Arabelle, seorang barista, tak menyangka hidupnya akan berubah ketika Lorenzo Devereaux, pemimpin dunia bawah yang dikenal sebagai Damon, datang menagih utang ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Arabelle makan sedikit sebelum tidur, dan paginya dimulai dengan bunyi alarm yang tidak ia tunggu-tunggu.
Ia bangun, menyelesaikan rutinitas paginya, lalu mengenakan seragam kerja, kaos putih, legging, dan sepatu putih. Riasan tipis, rambut disisir dan ditata. Sebelum ia sempat mengambil tas, ponselnya bergetar.
Lorenzo: Selamat pagi, Putri.
Arabelle menatap layar sebentar, lalu mengetik balas.
Aku: Pagi :)
Lorenzo: Sudah siap?
Aku: Sudah. Kamu mau jemput atau..?
Lorenzo: Iya. Aku juga perlu ke sana, ada beberapa hal yang perlu diurus sama David.
Aku: Oke. Kabarin kalau sudah di bawah.
Lorenzo: Baik, sayang.
Arabelle mengunci ponselnya. Ada senyum kecil yang ia coba tahan tapi tidak terlalu berhasil.
Ia keluar dari kamar, mencium puncak kepala Daniel dan Catherine, pamit, dan turun. Belum sampai pintu pagar, klakson berbunyi satu kali dari arah jalan.
Arabelle masuk ke mobil Lorenzo.
"Pagi," katanya.
"Pagi, Arabelle." Ia melirik sekilas, lalu kembali menatap jalan.
"Kenapa harus ke tempat aku kerja?" tanya Arabelle.
"Urusan bisnis. Kamu tidak akan mengerti, dan tidak perlu."
Arabelle mengangguk kecil, tidak mendesak.
Perjalanan berlangsung tenang. Tangan Lorenzo bergerak dari setir ke atas tangan Arabelle, jemarinya membelai punggung tangannya pelan. Cincinnya yang dingin bersentuhan dengan kulitnya setiap kali ia bergerak.
Ketika mobil berhenti di parkiran mal, Lorenzo mematikan mesin tapi tidak langsung turun. Ia menatap Arabelle.
"Aku boleh menciummu?"
Arabelle menoleh, sedikit terkejut dengan caranya bertanya, bukan langsung melakukan seperti biasanya.
Ia mengangguk.
Lorenzo menangkup wajahnya dengan kedua tangan dan menciumnya, manis, tidak terburu-buru, seperti ia punya semua waktu di dunia. Arabelle merasa napasnya tidak teratur ketika mereka terpisah.
"Aku mencintaimu," kata Lorenzo.
Arabelle menatapnya. Kata itu sudah pernah ia dengar sebelumnya, tapi diucapkan seperti ini, di bawah cahaya pagi, dengan wajah yang biasanya terlalu dingin, terdengar berbeda.
"Aku juga mencintaimu," bisiknya, dan pipinya langsung terasa panas.
Lorenzo menarik sudut bibirnya. Mereka turun dari mobil.
**
Masuk ke mal tanpa pemeriksaan, karena memang tidak ada petugas yang akan mencegat Lorenzo dan naik ke lantai kafe. Arabelle langsung menuju konter untuk mulai bekerja, sementara Lorenzo dan David masuk ke ruangan kantor.
Shift pagi berjalan seperti biasa. Arabelle melayani pelanggan, mengantarkan pesanan, menjaga senyum tetap ada di wajahnya meski kakinya sudah mulai terasa berat. Sepasang suami istri paruh baya yang ramah memesan kopi susu dan kue keju, salah satu jenis pelanggan yang membuat pekerjaan ini terasa ringan.
Beberapa saat kemudian, pintu kantor terbuka. David keluar dengan wajah yang lebih cerah dari biasanya, diikuti Lorenzo yang wajahnya seperti biasa, datar, terkendali, tidak memberi petunjuk apapun.
"Tolong semua karyawan ke sini sebentar," panggil David.
Arabelle ikut mendekat bersama rekan-rekan lainnya.
David mengedarkan pandangan sebentar, lalu tersenyum. "Jadi begini. Tuan Lorenzo tadi pagi sudah resmi membeli jaringan restoran ini. Dan sehubungan dengan pergantian kepemilikan, saya sekaligus mengumumkan pengunduran diri saya dari posisi pengelola. Terima kasih semuanya."
