Ryan adalah seorang mekanik yang sangat mencintai Arini namun karena status yang sangat jauh sehingga arina tak mau membuat Ryan kecewa karena Arini sudah di jodohkan dengan pemuda lain pilihan orangtuanya.Bagaimana kisah lengkapnya,ayo kita simak bersama perjuangan Ryan !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anto Sabar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan yang tidak Bersahabat
Sore itu, suasana bengkel sedikit lebih ramai dari biasanya.
Beberapa pelanggan datang silih berganti. Suara mesin, obrolan singkat, dan dentingan alat memenuhi udara.
Ryan bekerja seperti biasa.
Fokus,Cepat Tanpa banyak bicara.
Namun di balik semua itu… pikirannya tidak sepenuhnya tenang.
Sejak Arini mulai sering datang, ada sesuatu yang berubah.
Dan hari itu ia mulai merasakan dampaknya.
Sebuah mobil berhenti tidak jauh dari bengkel.Bukan mobil Arini.
Namun tetap terlihat mahal.
Ryan tidak terlalu memperhatikan.
Ia tetap bekerja.
Sampai beberapa saat kemudian—
seorang pria turun dari mobil itu.
Berpakaian rapi.
Wajahnya bersih.
Tatapannya tajam, penuh penilaian.
Ia tidak langsung masuk.
Hanya berdiri di depan bengkel.
Mengamati.
Ryan akhirnya menyadari kehadiran orang itu.
“Cari siapa?” tanyanya singkat.
Pria itu melangkah masuk perlahan.
Sepatunya yang bersih kontras dengan lantai bengkel yang kotor.
“Ini bengkel milikmu?” tanyanya.
Ryan mengangguk.“Iya.”
Pria itu melihat sekeliling.
Tatapannya jelas… tidak suka.
“Tempat seperti ini…” gumamnya pelan.
Ryan mengerutkan kening.
“Ada yang bisa saya bantu?”
Pria itu tersenyum tipis.
Namun senyum itu tidak terasa ramah.
“Aku cuma penasaran.”
“Penasaran? “Iya.”
Ia berhenti tepat di depan Ryan.
“Kenapa Arini sering datang ke tempat seperti ini?”
Ryan langsung diam.
Suasana berubah.
“Kenal Arini?” tanya Ryan balik.
Pria itu tertawa kecil.
“Kenal?”
Ia mendekat sedikit.
“Aku bagian dari dunianya.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun penuh makna.
Ryan tidak menjawab.
Namun sorot matanya berubah.
Pria itu melanjutkan,
“Kamu tahu siapa dia, kan?”
Ryan tetap tenang.
“Pelanggan.”
Jawaban itu membuat pria itu tersenyum miring.
“Hanya pelanggan?”
Ryan menatapnya lurus.
“Memangnya harus apa lagi?”
Untuk sesaat…
suasana menjadi tegang.
Beberapa pelanggan lain mulai melirik.
Merasa ada sesuatu yang tidak biasa.
Pria itu akhirnya menghela napas pelan.
Lalu berkata dengan nada lebih dingin,
“Dengarkan baik-baik.”
Ia menunjuk sekitar bengkel.
“Tempat ini… bukan tempat untuk orang seperti dia.”
Ryan tidak langsung menjawab.
Tangannya perlahan berhenti bekerja.
“Apa maksudmu?” tanyanya pelan.
Pria itu tersenyum tipis.
“Maksudku sederhana.”
Tatapannya tajam.
“Kamu dan dia… berada di dua dunia yang berbeda.”
Kalimat itu terasa seperti pukulan.
Namun Ryan tidak menunjukkan reaksi.
Ia hanya berkata,
“Kalau tidak ada yang mau diperbaiki… silakan pergi.”
Beberapa detik hening.
Pria itu tampak tidak suka dengan jawaban itu.
Namun ia tidak memaksakan.
Ia berbalik berjalan keluar.
Namun sebelum masuk ke mobilnya, ia berhenti.
Menoleh kembali.
“Jangan terlalu berharap.”
Lalu ia masuk ke mobil.Mesin menyala.
Dan mobil itu pergi.
Meninggalkan suasana yang terasa lebih berat dari sebelumnya.
Ryan kembali ke pekerjaannya.
Namun kali ini…
gerakannya tidak secepat tadi.
Kata-kata pria itu terus terngiang.
“Dua dunia yang berbeda…”
Ryan menatap tangannya yang penuh oli.
Lalu melihat bengkel kecil itu.
Dan untuk pertama kalinya sejak Arini datang ke hidupnya.
ia mulai mempertanyakan sesuatu.
Apakah benar…
ia tidak punya tempat di dunia Arini?
Ryan menghela napas panjang.
Namun sebelum pikirannya semakin jauh
suara mobil yang familiar kembali terdengar.
Ryan menoleh.
Dan kali ini
itu benar-benar mobil Arini.
Mobil itu berhenti.
Arini turun seperti biasa.
Namun saat ia melihat wajah Ryan…
senyumnya sedikit memudar.
“Kamu… kenapa?” tanyanya.
Ryan terdiam sejenak.
Lalu menggeleng.
“Tidak apa-apa.”
Namun Arini tidak langsung percaya.
Ia melihat sekeliling.
Lalu bertanya pelan,
“Ada yang datang ke sini?”
Ryan tidak menjawab.
Namun itu sudah cukup.
Arini menghela napas pelan.
Seolah sudah tahu jawabannya.
Dan dari sorot matanya
terlihat jelas.
Masalah mulai datang.