Rachel hanya ingin menyelamatkan nyawa adiknya.
Namun bantuan dari ayah tirinya itu justru berubah menjadi mimpi buruk ketika ia dijual pada Tom—seorang pria kaya, kejam, dan terobsesi memilikinya. Terperangkap dalam sangkar emas yang menyesakkan, Rachel akhirnya memilih kabur dan mempertaruhkan segalanya demi kebebasan.
Di saat itulah ia bertemu Liam Smith. Pria misterius yang tampak dingin dan tak tersentuh. Bagi Rachel, Liam hanyalah seorang penyelamat. Tapi ia tidak tahu satu hal, bahwa Liam adalah bos mafia dan dirinya adalah seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya yang tak pernah bisa Liam lupakan.
Namun, ketika Rachel akhirnya mengetahui siapa Liam sebenarnya, ia dihadapkan pada dua pilihan. Akankah ia mampu bertahan dengan pria yang bisa melindunginya dari seluruh dunia? Atau akankah ia justru memilih meninggalkannya sebelum dunia Liam menghancurkan hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persetujuan
Pintu kamar tertutup dengan bunyi yang wajar. Tidak dibanting dengan keras, tapi tidak juga berusaha ditahan agar berbunyi pelan. Rachel baru saja pergi, dan kepergiannya meninggalkan sesuatu yang jauh lebih terasa daripada suara langkah kaki.
"Berhenti," kata Liam dengan nada datar kepada perempuan yang masih duduk di pangkuannya itu.
"Ada apa, Tuan? Bukankah sudah menjadi tugasku malam ini untuk melayani Anda?", tanyanya penuh kebingungan, sembari turun dari pangkuan Liam, namun masih berusaha untuk mendekati dan menyentuh tubuh kekarnya.
Liam berdiri dari posisi duduknya, lalu memakai jubah berwarna gelap yang tergeletak di bahu sofa. Dengan gerakan cepat namun tenang, ia melangkahkan kaki menuju nakas di samping tempat tidurnya, menyambar dompet miliknya dan mengeluarkan sejumlah uang. Lalu, ia kembali menghampiri perempuan yang sudah kembali berpakaian itu dengan langkah mantap.
"Pergilah," ujarnya, seraya menyerahkan sejumlah uang di tangannya kepada perempuan itu.
"Tapi, Tuan..."
"Aku sudah melebihkan jumlahnya. Jadi, pergilah!", katanya lagi, kali ini dengan nada tegas, yang akhirnya membuat perempuan itu langsung menerima sejumlah uang dari tangan Liam dan beranjak pergi.
Beberapa saat pun berlalu, dan Liam mash berdiri di depan sofa dengan rahang yang tampak mengeras. "Shit!", umpatnya, mengingat bagaimana ekspresi Rachel saat menyaksikan adegan seks di antara dirinya dan perempuan tadi. Rachel tampak membeku dan kehabisan kata—mungkin juga sedikit perasaan muak dan tidak nyaman dengan Liam. Seharusnya itu hal yang baik, karena Liam berhasil menjalankan misinya untuk membuat jarak dengan Rachel. Tapi, entah kenapa Liam justru merasa bersalah.
Malam ini semuanya terasa berbeda bagi Liam. Biasanya ia bisa dengan mudahnya melakukan kebiasaan buruknya untuk mendapatkan kepuasan seks dengan berbagai wanita berbeda yang siap melayaninya demi uang. Namun, malam ini pikirannya dipenuhi rasa bersalah pada Rachel, juga bayang-bayang dirinya yang membuatnya tidak bisa melanjutkan aktivitas seksnya, meski Rachel sudah tidak ada di sana.
Malam ini berakhir tanpa ada kepuasan, juga pelepasan. Yang tertinggal hanya keheningan yang terlalu jelas dan terlalu jujur. Liam menekan rahangnya, lalu berjalan ke jendela. Ia menarik napas dalam-dalam, namun pikirannya masih tertuju pada Rachel
Liam rasa, Rachel tidak seharusnya melihat semua itu. Bukan karena apa yang terjadi di kamar itu. Seks, bagi Liam, selalu bersifat transaksional, fungsional, dan tidak pernah bersifat personal. Ia tidak merasa bersalah membawa perempuan lain ke ranjangnya, karena itu bukanlah pelanggaran. Apalagi, Liam akan memberikan hak yang layak berupa sejumlah uang untuk para wanita yang sudah melayaninya. Hal itu sudah menjadi bagian dari hidupnya, dan ia tidak pernah memberikan label pada dirinya bahwa ia adalah pria yang baik.
