bertemu dengan pria yang super duper nyebelin udah mah dia yang di tabrak ke mobil sekarang dia yang harus ganti rugi
itu yang di alami Ara bertemu dengan yoga pria yang paling nyebelin versi dia
ehh harus bertemu lagi dengan pria nyebelin dalam ikatan pacar(sewaan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Septiayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tidak bisa di akhiri
Pagi itu udara taman terasa sejuk. Embun masih menempel di daun-daun, dan suasana belum terlalu ramai.
Arabella sudah duduk di salah satu bangku taman.
Tangannya saling menggenggam di atas pangkuan, sementara tatapannya kosong ke depan. Ia sudah datang lebih dulu… jauh lebih awal dari waktu yang dijanjikan.
Pikirannya penuh.
Keputusan yang ia buat semalam masih terasa berat.
Tapi ia tahu—ia harus melakukannya.
Beberapa menit berlalu.
Langkah kaki mendekat.
“Maaf… aku terlambat.”
Arabella tidak langsung menoleh.
Ia tahu suara itu.
Yoga.
Pria itu berdiri di depannya, sedikit terengah, seolah benar-benar berusaha datang secepat mungkin.
“Ada apa?” tanya Yoga, menatapnya.
Arabella akhirnya mengangkat wajahnya.
Tatapannya tenang… tapi dingin.
“Aku mau bicara.”
Yoga langsung duduk di sampingnya.
“Bicara apa sampai harus ketemu empat mata begini?”
Hening sebentar.
Arabella menarik napas pelan.
“Aku mau mengakhiri semuanya.”
Kalimat itu keluar… tegas.
Yoga langsung menoleh cepat.
“Apa?”
Arabella tetap menatap lurus ke depan.
“Perjanjian ini. Aku mau berhenti.”
Wajah Yoga berubah.
“Kenapa tiba-tiba?”
Arabella menggeleng pelan.
“Ini sudah terlalu jauh.”
Yoga menatapnya tajam.
“Kita baru mulai.”
“Justru itu,” jawab Arabella cepat. “Sebelum semakin jauh, lebih baik berhenti sekarang.”
Yoga menghela napas, terlihat tidak setuju.
“Kamu tidak bisa seenaknya berhenti.”
Arabella menoleh.
“Aku bisa.”
Yoga menatapnya lebih dalam.
“Kalau kamu berhenti sekarang… aku tidak akan membayar yang kemarin.”
Kalimat itu dingin.
Arabella terdiam sesaat.
Namun kemudian ia mengangguk pelan.
“Tidak apa-apa.”
Yoga sedikit terkejut.
“Kamu serius?”
Arabella menatapnya lurus.
“Iya. Aku tidak butuh uangnya lagi.”
Jawaban itu membuat Yoga kehilangan kata-kata sejenak.
Hening.
Namun tiba-tiba—
“Hei!”
Suara kasar memecah suasana.
Keduanya menoleh bersamaan.
Seorang pria berbadan besar, dengan wajah garang, berjalan mendekat.
Tatapannya langsung tertuju pada Arabella.
“Akhirnya ketemu juga lo.”
Wajah Arabella langsung pucat.
“Kamu…”
Pria itu tertawa kecil.
“Gue cari lo beberapa hari ini.”
Yoga mengerutkan kening.
“Siapa dia?”
Arabella tidak langsung menjawab.
Tangannya mulai gemetar.
Pria itu berhenti di depan mereka.
“Utang lo belum dibayar.”
Suasana langsung menegang.
Yoga menatap Arabella.
“Utang?”
Arabella menunduk.
“…iya.”
Pria itu melanjutkan dengan nada kasar.
“Dua puluh juta. Jangan pura-pura lupa.”
Yoga sedikit terkejut.
Arabella menggenggam tangannya erat.
“Itu… untuk sekolah adik-adikku… dan biaya rumah sakit ibu…”
Suaranya pelan… hampir tidak terdengar.
Ia menatap pria itu dengan memohon.
“Tolong… kasih aku waktu sedikit lagi.”
Pria itu tertawa sinis.
“Waktu? Gue udah kasih waktu satu tahun.”
Arabella menunduk lebih dalam.
“Tolong…”
“Enggak!” potong pria itu kasar. “Gue mau sekarang.”
Suasana semakin tegang.
Yoga berdiri.
“Berapa?”
Pria itu menatap Yoga dari atas sampai bawah.
“Lo siapa?”
Yoga tidak menjawab pertanyaan itu.
