NovelToon NovelToon
SUAMIKU AYAH TUNANGANKU

SUAMIKU AYAH TUNANGANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta Terlarang / Duda
Popularitas:96.5k
Nilai: 5
Nama Author: Vaelisse

Liora dipaksa menikah dengan Kaedric Volther, pria yang dikenal kejam dan berbahaya. Namun sebelum pernikahan itu terjadi, Kaedric meninggal dunia. Liora mengira rencana pernikahan itu akan dibatalkan dan ia bisa kembali menjalani hidupnya seperti biasa.

Namun keputusan keluarga Volther berubah. Untuk menjaga kepentingan keluarga, Liora justru harus menikah dengan ayah Kaedric, Maelric Volther, seorang pria berkuasa yang jauh lebih tua darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33

Air mata mengalir satu per satu di pipi Liora.

Kesedihan atas kematian Paman Deris terlalu besar untuk ditampung dalam kata-kata. Dari pesan yang Zevran kirimkan lewat aplikasi chat, kondisi jenazah pamannya sudah tidak bisa dikenali, terlalu rusak. Dan dari orang-orang mereka, Zevran tahu bahwa Maelric menanganinya sendiri.

Selama ini Liora mengira Maelric selalu mendelegasikan urusan seperti itu kepada anak buahnya.

Rupanya untuk keluarganya, ia membuat pengecualian.

Ketukan pelan di pintu memotong lamunannya. Liora cepat-cepat mengusap pipinya dan mengizinkan masuk dengan suara yang hampir tidak terdengar. Pintu terbuka, dan Camilla masuk membawa aroma yang hangat dan familiar.

"Saya sudah siapkan lasagna kesukaan Nyonya," katanya lembut. Sejak Liora kembali, Camilla tidak pernah jauh darinya.

"Aku tidak lapar."

Camilla mendekat perlahan, seperti tidak ingin mengejutkan. "Nyonya bisa jatuh sakit." Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih hati-hati. "Saya tahu tidak sepatutnya saya berkata ini, tapi mungkin justru lebih baik Tuan melampiaskan amarahnya ke tempat lain. Daripada Nyonya yang menanggungnya."

"Seharusnya bisa diselesaikan dengan cara yang lebih baik." Liora menatap titik kosong di depannya. "Kalau dari awal ia tidak membatasi kontakku dengan keluarga, mungkin tidak akan sampai seperti ini."

"Tuan Maelric tidak terbiasa mengikuti keinginan orang lain," kata Camilla pelan. Lalu ia membungkuk hormat dan keluar.

Liora tidak menjawab. Ia pun tidak sepenuhnya salah.

**

Liora duduk di sofa dengan laptop di pangkuan, menunggu Zevran aktif di aplikasi. Ponselnya tertinggal di rumah keluarganya, jadi satu-satunya cara berkomunikasi hanyalah lewat internet.

Ia mengangkat pandangan ketika pintu kamar terbuka. Maelric masuk membawa kotak hitam berukuran cukup besar.

"Hadiah untukmu, Sayang." Ia menghampiri Liora dan menyerahkan kotak itu.

Liora menerimanya. Begitu melihat logo di bagian atas, ia sudah tahu isinya sebelum membuka, tas Bottega Veneta. Yang orang-orang biasa menyebutnya, tas anyaman. Harganya bisa mencapai beberapa ribu euro.

Ia menutup kotaknya kembali dan mengembalikannya.

"Cantik, tapi aku biasanya pakai yang berwarna krem atau warna-warna cerah."

Kebingungan sekilas melintas di wajah Maelric. Jelas ia tidak mengantisipasi jawaban seperti itu, ia mengira satu tas mewah sudah cukup untuk mencairkan segalanya.

"Baik, aku catat untuk lain kali." Ia tidak terlihat menyerah. "Kalau mau, besok kita pergi ke butik dan kamu pilih sendiri."

Ia semakin berusaha keras. Liora menahan senyum yang tidak seharusnya muncul.

"Aku biasanya beli tas keluar. Terakhir kali pergi bersama Raphael, tapi sepertinya itu sudah tidak relevan lagi sekarang."

"Kalau kamu mau, kita pergi bersama." Maelric duduk di sisi ranjang, memandangnya. "Bahkan itu bisa menjadi bulan madu kita yang tertunda. Aku menyesal melewatkan itu. Satu kata saja, dan kita bisa berangkat besok."

Ia sedang mencoba mengalihkan perhatianku dari keluarga. Liora membaca polanya dengan jelas.

