Sepuluh ribu tahun yang lalu, Kaisar Pedang Kekosongan, Jian Chen, dikhianati oleh tunangannya (Permaisuri Surgawi Luo Xue) dan saudara angkatnya saat mencoba menerobos ke Alam Ilahi Primordial. Jiwanya hancur berantakan. Namun, setetes Darah Primordial misterius yang ia temukan di Reruntuhan Kekacauan menyelamatkan satu fragmen jiwanya.
Sepuluh ribu tahun kemudian, Jian Chen terbangun di tubuh seorang pemuda bernama sama di Benua Bintang Jatuh (Dunia Fana terendah). Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Bawaan" yang meridiannya hancur. Dengan ingatan masa lalunya, pengetahuan alkimia tingkat dewa, dan teknik kultivasi terlarang Seni Melahap Surga Primordial, Jian Chen memulai kembali langkahnya dari bawah. Ia bersumpah untuk membelah langit, menghancurkan para pengkhianat yang kini telah menjadi Penguasa Surga, dan mengungkap rahasia sejati di balik Darah Primordial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang Berdarah
Malam itu, Kota Daun Gugur kehilangan ketenangannya. Ribuan warga sipil mengunci pintu dan jendela rapat-rapat, mengintip dari balik celah papan kayu dengan jantung berdebar.
Di jalan utama kota, ratusan obor menyala terang benderang, mengubah malam menjadi siang yang dipenuhi warna darah. Pasukan elit Klan Zhao, berjumlah lebih dari tiga ratus kultivator bersenjata lengkap, berbaris layaknya gelombang pasang menuju kediaman utama Klan Jian.
Di barisan paling depan, menunggangi seekor Kuda Bertanduk Besi, adalah Zhao Tianba. Pria bertubuh raksasa dengan wajah dipenuhi bekas luka itu memancarkan aura membunuh yang begitu pekat hingga membuat udara di sekitarnya berdesir. Ia adalah Patriark Klan Zhao, seorang ahli bela diri yang telah mencapai Puncak Kondensasi Qi Tingkat Delapan!
Di samping kudanya, sebuah kereta kayu ditarik perlahan. Di atasnya terbaring Zhao Wuji yang napasnya sudah putus. Dada pemuda itu hancur dari dalam, meridian jantungnya meledak tak tersisa.
"Klan Jian!" raungan Zhao Tianba menggelegar, diperkuat oleh Qi Sejati hingga terdengar ke seluruh penjuru kota. "Kalian menggunakan racun dan sihir pengecut untuk membunuh putra tunggalku! Malam ini, tidak ada satu pun ayam atau anjing di kediaman kalian yang akan dibiarkan hidup!"
DUAAR!
Gelombang Qi dari pukulan Zhao Tianba menghantam gerbang utama kayu besi Klan Jian hingga hancur berkeping-keping. Serpihan kayu beterbangan seperti panah mematikan.
Namun, di balik debu yang mengepul dari gerbang yang hancur itu, pasukan Klan Zhao tidak menemukan kepanikan. Alih-alih melarikan diri, puluhan penjaga elit Klan Jian telah berdiri membentuk formasi pertahanan, dipimpin langsung oleh Patriark mereka, Jian Zhan.
"Zhao Tianba! Jaga mulutmu!" Jian Zhan melangkah maju, jubah abu-abunya berkibar menahan tekanan aura musuhnya. Qi Tingkat Delapan miliknya memancar, bertabrakan dengan aura Zhao Tianba di udara, menciptakan rentetan ledakan sonik kecil. "Klan Jian-ku tidak pernah menggunakan racun! Putramu mati karena meridiannya sendiri yang cacat!"
"Omong kosong! Tabibku menemukan sisa jarum Qi di jantungnya! Hanya bajingan dari klanmu yang punya motif untuk melakukannya setelah insiden di Paviliun Bela Diri!" Zhao Tianba melompat turun dari kudanya, menarik sebuah golok besar bermata tebal dari punggungnya. Golok itu memancarkan cahaya merah menyala. "Jian Zhan, serahkan cucumu yang cacat itu, atau aku akan mencincang kalian semua!"
