Shen Yuan berdiri paling DEPAN di antara puluhan ribu kultivator dengan senjatanya dia siap membelah langit jika jalanya hanya ada satu😗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Riak Teror di Secangkir Teh
Matahari senja akhirnya menyerah pada malam, tenggelam di balik punggung Puncak Pedang Patah dan meninggalkan semburat merah darah di langit barat.
Di pelataran gudang perbekalan, Mandor Zhao berdiri gelisah di depan pintu kayunya. Jubah tebalnya berkibar ditiup angin yang membawa butiran es. Berkali-kali ia menatap ke arah jalan setapak yang tertutup salju tebal—jalan yang mengarah ke utara.
Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Hanya lolongan angin yang terdengar seperti rintihan orang sekarat.
Mandor Zhao menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang kasar. "Sudah gelap. Gou San pasti sudah menyelesaikan pekerjaannya," gumamnya getir. Rasa bersalah menggerogoti hatinya layaknya ngengat memakan kain tua. Ia baru saja mengirim seorang pemuda yang penurut ke rahang kematian hanya demi mengamankan posisinya sendiri.
Ia berbalik, bersiap untuk menutup pintu gudang dan menenggelamkan rasa bersalahnya ke dalam sebotol arak murah, ketika tiba-tiba telinganya menangkap suara langkah kaki.
Kres... Kres...
Langkah itu pelan, terseret, dan terdengar sangat lelah.
Mandor Zhao menoleh dengan cepat. Matanya yang biasanya tajam kini membelalak lebar, seolah baru saja melihat hantu yang bangkit dari kuburan es.
Dari balik tirai badai salju, sesosok tubuh kurus berjalan gontai mendekati pelataran. Pakaian raminya basah dan membeku di beberapa bagian. Rambutnya berantakan tertiup badai. Namun, di punggungnya, sebuah keranjang bambu masih menggantung dengan rapi.
Itu adalah Shen Yuan.
Pemuda itu berhenti tepat di depan Mandor Zhao. Napasnya terengah-engah, bahunya naik turun dengan cepat. Ia melepaskan keranjang bambu itu dari punggungnya dan meletakkannya di atas salju. Dengan tangan yang gemetar—entah karena kedinginan atau ketakutan—ia menyingkap kain penutup keranjang tersebut.
Sepuluh batang Rumput Urat Es memancarkan pendar biru pucat di tengah kegelapan. Akar-akarnya masih utuh, menandakan rumput itu dicabut dengan sangat hati-hati.
"Lapor... Mandor Zhao," ucap Shen Yuan dengan suara serak, giginya bergemelatuk menahan dingin. "Rumput Urat Es... sudah saya dapatkan. Angin di utara... sangat kencang hari ini. Saya sempat tersesat dua kali sebelum bisa kembali."
Mandor Zhao berdiri mematung. Tatapannya berpindah dari rumput bercahaya itu ke wajah pucat Shen Yuan, lalu kembali lagi ke rumput itu.
Dia hidup? Bagaimana mungkin? batin Mandor Zhao menjerit. Gou San adalah pemburu paling buas di pelataran luar! Apakah Gou San dan kelompoknya melewatkan bocah ini di tengah badai? Ataukah mereka tersesat? Tidak, Gou San hafal setiap jengkal Lereng Utara!
Segala macam teori berkecamuk di kepala Mandor Zhao, namun tidak satu pun yang menyertakan kemungkinan bahwa pelayan rendahan di depannya ini baru saja membakar tubuh Gou San menjadi abu.
"Kau... kau tidak bertemu siapa-siapa di sana?" tanya Mandor Zhao, suaranya tanpa sadar sedikit bergetar.
Shen Yuan menatap Mandor Zhao dengan tatapan polos yang sempurna. Matanya yang sehitam malam mengedipkan kebingungan. "Bertemu siapa, Mandor? Air Terjun Beku sangat sepi. Hanya ada suara angin dan runtuhan es. Apakah ada murid lain yang ditugaskan ke sana?"
Mandor Zhao menelan ludah. Ia buru-buru mengambil keranjang bambu itu. "T-Tidak ada. Kau... kau bekerja dengan sangat baik, Shen Yuan. Ini... ambillah ini."
Mandor Zhao merogoh saku jubahnya dengan tergesa-gesa, mengeluarkan sebuah botol porselen kecil dan menyodorkannya ke tangan Shen Yuan. "Ini Pil Penghalau Dingin. Minumlah malam ini agar sumsummu tidak membeku. Dan besok... besok kau libur. Beristirahatlah di gubukmu."