“Berapa totalnya?”
“Dua puluh juta.”
Tanpa ragu, Yoga mengeluarkan buku cek.
Arabella langsung berdiri.
“Yoga, jangan—”
Tapi Yoga sudah menuliskan sesuatu.
“Ini.”
"di dalam ini ada tiga puluh juta anggap sebagi bonus" ucap yoga santai
Ia menyerahkan cek itu.
Arabella mencoba menahannya.
“Aku bilang jangan!”
Namun pria itu lebih cepat.
Ia langsung merebut cek tersebut.
Matanya berbinar.
“Wah… enak juga ya.”
Tanpa banyak bicara, pria itu langsung pergi.
Meninggalkan mereka berdua.
Sunyi.
Arabella berdiri kaku.
Tangannya masih setengah terulur… terlambat.
Ia menoleh ke Yoga dengan mata penuh emosi.
“Kenapa kamu lakukan itu?!”
Yoga menatapnya tenang.
“Aku tidak suka melihat masalah yang berlarut.”
Arabella menggeleng.
“Aku tidak minta bantuanmu!”
Yoga melangkah mendekat.
“Tapi kamu butuh.”
Arabella mengepalkan tangan.
“Sekarang aku malah jadi berhutang sama kamu!”
Yoga tidak menyangkal.
“Iya.”
Jawaban itu membuat Arabella terdiam.
Yoga melanjutkan dengan nada serius.
“Anggap saja itu pembayaran di awal.”
Arabella mengerutkan kening.
“Untuk apa?”
Yoga menatapnya lurus.
“Satu bulan.”
Hening.
“Satu bulan kamu jadi pacar sewaanku.”
Arabella membeku.
“Yoga…”
“Kamu tidak punya alasan untuk menolak sekarang.”
Suara Yoga tenang… tapi menekan.
Arabella menunduk.
Ia ingin menolak.
Ingin pergi.
Tapi kenyataan di depannya terlalu jelas.
Ia baru saja dibantu.
Dan sekarang—
ia berhutang.
Perlahan, ia menutup matanya.
Napasnya terasa berat.
“…baik.”
Jawabannya pelan.
Tapi cukup jelas.
Yoga tidak tersenyum.
Namun tatapannya berubah.
Perjanjian itu—
tidak berakhir.
Justru…
semakin dalam.
Dan kali ini—
Arabella tidak punya jalan keluar semudah yang ia kira.
...----------------...
Keheningan di taman itu terasa terlalu berat.
Sebelum Arabella sempat benar-benar memproses semuanya—
tangan Yoga tiba-tiba menarik pergelangan tangannya.
“Ayo.”
Arabella sedikit terkejut.
“Kita mau ke mana?”
“Ke rumahku.”
Arabella langsung mengerutkan kening.
“Untuk apa?”
Yoga menatapnya singkat.
“Ibu sudah menunggu.”
Arabella terdiam.
Ia ingin menolak.
Sangat ingin.
Tapi kata-kata itu… tidak keluar.
Situasinya terlalu rumit.
Dan sekarang—
ia merasa tidak punya posisi untuk berkata tidak.
Tanpa banyak pilihan, ia mengikuti Yoga masuk ke mobil.
Perjalanan terasa sunyi.
Arabella hanya menatap ke luar jendela.
Pikirannya kacau.
Tentang utang.
Tentang perjanjian.
Tentang dirinya… yang semakin terjebak.
Mobil akhirnya berhenti.
“Sudah sampai.”
Arabella menoleh.
Dan untuk beberapa detik—
ia hanya bisa diam.
Rumah besar itu berdiri megah di depannya. Halaman luas, lampu taman yang tertata rapi, dan bangunan yang terlihat begitu elegan.
Dadanya terasa sedikit sesak.
Kata-kata ibunya kembali terngiang—
“Kita tidak sebanding.”
Dan sekarang…
ia melihatnya sendiri.
Itu benar.
Arabella menunduk pelan.
Namun lamunannya buyar seketika—
“KAKAK IPAR!!”
Suara nyaring itu membuatnya kaget.
Seorang gadis berlari cepat keluar rumah.
Kania.
Tanpa aba-aba, ia langsung memeluk Arabella erat.
“Akhirnya datang juga!”
Arabella membeku.
“Aku—”
Belum sempat bicara, Kania sudah menarik tangannya.
“Ayo masuk! Semua sudah nunggu!”
“Kania— tunggu—”
Tapi gadis itu terlalu bersemangat.
