NovelToon NovelToon
Sang Sopir Penakluk

Sang Sopir Penakluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Bad Boy
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Bima Sakti hanyalah seorang sopir di Garuda Group yang dikenal malas, sering terlambat, dan suka menggoda perempuan cantik. Namun, di balik sikapnya yang sembrono, Bima menyimpan identitas dan kemampuan luar biasa yang tidak diketahui siapa pun.
​Kehidupan santainya berubah ketika ia harus berurusan langsung dengan Sari Lingga, Presiden Direktur Garuda Group yang dijuluki "Si Cantik Gunung Es". Di tengah persaingan bisnis yang kejam dan kejaran pria-pria berkuasa, Bima hadir bukan hanya sebagai sopir, melainkan sebagai pelindung rahasia bagi Sari.
​Dari ruang kantor yang kaku hingga konflik dunia bawah Jakarta, Bima menunjukkan bahwa ia jauh lebih berbahaya daripada sekadar sopir armada biasa. Akankah si "Gunung Es" Sari Lingga akhirnya luluh oleh pesona sang sopir misterius ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Untuk sementara waktu, anak buah Dedi tampak kewalahan. Namun Dedi hanya berdiri di samping dengan senyum dingin.

Bima yang menonton dari jauh sedikit mengernyit. Sekilas tampak orang-orang Tigor memiliki keunggulan. Namun Bima bisa melihat dengan jelas; jika pertempuran ini berlangsung sedikit lebih lama, pihak Tigor pasti akan kalah.

Jumlah mereka memang banyak, tetapi sebagian besar hanyalah preman jalanan. Cara bertarung mereka kacau, seperti perkelahian liar. Sebaliknya, belasan orang anak buah Dedi jelas berbeda. Meskipun tidak menerima pelatihan profesional, mereka pasti sering berlatih. Dari kekuatan fisik, teknik bertarung, hingga koordinasi, mereka jauh lebih unggul.

Dan benar saja. Setelah beberapa saat, serangan membabi buta dari pihak Bang Tigor mulai melemah. Beberapa orang sudah terengah-engah. Saat itulah anak buah Dedi melancarkan serangan balik. Serangan mereka sangat tajam. Berbeda dengan orang-orang Bang Tigor yang asal memukul, mereka menyerang titik-titik lemah tubuh manusia. Setiap pukulan bisa langsung membuat lawan kehilangan kemampuan bertarung. Dalam sekejap mata, lima atau enam orang dari pihak Bang Tigor sudah terjatuh sambil menjerit kesakitan.

“Hmph. Sekumpulan pecundang,” Dedi mencibir. “Kalian benar-benar berpikir bisa naik panggung?”

Segalanya memang sudah berada dalam perhitungannya. Ia sangat percaya pada para anak buahnya yang telah bertarung bersamanya selama bertahun-tahun.

“Dedi! Aku akan melawanmu!” Bang Tigor juga menyadari situasi buruk itu. Jika ini terus berlanjut, Geng Cobra pasti akan kalah telak. Satu-satunya cara sekarang adalah menjatuhkan Dedi lebih dulu. Dengan raungan keras, ia menendang lawan di depannya lalu menerjang ke arah Dedi.

“Tigor, dengan kemampuanmu itu kamu berani menantangku? Mencari mati!” Dedi melesat maju.

Dalam sekejap, keduanya sudah bertarung. Sebagai pemimpin Geng Cobra, Bang Tigor memang petarung terbaik di kelompoknya. Ia pernah menjadi tentara selama beberapa tahun. Namun di depan Dedi, perbedaannya terlalu jelas. Hanya dalam tiga sampai lima jurus, Dedi melancarkan pukulan lurus ke wajahnya. Bang Tigor buru-buru menghindar, namun ia tidak menyangka itu hanyalah gerakan tipuan. Tubuh Dedi berputar cepat, muncul di belakangnya, lalu mencengkeram lengannya dengan kedua tangan dan memutarnya keras.

KRAK!

Lengan kanan Bang Tigor langsung terkilir. Ia mundur beberapa langkah dengan wajah pucat, keringat dingin langsung membasahi dahinya.

“Sampah,” ejek Dedi dengan penuh penghinaan.

“Aku akan melawanmu sampai mati!” Bang Tigor meraung marah.

Namun saat itu suara malas terdengar dari samping. “Tigor, mundurlah dulu. Melihat Bos Dedi bertarung sehebat ini… tanganku jadi gatal ingin ikut mencoba.”

Bang Tigor langsung berseri. Ia cepat-cepat mengangguk dan mundur ke samping. Dedi memandang Bima dengan jijik. “Hanya kamu? Sopir kecil sepertimu ingin melawanku? Kamu benar-benar tidak tahu hidup dan mati.”

Ia melangkah mendekat, siap mengakhiri semuanya. Ketika jaraknya tinggal tiga atau empat langkah, tiba-tiba ia menerjang maju dan menghantamkan pukulan ke kepala Bima.

“Kenapa sopir kecil tidak boleh dipandang tinggi?” kata Bima kesal. “Sopir juga makan dari kemampuan sendiri! Kalau kamu terus meremehkan sopir, aku akan memukulmu!”

Ia tidak menghindar. Di mata Dedi yang terkejut, Bima juga mengangkat tinjunya dan menghantamkannya. Ia benar-benar ingin bertarung adu kekuatan!

“Mencari mati!” Dedi mencibir. Ia menambah tenaga dalam pukulannya, yakin bisa mengalahkan Bima dalam satu serangan.

BOOM!