Jian Zhan menyipitkan matanya. Jika ini terjadi kemarin, ia mungkin akan mempertimbangkan untuk menyerahkan Jian Chen demi menyelamatkan klan. Tapi sekarang? Jian Chen adalah naga sejati yang baru bangkit, harapan satu-satunya bagi klan untuk berjaya.
"Jika kau ingin menyentuh sehelai rambut cucuku, kau harus melangkahi mayatku terlebih dahulu!" Jian Zhan menghunus pedang panjangnya.
Pertempuran antar dua Patriark Tingkat Delapan hampir saja meletus, sebelum sebuah tawa dingin dan datar memotong ketegangan dari arah belakang barisan Klan Jian.
"Hanya karena seekor anjing kecil mati karena terlalu banyak menggonggong, anjing tuanya kini datang mencari tulang ke rumahku?"
Barisan penjaga Klan Jian membelah dengan hormat. Dari sana, Jian Chen melangkah maju dengan santai. Tangan kanannya menjuntai ke bawah, memegang sebuah pedang baja biasa yang baru saja ia pinjam dari salah satu penjaga. Ia tidak mengenakan baju zirah, hanya jubah hitam kasual yang menyatu dengan malam.
Mata Zhao Tianba memerah melihat pemuda itu. "Bocah iblis! Jadi kau yang melakukannya! Hari ini aku akan memotong anggota tubuhmu satu per satu dan memberinya makan ke anjing buruanku!"
Tanpa mempedulikan peringatan Jian Zhan, Zhao Tianba menjejakkan kakinya dengan keras, melesat bagai meteor merah ke arah Jian Chen. Golok besarnya diangkat tinggi-tinggi, diselimuti oleh Qi elemen api yang membakar udara.
Teknik Bela Diri Tingkat Tinggi: Tebasan Pemecah Gunung Berapi!
Serangan ini cukup kuat untuk membelah sebuah bukit kecil menjadi dua. Jian Zhan berteriak panik dan mencoba mencegat, namun kecepatan Zhao Tianba yang sedang dilanda amarah buta terlalu cepat.
Menghadapi tebasan yang bisa menghancurkan ahli Tingkat Delapan itu, ekspresi Jian Chen tetap sedatar air danau yang beku.
"Kau terlalu lambat, dan terlalu penuh dengan celah," bisik Jian Chen.
Berdengung!
Seketika, aura Tingkat Lima Awal milik Jian Chen meledak, namun kali ini bercampur dengan sesuatu yang jauh lebih purba dan mematikan. Ia memusatkan Niat Pedang Kekosongan (Void Sword Intent) dari kehidupan masa lalunya ke dalam pedang baja murahan di tangannya.
Bilah baja yang biasa itu tiba-tiba berdengung hebat, memancarkan cahaya perak kelam.
Alih-alih mundur atau menangkis tebasan berat Zhao Tianba, Jian Chen mengambil satu langkah diagonal ke depan menggunakan Langkah Bayangan Kosong. Tubuhnya berkedip, meninggalkan bayangan buram yang terbelah menjadi dua oleh golok Zhao Tianba.
Zhao Tianba terbelalak saat serangannya hanya mengenai udara kosong. Di saat yang sama, rasa dingin yang fatal merayap di lehernya.
Jian Chen telah muncul tepat di sisi kanan Zhao Tianba yang terbuka lebar karena ayunan goloknya. Tanpa emosi, tanpa gerakan berlebihan, Jian Chen hanya menjentikkan pergelangan tangannya.
Sebuah garis perak tipis setebal rambut melintas di udara. Itu bukan sekadar tebasan Qi; itu adalah perwujudan Niat Pedang yang memotong ruang itu sendiri.
Cring.
Suara logam halus beradu terdengar, disusul oleh keheningan yang mencekam.
