Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hapuskan Rumor
Lobi fakultas ekonomi yang biasanya tenang dengan diskusi akademis, kini berubah menjadi sarang lebah yang berdengung. Sejak insiden di ruang kelas kemarin, nama Liana Shine dan Morgan Bruggman menjadi topik utama yang mengalahkan berita tentang inflasi tahunan. Di kafetaria, di perpustakaan, hingga di lorong-lorong sempit menuju laboratorium, bisikan-bisikan itu menyebar seperti wabah.
Liana melangkah menyusuri koridor dengan kepala tertunduk, merapatkan buku-bukunya ke dada. Ia bisa merasakan tatapan tajam dari kelompok mahasiswi yang berkumpul di sudut koridor.
"Lihat, itu dia si pembuat masalah," bisik seorang mahasiswi dengan nada sinis yang sengaja dikeraskan. "Kasihan Pak Morgan. Sebagai dosen terhormat, dia harus terjebak dalam drama murahan antara Liana dan si berandalan Derby dari Teknik Mesin itu."
"Kudengar Pak Morgan sangat membencinya," sahut yang lain sembari melirik Liana dengan jijik. "Wajar saja, Pak Morgan itu perfeksionis. Punya mahasiswi yang pacaran dengan preman kampus sebelah pasti merusak pemandangan matanya. Tapi ada juga yang bilang ... Pak Morgan sebenarnya cemburu karena cintanya pada Liana tidak terbalas. Lucu, kan?"
Liana mempercepat langkahnya, jantungnya berdegup kencang karena rasa malu yang membakar pipi. Rumor cinta segitiga tak terbalas? Benar-benar gila. Jika mereka tahu bahwa ia dan Morgan sudah terikat sumpah pernikahan, berita itu pasti akan meledakkan seluruh universitas.
Langkah Liana terhenti tepat di depan pintu kantor Morgan. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan gemetar di tangannya sebelum mengetuk.
Tok ... tok ...
"Masuk." Suara bariton itu terdengar lebih dingin dari biasanya.
Liana mendorong pintu dan masuk ke dalam ruangan yang beraroma kopi pekat dan kertas baru. Morgan sedang duduk di balik mejanya, jemarinya bergerak lincah di atas papan ketik laptop. Ia tidak mendongak sedikit pun saat Liana masuk, namun aura ketegangan di ruangan itu bisa dirasakan secara fisik.
"Duduklah, Liana," perintah Morgan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.
Liana duduk di kursi tamu dengan gelisah. Ia melirik tangan kanan Morgan yang masih terbalut perban putih bersih—hasil dari amarah tersembunyi kemarin. Pemandangan itu membuat ulu hati Liana terasa nyeri.
Morgan akhirnya menghentikan aktivitasnya. Ia melipat tangan di atas meja, lalu menatap Liana lurus-lurus melalui lensa kacamatanya yang berkilat. Mata cokelat gelap itu tidak memancarkan emosi, namun ada kelelahan yang tersirat di sana.
"Kau sudah mendengar apa yang mereka bicarakan di luar sana?" tanya Morgan datar.
Liana mengangguk pelan, jemarinya meremas tali tasnya. "Maafkan aku, Morgan. Aku tidak menyangka Derby akan senekat itu datang ke kelasmu."
"Permintaan maaf tidak akan mengubah algoritma rumor yang sudah menyebar," Morgan bersandar ke kursinya, memberikan tekanan pada setiap kata yang ia ucapkan. "Saat ini, reputasi saya sebagai dosen sedang dipertaruhkan. Mahasiswa menganggap saya menyimpan dendam pribadi padamu karena kau adalah kekasih Derby Neeson. Atau yang lebih buruk ... mereka menganggap saya sedang memainkan drama romansa yang tidak profesional dengan mahasiswi saya sendiri."
Morgan bangkit dari kursi, berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke halaman kampus. Ia berdiri membelakangi Liana, kedua tangannya tertaut di belakang punggung dengan sikap tegak yang kaku.
"Liana, dengarkan baik-baik," ucap Morgan tanpa berbalik. "Kontrak pernikahan kita bergantung pada kerahasiaan. Jika publik mencium adanya hubungan khusus di antara kita, karier saya berakhir, dan Liam akan menarik seluruh dukungan finansialnya darimu karena kau dianggap gagal menjaga stabilitas perjanjian ini."
Liana menelan ludah. "Lalu ... apa yang harus kulakukan?"
Morgan berbalik dengan cepat, langkahnya mendekati Liana hingga bayangannya menutupi gadis itu. Ia menumpukan kedua tangannya di sandaran kursi Liana, mengurung gadis itu dalam ruang pribadinya. Aroma maskulin yang kaku kembali menyergap indra penciuman Liana.
"Tutup rumor itu, Liana. Segera," tekan Morgan dengan nada rendah yang memerintah. "Kau harus secara terbuka menunjukkan bahwa hubunganmu dengan Derby adalah prioritasmu, atau kau harus menciptakan jarak yang begitu lebar sehingga orang-orang percaya bahwa saya benar-benar membencimu. Lakukan apa pun agar narasi 'cinta segitiga' ini mati sebelum sampai ke telinga dekanat."
