Zona dewasa ‼️ Harap bijak dalam memilih bacaan!
Valerie seorang mahasiswa fresh graduate, cantik ,pintar, berkelas, sebenarnya hidupnya normal layaknya mahasiswi biasa, namun semuanya berubah saat sebuah kejadian yang membuatnya harus terikat dengan seorang gangster bernama Damian Callister.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
Valerie menarik napas panjang, berusaha meredam lonjakan adrenalin yang nyaris membuatnya kehilangan kendali. Dengan gerakan yang diatur sedemikian rupa agar terlihat alami, ia menyentuh tanda merah di lehernya itu.
"Oh, ini?" Valerie tertawa kecil, suara yang ia buat senormal mungkin. "Pantas saja semalam terasa sangat gatal. Sepertinya ada serangga yang menggigitku, aku menggaruknya terlalu keras sampai jadi merah begini."
Aiden menatap tanda itu sekali lagi dengan saksama. Ketegangan di bahunya perlahan melandai. "Lain kali jangan digaruk sekasar itu, Val. Kulitmu bisa lecet," pesannya dengan nada yang kembali melembut.
Valerie mengangguk cepat, memberikan senyum termanis yang ia miliki untuk menutupi rasa canggung yang menghimpit dada. "Iya, Sayang. Aku tidak akan melakukannya lagi."
Aiden tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, ia tiba-tiba menarik pinggang Valerie, membawa gadis itu ke dalam pelukan yang erat dan protektif. Ia membenamkan wajahnya di rambut Valerie yang harum.
"Aku merindukanmu," bisik Aiden pelan di telinga Valerie.
Valerie terkekeh, meski ada sedikit rasa pahit di hatinya karena telah berbohong. "Masa iya kau merindukanku? Padahal kita bertemu setiap hari di kampus, Aiden."
"Aku tidak berbohong," sahut Aiden, mempererat pelukannya seolah takut Valerie akan menghilang. "Bagiku, kau itu seperti candu. Sehari tidak melihat wajahmu saja rasanya ada yang kurang."
Jantung Valerie berdebar kencang, dentumannya terasa hingga ke ujung jari. Ia tidak tahu apakah getaran itu karena ucapan manis Aiden yang selalu berhasil meluluhkan hatinya, atau karena beban rahasia besar yang ia simpan sendirian.
Di pelukan Aiden yang hangat dan aman ini, Valerie justru teringat dinginnya dinding kamar hotel semalam dan cengkeraman panas pria bernama Damian.
Hari merambat dengan cepat, tidak terasa jam kuliah yang melelahkan pun berakhir. Di parkiran kampus yang mulai lengang, Aiden dengan telaten memakaikan helm ke kepala Valerie, memastikan pengaitnya terpasang sempurna.
Dengan tumpuan pada pundak kokoh Aiden, Valerie menaiki motor sport tersebut dan langsung melingkarkan tangannya dengan erat di pinggang Aiden. Motor besar itu pun menderu, melaju membelah jalanan ibukota yang mulai dipadati kendaraan.
Sesuai kesepakatan mereka sebelumnya, Aiden tidak langsung mengantar Valerie pulang ke apartemen. Mereka menuju ke salah satu mall terbesar di Jakarta untuk menghabiskan waktu bersama dengan menonton film yang sudah lama mereka nantikan.
Namun, di balik kemesraan itu, bahaya mengintai.
Tanpa mereka sadari, semenjak motor sport Aiden meninggalkan parkiran kampus, sebuah mobil hitam misterius dengan kaca gelap terus mengikuti dari jarak yang terjaga.
Di dalam mobil tersebut, seorang pria berwajah garang dengan tatapan dingin tidak sedetik pun melepaskan pandangannya dari pasangan itu.
Pria itu mengeluarkan kamera profesionalnya, membidik beberapa foto kebersamaan Valerie dan Aiden diatas motor dan saat mereka tertawa bersama sebelum memasuki area mall. Setelah dirasa cukup, pria itu menekan beberapa tombol di ponselnya, mengirimkan hasil jepretan tersebut kepada seseorang.
Sementara itu, di sebuah ruang kerja mewah yang beraroma cerutu dan kopi mahal, ponsel Damian bergetar. Ia membuka pesan masuk yang berisi foto-foto Valerie yang sedang berpelukan erat di atas motor dengan pria lain.
Rahang Damian mengeras. Seringai tipis yang tadi sempat muncul kini berubah menjadi tatapan mata yang tajam dan berbahaya. Ia melempar Kartu Tanda Mahasiswa milik Valerie ke atas meja, tepat di samping foto mesra gadis itu.
"Jadi, kamu sudah punya pelindung, gadis kecil?" gumam Damian dengan suara rendah yang mengancam. "Mari kita lihat, berapa lama dia bisa menjagamu."
Suasana basemen apartemen yang sunyi menjadi saksi perpisahan Aiden dan Valerie setelah seharian menghabiskan waktu bersama. Aiden masih enggan melepaskan genggamannya, tangannya bergerak lembut mengusap pipi Valerie.
"Yakin tidak mau aku antar sampai depan pintu unitmu?" tanya Aiden, matanya menatap Valerie dengan dalam, berharap diberikan akses lebih ke dalam ruang privasi gadis itu.
Valerie tersenyum tipis lalu menggeleng pelan. "Tidak perlu, Aiden. Sudah sampai sini saja. Kamu hati-hati di jalan ya," jawabnya menolak secara halus.
Sebagai gadis yang sangat menjaga privasi, Valerie memiliki prinsip untuk tidak sembarangan membawa pria masuk ke dalam "daerah kekuasaannya", meskipun pria itu adalah kekasihnya sendiri.
Aiden pun mengalah dengan helaan napas pasrah, ia membiarkan Valerie melangkah menuju lift sementara ia memutar motor sport-nya untuk meninggalkan area parkiran.
Begitu sampai di unitnya, hal pertama yang Valerie lakukan adalah mandi. Air dingin yang mengguyur tubuhnya seolah meluruhkan rasa gerah dan lelah setelah seharian berada di luar.
Setelah berganti dengan baju santai yang nyaman, Valerie duduk di tepi kasur. Pandangannya terjatuh pada tas mini yang ia bawa dalam petualangan gila semalam.
Berniat ingin merapikan semuanya, ia mengambil tas itu dari atas nakas. "Lebih baik isinya dipindahkan dulu sebelum disimpan," gumamnya.
Valerie kemudian menumpahkan seluruh isi tas kecil itu ke atas sprei. Lipstik, bedak, botol obat tidur yang sudah kosong, dan beberapa lembar uang kertas berserakan.
Namun, ada sesuatu yang terasa mengganjal. Jemarinya bergerak memilah benda-benda itu satu per satu, berusaha mencari sesuatu yang seharusnya ada di sana.
Dahinya berkerut. Ia mencoba mengingat-ingat kembali daftar barang bawaannya. Sesaat kemudian, jantungnya seakan berhenti berdetak.
"KTM-ku..." bisiknya dengan wajah pucat pasi.
Ia membongkar kembali tasnya, mengguncang-guncangnya dengan panik, namun kartu tanda mahasiswa itu benar-benar tidak ada. Ingatannya langsung melesat kembali ke saat tasnya terjatuh di lantai kamar hotel nomor 120.
"Sial! Jangan bilang kartu itu tertinggal di sana," rintih Valerie sambil meremas rambutnya frustrasi.