Lyra Aldebaran hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan pertunangannya. Namun satu malam di klub hotel mewah mempertemukannya dengan pria yang tidak seharusnya ia kenal.
Darius Baskara, Pria dingin dan berbahaya yang menguasai dunia gelap kota. Sebuah kejadian membuat mereka terjebak bersama sepanjang malam. Lyra mengira semuanya akan berakhir saat pagi datang. Ia salah,Karena bagi seorang mafia seperti Darius Baskara, sekali ia menginginkan sesuatu, ia tidak akan pernah melepaskannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Andreina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Menunggu
Mobil hitam itu melaju perlahan meninggalkan rumah sakit, Langit sore mulai berubah jingga, Lyra duduk di kursi penumpang, masih sedikit lemah tapi jauh lebih hidup dari beberapa minggu lalu, Darius menyetir dengan tenang. Tangannya tetap mantap di setir. Namun sesekali ia melirik ke arah Lyra, Seolah memastikan wanita itu benar-benar ada di sana.
Beberapa menit mereka hanya diam, Lyra memandang keluar jendela, Lalu tiba-tiba berkata,
"Apa yang kamu lakukan saat aku di rumah sakit?"
Darius meliriknya sekilas "Menunggu."
Lyra mengangkat alis"Hanya itu?"
Darius tidak menjawab, Lyra menoleh padanya sekarang, Tatapannya penuh rasa ingin tahu. "Benar-benar hanya menunggu?"
Ia menyandarkan kepala ke kursi, Nada suaranya berubah sedikit nakal "Tidak pergi ke club?"
Darius tetap fokus pada jalan, Lyra melanjutkan dengan senyum kecil "Tidak bertemu wanita?"
Ia menyenggol lengannya pelan "Atau mungkin… beberapa wanita?"
Darius akhirnya menghela napas pelan.
"Lyrabelle." Nada suaranya rendah.
Lyra langsung tersenyum mendengar nama itu.
"Ya? kau tau nama lama ku?"
Darius menoleh sebentar, Tatapannya serius.
"Tidak." Hanya satu kata, Namun cukup tegas,
Lyra menatapnya beberapa detik, Kemudian tertawa kecil "Aku hanya bercanda."
Namun Darius masih terlihat serius, Ia berkata lagi pelan "Aku tidak pergi ke mana pun."
Mobil berhenti di lampu merah, Ia akhirnya menoleh penuh ke arah Lyra, Matanya lebih lembut dari biasanya "Aku menunggumu bangun."
Sunyi beberapa detik di antara mereka, Lyra tidak menyangka jawaban itu, Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. "Selama berminggu-minggu?"
Darius mengangguk kecil, Lampu berubah hijau.
Mobil kembali berjalan, Lyra memandangnya diam-diam, Kemudian ia berkata pelan, "Kalau begitu…" Ia mendekat sedikit. Bibirnya hampir menyentuh telinga Darius. "Kurasa kamu pantas mendapatkan hadiah."
Darius sedikit menyipitkan mata.
"Hadiah?"
Lyra tersenyum, Namun tidak menjawab. Karena mobil mereka sudah memasuki gerbang besar mansion. Dan rumah itu akhirnya terasa hidup lagi.
Gerbang besar mansion terbuka perlahan. Mobil hitam Darius masuk ke halaman yang luas, Para pelayan sudah berdiri rapi di depan pintu utama. Ketika mobil berhenti, Darius segera keluar dan berjalan ke sisi Lyra, Ia membuka pintu. Lyra hendak turun, namun Darius sudah mengulurkan tangannya.
"Aku bisa sendiri, Darius." Nada suaranya lembut tapi sedikit menantang.
Darius menatapnya sebentar. "Lukamu belum sepenuhnya pulih."
Lyra tersenyum kecil "Aku tidak selemah itu."
Namun tetap saja ia menerima tangan Darius ketika berdiri, Begitu mereka berjalan menuju pintu utama—
para pelayan langsung menunduk"Selamat datang kembali, Nona."
Lyra berhenti sebentar, Gelar itu masih terasa asing baginya, Namun ia tetap tersenyum manis. "Terima kasih." Rumah itu terlihat sama seperti sebelumnya.
Tangga besar, Lampu kristal, Aroma bunga yang selalu segar. Namun bagi Lyra, semuanya terasa sedikit berbeda. Ia berjalan perlahan memasuki foyer.
