NovelToon NovelToon
Polisi & Dokter

Polisi & Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Action
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Akmaludd

Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.

Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.

bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

​Mobil jip hitam itu membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang menuju kawasan hunian yang lebih tenang di pinggiran Jakarta Selatan. Alisa hanya diam menyandarkan kepalanya di kaca jendela, menatap lampu-lampu jalan yang berkelebat. Pikirannya masih dipenuhi oleh pesan ancaman itu, namun ia memilih untuk menyimpannya rapat-rapat. Ia melirik Vino yang fokus mengemudi. Wajah suaminya—rasanya masih aneh menyebutnya begitu—tampak tegang, sesekali matanya melirik spion tengah seolah memastikan tidak ada yang membuntuti mereka.

​"Kita tidak ke rumah dinas?" tanya Alisa pelan saat menyadari arah jalan yang berbeda dari pembicaraan Vino sebelumnya.

​"Tidak jadi saya berubah pikiran. Keamanan di rumah dinas terlalu terbuka untuk saat ini," jawab Vino singkat tanpa menoleh. "Kita ke rumah pribadiku. Aku membelinya dua tahun lalu, lokasinya lebih privat dan sistem keamanannya sudah kupasang sendiri."

​Beberapa menit kemudian, mereka berhenti di depan sebuah rumah minimalis berlantai dua dengan pagar besi hitam yang tinggi. Desainnya modern, dengan dominasi warna abu-abu gelap dan putih, serta pencahayaan yang dramatis namun fungsional. Begitu pagar otomatis terbuka, Vino memarkirkan mobilnya di garasi yang cukup luas.

​"Ayo masuk," ajak Vino.

​Di pintu depan, seorang wanita paruh baya dengan wajah ramah sudah menunggu mereka meskipun waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam.

​"Selamat datang, Den Vino... Non Alisa. Selamat atas pernikahannya ya," sapa wanita itu dengan senyum tulus.

​"Terima kasih, Bi Ijah. Maaf ya Bi, kami datang larut begini," jawab Vino dengan nada yang jauh lebih lembut daripada saat ia bicara pada Alisa.

​"Ah, tidak apa-apa Den. Bibik sudah siapkan kamar dan air hangat untuk Non Alisa mandi. Barang-barang Non juga sudah Bibik rapikan sebagian di atas," Bi Ijah beralih menatap Alisa. "Non Alisa pasti capek ya? Ayo Bi Ijah antar ke kamar."

​Alisa tersenyum canggung. "Terima kasih, Bi."

​Vino membawa koper kecil Alisa yang tersisa. Mereka menaiki tangga kayu menuju lantai dua. Jantung Alisa mulai berdegup kencang saat langkah kaki mereka semakin mendekati sebuah pintu kayu jati besar di ujung lorong. Kamar utama.

​Begitu pintu dibuka, aroma kayu cendana dan maskulinitas langsung menyambut indra penciuman Alisa. Kamar itu sangat luas, dengan jendela besar yang menghadap ke arah kota. Namun, fokus Alisa hanya tertuju pada satu hal: sebuah ranjang king size yang tertata rapi di tengah ruangan.

​Vino meletakkan koper Alisa di sudut. Ia tampak menyadari kegelisahan Alisa yang masih berdiri mematung di dekat pintu.

​"Mandilah dulu. Aku akan keluar sebentar untuk memeriksa pagar," kata Vino.

​Alisa mengangguk kecil. Setelah Vino keluar, ia segera mengambil perlengkapan mandinya. Air hangat yang mengguyur tubuhnya sedikit meredakan ketegangan ototnya, namun tidak dengan pikirannya. Malam pertama. Tidur satu ranjang dengan pria asing. Pikiran itu terus berputar seperti kaset rusak.

​Setelah selesai mandi dan mengenakan piyama panjang yang sangat tertutup, Alisa keluar dari kamar mandi. Ia mendapati Vino sudah kembali, duduk di pinggir ranjang sambil melepas jam tangannya. Pria itu sudah berganti pakaian dengan kaos oblong hitam dan celana pendek olahraga.

​Alisa berdiri ragu di depan ranjang. Kasur itu terasa sangat luas, tapi tetap saja terasa sempit bagi dua orang asing.

​"Mas..." panggil Alisa ragu.

​Vino menoleh. "Ya?"

​"Aku... aku tidak terbiasa tidur dengan orang lain," Alisa menggigit bibir bawahnya.

​Vino menarik napas panjang. Ia berdiri, berjalan menuju lemari, dan mengeluarkan dua buah guling tambahan serta sebuah bantal panjang. Ia menyusunnya dengan rapi di tengah-tengah ranjang, membelah kasur itu menjadi dua sisi yang sama luasnya.

​"Pembatas," kata Vino singkat. "Selama satu tahun ini, ini adalah batasnya. Aku tidak akan melewati batas ini, dan aku harap kamu juga begitu. Kamu aman di sisimu."