Ia berjabat tangan dengan para karyawan satu per satu, lalu pergi.
Hening sebentar.
"Apa yang baru saja terjadi?" gumam Arabelle pelan.
Dari sudut matanya, ia menangkap Lorenzo yang masih berdiri di sana, memandangi semua orang dan matanya sempat singgah di Arabelle sedikit lebih lama dari sekadar mengedarkan pandangan.
"Duh, tampannya," bisik salah satu rekan kerja Arabelle di sebelahnya.
"Iya, kalau bisa dijadikan bos sekalian," sahut yang lain dengan nada setengah berharap.
Arabelle menoleh ke arah lain, pura-pura sibuk merapikan nampan.
Itu punya aku. Eh, tunggu.
Pikirannya sendiri membuatnya terdiam sebentar.
**
Ia kembali bekerja seperti biasa sampai suara Lorenzo terdengar dari arah kantor.
"Arabelle. Ke sini sebentar."
Arabelle menitipkan meja yang sedang ia layani kepada rekan lainnya, lalu masuk ke kantor dan menutup pintu.
"Ada apa?"
Lorenzo bersandar di tepi meja, menyilangkan tangan. "Tidak ada. Aku hanya ingin tahu bagaimana kamu."
"Aku kerja," jawab Arabelle dengan satu alis terangkat.
"Aku tahu." Satu sudut bibirnya terangkat. "Jangan gulingkan matamu."
"Aku tidak--"
"Kamu hampir."
Arabelle memilih diam.
"Kalau begitu aku balik ke--"
Tangannya ditangkap. Lorenzo menariknya mendekat tanpa banyak bicara, dan sebelum Arabelle sempat memprotes, bibirnya sudah menemukan bibirnya, lebih dalam dari yang seharusnya terjadi di ruang kantor jam kerja.
Ketika terpisah, Arabelle menghela napas. "Aku belum selesai kerja."
"Aku tahu." Ia melepaskan tangannya. "Tapi kalau aku yang jadi bosmu sekarang, aku yang menentukan kapan kamu pulang."
Arabelle menatapnya. "...Aku pulang sekarang?"
"Ya."
Arabelle tidak punya argumen yang cukup kuat untuk itu.
Ia keluar dari kantor, mengambil tas dari loker kecilnya, menandatangani absensi keluar, dan melangkah ke luar kafe. Lorenzo sudah ada di belakangnya, berjalan sedikit lebih lambat.
Di parkiran, Arabelle sudah berdiri di sisi mobilnya ketika ia mendengar bunyi klik, Lorenzo membuka pintu mobilnya dari sisi luar.
Arabelle menoleh. "Kamu tidak pernah melakukan ini sebelumnya."
Lorenzo menggaruk belakang lehernya, gestur kecil yang entah kenapa membuat Arabelle ingin tertawa. "Tidak tahu. Tangan sendiri."
"Aku suka kalau kamu jadi gentleman."
Lorenzo tidak menjawab, tapi ia masuk ke sisi pengemudi dengan ekspresi yang mengatakan lebih dari cukup.
Ia menyalakan mesin, lalu menyilangkan jemarinya dengan jemari Arabelle di atas konsol tengah.
"Mau menginap di tempatku malam ini?" tanyanya. "Aku akan masak. Nonton film. Tidur lebih awal." Ibu jarinya bergerak menelusuri punggung tangan Arabelle. "Dan aku ingin mencium wangimu sepanjang malam. Aku butuh itu."
Arabelle menyembunyikan wajahnya dengan tangan bebasnya.
"Jangan tutupi wajahmu."
Tangannya ditarik turun dengan lembut. Arabelle menatap ke depan, tapi pipinya masih merah.
"Antarkan aku pulang dulu. Aku ambil baju ganti."
Lorenzo mengangguk dan menjalankan mobil.
Sepuluh menit kemudian, mereka berhenti di depan rumah Arabelle.
"Nanti aku jemput lagi," kata Lorenzo.
"Iya." Arabelle membuka pintu. "Bye."
"Bye, Putri." Ia mencium pelipisnya sebelum Arabelle turun.
Arabelle menutup pintu mobil dan berjalan ke arah rumah, mendengar suara mesin yang perlahan menjauh.
Senyumnya bertahan sampai ia masuk ke dalam.