NovelToon NovelToon
Suami Untuk Istri Ayahku

Suami Untuk Istri Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Andra Secret love

Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: TAMU TAK DIUNDANG

---

Pagi itu, Ardi bangun dengan perasaan yang tidak biasa.

Bukan gelisah, bukan cemas. Tapi semacam kehangatan yang mengendap di dadanya, seperti sisa mimpi yang tidak bisa dia ingat tapi terasa menyenangkan. Dia berbaring sebentar, menatap langit-langit kamar masa kecilnya, mendengar suara burung di luar jendela.

Dari bawah, terdengar suara panci dan piring. Maya sudah di dapur.

Ardi tersenyum—tanpa sadar, tanpa alasan—lalu bangun, mandi, dan turun dengan langkah lebih ringan dari biasanya.

Maya berdiri di depan kompor, membalik dadar tipis dengan konsentrasi penuh. Rambutnya diikat asal, beberapa helai jatuh di leher. Dia memakai kemeja putih polos dan celana kain hitam, kaki masih telanjang. Di meja, dua piring sudah tersusun: nasi, sambal, dan sayur bening.

“Pagi,” sapa Ardi.

Maya menoleh, tersenyum. Senyum yang tidak lagi kaku, tidak lagi penuh waspada. Senyum yang membuat sesuatu di perut Ardi bergerak aneh.

“Pagi. Kamu keburu sarapan? Nanti kamu ke kantor kan?”

“Iya. Tapi masih ada waktu.”

Ardi duduk, mengambil nasi, mulai makan. Maya menyelesaikan dadarnya, meletakkan di piring Ardi dengan hati-hati. Dadar kali ini tidak gosong, bentuknya rapi, seperti bundaran sempurna.

“Kamu belajar masak dadar semalam?” Ardi bertanya setengah bercanda.

Maya tertawa kecil. “Aku nonton YouTube. Ternyata api harus kecil.”

“Pintar.”

Maya duduk di seberangnya, mengambil piring sendiri. Mereka makan dalam diam yang sudah akrab—diam yang tidak perlu diisi dengan obrolan, diam yang nyaman seperti selimut tua.

Setelah beberapa menit, Maya berkata, “ART datang siang nanti. Aku dimintain tolong belanja ke pasar.”

“Aku antar?”

Maya menggeleng. “Tidak usah. Kamu kan ada rapat.”

“Rapatnya bisa diundur.”

Maya menatap Ardi, matanya sedikit melebar. Lalu dia tersenyum lagi—senyum yang sama, yang membuat Ardi lupa bahwa ini salah, bahwa ini rumah ayahnya, bahwa wanita di seberangnya adalah istri ayahnya.

“Kamu baik,” kata Maya pelan.

Ardi tidak menjawab. Dia hanya menunduk, melanjutkan makan, mencoba mengabaikan detak jantung yang terlalu cepat.

Bel pintu berbunyi.

Mereka berdua menoleh. Ardi melihat jam di dinding: setengah sembilan. Siapa yang datang sepagi ini? Bram masih di Surabaya. ART belum datang.

“Aku buka,” kata Ardi, berdiri.

Dia berjalan ke pintu utama, membuka tanpa melihat lubang intip.

Sari berdiri di teras, membawa satu keranjang piknik anyaman, senyumnya selebar langit pagi. Dress bunga-bunga, rambut dikepang dua, sepatu kanvas putih. Dia terlihat seperti gambar dari majalah gaya hidup.

“Pagi, Di!” Sari melangkah masuk tanpa menunggu diundang. “Aku bawain sarapan. Aku pikir kamu di sini.”

Ardi tidak bergerak, tubuhnya menghalangi pintu setengah detik terlalu lama. Tapi Sari sudah masuk, mencium pipinya cepat, lalu berjalan menuju dapur dengan langkah akrab.

“Maya! Aku bawain bubur dari tempat langganan Mama. Enak banget!” Sari berteriak dari ruang tamu.

Ardi menutup pintu, mengikuti dengan langkah berat. Dadanya berdebar tidak nyaman.

Di dapur, Sari sudah duduk di samping Maya, membuka keranjang piknik, mengeluarkan dua mangkuk bubur ayam. Dia tersenyum pada Maya, lalu menatap Ardi yang berdiri di ambang pintu.

“Kalian sudah sarapan?” Sari melihat piring yang setengah kosong.

