NovelToon NovelToon
“Kau Kehilangan Aku Setelah Cerai”

“Kau Kehilangan Aku Setelah Cerai”

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cerai
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anita Banto

Amara rela menerima perjodohan dengan Tobias William Larsen demi cinta, berharap hatinya bisa memenangkan pria yang dingin dan sempurna itu. Ia memberi segalanya—kesetiaan, pengorbanan, bahkan seluruh rasa cintanya. Namun, semuanya hancur saat mantan Tobias muncul kembali.
Di malam ulang tahun pernikahan mereka, dunia Amara runtuh. Tobias menuntut cerai tanpa ampun, bahkan menyisakan ancaman yang menusuk hatinya. Dengan hati remuk, Amara akhirnya melepas semua harapan, memutuskan untuk pulang ke rumah keluarganya dan menjalani takdirnya sebagai pewaris keluarga Crawford.
Kini, ketika Amara dan Tobias bertemu lagi, mereka bukan lagi suami-istri. Mereka adalah dua rival, saling menatap dengan luka dan dendam yang tersimpan.
"Tuan Larsen, apakah Anda ingin saya mengingatkan sekali lagi? Kita sudah bercerai."
"Amara… ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kumohon… kembalilah padaku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Banto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24

Kepala Amara terasa seberat bongkahan timah, denyutannya seirama dengan detak jantungnya yang tak beraturan. Tenggorokannya gersang, dan setiap inci tubuhnya terasa lunglai saat ia berjuang mengumpulkan kesadaran. Namun, rasa sakit fisik itu seketika menguap, berganti dengan hantaman syok yang membuat napasnya tercekat.

​Pemandangan di sekelilingnya bukan lagi langit-langit apartemen Melanie. Saat ia menoleh ke nakas di samping tempat tidur, jantungnya seakan berhenti berdetak. Di sana, dalam sebuah bingkai perak yang elegan, terpampang wajah yang sangat ia kenal.

​Tobias. Dan ia sedang berada di ranjang pria itu.

​Amara mencoba bangkit, namun gelombang mual dan pening memaksanya kembali terhempas ke bantal. Ia merutuk dalam hati. Efek obat bius yang dicampurkan Jason ke minumannya semalam benar-benar menghancurkan sistem tubuhnya. Namun, ada kengerian lain yang merayap di kulitnya; punggung bawahnya terasa nyeri yang ganjil, dan ia menyadari bahwa di balik selimut sutra itu, ia tidak mengenakan sehelai benang pun.

​Apa kami benar-benar melakukannya?

​Potongan ingatan semalam mulai berputar seperti film rusak. Amara mengerang tertahan, menutupi wajahnya dengan telapak tangan yang gemetar. Rasa malu membakar pipinya. Ia ingat Tobias datang bagaikan malaikat maut yang menyelamatkannya dari cengkeraman Jason. Namun, apakah penyelamatan itu berakhir dengan mereka yang saling memangsa dalam gairah?

​Amara melirik sisi ranjang di sebelahnya. Kosong. Tobias tidak ada di sana, meninggalkan keheningan yang menyesakkan.

​Karena gaun mewahnya telah terkoyak menjadi sampah, Amara terpaksa meminjam pakaian Tobias—sebuah hoodie kebesaran dan celana kain yang menelan tubuh mungilnya. Setelah meraih ponsel dan dompet, ia bergegas menuju pintu. Namun, langkahnya tertahan. Dengan tangan yang masih bergetar, ia mengeluarkan segepok uang tunai dari tasnya dan meletakkannya di atas meja nakas.

​Ia tidak ingin merasa berutang. Terutama pada pria yang pernah menghancurkan hatinya. Tanpa menoleh lagi, Amara melangkah keluar, meninggalkan aroma maskulin yang masih melekat di pakaiannya.

​Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Tobias keluar dengan uap air yang masih menyelimuti tubuhnya, hanya mengenakan handuk yang melilit pinggang atletisnya. Matanya langsung tertuju pada ranjang yang kini berantakan dan... kosong.

​"Dia sudah pergi?" gumamnya. Ada sisa-sisa kehangatan semalam yang masih terasa di udara, namun kepergian Amara yang tiba-tiba meninggalkan rongga hampa di dadanya.

​Langkah Tobias terhenti saat matanya menangkap tumpukan uang tunai di atas meja. Tatapannya seketika berubah gelap, sedingin es kutub. Ia menatap uang itu dengan rasa tidak percaya yang amat sangat.

​Apakah Amara baru saja membayarnya? Seolah ia adalah seorang pria sewaan yang bisa dibeli setelah satu malam pelayanan?

