"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."
Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.
Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Tatapan teman-teman sekelasku terasa seperti ribuan jarum yang menusuk kulit. Bisik-bisik mereka yang tadinya samar, kini mulai terdengar jelas. Aku bisa melihat beberapa dari mereka pura-pura sibuk dengan ponsel, tapi lensa kamera mereka mengarah tepat ke arahku, Guntur, dan Fita.
"Gue bilang, ambil barang lo, Fis," suara Guntur memberat, seolah dia tidak tahan lagi dengan sikap acuh tak acuhku di depan umum.
Aku melirik gantungan kunci itu, lalu beralih menatap sekeliling kelas. Rasa muak yang amat sangat mendidih di dadaku. Aku benci drama, aku benci dikasihani, dan aku paling benci menjadi bahan tontonan gratis untuk orang-orang yang hanya ingin tahu tanpa peduli betapa hancurnya aku.
Tanpa sepatah kata pun, aku menarik tas ranselku. Aku menyambar buku paket ekonomi dan alat tulisku, memasukkannya dengan kasar tanpa peduli kertasnya terlipat.
"Fis, lo mau ke mana? Bentar lagi masuk," tanya Ayu dari bangku depan, wajahnya penuh kecemasan.
Aku tidak menjawabnya. Aku bahkan tidak menyentuh gantungan kunci dari Bintang yang tergeletak di meja itu. Biarlah benda itu di sana, menjadi saksi bisu betapa palsunya kehadiran Guntur dan Fita di hadapanku.
"Afisa, gue lagi bicara sama lo!" Guntur mencoba menghalangi jalanku saat aku menyampirkan tas ke bahu.
Aku mendongak, menatapnya dengan senyum sinis yang paling tajam. "Nikmati tontonannya, Kak. Selamat karena udah berhasil bikin satu kelas tahu betapa lucunya hubungan kalian."
Aku menyentak lenganku saat dia mencoba menahan pergelanganku, lalu aku melangkah lebar keluar kelas. Aku tidak peduli lagi pada peraturan sekolah, aku tidak peduli pada absensi, dan aku tidak peduli pada Bintang yang mungkin masih menungguku di koridor.
Aku terus berjalan, melewati lapangan basket yang basah, menuju gerbang belakang yang biasanya dijaga longgar saat jam pelajaran akan dimulai. Aku butuh pergi. Bukan karena aku kalah, tapi karena aku menolak untuk terus berada dalam skenario yang mereka buat.
Di parkiran, aku melihat motor Guntur dan motor teman-temannya berjajar rapi. Aku meludah pelan ke arah aspal, lalu terus melangkah keluar gerbang sekolah tanpa menoleh lagi.
Duniaku mungkin sedang runtuh, tapi aku menolak untuk runtuh di depan mata mereka.
Aku berjalan menyusuri trotoar, membiarkan sepatu sekolahku sesekali menginjak sisa genangan air hujan kemarin. Jarak antara sekolah dan taman kota ini tidak jauh, namun setiap langkah yang menjauhkanku dari gedung itu terasa seperti beban yang perlahan terangkat dari pundakku.
Begitu sampai, aku memilih duduk di bangku kayu yang terletak di bawah pohon besar yang rindang. Suasananya sepi, hanya ada suara gemericik air mancur kecil dan kicauan burung yang tak peduli dengan kacaunya hatiku. Di sini, tidak ada mata yang menghakimi, tidak ada bisik-bisik tetangga kelas, dan yang paling penting, tidak ada Guntur maupun Fita.
Aku menyandarkan kepala ke sandaran bangku, menatap langit yang mulai cerah. Bau tanah basah setelah hujan—petrichor—masuk ke paru-paruku, sedikit memberikan rasa tenang yang sejak kemarin absen dari hidupku.
Aku mengeluarkan ponsel dari saku, melihat layarnya yang penuh dengan notifikasi.
Guntur (5 panggilan tak terjawab)
Ayu (3 pesan): "Fis, lo di mana? Bu Retno nanyain lo!"
Kaila (1 pesan): "Fis, maafin gue... gue nggak tahu mereka bakal seberani itu ke kelas lo."
Aku mendengus pelan. Aku tidak menghapus pesan-pesan itu, tapi aku juga tidak berniat membalasnya. Biarkan saja mereka panik. Biarkan mereka merasakan sedikit dari rasa tidak nyaman yang selama ini aku telan sendiri.
Tiba-tiba, sebuah bayangan menutupi sinar matahari yang jatuh ke wajahku. Aku tersentak dan hampir berdiri, mengira itu Guntur yang berhasil melacakku. Namun, yang berdiri di sana adalah Bintang.
Napasnya masih sedikit memburu. Seragamnya yang bagian bahu masih agak lembap menunjukkan bahwa dia benar-benar nekat menyusulku. Dia tidak berkata apa-apa, hanya berdiri di sana sambil memegang dua botol minuman dingin.
"Aku tahu kamu bakal ke sini," ucap Bintang pelan. Dia duduk di ujung bangku, memberikan jarak agar aku tidak merasa terganggu. "Taman ini satu-satunya tempat yang pernah kamu bilang 'cantik' pas kita jalan bulan lalu."
Aku tertegun. Aku bahkan lupa pernah mengatakan itu padanya. Di saat aku terobsesi dengan setiap detail kecil tentang Guntur, ternyata ada orang lain yang justru mencatat setiap kata kecil yang keluar dari mulutku.
"Kamu bolos praktikum?" tanyaku tanpa menoleh, menatap lurus ke depan.
"Nilai bisa diperbaiki, Fis. Tapi momen buat mastiin kamu nggak sendirian pas lagi hancur begini nggak bakal datang dua kali," jawabnya tulus. Dia menyodorkan satu botol minuman padaku. "Minum dulu. Kamu kelihatan capek banget berantem sama dunia."
Aku menerima botol itu. Dinginnya menyentuh telapak tanganku, meredam sedikit amarah yang masih tersisa. Untuk pertama kalinya sejak rahasia kostan Fita terbongkar, aku merasa tidak perlu memasang topeng "kuat".
palingan dia cemburu dengar cerita dari Radit kalo Afis bersinar di UI dan lagi dekat sama Arkan
nggak usah ditanggapi Fis
muak Ama afis🤣
moga Afis dapat pendamping yang benar-benar membuat dia bahagia
lupakan Guntur dan segala penyesalan itu Fis
main gabung aja orang lagi asik b2