“Baru selesai,” kata Maya cepat. “Maaf, aku masak tadi pagi.”

“Wah, Maya masak?” Sari menoleh ke Ardi, matanya berbinar. “Enak, Di?”

Ardi mengangguk. “Enak.”

Sari mengambil sendok, mencicipi sisa sayur bening di piring Maya. “Iya, enak! Kamu hebat, Kak. Aku nggak bisa masak sama sekali.”

Maya tersenyum malu. “Masak sederhana saja.”

Sari meletakkan bubur di depan Maya dan Ardi, memaksa mereka makan lagi. “Kalian harus cobain. Mama bilang ini bubur terenak se-Jakarta.”

Ardi duduk, mengambil sendok, makan meskipun perutnya sudah kenyang. Maya juga ikut, mengecap bubur dengan ekspresi hati-hati.

Sari berbicara tanpa henti. Tentang rencana liburan mereka berdua ke Bali, tentang koleksi terbaru butik langganannya, tentang ibunya yang bertanya kapan pernikahan. Semua mengalir cepat, seperti sungai yang tidak bisa dihentikan.

Ardi mendengarkan dengan setengah hati. Matanya sesekali melirik Maya, yang duduk diam, tersenyum sopan, kadang mengangguk. Tapi ada sesuatu di mata Maya yang berbeda. Tidak cemas, tidak takut. Hanya... waspada.

“Jadi, kita jadi ke Bali bulan depan, kan Di?” Sari menyentuh lengannya.

Ardi mengangkat wajah. “Apa?”

“Bali. Liburan. Yang sudah kita rencanakan dari bulan lalu.” Sari menyipit. “Kamu lupa?”

“Tidak. Aku ingat.” Ardi mengusap wajah. “Tapi aku ada proyek properti dari ayah. Mungkin harus diundur.”

Sari terdiam. Senyumnya masih tersisa, tapi tidak sampai mata. “Proyek apa?”

“Divisi properti turun. Aku harus turun langsung.”

“Turun langsung?” Sari meletakkan sendoknya. “Itu artinya kamu akan sibuk sekali? Lalu kita jadi tidak bisa liburan?”

Ardi tidak menjawab. Dia tahu Sari menunggu jawaban yang menenangkan. Tapi dia tidak bisa memberikan itu, karena alasan sebenarnya bukan proyek properti. Alasan sebenarnya duduk di seberang meja, memegang sendok dengan jari yang sedikit gemetar.

“Kita bicarakan nanti,” kata Ardi akhirnya.

Sari menatapnya lama. Lalu dia menghela napas, tersenyum lagi—senyum yang dipaksakan, yang membuat Ardi merasa bersalah. “Baik. Kita bicarakan nanti.”

Dia menoleh ke Maya, mengalihkan topik. “Kak Maya, aku mau minta tolong. Nanti aku mau belanja ke pasar, tapi aku nggak tahu jalan. Bisa temani?”

Maya mengangkat wajah, sedikit terkejut. “Aku... iya, bisa.”

“Kamu nggak keberatan kan, Di?” Sari menatap Ardi.

Ardi menggeleng. “Terserah.”

“Bagus!” Sari bertepuk tangan kecil. “Kita berangkat jam sepuluh. Sekarang aku mau bersih-bersih dulu.”

Dia berdiri, mengangkat piring kotor, membawanya ke wastafel. Ardi ikut berdiri, membantu mengangkat piring, tapi Sari menepis tangannya.

“Kamu duduk saja. Aku yang beresin.”

Ardi kembali duduk, diam. Maya masih di tempatnya, tangannya memegang gelas air, mata mengikuti gerak Sari di wastafel.

Di ruang tamu, ponsel Ardi berdering. Dia berdiri, berjalan keluar dapur, mengangkat telepon. Urusan kantor, kata sekretaris. Ada rapat mendadak jam sebelas.

Ardi menutup telepon, berjalan kembali ke dapur. Sari dan Maya sedang berdiri berdekatan di depan wastafel, Sari tertawa tentang sesuatu, Maya tersenyum kecil.

Ardi berhenti di ambang pintu, mengamati. Sari mencuci piring dengan gerakan ceria, sesekali menyenggol bahu Maya. Maya membalas dengan senyum yang tidak sampai ke mata.

Ada sesuatu yang aneh. Ardi tidak bisa menjelaskan, tapi ada jarak di antara mereka yang tidak terlihat. Seperti dua orang yang berbicara dengan bahasa berbeda.