"Terima kasih atas kemurahan hati Mandor." Shen Yuan membungkuk dalam-dalam, mengambil botol itu, lalu berjalan tertatih menuju area gubuk pelayan.
Di bawah bayangan topi bambunya, lengkungan senyum dingin yang tajam kembali menghiasi bibir Shen Yuan. Reaksi Mandor Zhao mengonfirmasi tebakannya: seluruh sekte luar berpikir ia pasti mati hari ini. Kepulangannya yang 'beruntung' ini akan menjadi batu sandungan pertama bagi kewarasan musuh-musuhnya.
Malam semakin larut. Di dalam gubuk reyotnya, Shen Yuan duduk bersila di atas ranjang jerami. Tidak ada lagi kepura-puraan lelah di wajahnya, digantikan oleh ekspresi menahan rasa sakit yang luar biasa.
Ia memuntahkan seteguk darah hitam berbau busuk ke sudut ruangan.
"Sial," umpatnya tertahan. Ia mencengkeram perutnya sendiri.
Ini adalah konsekuensi dari menyerap nyawa manusia secara paksa. Energi Gou San dan kedua anteknya tidak murni. Esensi mereka dipenuhi oleh emosi negatif: ketakutan sebelum mati, niat membunuh yang kotor, dan karma berdarah dari kehidupan mereka sebagai preman sekte.
Semua 'sampah' itu kini mengamuk di dalam meridian Shen Yuan, mencoba meracuni pikiran dan akal sehatnya. Telinganya seperti mendengar bisikan-bisikan kasar dari suara Gou San yang mengutuknya.
Hanya karena kau bisa menelan surga, bukan berarti kau bisa langsung mencernanya. Kalimat dari Kitab Penelan Surga kembali terngiang di benaknya.
"Benih Hitam, giling mereka!" perintah Shen Yuan di dalam hatinya.
Ia menutup mata, memfokuskan seluruh kesadarannya ke dalam Dantian. Benih hitam raksasa yang melayang di sana berputar dengan kecepatan gila, bertindak layaknya batu kilangan raksasa. Sedikit demi sedikit, benih itu menjepit, menghancurkan, dan memurnikan energi kotor milik ketiga pembunuh tersebut.
Proses itu terasa seperti ada ribuan semut api yang merayap di bawah kulitnya. Keringat dingin bercucuran, namun Shen Yuan tidak mengeluarkan suara erangan sedikit pun. Ia telah menahan hinaan selama tiga tahun; rasa sakit fisik seperti ini tidak akan mematahkan tekadnya.
Menjelang fajar, bisikan-bisikan beracun di kepalanya akhirnya lenyap.
Benih hitam itu berhenti berputar cepat. Dari dalam retakannya, meneteslah tiga tetes cairan energi emas yang sangat kental dan murni, jatuh menyatu dengan lautan Qi di Dantian Shen Yuan.
Tiga manusia di Lapisan Ketiga dan Keempat, setelah dimurnikan secara brutal, hanya menghasilkan tiga tetes energi. Namun, ketiga tetes ini menstabilkan fondasi Lapisan Kelima Shen Yuan hingga sekeras batu karang. Luka goresan di lengan kirinya bahkan telah menutup sempurna, hanya menyisakan garis putih samar.
Shen Yuan membuka matanya. Lelah, namun matanya memancarkan ketajaman yang baru. "Energi manusia terlalu kotor dan tidak efisien. Kecuali jika mendesak untuk menghilangkan mayat, aku tidak akan menggunakan cara ini lagi untuk berkultivasi. Menelan batu roh atau inti binatang buas jauh lebih murni."
Ia menetapkan batasannya sendiri. Monster yang memiliki aturan jauh lebih menakutkan daripada iblis yang lepas kendali.
Keesokan paginya, matahari bersinar lebih cerah, mencairkan sedikit lapisan es di atap-atap paviliun.
Di Paviliun Anggrek—kediaman mewah bagi murid luar berprestasi—suasana justru terasa lebih beku daripada Air Terjun utara.
Lin Hai duduk bersandar di kursi berlapis kulit rubah, wajahnya masih pucat karena rasa sakit di area bawahnya yang belum sepenuhnya pulih. Di depannya, secangkir teh panas mengepulkan uap wangi, namun ia sama sekali tidak memiliki selera untuk meminumnya.
Seorang murid luar bergegas masuk ke dalam ruangan, membungkuk panik hingga dahinya hampir menyentuh lantai.
"Bagaimana?" tanya Lin Hai tidak sabar, suaranya sedikit mendesis. "Apakah kalian sudah menemukan mayat pelayan keparat itu? Aku ingin tangannya dipotong dan dikirim ke pelataran pelayan sebagai peringatan!"
