Sepuluh ribu tahun yang lalu, Kaisar Pedang Kekosongan, Jian Chen, dikhianati oleh tunangannya (Permaisuri Surgawi Luo Xue) dan saudara angkatnya saat mencoba menerobos ke Alam Ilahi Primordial. Jiwanya hancur berantakan. Namun, setetes Darah Primordial misterius yang ia temukan di Reruntuhan Kekacauan menyelamatkan satu fragmen jiwanya.
Sepuluh ribu tahun kemudian, Jian Chen terbangun di tubuh seorang pemuda bernama sama di Benua Bintang Jatuh (Dunia Fana terendah). Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Bawaan" yang meridiannya hancur. Dengan ingatan masa lalunya, pengetahuan alkimia tingkat dewa, dan teknik kultivasi terlarang Seni Melahap Surga Primordial, Jian Chen memulai kembali langkahnya dari bawah. Ia bersumpah untuk membelah langit, menghancurkan para pengkhianat yang kini telah menjadi Penguasa Surga, dan mengungkap rahasia sejati di balik Darah Primordial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror Lembah Kabut Beracun
Setelah menempuh perjalanan selama tiga hari, pemandangan hijau di sekitar Jian Chen mulai berubah menjadi abu-abu kusam. Pepohonan di depannya tampak layu dengan batang yang menghitam, diselimuti oleh kabut tebal berwarna ungu pucat yang beraroma manis namun menyesakkan.
Ini adalah pinggiran Lembah Kabut Beracun.
Jian Chen menghentikan kudanya. Hewan itu meringkik cemas, kakinya gemetar menolak untuk melangkah lebih jauh. Jian Chen menepuk leher kuda itu perlahan. "Tunggulah di sini. Tempat ini bukan untuk makhluk fana."
Ia melompat turun, meninggalkan kudanya di area yang aman, lalu melangkah masuk ke dalam kabut tanpa ragu. Bagi kultivator biasa, kabut ini akan mulai mengikis paru-paru dan meridian mereka dalam hitungan menit. Namun, Jian Chen hanya mendengus dingin.
Seni Melahap Surga Primordial—Aktif!
Pusaran di Dantiannya berputar perlahan. Setiap partikel racun yang mencoba masuk ke pori-pori kulitnya justru disedot, dihancurkan oleh hukum kekacauan, dan diubah menjadi sepercik energi spiritual yang sangat kecil. Alih-alih membahayakannya, lembah ini justru menjadi sumber nutrisi pasif baginya.
Ia bergerak lebih dalam, indra spiritualnya menyebar sejauh lima puluh meter. Tiba-tiba, telinganya menangkap suara desis halus dari balik pepohonan mati.
Syuut!
Sesosok bayangan hijau zamrud melesat dari dahan pohon, mengarah tepat ke leher Jian Chen. Itu adalah Ular Beludru Hijau, binatang iblis tingkat 1 kelas menengah yang memiliki racun pelumpuh saraf instan.
Jian Chen bahkan tidak menoleh. Tangan kanannya bergerak secepat kilat, menangkap kepala ular itu di udara. Dengan remasan sederhana dari kekuatan fisiknya yang mencapai 2200 kg, kepala ular itu hancur menjadi bubur daging.
Ia menyerap esensi darah ular itu sambil terus berjalan. "Bunga Jiwa Ungu biasanya tumbuh di area dengan konsentrasi racun tertinggi. Itu berarti... di pusat lembah."
Semakin dalam ia melangkah, kabut semakin pekat hingga jarak pandang hanya tersisa lima meter. Tiba-tiba, tanah di bawah kakinya bergetar. Dari balik kabut, muncul sepasang mata merah besar setinggi dada manusia.
Seekor Katak Beracun Punggung Berduri—binatang iblis tingkat 2 awal—muncul menghalangi jalan. Ukurannya sebesar mobil kecil, dan setiap duri di punggungnya meneteskan cairan empedu kuning yang mampu melubangi batu.