“Aku harus ke kantor,” kata Ardi.

Sari menoleh. “Sekarang? Padahal aku baru datang.”

“Rapat mendadak.”

Sari mendesah, mengeringkan tangan, berjalan mendekat. Dia menggenggam tangan Ardi, menatap matanya. “Kamu jangan terlalu lelah, ya. Jangan lupa makan siang.”

“Iya.”

Sari mencium pipinya, lalu berbisik, “Aku sayang kamu.”

Ardi mengecup keningnya cepat. “Aku juga.”

Maya masih di depan wastafel, membalikkan badan, tidak melihat ke arah mereka. Tapi Ardi bisa melihat punggungnya yang tegang.

Dia keluar dapur, mengambil jaket di ruang tamu, melangkah menuju pintu. Di teras, dia berhenti, menoleh ke jendela dapur.

Sari dan Maya berdiri berhadapan. Sari tertawa lebar, tangan di pinggang, seperti sedang bercerita sesuatu yang lucu. Maya tersenyum, tapi matanya tidak pada Sari. Matanya menembus jendela, menembus kaca, menembus jarak, dan bertemu dengan mata Ardi.

Hanya sebentar. Lalu Maya menunduk, membalikkan badan.

Ardi masuk ke mobil, menyalakan mesin. Tapi dia tidak langsung pergi. Dia duduk di balik setir, menatap rumah dari balik kaca depan, memikirkan senyum Maya yang tidak sampai ke mata, dan senyum Sari yang terlalu lebar.

---

Jam menunjukkan pukul satu siang ketika Ardi kembali ke rumah Menteng.

Rapat selesai lebih cepat dari perkiraan. Dia tidak punya alasan untuk pulang—apartemennya lebih dekat, kantornya juga. Tapi kakinya membawanya ke sini, ke rumah besar yang kini terasa lebih seperti rumah daripada apartemen sunyinya.

Mobilnya masuk garasi. Di teras, terlihat dua pasang sepatu: sepatu kets putih Maya dan sepatu kanvas Sari.

Ardi masuk, menutup pintu pelan.

Dari ruang keluarga, terdengar suara tawa. Sari tertawa keras, diikuti tawa kecil Maya. Ardi berjalan pelan, berhenti di sudut lorong, mengamati.

Sari dan Maya duduk berdampingan di sofa besar, di antara mereka berserakan kantong-kantong belanjaan. Sari mengeluarkan satu per satu barang, menjelaskan sesuatu dengan antusias. Maya mendengarkan, kadang mengangguk, kadang tersenyum.

Ardi tidak tahu kenapa, tapi dia tidak ingin masuk. Dia hanya berdiri di sana, mengamati, merasakan sesuatu yang mengganjal di dadanya.

Sari menoleh, melihat Ardi. “Di! Kamu pulang? Cepat, lihat belanjaanku!”

Ardi berjalan mendekat, duduk di kursi tunggal di seberang sofa. Sari mengeluarkan kain batik, syal, beberapa pernak-pernik dapur. “Aku beli buat Maya. Biar rumah ini lebih ceria.”

Maya tersenyum, menerima kain batik itu, mengusapnya dengan jari. “Cantik. Terima kasih.”

“Iya, biar kamu betah di sini.” Sari menoleh ke Ardi. “Kasihan Maya, kan, ditinggal ayahmu terus. Jadi kita harus temani dia.”

Ardi mengangguk. Tidak menjawab.

Sari melanjutkan cerita tentang pasar, tentang penjual yang ramah, tentang Maya yang pintar menawar. Dia berbicara seperti mengisi kekosongan, seperti tidak tahan dengan keheningan.

Maya sesekali menambahkan komentar pendek, tapi matanya sesekali melirik Ardi. Lirikan cepat, hampir tidak terlihat, tapi Ardi menangkapnya setiap kali.

Setelah beberapa menit, Sari berdiri, menggeliat. “Aku ke kamar mandi dulu. Kakak, nanti kita lanjut buka oleh-olehnya ya.”

Maya mengangguk. Sari berjalan ke arah lorong, langkahnya ringan.

Keheningan jatuh di ruang keluarga. Hanya suara jam dinding dan dengung AC.

Ardi menatap Maya. Maya menatap balik.

“Kamu tidak bilang kalau Sari datang,” kata Ardi pelan.

Maya menghela napas. “Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba bel berbunyi.”