​Alisa merasa sedikit lega, meskipun rasa takut itu belum sepenuhnya hilang. Ia naik ke atas ranjang, menyusup di bawah selimut di sisi kiri, sementara Vino mematikan lampu utama dan hanya menyisakan lampu tidur yang temaram.

​Kasur itu berderit saat Vino merebahkan tubuhnya di sisi kanan. Alisa memunggungi pembatas guling itu, memejamkan matanya rapat-rapat. Ia bisa mendengar suara napas teratur Vino. Pria itu tampak sangat tenang, seolah tidur dengan wanita asing bukanlah hal yang besar baginya.

​Lama Alisa terjaga, menatap kegelapan ruangan, hingga akhirnya rasa lelah mengalahkan kecemasannya. Ia tertidur dengan jemari yang menggenggam erat ujung selimutnya.

​Pukul lima pagi, alarm internal di kepala Vino berbunyi. Sejak bergabung dengan kepolisian, ia tidak pernah butuh alarm fisik. Ia membuka mata, menatap langit-langit kamar sejenak, lalu teringat bahwa ia tidak lagi sendirian. Ia melirik ke samping. Di balik barisan guling pembatas, Alisa masih tertidur pulas. Rambut panjang gadis itu tersebar di atas bantal, wajahnya tampak jauh lebih damai saat tidur dibandingkan saat terjaga dan penuh ketegangan.

​Vino bangkit perlahan agar tidak menimbulkan suara. Ia mengambil handuk kecil dan sebotol air mineral, lalu turun ke lantai bawah. Di lantai satu, terdapat sebuah ruangan khusus yang ia sulap menjadi area gym pribadi. Ruangan itu penuh dengan peralatan berat; treadmill, bench press, hingga samsak tinju yang sudah terlihat sering dihantam.

​Selama satu jam berikutnya, Vino menenggelamkan diri dalam latihan fisik yang intens. Ia memacu treadmill di kecepatan tinggi, membiarkan keringat membasahi kaosnya. Baginya, olahraga bukan sekadar menjaga bentuk tubuh, tapi satu-satunya cara untuk membuang adrenalin dan stres yang menumpuk. Setiap pukulan yang ia daratkan pada samsak seolah-olah ditujukan pada bayang-bayang masa lalu yang terus mengikutinya.

​Bugh! Bugh!

​Ia mengatur napasnya yang memburu. Bayangan ledakan itu, pesan ancaman pada Alisa, dan tanggung jawab baru ini terasa seperti beban yang berat di pundaknya.

​Di lantai atas, Alisa terbangun karena cahaya matahari yang menyusup lewat celah gorden. Ia sempat bingung sesaat melihat langit-langit yang berbeda, sampai ia melihat guling pembatas di sampingnya. Sisi sebelah kanan sudah kosong dan dingin.

​Alisa segera bangun dan merapikan tempat tidur. Ia merasa sedikit bersalah karena bangun lebih lambat. Setelah mencuci muka, ia turun ke bawah. Suara denting alat masak terdengar dari arah dapur.

​"Pagi, Bi Ijah," sapa Alisa saat masuk ke dapur.

​"Eh, Non Alisa. Sudah bangun? Pagi, Non," Bi Ijah sedang sibuk memotong sayuran.

​"Bi, biar Alisa bantu ya? Alisa tidak terbiasa diam saja kalau di rumah," Alisa menawarkan diri sambil menggulung lengan bajunya.

​"Aduh Non, jangan. Non kan sedang cuti nikah, harusnya istirahat saja. Biar Bibik saja yang kerjakan," tolak Bi Ijah sungkan.

​Alisa tersenyum tulus—senyum pertamanya sejak sampai di rumah ini. "Tidak apa-apa, Bi. Anggap saja ini olahraga pagi buat saya. Saya biasa bantu Bunda di rumah."

​Akhirnya Bi Ijah luluh. Mereka berdua mulai bekerja sama di dapur. Alisa dengan cekatan membantu menggoreng ayam dan menyiapkan bumbu sambal. Di sela-sela memasak, Bi Ijah mulai bercerita.

​"Den Vino itu sebenarnya orangnya baik sekali, Non. Hanya saja sejak dua tahun lalu dia jadi sangat pendiam. Jarang sekali ada tamu yang datang ke rumah ini, apalagi perempuan. Bibik senang sekarang ada Non Alisa, rumah ini jadi terasa ada nyawanya."

​Alisa hanya mendengarkan sambil mengaduk masakan. Dua tahun lalu? gumamnya dalam hati. Itu berarti sekitar waktu yang sama saat Vino membeli rumah ini. Apa yang terjadi saat itu?

​Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat. Vino masuk ke dapur dengan tubuh yang masih basah oleh keringat, kaosnya menempel ketat di tubuhnya, memperlihatkan otot-otot yang terbentuk sempurna. Ia membawa botol air kosong.