Liana tersentak. "Maksudmu ... aku harus tetap berpura-pura mesra dengan Derby di depan umum? Setelah apa yang dia lakukan padamu?"
Morgan memejamkan mata sejenak, rahangnya mengeras seolah ia sedang menahan rasa sakit yang hebat di balik dadanya. "Jika itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan status pernikahan rahasia ini, maka lakukanlah. Saya lebih baik dilihat sebagai dosen yang membencimu karena kau pacar seorang berandalan, daripada kita ketahuan sebagai suami istri dan menghancurkan segalanya."
Liana bangkit berdiri, matanya berkaca-kaca karena marah dan kecewa. "Kau benar-benar robot, Morgan! Kau menyuruh istrimu sendiri untuk berpura-pura mencintai pria lain hanya demi reputasimu? Di mana harga dirimu sebagai pria?"
Morgan mencengkeram bahu Liana, tidak keras, namun cukup untuk membuat Liana berhenti bicara. Tatapannya kini tidak lagi dingin; ada kilatan amarah dan keputusasaan yang meluap di sana.
"Harga diriku sudah hancur saat aku melihat pria itu menciummu di depan mataku kemarin, Liana!" geram Morgan, suaranya parau. Ia mendekatkan wajahnya, membuat napasnya yang hangat terasa di kulit Liana. "Kau pikir aku suka menyuruhmu kembali padanya? Tapi aku tidak punya pilihan! Kontrak ini diciptakan untuk melindungimu dari orang-orang seperti Derby. Jika pernikahan ini terbongkar sekarang, Derby akan menggunakan informasi itu untuk memeras Liam, dan kau akan berakhir sebagai pion di tangannya. Aku melakukan ini agar kau tetap bebas, meskipun itu artinya aku harus menahan mual setiap kali melihatmu bersamanya."
Liana tertegun. Ia melihat kehancuran di mata Morgan. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa setiap kata "tutup rumor itu" adalah luka bagi Morgan sendiri.
"Aku akan melakukannya," bisik Liana lirih. Ia menyentuh perban di tangan Morgan dengan ujung jarinya yang gemetar. "Aku akan membuat mereka percaya bahwa kau membenciku. Aku akan membuat mereka yakin bahwa tidak ada apa-apa di antara kita."
Morgan perlahan melepaskan cengkeramannya. Ia memalingkan wajah, tidak sanggup menatap mata Liana lebih lama lagi. "Bagus. Mulailah besok. Dan Liana ... pastikan Derby tidak lagi muncul di gedung ini. Jika ia datang lagi, saya tidak bisa menjamin tangan saya yang lain tidak akan berakhir dengan luka yang sama."
Liana berbalik menuju pintu, namun sebelum ia keluar, ia menoleh. Morgan sudah kembali duduk di meja kerjanya, menatap layar laptop dengan pandangan kosong. Pria itu mengambil pulpennya dan mulai menulis sesuatu dengan gerakan yang sangat kaku, seolah-olah ia sedang mencoba mengalihkan seluruh emosinya ke atas kertas.
"Morgan," panggil Liana.
"Pergilah, Liana. Ada kelas yang harus saya siapkan," potong Morgan tanpa mendongak.
Liana keluar dari ruangan itu dengan hati yang terasa seperti diremas. Ia berjalan melewati koridor, melihat mahasiswa yang masih berbisik-bisik. Dengan keberanian yang dipaksakan, Liana memasang wajah dingin dan ketus. Ia sengaja menabrak bahu salah satu mahasiswi yang sedang membicarakannya tadi.
"Kenapa? Masih mau menonton drama?" gertak Liana dengan nada kasar yang biasa ia gunakan sebelum menikah dengan Morgan. "Pak Morgan itu cuma dosen tua yang membosankan dan gila aturan. Dia membenciku, dan aku sepuluh kali lipat membencinya. Puas?!"
Seluruh koridor seketika sunyi. Liana terus berjalan dengan dagu terangkat, air mata yang mulai menggenang di sudut matanya ia hapus dengan kasar. Ia sedang menjalankan perannya. Ia sedang menutup rumor itu dengan cara menyakiti dirinya sendiri dan suaminya.
Di dalam kantornya, Morgan mendengar teriakan Liana dari koridor. Ia meletakkan pulpennya, menyandarkan punggungnya ke kursi, dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Di ruangan yang sunyi itu, sang 'Dewa Ekonomi' akhirnya membiarkan satu helaan napas berat lolos dari bibirnya, meratapi kenyataan bahwa untuk menjaga Liana tetap miliknya di rumah, ia harus membiarkan Liana menjadi milik orang lain di mata dunia.
Pernikahan rahasia mereka kini terasa lebih seperti penjara daripada perlindungan, dan malam ini, di apartemen mereka yang mewah, kesunyian di antara mereka akan menjadi jauh lebih menyesakkan daripada sebelumnya.