Menurutnya, yang salah adalah caranya menahan Rachel. Cara ia tidak menghentikan apa pun ketika menyadari Rachel melihatnya. Cara ia memaksa Rachel tetap berdiri di sana dan menjadi saksi kegiatan seksnya—bukan karena kebutuhan, tapi karena strategi. Ia menggunakan momen itu sebagai alat untuk menciptakan jarak dengan Rachel. Dan kesadaran itu datang terlambat, menyusul seperti pukulan yang tidak keras, tapi terasa tepat.
Liam sadar bahwa keputusannya untuk membiarkan Rachel menyaksikannya tadi adalah hal yang kejam. Meskipun jelas bukan kejam seperti yang dilakukan Tom. Liam tidak pernah memukul Rachel, mengancam, atau merusaknya secara fisik. Tapi ia tahu ada banyak bentuk kekejaman lain di dunia ini. Dan malam ini, ia memilih salah satunya dengan sadar.
Ia tidak membenci dirinya sendiri, tidak juga mencoba membela diri. Liam hanya mengakui fakta itu, membiarkannya ada, dan menggantung di kepalanya tanpa alasan pembenaran.
Ia berjalan kembali ke ranjang besar miliknya, lalu duduk di tepinya, dengan siku bertumpu pada lutut. Matanya kosong, tapi pikirannya berlari dengan cepat.
Ia tidak takut Rachel pergi meninggalkannya—kesadaran itu datang jelas dan tegas. Ia tidak takut ditinggalkan olehnya—sebab, ia sudah terlalu lama hidup dengan orang-orang yang datang dan pergi seperti itu. Kehilangan bukanlah hal baru di dalam hidupnya. Yang ia takuti bukan kehilangan Rachel, melainkan keterlibatan Rachel.
Dunia yang ia tinggali jelas tidak aman, tidak adil, dan tidak ada belas kasihan juga kata memaafkan. Dan Rachel, dengan caranya yang tenang dan lurus, tidak punya tempat di dalamnya. Jarak bukanlah hukuman, melainkan pagar. Dan pagar itu harus dibangun, bahkan jika Rachel tidak memintanya.
Strateginya malam ini berhasil, sebab Rachel tampaknya sudah mundur. Ia bisa melihatnya dari cara Rachel menegakkan bahu sebelum pergi, dari kalimat terakhir yang diucapkan dengan nada sedikit bergetar. Di sana hanya ada jarak yang tiba-tiba terasa nyata.
Dan meskipun ada rasa bersalah yang tidak bisa diabaikan, Liam tahu ia tidak bisa membatalkan strategi itu. Lebih baik Rachel membencinya. Lebih baik Rachel merasa jijik, kecewa, dan tidak nyaman terhadapnya. Semua itu akan jauh lebih aman daripada Rachel merasa nyaman terlindungi olehnya dan bergantung kepadanya.
Pikiran Liam kembali pada cara Rachel berbicara tadi. Ia tampak tidak memohon, juga tidak berusaha menjual dirinya dengan air mata atau kepanikan. Ia datang dengan menawarkan sebuah solusi yang sebenarnya terdengar rasional dan bermartabat. Mengajukan alternatif jelas bukan berarti menyerah. Itu adalah cara seseorang berusaha tetap memegang kendali atas dirinya sendiri, meski berada di posisi terlemah
Liam berdiri lagi. Ia mematikan lampu satu per satu, hingga kamarnya kembali menjadi ruang kosong tanpa sisa emosi yang tertinggal. Ia tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya—atau lebih tepatnya, apa yang tidak akan ia lakukan pada Rachel.
Ia tidak akan menjelaskan tentang apa yang terjadi malam ini. Ia juga tidak akan meminta maaf atas apa yang sudah Rachel saksikan di kamarnya. Jika Rachel memilih menjauh, ia akan membiarkannya. Namun, jika Rachel memilih untuk tetap tinggal, ia akan menjaga jarak lebih keras, lebih rapi dan lebih dingin tanpa celah.
