh ke arahnya. Namun bagi Ezra, Sora hanyalah pelabuhan tenang tempatnya bersandar sebelum ia kembali berlayar mengejar Liora—balerina yang menjadi pusat dunianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firsty aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Puncak Langit dan Koin yang Berputar ​

​Hael tidak membawa Sora ke kafe mewah atau taman kota yang ramai. Ia justru mengemudikan mobil jip tuanya yang berbau pelitur kayu menanjak ke arah pinggiran kota, menuju sebuah gedung pemancar tua yang terbengkalai di atas perbukitan. Angin malam menusuk kulit, membawa aroma tanah basah dan kebebasan yang terasa asing bagi paru-paru Sora yang biasanya hanya menghirup bau oli dan logam.

​"Kenapa kita ke sini, Hael?" tanya Sora saat mereka keluar dari mobil. Suaranya masih serak karena tangisan yang ia tahan di bengkel tadi.

​Hael tidak menjawab. Ia hanya memberi isyarat agar Sora mengikutinya menaiki tangga besi yang berkarat menuju atap beton gedung itu. Di atas sana, dunia terasa sangat luas. Lampu-lampu kota di bawah sana tampak seperti butiran berlian yang tumpah di atas kain beludru hitam. Tidak ada detak jam di sini. Hanya ada desau angin yang menderu di telinga.

​"Di sini, waktu tidak punya kuasa," ucap Hael sambil bersandar pada pagar pembatas. Ia mengeluarkan pemantik api dan menyalakan sebatang rokok, membiarkan asapnya terbawa angin. "Kota di bawah sana sibuk menghitung detik, mengejar jadwal, dan meratapi keterlambatan. Tapi di sini, kamu hanya bagian dari langit."

​Sora mendekat ke tepian, memandang kejauhan. "Liora benar, Hael. Aku hanya sebuah 'jangkar'. Aku diam di tempat agar Ezra merasa punya rumah untuk pulang, sementara dia sendiri bebas terbang ke mana pun dia mau."

​Hael menoleh, menatap profil samping wajah Sora yang terkena cahaya bulan. "Liora itu balerina, Sora. Dia tahu cara memutar tubuh agar semua mata tertuju padanya. Tapi dia salah satu hal: jangkar bukan hanya penahan. Jangkar adalah benda yang paling kuat di sebuah kapal. Tanpa jangkar, kapal itu akan hancur menabrak karang saat badai datang."

​Hael terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih berat. "Masalahnya adalah, kamu memilih menjadi jangkar untuk kapal yang sudah menemukan pelabuhan lain. Itu bukan pengabdian, itu bunuh diri perlahan."

​Sora merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan koin tua pemberian Hael. Logam dingin itu terasa berat di jemarinya. "Kamu bilang semalam, aku harus melempar koin ini saat aku merasa waktuku benar-benar habis untuknya."

​Hael mematikan rokoknya di bawah sepatu botnya. "Lakukan sekarang. Jangan tanya aku, jangan tanya hatimu yang sedang kacau. Tanya pada nasib."

​Sora menatap koin itu. Di satu sisi ada lambang kepala yang melambangkan keberanian untuk berhenti, dan di sisi lain ada ekor yang melambangkan pelarian yang lebih jauh. Tangannya bergetar. Seluruh hidupnya selama sepuluh tahun terakhir didedikasikan untuk menunggu Ezra. Melempar koin ini berarti menyerahkan seluruh penantian itu pada gravitasi.

​"Jika kepala muncul, aku akan menutup bengkel itu besok dan pergi dari kota ini," bisik Sora, lebih kepada dirinya sendiri. "Jika ekor muncul... aku akan tetap menunggu sampai dia sendiri yang memintaku pergi."

​Hael hanya diam, memperhatikan dengan tatapan tajam yang tidak terbaca.

​Sora meletakkan koin itu di atas ibu jarinya. Dengan satu sentakan kuat, koin itu melesat ke udara. Logam itu berputar-putar di bawah cahaya bulan, berkilat perak sebelum akhirnya jatuh dan berdenting di atas lantai beton yang kasar.

​Ting.

​Koin itu berputar beberapa kali sebelum akhirnya berhenti tegak lurus, terjepit di sebuah celah retakan beton. Tidak ada kepala. Tidak ada ekor.

​Sora terpaku. "Apa artinya ini?"

​Hael berjalan mendekat, berlutut untuk melihat koin yang berdiri tegak itu. Ia tertawa pendek, jenis tawa yang mengandung kekaguman. "Artinya, alam semesta pun muak dengan pilihanmu yang itu-itu saja, Sora. Berhenti menunggu atau terus berlari—keduanya tetap membuatmu terikat pada Ezra."

​Hael berdiri dan menatap tepat ke dalam mata Sora. "Koin ini memberimu pilihan ketiga. Sesuatu yang tidak pernah kamu pertimbangkan sebelumnya."

​"Apa itu?" tanya Sora dengan napas tertahan.

​"Berhenti menjadi jangkar, dan mulailah menjadi nakhoda bagi dirimu sendiri. Jangan pergi karena takut, jangan tinggal karena cinta yang mengemis. Tetaplah di bengkelmu, tapi bukan untuk Ezra. Perbaikilah jam-jam itu untuk dirimu sendiri. Hiduplah dalam detikmu sendiri."

​Sora menatap koin yang masih berdiri tegak di retakan beton itu. Sesuatu di dalam dadanya seolah retak, melepaskan beban berat yang selama ini menghimpit jantungnya. Ia menyadari bahwa selama ini ia selalu memberikan "waktunya" kepada orang lain—kepada jam yang rusak, kepada janji Ezra, kepada kenangan Liora. Ia tidak pernah benar-benar memiliki waktunya sendiri.

​"Hael," panggil Sora pelan.

​"Ya?"

​"Terima kasih sudah membawaku ke sini."

​Hael hanya mengangguk kecil. Ia melepas jaket flanelnya dan menyampirkannya ke bahu Sora yang menggigil. "Ayo pulang. Besok pagi, matahari akan terbit lagi. Dan aku ingin melihat jam di bengkelmu berdetak untuk Sora Kalani, bukan untuk Ezra Vance."

​Saat mereka menuruni tangga, Sora tidak mengambil koin itu. Ia membiarkannya tetap terjepit di sana, di puncak langit, sebagai tanda bahwa babak hidupnya yang lama telah tertinggal di atas sana. Namun, tanpa sepengetahuan Sora, ponselnya yang berada di dalam saku mantel tiba-tiba bergetar hebat.

​Ada tiga panggilan tak terjawab dan satu pesan suara dari nomor internasional.

​Pesan suara dari: Ezra Vance.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!