"Binatang tingkat 2," mata Jian Chen berkilat. "Akhirnya, lawan yang layak untuk pemanasan."
Katak itu membuka mulutnya, menembakkan lidah panjang yang dilapisi duri tajam ke arah Jian Chen. Jian Chen tidak menghindar. Ia justru menerjang maju, menggunakan Langkah Bayangan Kosong untuk bergeser di udara.
Pukulan Dominasi Primordial!
Tinju Jian Chen yang diselimuti Qi keperakan menghantam sisi tubuh katak itu dengan telak.
BOOM!
Suara benturan keras bergema. Tubuh raksasa katak itu terpental sejauh sepuluh meter, menghancurkan beberapa pohon mati di jalurnya. Namun, katak itu memiliki kulit yang sangat kenyal; ia segera bangkit dan mengeluarkan raungan serak, menyemprotkan kabut racun pekat dari mulutnya.
Jian Chen tidak memberi kesempatan kedua. Ia menghunus pedang baja spiritualnya. Niat Pedang Kekosongan menyelimuti bilahnya, membuat pedang itu memancarkan aura dingin yang membelah kabut racun menjadi dua.
"Tebasan Kekosongan!"
Satu garis cahaya perak melintas. Katak raksasa itu terdiam. Sebuah garis halus muncul di tengah kepalanya, menjalar hingga ke ekornya. Detik berikutnya, tubuh katak itu terbelah menjadi dua bagian simetris, menyemburkan darah beracun ke segala arah.
Jian Chen segera menempelkan tangannya ke bangkai tersebut. Esensi darah binatang tingkat 2 jauh lebih kuat daripada yang pernah ia konsumsi sebelumnya. Energi spiritual yang meluap-luap merangsek masuk ke meridiannya, membuat kultivasinya yang berada di Tingkat 5 Awal mulai bergejolak kuat.
Setelah melahap habis katak tersebut, Jian Chen menemukan apa yang dicarinya di bawah tebing tempat katak itu bersarang. Sekuntum bunga berwarna ungu tua dengan pendaran cahaya yang menenangkan jiwa.
Bunga Jiwa Ungu.
"Dengan ini, aku bisa membentuk kembali Lautan Kesadaran-ku lebih awal," gumam Jian Chen dengan puas. Ia memetik bunga itu dan menyimpannya di cincin penyimpanan.
Namun, saat ia hendak berbalik, sebuah suara tepuk tangan terdengar dari balik kabut di atas tebing.
"Luar biasa. Membunuh Katak Punggung Berduri Tingkat 2 dengan satu tebasan pedang saat kau sendiri hanya berada di Tingkat 5 Kondensasi Qi... Siapa kau sebenarnya?"
Tiga sosok berjubah putih dengan sulaman awan di dada mereka melompat turun. Mereka membawa aura yang jauh lebih kuat dari siapa pun yang pernah ditemui Jian Chen di Kota Daun Gugur. Pemuda di tengah, yang tampak paling muda namun paling angkuh, menatap Jian Chen dengan pandangan rakus ke arah cincin di jarinya.
"Murid dari Sekte Awan Biru?" Jian Chen menyipitkan mata. Ia mengenali seragam itu sebagai salah satu sekte kelas dua di Kerajaan Angin Langit.
"Serahkan Bunga Jiwa Ungu dan cincin itu, lalu pergilah dari sini sebelum aku berubah pikiran," kata pemuda jubah putih itu dengan nada memerintah. "Aku, Lin Feng, tidak suka membuang waktu dengan semut dari pinggiran kota."
Jian Chen hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang biasanya menandakan bahwa musuhnya sudah berada di depan pintu kematian.
"Aku juga tidak suka membuang waktu," balas Jian Chen dingin. "Jadi, tinggalkan tas penyimpanan kalian dan merangkaklah pergi, atau lembah ini akan menjadi kuburan kalian."