"Jangan dekat-dekat cowok lain, Cebol. Kau itu tanggung jawabku!"
Bagi Anvaya Dinakara, Narev Elvaro adalah tetangga raksasa setinggi 192 cm yang paling menyebalkan. Narev selalu mengawasi Vaya, melarangnya berteman dengan pria lain dengan alasan "menjaga titipan orang tua".
Namun, satu insiden di malam kelulusan melempar mereka sepuluh tahun ke masa depan. Vaya terbangun bukan di kamarnya, melainkan di pelukan Narev dewasa yang sangat memujanya. Lebih gila lagi, ada seorang bayi cantik bernama Miciella Aracelli yang memanggil mereka "Mama" dan "Papa".
Terjebak dalam pernikahan masa depan yang manis, mampukah mereka kembali ke masa lalu saat status mereka masih "musuh bebuyutan"? Atau justru Narev akan melakukan segala cara agar masa depan itu menjadi nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Ujian Kepercayaan di Meja Makan
[POV: Vaya]
Cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah gorden terasa lebih hangat dari biasanya. Aku terbangun dengan posisi yang masih sama; kepalaku di dada Narev, dan tanganku menggenggam jemari mungil Mici yang masih terlelap di antara kami.
Narev sudah bangun. Dia hanya diam, memandangi langit-langit kamar dengan tatapan kosong sampai dia menyadari aku bergerak.
"Pagi, Sayang," bisiknya. Suaranya masih serak, dan tangannya mengusap rambutku dengan gerakan yang sangat lembut—jauh dari kesan monster yang kemarin mencengkeram lenganku di butik.
"Pagi, Narev," jawabku pelan. Aku mendongak, menatap matanya yang masih tampak lelah. "Kamu nggak tidur lagi setelah aku mimpi buruk tadi?"
Narev tersenyum tipis, jenis senyum yang hanya dia berikan padaku. "Aku cuma mau memastikan kalau aku bangun, kamu masih di sini. Aku takut kalau aku tidur lagi, kamu berubah jadi Vaya yang dulu yang selalu mencari alasan untuk pergi."
Hatiku mencelos. Aku merapatkan pelukanku. "Aku nggak ke mana-mana. Janji."
...****************...
Di Meja Makan
Suasana sarapan pagi ini terasa sangat berbeda. Bi Inah sudah menyiapkan nasi goreng kesukaan Mici dan kopi hitam untuk Narev. Mici duduk di kursi tingginya, sibuk menyuapkan nasi ke mulutnya sendiri sambil sesekali tertawa melihat ke arahku dan Narev.
"Mama... mamam!" Mici menyodorkan sesendok nasi ke arahku.
"Makasih, Sayang. Mici pintar ya, makan sendiri," pujiku sambil melahap suapan kecil darinya.
Narev menyesap kopinya, matanya tidak lepas dariku. "Vaya, hari ini... aku ingin kamu di rumah saja. Jangan ke butik dulu. Celine bilang ada beberapa urusan yang bisa dia tangani sendiri."
Aku menghentikan gerakan sendokku. Rasa sesak itu kembali muncul sedikit. "Narev, apa ini karena kejadian kemarin? Kamu masih mau mengurungku?"
Narev meletakkan cangkirnya dengan bunyi denting yang cukup keras. "Ini untuk keamananmu, Vaya. Rian itu licik. Dia tahu cara masuk ke pikiranmu. Aku nggak mau kamu terhasut lagi."
"Tapi aku sudah janji, Narev! Kamu nggak bisa terus-menerus memperlakukanku seperti anak kecil yang nggak tahu apa-apa!" suaraku sedikit meninggi.
Tiba-tiba, suasana menjadi hening. Mici berhenti makan. Dia menatap kami bergantian dengan mata bulatnya yang mulai berkaca-kaca. Dan saat itulah, suara jernih itu kembali menggema di kepalaku.
“Papa... hatinya deg-degan lagi. Papa takut Mama ketemu Om Jahat... Mama, jangan marahin Papa. Papa cuma sayang...”
Aku mengembuskan napas panjang. Suara hati Mici selalu berhasil meredam emosiku. Aku meraih tangan Narev di atas meja, menggenggamnya erat.
"Narev, dengar aku. Aku tahu kamu takut. Aku tahu apa yang aku lakukan dulu sangat menyakitimu. Tapi kalau kamu terus mengurungku, kita nggak akan pernah punya kepercayaan yang nyata. Biarkan aku membuktikan kalau aku bisa menjaga hatiku buat kamu."
Narev menatap genggaman tanganku, lalu menatap mataku lama. Dia tampak sedang berperang dengan logikanya sendiri. "Vaya, aku—"
Bzzzt... Bzzzt...
Ponsel Narev di atas meja bergetar. Sebuah pesan masuk. Narev membacanya, dan seketika wajahnya berubah menjadi sangat gelap. Rahangnya mengeras.
"Ada apa?" tanyaku cemas.