​Amarah meledak di dalam dada Tobias. Dengan emosi yang meluap, ia menyambar uang itu dan melemparkannya ke dalam perapian yang menyala. Ia tidak peduli pada jumlahnya; ia hanya ingin menghancurkan simbol penghinaan itu. Amara memperlakukannya seperti orang asing, seorang figuran tak berarti yang bisa dibayar untuk kemudian dilupakan. Tobias membenci kenyataan bahwa wanita itu kini memiliki kendali penuh untuk membuatnya merasa tidak penting.

​Sesampainya di rumah, Amara segera membasuh diri, berusaha menghanyutkan sisa-sisa sentuhan Tobias dari kulitnya. Begitu ponselnya menyala, rentetan panggilan dari Melanie membanjir.

​"Amara! Ya Tuhan, kau baik-baik saja?!" suara Melanie meledak begitu panggilan terhubung.

​"Aku baik-baik saja, Mel," bohong Amara, tenggorokannya terasa kaku. "Aku bertemu teman lama dan mengobrol sampai lupa waktu. Ponselku mati."

​"Syukurlah! Kupikir kau diculik monster," sahut Melanie lega. "Ngomong-ngomong, Hector sukses besar! Semua foto Bethany sudah musnah dari perangkat bajingan itu. Misi kita berhasil!"

​Amara mengembuskan napas lega. Setidaknya, satu beban telah terangkat. Tak lama setelah menutup telepon Melanie, Bethany menghubunginya dengan nada yang jauh lebih ceria. "Amara! Terima kasih! Jason pulang dengan wajah pucat hari ini. Saat aku menuntut cerai, dia tidak berani mengancamku lagi. Kau benar-benar penyelamatku!"

​"Aku senang bisa membantumu, Bethany," balas Amara tulus.

​"Dan aku akan memastikan kebaikanmu terbalas. Kau tidak akan menyesal telah menolongku."

​Amara terdiam sejenak setelah panggilan berakhir, merenungkan ucapan Bethany. Namun, ia tak punya waktu lama untuk melamun. Ia harus menutupi bekas merah di lehernya—jejak kepemilikan Tobias—dengan concealer setebal mungkin sebelum berangkat ke kantor.

​Malam pesta ulang tahun Madam Sinclair pun tiba. Atmosfer kemewahan menyelimuti ruangan, namun kegelisahan Amara tak kunjung surut. Keheningan Tobias sejak pagi tadi justru terasa seperti tenang sebelum badai.

​"Anda pasti Amara Miller?" Sebuah suara penuh wibawa membuyarkan lamunannya.

​Amara berbalik dan mendapati sang legenda, Gemini Sinclair, berdiri di hadapannya. "Benar, Nyonya Sinclair. Sebuah kehormatan bagi saya."

​Gemini menatap Amara dengan mata setajam elang, sempat melirik sekilas ke arah leher Amara yang tertutup riasan, namun matanya yang jeli tak bisa dibohongi. "Putriku memujimu setinggi langit. Aku harap kau memang berbeda dari semua rumor murahan di luar sana."

​Amara tersenyum tenang. "Waktu yang akan menjawabnya, Nyonya."

​Gemini tersenyum tipis. "Mari. Aku ingin memperkenalkanmu pada mitra yang akan bekerja sama dengannmu dalam proyek besar ini. Karena kalian berdua mengajukan penawaran yang luar biasa, aku memutuskan untuk menggabungkan kekuatan kalian."

​Jantung Amara mencelos. Mitra?

​Gemini membawanya berhenti tepat di hadapan seorang pria yang berdiri tegak dengan aura dominasi yang menyesakkan. "Nona Miller, perkenalkan ini Tobias Larsen, CEO Labyrinth. Dia adalah mitra Anda dalam proyek ini."

​Dunia Amara seakan runtuh di tempat. Tobias menoleh, menatap tepat ke manik matanya dengan kilatan yang sulit diartikan—campuran antara amarah yang tertahan dan kepemilikan yang berbahaya.

​"Tuan Larsen, ini Amara Miller. Mohon kerja samanya untuk menjaga Nona Miller dengan baik," ucap Gemini formal.

​Sebuah seringai tipis muncul di wajah tampan Tobias. Suaranya yang berat dan mengintimidasi bergema di telinga Amara, "Anda tidak perlu khawatir, Nyonya Sinclair. Saya memang berencana untuk 'menjaga' Nona Miller dengan cara yang paling... berkesan."

1
S
bodoh.jk.mau di lindungi seolah bs mengatasi segalanya tp begitu bahaya.mrngancam baru panik
S
aku yaki tawa dan dansamu hanya utk menghibur diri tak mungkin rasamu hilang tiba tiba mara.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!