Matanya menyapu ruangan, Lalu tiba-tiba ia bertanya,
"Ara dimana?"
Darius berhenti sepersekian detik, Namun ekspresinya tetap tenang, Lyra melanjutkan, "Kenapa aku tidak melihatnya?"
Sunyi sejenak, Kemudian Darius menjawab singkat,
"Ara sedang berlibur."
Lyra mengangguk kecil."Ahhh…"
Seolah jawaban itu cukup masuk akal, Namun Leon yang berdiri di sisi ruangan menundukkan kepalanya sedikit lebih dalam, Karena hanya dia yang tahu Ara tidak sedang berlibur. Dan jika Lyra mengetahui kebenaran tentang apa yang terjadi di gudang bawah tanah itu mansion ini mungkin tidak akan terasa seperti rumah lagi. Lyra mulai berjalan ke arah tangga.
Tangannya menyentuh pegangan kayu yang dingin.
"Akhirnya pulang." Namun ketika ia berbalik Darius masih berdiri di tempat yang sama, Menatapnya. Tatapan yang terlalu lama.m, Terlalu dalam.
Lyra mengangkat alis "Apa?"
Darius menggeleng pelan "Tidak ada."
Namun di dalam pikirannya satu hal masih berputar, Viktor. Dan ancaman yang belum selesai. Karena pria itu tidak pernah melakukan sesuatu tanpa rencana kedua, Dan selama Lyra berada di mansion ini dia akan selalu menjadi target.
Kamar utama mansion terasa tenang. Cahaya sore masuk dari jendela besar, menyinari tempat tidur dan sofa di dekatnya, Lyra duduk di tepi tempat tidur dengan ponsel di tangannya. Layarnya dipenuhi pesan, Ia menghela napas pelan. Sementara di sisi lain ruangan, Darius berdiri dekat meja kerja kecil.
Darius memperhatikannya sebentar.
"Apa yang kamu lihat?"
Lyra tidak langsung menjawab, Lyra menatap layar ponselnya lagi.
"Rani mencariku." Ia menggulir layar "Dan Ibu Elena juga menghubungiku beberapa kali."
Darius hanya mengangguk sedikit, Namun tatapannya masih tertuju Lyra. Darius menyipitkan mata.
"Serius sekali dengan ponselmu." Ia meraih botol obat di meja kecil.
Namun belum sempat menoleh kearah Darius tiba-tiba tangan Darius mengambil ponsel dari tangannya. Lyra mengerutkan alis.
"Darius..."
Namun pria itu menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa ditawar "Minum obatnya dulu."
Nada suaranya tenang, Tapi jelas itu perintah, Lyra menghela napas kecil "Mengerti?"
Lyra menatapnya beberapa detik, Lalu tiba-tiba tersenyum kecil Ia tidak mengambil obat itu dulu.
Sebaliknya tangannya naik memegang wajah Darius.
Gerakan itu membuat pria itu sedikit terkejut, Lyra menarik wajahnya mendekat, Dan mengecup bibirnya pelan, Sangat pelan, Hanya beberapa detik. Namun cukup untuk membuat waktu terasa berhenti. Ketika ia menjauh sedikit, matanya masih dekat dengan mata Darius. "Aku rindu ini" Bisiknya lembut.
Untuk beberapa detik Darius hanya menatapnya. Kemudian sesuatu di wajahnya berubah, Lebih hangat, Tangannya naik menyentuh rambut Lyra dengan lembut, Namun ia masih berkata pelan,
"Obatnya dulu."
Lyra tertawa kecil "Kamu tidak berubah."
Ia akhirnya mengambil obat itu dan meminumnya dengan air.
Darius memperhatikannya sampai habis, Baru setelah itu ia berkata, "Bagus."
Lyra bersandar ke bantal, Matanya masih tertuju pada Darius, Namun di luar mansion mobil hitam berhenti perlahan di gerbang. Seorang pria turun dari kursi belakang, Rambutnya sedikit berantakan, Matanya penuh tekad Penjaga langsung mengenalinya.
"Anda tidak bisa masuk..."
Namun pria itu berkata tegas,
"Aku harus bertemu Lyra."
Namanya Rendra. Dan kedatangannya kali ini tidak akan sederhana.