Arabella hampir terseret masuk ke dalam rumah.
Yoga hanya menghela napas pelan dari belakang, tapi tidak menghentikan.
Ruang keluarga itu luas dan hangat.
Ibunya Yoga sudah duduk di sofa, bersama ayahnya.
Begitu melihat Arabella—
wajah mereka langsung berubah cerah.
“Arabella!” suara ibunya penuh antusias.
Arabella langsung menunduk sopan.
“Selamat siang, Bu… Pak…”
Ibunya langsung berdiri dan mendekat.
“Ayo duduk, Nak.”
Tangannya menggenggam tangan Arabella dengan hangat.
“Bagaimana kabarmu?”
Arabella sedikit gugup.
“Baik, Bu…”
Ayah Yoga tersenyum ramah.
“Kerja di kafe masih lancar?”
Arabella mengangguk pelan.
“Iya, Pak… masih.”
Ibunya kembali bertanya, penuh perhatian.
“Kamu tidak terlalu capek, kan? Kerja sambil bantu keluarga juga pasti berat ya.”
Arabella sedikit terdiam.
Pertanyaan itu terasa… tulus.
“Iya… tapi masih bisa dijalani, Bu.”
Kania langsung duduk di samping Arabella.
“Kak Bela keren banget sih,” bisiknya pelan tapi cukup terdengar.
Arabella tersenyum kecil, canggung.
Sementara itu, Yoga berdiri sedikit jauh, memperhatikan semuanya.
Tatapannya tertuju pada Arabella—
yang terlihat berusaha menyesuaikan diri di tengah dunia yang sangat berbeda.
Arabella kembali menatap sekeliling.
Rumah besar.
Keluarga hangat.
Perhatian yang tulus.
Semuanya terasa… asing.
Dan dalam hatinya—
kata-kata itu kembali muncul.
“Tidak sebanding.”
Ia menunduk pelan.
Senyumnya masih ada.
Tapi hatinya…
tidak benar-benar tenang.
Beberapa jam berlalu.
Suasana rumah itu dipenuhi obrolan ringan. Tawa sesekali terdengar, membuat Arabella perlahan mencoba menyesuaikan diri, meski hatinya masih terasa canggung.
Ia duduk di antara mereka, menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan sopan.
Namun di balik senyumnya—
pikirannya terus berjalan.
Hingga akhirnya waktu makan siang tiba.
Ibu Yoga berdiri dari sofa.
“Ibu ke dapur dulu ya, mau siapkan makan.”
Arabella langsung ikut berdiri.
“Bu… saya bantu.”
Ibu Yoga menoleh dan tersenyum.
“Tidak usah, Nak. Kamu tamu.”
Arabella menggeleng pelan.
“Tidak apa-apa, Bu. Saya biasa masak.”
Ibu Yoga sempat menolak lagi.
“Beneran tidak perlu, nanti capek.”
Tapi Arabella tetap bersikeras.
“Tidak apa-apa, Bu. Saya ingin membantu.”
Beberapa detik mereka saling menatap.
Akhirnya—
Ibu Yoga tersenyum.
“Ya sudah… ayo.”
Kania langsung ikut berdiri.
“Aku juga!”
Dapur rumah itu luas dan bersih.
Berbeda jauh dari dapur kecil di kos Arabella.
Namun perlahan, suasana menjadi hangat.
Mereka mulai memasak bersama.
Arabella memotong sayur, Kania membantu menyiapkan bahan, sementara Ibu Yoga mengaduk masakan di atas kompor.
Obrolan ringan mulai mengalir.
“Kamu sering masak, Bela?” tanya Ibu Yoga.
“Iya, Bu. Dari dulu sudah biasa.”
“Untuk adik-adik ya?”
Arabella mengangguk.
“Iya…”
Kania menoleh sambil tersenyum.
“Kak Bela keren banget.”
Arabella tersenyum kecil.
Suasana terasa nyaman.
Namun kemudian—
Ibu Yoga kembali bicara, kali ini dengan nada yang lebih lembut.
“Sejujurnya… Ibu senang sekali kamu datang hari ini.”
Arabella sedikit terkejut.
“Bu…?”
Ibu Yoga tersenyum hangat.
“Kamu tahu tidak… Yoga itu anaknya bagaimana?”
Arabella melirik sekilas ke arah ruang keluarga, tempat Yoga berada.
“Agak… dingin?”
Kania langsung tertawa.
“Banget!”
Ibu Yoga ikut tersenyum.