“Dia tidak telepon sebelumnya?”

“Tidak.”

Ardi diam. Di dalam kepalanya, ada sesuatu yang berputar. Sari tidak pernah datang tanpa kabar. Biasanya dia selalu mengirim pesan, menelepon, memastikan Ardi ada di tempat. Tapi hari ini, dia datang pagi-pagi, tanpa kabar, tanpa peringatan.

“Menurutmu, apa dia tahu?” bisik Maya.

Ardi menatapnya. Wajah Maya pucat, matanya gelisah.

“Tidak mungkin,” kata Ardi. Tapi suaranya tidak yakin.

Dari lorong, terdengar langkah kaki. Sari kembali, tersenyum cerah. “Aku lapar. Kita makan siang yuk. Aku bawain makanan dari pasar.”

Dia berjalan ke dapur, mengambil kantong plastik berisi makanan. Ardi dan Maya mengikuti, duduk di meja dapur.

Sari mengeluarkan nasi bungkus, lauk-pauk, sambal. Dia mengatur semuanya dengan rapi, seperti tuan rumah yang baik. “Makan, Kak. Kamu juga, Di.”

Mereka makan dalam suasana yang berbeda. Sari masih berbicara, masih tertawa, tapi ada sesuatu di matanya yang tidak biasa. Sesuatu yang mengawasi.

“Kalian berdua akrab sekali ya,” kata Sari tiba-tiba.

Ardi berhenti mengunyah. Maya memegang sendok lebih erat.

Sari tersenyum, mengambil sambal, menambah di piringnya. “Aku suka lihat kalian akrab. Aku khawatir kalau Maya nggak betah di sini, kan rumahnya gede, sendirian terus. Tapi ternyata Ardi sering main ke sini, jadi Maya punya teman.”

Ardi tidak menjawab. Maya diam.

Sari terus berbicara, seperti tidak menyadari ketegangan yang menggantung di udara. “Ibu tiri dan anak tiri, kan biasanya suka bermasalah. Tapi kalian kayak teman aja. Malah kayak... apa ya... kayak saudara.”

Ardi mendongak. Sari masih tersenyum, tapi matanya—matanya tidak tersenyum.

“Saudara,” ulang Sari. “Iya, kayak kakak dan adik.”

Maya mengangguk kecil. “Iya. Ardi baik.”

Sari menatap Ardi. “Iya, dia memang baik. Tapi kadang terlalu baik.”

Kalimat itu menggantung di udara. Ardi menatap Sari, mencari makna di balik senyumnya. Tapi Sari sudah mengalihkan pandangan, mengambil piring kotor, berjalan ke wastafel.

“Besok aku main lagi, ya,” kata Sari tanpa menoleh. “Aku seneng temenan sama Maya.”

Ardi dan Maya saling pandang. Ada pertanyaan yang sama di mata mereka: apa yang Sari tahu?

Sari berbalik, tersenyum lebar. “Aku pulang dulu. Di, anterin aku ke mobil.”

Ardi berdiri, mengikuti Sari ke luar. Di teras, Sari berhenti, menatap Ardi lama.

“Kamu baik-baik saja?” tanyanya.

“Iya. Kenapa?”

“Tidak.” Sari tersenyum. “Aku hanya... bahagia lihat kamu dan Maya akrab. Aku tahu kamu awalnya marah soal pernikahan ayahmu. Tapi sekarang kamu sudah mulai menerimanya. Itu bagus.”

Ardi mengangguk. “Iya.”

Sari mencium pipinya. “Aku sayang kamu. Jangan lupa, kita ada rencana liburan.”

“Iya.”

Sari masuk ke mobil, melambai, lalu pergi. Ardi berdiri di teras, menatap mobil yang melaju hingga hilang di tikungan.

Dia kembali ke dalam. Maya masih duduk di meja dapur, tidak bergerak.

“Apa dia tahu?” bisik Maya.

Ardi duduk di seberangnya, mengusap wajah. “Aku tidak tahu.”

Maya menatapnya, matanya basah. “Aku takut, Ardi.”

Ardi meraih tangannya. Di bawah meja, jari-jari mereka bertaut.

“Aku juga,” bisiknya.

---

1
Ida nyoman Subagia
🙏
Ida nyoman Subagia
👍👍
Ida nyoman Subagia
😍😍
andra
oke ,apa ada yang berani seperrti ardi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!