Zhao Tianba mematung di tempatnya. Golok besarnya yang masih menyala terlepas dari genggamannya dan jatuh berdenting ke tanah berbatu. Matanya melotot lebar, menatap lurus ke depan dengan ekspresi tidak percaya yang membeku.
Di belakangnya, Jian Chen berdiri membelakangi pria raksasa itu. Ia perlahan mengangkat pedang bajanya, menatap bilahnya yang kini retak dan hancur menjadi debu logam. Senjata fana kelas rendah tidak mampu menahan Niat Pedang Kekosongan, bahkan untuk satu detik pun.
"Kau..." Zhao Tianba mencoba berbicara, namun hanya gelembung darah yang keluar dari mulutnya.
Satu detik kemudian, sebuah garis merah muncul di sekeliling leher raksasa Zhao Tianba. Kepala pria itu bergeser dari posisinya, lalu jatuh menggelinding ke tanah, diikuti oleh semburan darah setinggi dua meter dari lehernya yang terpenggal.
Tubuh tanpa kepala Patriark Klan Zhao ambruk ke tanah dengan bunyi dentuman tumpul.
Mati.
Seorang ahli Puncak Tingkat Delapan, sosok yang ditakuti di seluruh Kota Daun Gugur, tewas terpenggal hanya dalam satu kali pertukaran serangan oleh seorang pemuda berusia lima belas tahun!
Kengerian absolut mencekik tenggorokan ratusan anggota Klan Zhao. Senjata mereka berjatuhan dari tangan yang gemetar. Beberapa dari mereka bahkan jatuh berlutut, mengompol di celana karena tekanan Niat Pedang sisa yang masih mengambang di udara.
Bahkan Jian Zhan dan para penjaga Klan Jian seolah lupa cara bernapas. Mereka menatap punggung Jian Chen seperti menatap seorang dewa iblis yang turun dari langit kesembilan.
Jian Chen membuang gagang pedang yang hancur itu, lalu berbalik menatap ratusan pasukan Klan Zhao yang kini yatim piatu tanpa pemimpin. Matanya sedingin jurang maut.
"Patriark kalian sudah mati, dan pewaris kalian sudah menjadi abu," suara Jian Chen tidak keras, namun bergema di setiap gendang telinga mereka. "Beri tahu para tetua di klan kalian: Besok pagi, tepat saat matahari terbit, seluruh aset, tambang, dan wilayah Klan Zhao harus diserahkan kepada Klan Jian. Siapa pun yang masih memegang bendera Zhao di kota ini setelah fajar..."
Jian Chen menginjak kepala Zhao Tianba yang menggelinding di dekat kakinya hingga tengkoraknya retak.
"...akan menyusulnya ke neraka."
Ratusan pasukan elit itu berbalik dan lari terbirit-birit layaknya anjing yang dipukuli, membuang obor dan senjata mereka demi berlari lebih cepat. Kereta yang membawa mayat Zhao Wuji bahkan ditinggalkan begitu saja di tengah jalan.
Jian Zhan perlahan menghampiri cucunya, menelan ludah yang terasa kering. "Chen'er... k-kau benar-benar memenggalnya dalam satu tebasan..."
"Dia terlalu bergantung pada kekuatan kasar dan mengabaikan teknik," jawab Jian Chen santai, seolah baru saja memotong rumput liar alih-alih seorang Patriark klan. "Kakek, persiapkan orang-orang kita. Mulai besok, Klan Jian akan menjadi penguasa tunggal Kota Daun Gugur."
Jian Chen menatap ke arah langit malam yang tak berbintang. Kota ini sudah terlalu kecil baginya. Menaklukkan faksi fana seperti ini bahkan tidak layak disebut sebagai pemanasan. Untuk memberi makan Seni Melahap Surga Primordial dan merebut kembali takhta keabadiannya, ia harus segera melangkah ke panggung yang lebih besar: Ibu Kota Kerajaan Angin Langit.