“Dari dulu dia seperti itu. Jarang bicara, sibuk dengan dunianya sendiri.”
Arabella diam, mendengarkan.
“Tapi sejak ada kamu…”
Ibu Yoga berhenti sejenak, lalu menatap Arabella.
“Dia berubah.”
Arabella langsung menegang.
“Berubah…?”
Kania langsung menyela dengan semangat.
“Iya! Kak Yoga sekarang lebih sering pulang ke rumah!”
Arabella menoleh.
“Bukannya dia tinggal di sini?”
Kania menggeleng.
“Enggak. Biasanya dia lebih sering di apartemen. Jarang banget pulang.”
Ibu Yoga mengangguk.
“Tapi akhir-akhir ini… dia sering pulang.”
Ia tersenyum kecil.
“Ibu tahu… itu karena kamu.”
Arabella terdiam.
Dadanya terasa sedikit sesak.
Kania menambahkan dengan nada menggoda,
“Dan dia juga jadi lebih sering senyum loh.”
Arabella tidak sadar… jantungnya berdetak lebih cepat.
“Bahkan…” Kania mendekat sedikit, berbisik pelan tapi tetap terdengar, “ini pertama kalinya Kak Yoga ngenalin pacarnya ke keluarga.”
Arabella langsung membeku.
“Apa…?”
Kania mengangguk cepat.
“Iya! Serius! Dan itu kamu!”
Ibu Yoga tersenyum bangga.
“Ibu benar-benar berterima kasih sama kamu, Bela.”
Arabella menunduk.
“Karena kamu… Yoga jadi lebih hangat.”
Kalimat itu terasa tulus.
Terlalu tulus.
Dan justru itu yang membuat hati Arabella semakin berat.
Tangannya yang sedang memegang pisau berhenti sejenak.
Ia menatap sayuran di depannya… tapi tidak benar-benar melihat.
Di balik semua pujian itu—
ada satu suara di dalam hatinya.
“Ini hanya perjanjian.”
Ia menarik napas pelan.
“Kami tidak sebanding.”
Senyumnya kembali muncul.
Namun kali ini—
lebih dipaksakan.
“Ibu terlalu berlebihan…”
katanya pelan.
Tapi dalam hatinya—
ia tahu.
Semua ini… tidak nyata.
Dan semakin lama ia berada di sini—
Suasana dapur yang hangat itu terasa hidup dengan obrolan ringan.
Ibu Yoga sibuk di depan kompor, Kania membantu menyiapkan bahan, sementara Arabella fokus memotong sayuran.
Tiba-tiba langkah kaki terdengar mendekat.
Yoga masuk ke dapur, membuka kulkas.
“Mau ambil minum,” katanya singkat.
Kania langsung menoleh dengan senyum jahil.
“Kak…” godanya, “calon istrinya juga diambilin dong minumnya. Pasti haus tuh dari tadi masak.”
Arabella langsung salah tingkah.
“Kania…”
Wajahnya memerah.
Yoga berhenti sejenak, melirik Arabella.
Tatapan singkat itu membuat Arabella semakin gugup.
Dan karena itulah—
ia tidak fokus.
Tangannya yang memegang pisau sedikit tergelincir.
“Ah!”
Arabella meringis.
Pisau itu mengiris jarinya sendiri.
Darah langsung keluar.
Semua terjadi begitu cepat.
“Ara!”
Yoga langsung bergerak.
Ia meraih tangan Arabella tanpa ragu.
Arabella terkejut.
“Tidak apa-apa—”
Namun Yoga tidak mendengarkan.
Secara refleks, ia menyedot darah dari luka itu untuk menghentikan alirannya.
Arabella membeku.
Matanya membesar.
“Yoga…”
Tanpa berkata apa-apa, Yoga menariknya ke arah wastafel.
“Kenapa kamu bisa ceroboh begini?”
Nada suaranya terdengar kesal… tapi jelas penuh kekhawatiran.
Ia membuka keran dan mengalirkan air ke jari Arabella.
“Diam.”
Arabella benar-benar diam.
Air mengalir mengenai lukanya, sementara Yoga tetap menggenggam tangannya dengan hati-hati.
Alisnya berkerut.
Tatapannya serius.
“Kamu tidak lihat pisaunya?” gerutunya lagi.
Arabella hanya menatapnya.
Ia bisa melihat dengan jelas—
kekhawatiran di wajah pria itu.
Yang… tidak dibuat-buat.
Di belakang mereka—
Ibu Yoga dan Kania saling pandang.