Murid yang bersujud itu menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. "T-Tuan Muda Lin Hai... Lapor. Kami... kami tidak menemukan mayatnya."
"Apa maksudmu tidak menemukan mayatnya?!" Lin Hai menggebrak meja, membuat cangkir tehnya tumpah membasahi taplak sutra. "Apakah Gou San membuangnya ke jurang? Gou San si Anjing Liar itu, ke mana dia sekarang? Suruh dia menghadapku!"
"I-Itulah masalahnya, Tuan Muda," murid itu semakin gemetar. "Gou San... Gou San tidak bisa ditemukan di mana pun. Kami sudah mencari ke gubuknya, ke kedai arak tempat ia biasa mabuk, bahkan sampai ke gerbang belakang. Dia lenyap. Kedua anak buah Tuan Muda yang ikut bersamanya kemarin juga lenyap tanpa jejak."
Wajah Lin Hai menegang. "Lenyap? Mereka membawa uang muka dua puluh batu roh dan kabur dari sekte?!"
"T-Tuan Muda..." Murid itu ragu-ragu sejenak, suaranya mengecil hingga nyaris berbisik. "Bukan hanya itu. Setengah jam yang lalu, seorang penjaga melihat... melihat Shen Yuan."
"Shen Yuan?!" Lin Hai setengah bangkit dari kursinya, matanya melotot. "Maksudmu hantunya?!"
"T-Bukan, Tuan Muda. Orang aslinya. Dia terlihat sedang sarapan bubur di dapur pelayan, lalu pergi menyapu halaman belakang seperti biasa. Dia... dia masih hidup. Dan dia tampak sangat sehat."
Ruangan mewah itu mendadak sunyi senyap. Hanya terdengar suara tetesan teh yang jatuh dari ujung meja ke lantai kayu.
Lin Hai perlahan menjatuhkan dirinya kembali ke kursi. Rasa sakit di selangkangannya tiba-tiba terasa berdenyut lebih hebat. Pikirannya berputar liar, mencoba mencari penjelasan yang logis.
Gou San adalah pembunuh veteran Lapisan Keempat, ditemani dua orang Lapisan Ketiga. Target mereka hanyalah seorang pelayan Lapisan Ketiga yang hanya tahu cara memegang sapu.
Namun hari ini, sang pelayan kembali menyapu halaman dengan tenang. Sementara tiga orang pembunuh menghilang bagai ditelan kabut, tanpa jejak, tanpa darah, tanpa saksi.
Kengerian merayap naik dari ujung kaki Lin Hai, mencengkeram jantungnya dengan tangan es yang tak kasat mata. Ini bukan kebetulan. Seseorang—entah siapa—telah ikut campur. Apakah ada Tetua Sekte yang diam-diam melindungi Shen Yuan? Ataukah pelayan itu memancing Gou San ke dalam sarang binatang buas?
Yang jelas, Shen Yuan bukanlah sekadar kayu lapuk yang bisa ditendang sembarangan.
"Tuan Muda... apa yang harus kita lakukan?" tanya murid itu ketakutan. "Apakah kita harus mengirim kelompok bayaran tingkat tinggi untuk membereskannya siang ini?"
"Bodoh!" maki Lin Hai, suaranya bergetar menahan panik. "Tiga orang hilang tanpa jejak, kau ingin mengirim lebih banyak orang agar sekte curiga?! Berhenti bergerak. Tarik semua pengawasan dari pelayan itu."
Lin Hai menatap sisa teh yang tumpah di atas meja. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang arogan, ia merasakan teror dari sesuatu yang tidak ia pahami.
"Biarkan dia hidup untuk sementara waktu," gumam Lin Hai, matanya menyipit penuh kewaspadaan. "Setidaknya sampai sepupuku, Lin Feng, keluar dari pengasingan kultivasinya bulan depan. Sampai saat itu tiba... jangan ada yang berani mendekati anjing pelayan itu."
Di ujung lain sekte, di bawah terik matahari pagi yang pucat, Shen Yuan mengayunkan sapunya di pelataran belakang. Gerakannya tenang, napasnya teratur. Ia mengumpulkan dedaunan pinus menjadi satu gundukan rapi, seolah merapikan sisa-sisa debu kehidupan yang berserakan.
Tidak ada yang berani mendekatinya hari itu. Dan Shen Yuan tahu, fase pertama dari rencananya telah berhasil. Ia telah memenangkan waktu—sumber daya paling berharga yang ia butuhkan untuk mengasah pisau pembunuhnya menjadi lebih tajam.