Kedua tinju bertabrakan keras. Seolah waktu berhenti sejenak. Lalu—Dedi tiba-tiba menjerit. Tubuhnya terpental seperti layang-layang putus tali dan jatuh keras ke tanah. Lengannya yang kanan terkulai lemas. Rasa sakit yang hebat hampir membuatnya pingsan.

“Bagaimana… mungkin…” Ia menatap Bima dengan wajah penuh ketakutan. Hanya dengan satu pukulan, seluruh tulang lengan bawahnya remuk. Seberapa besar kekuatan yang dibutuhkan untuk melakukan itu? Bagaimana mungkin sopir kecil seperti ini memiliki kekuatan mengerikan seperti itu? Apakah dia masih manusia?

“Sampah,” kata Bima sambil tersenyum, meniru nada penghinaan Dedi sebelumnya kepada Bang Tigor. “Bahkan sopir kecil sepertiku saja tidak bisa kamu kalahkan. Masih berani menyebut diri bos? Lebih cocok jadi tukang pijat.”

Bang Tigor yang menyaksikan semuanya dari samping benar-benar tercengang. “Sial… satu pukulan saja sudah menghancurkan Dedi?”

Ia tahu Bima kuat, namun ia sama sekali tidak menyangka kekuatannya akan semenakutkan ini.

“Saudara-saudara!” Bang Tigor segera berteriak keras. “Dedi sudah dihancurkan oleh Tuan Bima dengan satu pukulan! Berjuang lebih keras! Hajar mereka semua!”

Semangat orang-orang langsung melonjak. Itu menjadi titik balik pertempuran. Bos mereka sudah tumbang. Hati para anggota Geng Barong langsung goyah. Sebaliknya, moral Geng Cobra melonjak tinggi. Tak lama kemudian, lebih dari sepuluh anak buah Dedi semuanya telah dijatuhkan ke tanah.

“Sial! Rasanya benar-benar lega!” Bang Tigor tertawa keras sambil menggertakkan gigi dan memasang kembali lengannya yang terkilir. Hari ini, akhirnya ia benar-benar melampiaskan semua kemarahannya. Namun kerugiannya juga tidak kecil; hampir semua anak buahnya terluka, beberapa bahkan mengalami luka serius.

“Segera bawa saudara-saudara yang luka berat ke rumah sakit,” perintah Bima dengan tenang. “Lalu tempatkan orang di sekitar sini untuk berjaga-jaga. Jangan sampai anggota Geng Barong yang lain mendengar keributan ini.”

“Baik!”

Bang Tigor langsung melaksanakan perintah itu tanpa ragu. Di dalam hatinya sekarang, ia sudah benar-benar mengakui wibawa Bima.

“Sekarang…” Bima berbalik dan berjalan perlahan menuju Dedi. “Kita seharusnya berbicara baik-baik, Bos Dedi.”

Dedi, yang lengannya sudah hancur, berusaha melawan, tetapi langsung ditekan ke tanah oleh anak buah Bang Tigor.

“Bima!” Ia menggertakkan gigi dan meraung. “Kalau berani, bunuh aku sekarang! Kalau tidak… aku tidak akan pernah melepaskanmu! Aku akan membuat hidupmu jauh lebih sengsara daripada keadaanku sekarang!”

Bima tersenyum tipis. Namun, tatapan matanya yang dingin membuat Bang Tigor merinding. Mata itu… persis seperti malam ketika Bima mengangkatnya di udara dan mengancam akan menghabisi seluruh kelompoknya. Apakah dia benar-benar akan membunuh Dedi?

“Ingin membalas dendam padaku?” kata Bima tenang. “Aku sebenarnya berharap bisa melihat hari itu. Tapi sayangnya… kamu mungkin tidak akan punya kesempatan.”

Ia menoleh kepada Bang Tigor. “Patahkan kedua kakinya. Biarkan dia menghabiskan sisa hidupnya di kursi roda.”

Nada suaranya datar, seolah hanya membicarakan hal sepele. Namun, sebenarnya ia sedang “menyembelih ayam untuk menakut-nakuti monyet.” Di saat situasi sedang pelik seperti sekarang, Dedi berani datang membuat keributan di Garuda Group. Bima harus memberi pelajaran keras.

Terlebih lagi, setelah pertempuran hari ini, permusuhan dengan Geng Barong sudah tidak mungkin diselesaikan dengan damai. Kalau begitu… lebih baik menggunakan cara secepat petir untuk mengintimidasi semua pihak. Biarkan mereka tahu—melawan Bima harus membayar harga yang sangat mahal.

1
Sastra Aksara
Terimakasih kak 😍🙏
Rio Armi Candra
kopi dah meluncur Thor 👍👍👍💪
Rio Armi Candra
jiahahaha 🤣🤣🤣🤣.. kereeeen bima👍👍👍
Jack Strom
Ihhh... Seram!!! 😁
Jack Strom
Mantap. 😁
Jack Strom
Hadeh, jadi kacau... 😔
Jack Strom
MC nya konyol namun asik!!! 😁
Jack Strom
Eh... Chapternya dah habis... 😭😭😭
Jack Strom
Hmmm??? 🤔
Jack Strom
Hahaha... sudah 5 orang... 👍👍👍👍😁
Jack Strom
Eh, muncul satu lagi!!! 😁
Jack Strom
Ayo, hajar premannya!!! 😁
Jack Strom
Hahaha... Mantap!!!
Jack Strom
Hahaha... Nyosor masuk parit loe, mampooos!!! 😁
Jack Strom
Ia ia, makan teruuus!!! 😁
Jack Strom
Keren!!! 😁
Jack Strom
Hahaha... 😁
Jack Strom
Hahaha... Sangat konyol!!!
Jack Strom
Mantap!!! 😁
Jack Strom
Hahaha... Dasar tukang onar!!! 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!