"Aku lebih suka seminggu lagi." Ia menatapnya tenang. "Kamu tahu aku berencana menghadiri pemakaman. Semoga kamu tidak keberatan."

Ekspresi Maelric langsung berubah.

"Tidak."

"Kenapa?"

"Karena terakhir kali kamu ke sana, aku hampir kehilangan kamu. Aku menyaksikan kakakmu menembakmu." Suaranya tidak keras, tapi tekanannya terasa. "Aku tidak akan membiarkan itu terulang. Dan jika kamu tetap memaksa, ia tidak akan selamat kali ini."

"Berarti kita tidak akan menemukan kesepakatan," kata Liora datar. Ia meletakkan laptop kembali di pangkuannya dan mengalihkan pandangan ke layar.

Dari sudut mata, ia melihat Maelric mengambil kotak tas itu dari ranjang dan keluar tanpa berkata apa-apa.

Malam ini pasti ada konsekuensinya. Tapi Liora tidak menyesali satu kata pun yang ia ucapkan. Maelric harus tahu bahwa ia tidak akan selalu tunduk.

**

Sisa hari itu Liora habiskan di kamar. Ia sempat berbicara sebentar dengan Zevran, tapi kakaknya terpaksa memutus sambungan lebih cepat karena situasi di rumah keluarga mereka masih kacau. Zevran berusaha meyakinkannya bahwa tidak ada yang terlalu parah, tapi Liora tidak cukup naif untuk mempercayainya begitu saja.

Ia mengisi waktu dengan menelusuri berbagai halaman di internet, apa saja, hanya agar kepalanya tidak dikuasai pikiran-pikiran yang tidak ia sanggup hadapi seorang diri.

Maelric baru kembali setelah tengah malam.

"Aku merasa bersalah tidak pulang untuk makan malam, tapi katanya kamu bahkan tidak keluar kamar sama sekali." Ia menatap Liora dari ambang pintu. "Kurasa kondisimu sudah cukup buruk untuk berdiri pun susah."

Ia khawatir tidak ada yang melayaninya malam ini, pikir Liora.

"Aku baik-baik saja." Ia berdiri sebagai bukti. Kepala sedikit berputar, tapi ia tidak menunjukkannya.

"Kalau kamu terus seperti ini, aku akan panggil dokter dan pasang infus." Maelric bergerak masuk ke kamar, melepas jasnya. "Kalau sudah sampai harus diinfus, maka perjalanan ke Milan terpaksa ditunda."

Liora tidak merespons. Ia berjalan menuju ranjang, sudah mandi sebelumnya, tidak ingin menanggung kehadiran Maelric di kamar mandi malam ini.

"Kalaupun aku yang membunuh Ronan, aku masih bisa memahami kesedihanmu." Maelric duduk di sisi ranjang. "Tapi Paman Deris, ia tidak pernah benar-benar ada untukmu. Selalu pergi ke sana ke sini, tidak pernah punya waktu. Aku tidak percaya kamu bisa sedekat itu dengannya."

"Aku menyayanginya." Liora duduk di tepi ranjang, memunggungi Maelric. "Itu saja."

"Mereka memperlakukanmu seperti aset, Liora. Ayahmu sendiri menyetujui semua ini demi keuntungan. Bukan karena mereka peduli padamu."

Liora mengambil napas panjang, dalam-dalam, menahan sesuatu yang ingin sekali ia keluarkan. Ia tahu kata-kata itu ada benarnya. Dan justru itulah yang membuatnya sakit.

"Aku tahu," jawabnya singkat. Ia mulai melepas pakaiannya, membelakangi Maelric. Ingin segera mengakhiri malam ini.

"Kalau kamu tidak ingin malam ini, tidak apa-apa."

Liora berhenti.

Ia menoleh, memandang Maelric dengan ekspresi yang tidak ia sembunyikan, campuran antara terkejut dan tidak percaya. Maelric berbaring di ranjang dengan hanya mengenakan celana pendek, menatap langit-langit.

"Serius?"

"Ya." Matanya berpindah ke Liora. "Istirahatlah. Besok kamu perlu tenaga untuk memilih apa yang ingin dibawa ke Milan, karena tiga hari lagi kita berangkat." Ia menoleh sebentar. "Dan besok ada kejutan untukmu."

Liora menatapnya lama.

Lalu tanpa berkata apa-apa, ia berbaring dan memejamkan matanya.

Kejutan apa lagi yang sedang ia rencanakan?

1
Resiana dewi
next kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!