​Vino berhenti sejenak saat melihat Alisa berada di dapur dengan celemek menempel di dress santainya, sedang memegang spatula. Pemandangan itu terasa sangat... domestik. Sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan akan terjadi di rumahnya.

​"Kenapa kamu di dapur?" tanya Vino, suaranya sedikit serak setelah olahraga.

​"Membantu Bi Ijah. Mas mau minum?" Alisa segera mengambilkan air dingin dari kulkas tanpa menunggu jawaban.

​Vino menerima gelas itu. "Terima kasih. Aku akan mandi sebentar, setelah itu kita sarapan."

​"Iya, Mas."

​Setelah Vino naik ke atas, Bi Ijah menyenggol lengan Alisa sambil menggoda. "Tuh kan Non, Den Vino langsung segar lihat istrinya di dapur."

​Wajah Alisa memerah. "Bi, jangan mulai deh."

​Sarapan pagi itu berlangsung cukup hening, hanya terdengar suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen. Alisa merasa canggung karena ini adalah pertama kalinya mereka duduk berdua tanpa kehadiran orang tua atau teman.

​"Mas... kita punya cuti tiga hari," Alisa memulai pembicaraan. "Apa ada rencana khusus?"

​Vino meletakkan sendoknya. "Aku akan banyak menghabiskan waktu di ruang kerja untuk mempelajari berkas kasus sebelum tugas luar kota minggu depan. Kamu bisa menggunakan rumah ini sesukamu. Jika ingin keluar, katakan padaku. Aku akan mengantarmu."

​"Aku bisa bawa mobil sendiri, Mas. Aku tidak ingin merepotkanmu," sahut Alisa.

​"Tidak," jawab Vino tegas, matanya menatap Alisa dengan intensitas yang tak terbantahkan. "Selama tiga hari ini, kamu tidak boleh keluar sendirian. Jika ada keperluan mendesak, aku yang akan antar. Atau setidaknya Bi Ijah harus menemanimu."

​Alisa merasa dadanya sesak. "Mas, aku ini dokter, bukan tahanan. Kenapa Mas protektif sekali? Apa ini ada hubungannya dengan pesan-pesan itu?"

​Vino terdiam sejenak. Ia tidak menyangka Alisa akan seberani itu bertanya. "Kamu tahu soal pesan itu?"

​Alisa mengangguk, lalu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto pengintaian yang ia terima semalam. "Aku tidak bodoh, Mas. Aku tahu ada sesuatu yang mengincar kita. Atau tepatnya, mengincarmu lewat aku."

​Vino mengambil ponsel Alisa, matanya menyipit saat melihat foto tersebut. Rahangnya mengeras. Ia mengembalikan ponsel itu dengan kasar.

​"Itulah sebabnya kamu harus menuruti kataku. Orang ini tidak main-main. Dia bagian dari masa lalu yang belum selesai kutangani. Aku tidak ingin ada 'insiden' lain."

​"Insiden apa, Mas? Siapa wanita di foto yang Mas simpan di kantor?" Alisa melontarkan pertanyaan yang sudah lama ia simpan sejak pertemuan mereka di kantor polisi dulu.

​Vino berdiri seketika, kursinya berderit nyaring di lantai. Wajahnya kembali mendingin, lebih dingin dari sebelumnya. "Itu bukan urusanmu. Kesepakatan kita adalah satu tahun. Jalani saja bagianmu, dan jangan pernah mencoba menggali apa yang sudah terkubur."

​Vino melangkah pergi menuju ruang kerjanya, meninggalkan Alisa yang terpaku di meja makan.

​Bi Ijah yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan mendekat dengan wajah cemas. "Non Alisa... sabar ya. Den Vino memang kalau soal masa lalu agak sensitif."

​Alisa hanya bisa menghela napas. Ia menatap piringnya yang masih setengah penuh. Pernikahan ini baru berjalan hitungan jam, tapi tembok yang dibangun Vino terasa setinggi langit. Ia menyadari satu hal: ia tidak hanya berbagi rumah dengan seorang suami, tapi juga dengan hantu dari masa lalu suaminya yang sangat berbahaya.

​Di ruang kerjanya, Vino mengunci pintu. Ia menyalakan laptopnya dan membuka sebuah folder terenkripsi. Ia menatap layar itu dengan penuh amarah dan dendam.

​"Kamu sudah keterlaluan, bajingan," bisiknya pada kegelapan ruangan. "Kali ini, aku tidak akan membiarkanmu menang."

​Takdir terus berputar, dan di bawah atap yang sama, dua orang itu mulai menjalani hari pertama mereka—bukan sebagai pasangan yang jatuh cinta, melainkan sebagai dua orang asing yang dipaksa bersatu dalam sebuah perlindungan yang terasa seperti penjara.

Bersambung

1
Rian Moontero
mampiiirr/Bye-Bye/👍👍
Akmaluddin: makasih kak, jangan lupa like kaka👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!