Narev memutar ponselnya ke arahku. Sebuah foto dikirim dari nomor tak dikenal. Foto itu diambil dari jarak jauh, memperlihatkan aku yang sedang menangis di pelukan Narev di dalam mobil kemarin. Di bawahnya ada tulisan:
“Berapa lama lagi kau bisa menyembunyikan wajah monstermu di balik pelukan itu, Narev? Vaya akan segera tahu siapa kau sebenarnya di malam kelulusan itu. Jam berdetak.”
"Siapa ini, Narev? Rian?" tanyaku dengan suara gemetar.
"Siapa lagi kalau bukan dia," geram Narev. Dia berdiri, aura posesifnya kembali meledak. "Lihat? Dia menguntit kita! Dia nggak akan berhenti sampai dia menghancurkan kita!"
"Narev, tenang dulu... Mici ketakutan," aku menunjuk ke arah Mici yang mulai sesenggukan.
Narev langsung tersadar. Dia mengatur napasnya, lalu menghampiri Mici dan menggendongnya. "Maaf, Mici. Papa nggak bermaksud teriak. Papa cuma... Papa cuma sayang Mama."
Mici memeluk leher Narev erat.
“Mama... Om itu jahat. Dia yang bikin Papa sama Mama berantem. Mici mau Om itu pergi jauh-jauh!” suara hati Mici terdengar penuh amarah.
Aku berdiri, menghampiri mereka berdua. "Narev, berikan ponsel itu. Aku mau bicara sama dia."
"Gila kamu?! Jangan pernah hubungi dia!" bentak Narev spontan.
"Nggak, Narev. Bukan untuk kembali padanya. Tapi untuk menegaskan kalau aku sudah tahu semuanya. Aku mau dia berhenti mengganggu keluarga kita. Kalau kita terus lari dan sembunyi, dia akan terus punya power atas kita. Berikan ponselnya."
Narev menatapku ragu. "Kamu yakin?"
"Aku Anvaya, istrimu. Dan aku ibu dari anakmu. Aku nggak akan membiarkan siapa pun merusak ini lagi," kataku dengan penuh keyakinan.
Narev perlahan merogoh saku jasnya dan memberikan ponselku yang kemarin dia sita. "Aku akan ada di sampingmu. Kalau dia bicara macam-macam, aku yang akan selesaikan."
Aku mengangguk. Tanganku gemetar saat menyalakan ponsel itu. Benar saja, ada puluhan panggilan tak terjawab dari Rian. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menekan tombol panggil balik.
Tuut... Tuut...
"Vaya? Kau akhirnya bebas dari monster itu?" suara Rian di seberang sana terdengar sangat sombong, seolah dia sudah menang.
"Jangan pernah hubungi aku lagi, Rian," kataku dengan suara yang setenang mungkin, meski jantungku berdegup seperti genderang perang.
"Apa? Vaya, kau pasti sedang diancam, kan? Narev ada di sampingmu? Jangan takut, aku punya bukti lain tentang apa yang dia lakukan di malam kelulusan—"
"Aku nggak peduli, Rian!" potongku tegas. "Apa pun yang Narev lakukan di masa lalu, dia melakukannya karena dia mencintaiku. Sedangkan kamu? Kamu mendekatiku hanya untuk menghasutku dan mengincar apa yang dimiliki suamiku. Aku sudah ingat semuanya, Rian. Aku ingat betapa jahatnya kamu memanipulasi pikiranku sampai aku membenci ayah dari anakku sendiri."
Hening di seberang sana.
"Jangan pernah muncul di depan butikku, jangan pernah kirim pesan ke suamiku, dan jangan pernah sebut nama Mici lagi. Kalau kamu berani melakukannya, aku sendiri yang akan memastikan kamu membusuk di penjara karena penguntitan," lanjutku dengan nada mengancam yang belum pernah kugunakan sebelumnya.
Aku langsung mematikan telepon itu tanpa menunggu jawabannya. Aku gemetar hebat, ponsel itu hampir jatuh dari tanganku kalau Narev tidak segera menangkapnya.
Narev menatapku dengan tatapan tak percaya. Ada rasa bangga, haru, sekaligus cinta yang meluap di matanya. Dia memelukku dan Mici sekaligus dalam satu dekapan raksasa.
"Terima kasih, Vaya... Terima kasih sudah membelaku," bisik Narev di rambutku.
“Hati Mama warnanya merah berani! Mici suka! Papa... Papa nangis ya? Hihi, Papa cengeng kalau sama Mama.”
Aku tersenyum di balik dada Narev. Badai dari luar mungkin masih akan datang, tapi setidaknya di dalam rumah ini, pondasi kami mulai menguat. Namun, dalam hati aku bertanya-tanya... Apa sebenarnya yang terjadi di malam kelulusan itu? Kenapa Rian begitu yakin itu bisa menghancurkan hubunganku dengan Narev?
Vaya mulai menunjukkan keberaniannya! Tapi rahasia "Malam Kelulusan" masih menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Apakah Narev akan jujur sebelum Rian bertindak lebih jauh?
...****************...
G konsisten sma omongannya si vaya
ko pendek kali babnya panjangin dikit dong kaaaa