Liam Smith selalu tahu bagaimana menjadi pria yang dibenci. Dan malam ini, rasa bersalah tidak akan membuatnya berubah pikiran. Rasa itu justru membuatnya semakin yakin pada satu hal yang tidak pernah ingin ia akui sebelumnya, bahwa Rachel harus dilindungi dari ancaman dunianya. Liam akan melakukannya, bahkan jika harga perlindungan itu adalah kebencian Rachel sendiri terhadap dirinya.
Malam itu pun akhirnya tenggelam perlahan—digantikan pagi hari yang datang seperti pagi lainnya. Cahaya matahari masuk melalui celah tirai, dan suara aktivitas di dalam rumah mulai hidup perlahan.
Rachel bangun dengan tubuh yang terasa utuh, tidak hancur, tidak juga benar-benar tenang. Kepalanya berat oleh pikiran-pikiran yang menghantamnya, tapi ia tidak menangis. Ia hanya berbaring beberapa menit, menatap langit-langit kamar, lalu mencoba menata ulang dirinya sendiri.
Setiap adegan di malam itu masih terlintas jelas di benaknya. Bukan sebagai luka terbuka, melainkan sebagai batas yang gagal ia lewati. Ia sudah mencoba bernegosiasi, dengan mencoba mengubah makna “harga” yang diminta Liam. Meskipun hingga saat ini harga itu belum berhasil menemukan bentuknya, seperti yang Rachel bisa berikan.
Namun satu hal juga menjadi jelas baginya bahwa ia tidak bisa terus hidup dalam ketidakjelasan. Ia tidak bisa menunggu keputusan yang tidak pernah benar-benar diucapkan, atau bertahan di antara ancaman dan perlindungan yang samar.
Hingga akhirnya, saat Rachel turun ke lantai bawah, seorang pelayan memberi tahu dengan nada formal bahwa Tuan Smith ingin bertemu dengannya di ruang kerja. Dan, hal itu saja sudah cukup untuk mengubah suasana di kepalanya.
Rachel melangkahkan kaki menuju ruang kerja Liam, sembari menenangkan diri dan menata ulang keberanian yang tersisa untuk kembali melakukan negosiasi dengan Liam. "Aku tidak boleh mengerah begitu saja. Kali ini, aku mungkin akan berhasil," gumamnya pada diri sendiri.
Setibanya di depan ruang kerja Liam, Rachel mengetuk pintu, lalu masuk ke dalam begitu mendengar balasan suara Liam yang menyuruhnya masuk. Ruang kerja Liam di dalam tampak tertata rapi dan dingin. Ketika Rachel masuk, Liam sudah duduk di balik meja, dengan berkas terbuka di hadapannya. Ia tidak berdiri, juga tidak menyambutnya dengan senyum. Liam tampak tidak menunjukkan sisa apa pun dari apa yang terjadi pada malam sebelumnya—seolah malam itu tidak pernah ada.
“Duduk,” kata Liam singkat.
Rachel pun menurut. Ia duduk di kursi tepat di hadapan Liam. Punggungnya tampak tegak dan sedikit tegang, sementara tangannya bertaut di pangkuan. Rachel tidak datang sebagai perempuan yang ingin berbicara tentang perasaan. Ia datang sebagai seseorang yang sedang menunggu keputusan.
Liam menatapnya beberapa detik sebelum berbicara lagi. Tatapannya tampak tenang dan terkendali. Meskipun begitu, tidak ada permintaan maaf yang tampaknya ingin ia sampaikan. Dan tidak ada juga penjelasan kepada Rachel tentang apa yang sudah Rachel saksikan malam itu.
“Aku sudah mempertimbangkan tawaranmu semalam,” katanya akhirnya. Membuat Rachel menahan napasnya, tanpa sadar.
Liam melanjutkan dengan nada datar. “Kau benar tentang satu hal. Kau tidak bisa membayar apa pun yang tidak ingin kau serahkan.”
Ia tidak menyebutkan tentang kejadian malam itu. Ia tidak menyebut apa pun yang terjadi di kamar itu. Kalimatnya berdiri sendiri, terdengar dingin tapi jelas.