Lalu tersenyum kecil.
Tanpa berkata apa-apa.
Yoga kemudian mengambil plester.
“Sudah.”
Ia menutup luka itu dengan pelan.
“Jangan pegang apa-apa dulu.”
Arabella masih belum sepenuhnya sadar dari kejadian itu.
Yoga menatapnya.
“Ayo.”
Ia menarik pelan tangan Arabella keluar dari dapur.
“Yoga… aku masih mau bantu—”
“Tidak.”
Nada suaranya tegas.
Ibu Yoga langsung menyahut,
“Iya, Bela. Istirahat saja.”
Kania ikut menambahkan dengan nada menggoda,
“Nanti tambah luka lagi, loh.”
Arabella tidak bisa membantah.
Akhirnya ia mengikuti Yoga keluar.
Di ruang tamu, suasana lebih tenang.
Ayah Yoga masih duduk di sana.
Yoga duduk di sampingnya, sementara Arabella duduk di sebelah Yoga dengan canggung.
Tak lama, pembicaraan tentang bisnis kembali dimulai.
Istilah-istilah yang mereka bicarakan terasa asing bagi Arabella.
Ia hanya diam.
Sesekali mengangguk.
Namun pikirannya melayang.
Ke jari tangannya yang tadi dipegang Yoga.
Masih terasa hangat.
Ia menunduk pelan.
“Ini hanya perjanjian…”
Ia mengulanginya dalam hati.
Namun—
cara Yoga menatapnya tadi…
cara ia panik…
cara ia menggenggam tangannya…
semuanya terasa terlalu nyata.
Dan itu—
yang membuat Arabella semakin tidak tenang.
...----------------...
Tak lama kemudian, aroma masakan mulai memenuhi rumah.
Makanan akhirnya siap disajikan.
Mereka semua berkumpul di meja makan besar. Suasana terasa hangat, penuh dengan obrolan ringan.
Arabella duduk di samping Yoga, masih sedikit canggung.
Tangannya yang terluka ia letakkan pelan di pangkuannya.
Baru saja ia mulai merasa lebih tenang—
Yoga menoleh ke arahnya.
“Masih sakit?”
Pertanyaannya tiba-tiba.
Arabella sedikit terkejut, lalu menggeleng.
“Enggak kok.”
Yoga menatapnya sejenak, seolah memastikan.
“Yakin?”
“Iya.”
Beberapa detik hening.
Lalu tanpa diduga—
“Aku suapi?”
Arabella langsung membeku.
“Apa?!”
Wajahnya langsung memerah.
Yoga terlihat santai.
“Biar tidak kena tangan yang luka.”
Arabella langsung menggeleng cepat.
“Enggak usah! Lebay banget.”
Yoga mengangkat alis sedikit.
“Lebay?”
“Iya. Aku masih bisa makan sendiri.”
Kania yang duduk di seberang mereka langsung menahan tawa.
“Wah… romantis banget sih.”
Arabella langsung menoleh.
“Kania!”
Wajahnya makin merah.
Yoga juga terlihat sedikit kaku.
Namun Kania belum berhenti.
“Padahal tinggal disuapin doang, loh. Kesempatan langka itu~”
Arabella semakin salah tingkah.
“Sudah, diam deh!”
Yoga menghela napas pelan, sedikit memalingkan wajah.
Untuk pertama kalinya—
ia juga terlihat salah tingkah.
Melihat itu, Kania semakin ingin menggoda.
“Tuh kan, dua-duanya salting!”
“Kan—”
Belum sempat Arabella membalas—
“Ih, Kania.”
Suara ibunya memotong dengan lembut tapi tegas.
“Jangan goda terus.”
Kania langsung mengerucutkan bibir.
“Iya, Bu…”
Ia akhirnya diam, meski masih tersenyum kecil.
Suasana kembali tenang.
Mereka mulai makan.
Sesekali terdengar suara sendok dan piring.
Obrolan ringan kembali mengalir, kali ini lebih santai.
Arabella perlahan mulai merasa lebih nyaman.
Namun di balik itu—
ia masih sadar.
Setiap perhatian kecil dari Yoga…
setiap momen seperti ini…
terasa terlalu nyata.
Dan itu yang membuat hatinya—
semakin sulit menjaga jarak.
"kenapa aku harus merasa nyaman di suasana seperti ini"
"aku tidak pernah merasakan keluarga sehangat ini hanya dengan keluarga yoga aku merasakannya"
Ucap Kania dalam hati nya