“Aku setuju,” kata Liam. “Kau akan tinggal di sini. Dan bekerja...sebagai pelayan pribadiku.”
Rachel menatapnya sedikit terkejut. Bukan karena ia berharap sebuah persetujuan darinya—melainkan karena persetujuan itu datang tanpa negosiasi lanjutan, dan tanpa tuntutan tambahan.
“Dan sebagai seorang pelayan,” lanjut Liam. “Pengurus. Apa pun istilahnya. Kau akan berada di bawah aturanku.”
Ia berhenti sejenak, memastikan Rachel mendengarkan.
“Dan ini bukan permainan.”
Rachel mengangguk perlahan. Jelas ia mengerti apa yang Liam maksud.
Liam bersandar ke kursinya. “Tidak akan ada sentuhan. Tidak ada hubungan personal. Ini murni hanya sebuah transaksi. Kau akan tinggal di sini dan bekerja. Dan aku akan tetap memastikan adikmu aman.”
Liam tidak mengatakan alasannya yang sebenarnya. Tidak mengatakan bahwa dunia di luar rumah ini terlalu berbahaya untuk seseorang seperti Rachel. Dan bahwa dengan berada di dalam pengawasannya, risiko bisa dikendalikan. Bagi Liam, ini bukan kompromi emosional, melainkan sebuah solusi strategis.
Rachel merasakan sesuatu mengendur di dadanya, yakni perasaan lega. Tapi ia juga sadar, dengan kejernihan yang tidak ia abaikan, bahwa kelegaan ini bukanlah kebebasan. Ini hanya bentuk lain dari pengurungan yang harus siap ia jalani.
“Sebagai gantinya,” Liam melanjutkan, membuka satu lembar kertas di depannya, “ada beberapa aturan.”
Ia menyebutkannya satu per satu, tanpa emosi. Hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan yang akan diambil Rachel, seperti jam kerja yang jelas, area rumah yang boleh diakses, larangan masuk kamar pribadinya kecuali atas perintahnya langsung, larangan mempertanyakan dan mencampuri urusan bisnisnya., dan juga larangan bertanya tentang hal-hal yang tidak berhubungan dengan pekerjaannya.
Rachel mendengarkan tanpa menyela. Setiap aturan terasa seperti garis yang ditarik rapi—membatasi, tapi juga memberi struktur yang aman, tapi sempit.
“Selama kau mengikuti ini,” kata Liam, “kau tidak akan mendapat masalah.”
Rachel mengangkat kepalanya. “Dan jika aku melanggar?”
Tatapan Liam tidak berubah. “Aku yakin, kau pasti tidak akan mau melanggarnya.”, katanya tanpa ada ancaman sedikitpun.
Rachel menarik napas perlahan. Ia tampak menerima situasi itu sebagaimana adanya—dengan martabat yang sama seperti saat ia menawarkan solusi di malam sebelumnya.
“Baik,” katanya. “Terima kasih, Tuan Smith.”
Ucapan itu terdengar sederhana dan formal, tapi di dalamnya ada sebuah keputusan besar. Rachel tahu ini bukan solusi ideal. Tapi setidaknya ini adalah solusi yang bisa ia jalani. Ia memilih bertahan dengab bekerja dan menjaga jarak emosional sejauh mungkin dari Liam.
Liam mengangguk singkat, seolah sedang mengakhiri rapat. “Mrs. Cassel akan menjelaskan tugas-tugasmu.”
Rachel lalu berdiri, tanpa adanya penutupan yang hangat. Ia keluar dari ruang kerja itu dengan langkah yang sama seperti saat ia masuk, yaitu tenang dan terkontrol.
Namun saat pintu tertutup di belakangnya, sebuah kenyataan perlahan meresap di pikirannya. Ia sudah berhasil menghindari ide untuk menyerahkan tubuhnya. Ia sudah berhasil mempertahankan batas yang ia anggap penting. Tapi dengan tinggal di rumah ini sebagai “pelayan”, Rachel juga menyadari satu hal yang belum sepenuhnya ia pahami, bahwa setelah ini dunianya akan terikat pada sebuah aturan dan sistem yang sudah Liam tentukan, yang mungkin akan menyita kebebasannya.