Amara rela menerima perjodohan dengan Tobias William Larsen demi cinta, berharap hatinya bisa memenangkan pria yang dingin dan sempurna itu. Ia memberi segalanya—kesetiaan, pengorbanan, bahkan seluruh rasa cintanya. Namun, semuanya hancur saat mantan Tobias muncul kembali.
Di malam ulang tahun pernikahan mereka, dunia Amara runtuh. Tobias menuntut cerai tanpa ampun, bahkan menyisakan ancaman yang menusuk hatinya. Dengan hati remuk, Amara akhirnya melepas semua harapan, memutuskan untuk pulang ke rumah keluarganya dan menjalani takdirnya sebagai pewaris keluarga Crawford.
Kini, ketika Amara dan Tobias bertemu lagi, mereka bukan lagi suami-istri. Mereka adalah dua rival, saling menatap dengan luka dan dendam yang tersimpan.
"Tuan Larsen, apakah Anda ingin saya mengingatkan sekali lagi? Kita sudah bercerai."
"Amara… ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kumohon… kembalilah padaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Banto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2
Lantai dansa itu berpendar di bawah naungan lampu kristal yang megah, namun bagi Tobias, seluruh ruangan itu mendadak kehilangan warnanya. Fokusnya hanya tertuju pada satu titik: seorang wanita dengan gaun hitam yang memeluk tubuh dengan berani, bergerak seirama musik dengan keanggunan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Itu Amara. Istrinya yang membosankan. Istrinya yang biasanya hanya mengenakan celemek dan senyum pengabdian yang hambar.
Darah Tobias mendidih saat melihat tangan pria asing membisikkan sesuatu di telinga Amara, memancing tawa renyah yang belum pernah dihadiahkan wanita itu padanya selama enam tahun pernikahan mereka.
“Kau boleh melanjutkannya sendiri,” desis Tobias pada Celestine, meninggalkan wanita pirang itu tanpa menunggu jawaban. Langkahnya lebar dan penuh ancaman, membelah kerumunan seperti predator yang sedang mengincar mangsanya.
“Apa yang sedang kau lakukan?” Suara Tobias rendah namun menggelegar di sela dentum musik. Tanpa peringatan, ia mencengkeram pergelangan tangan Amara, menariknya menjauh dari pria asing itu dengan paksa.
Manik mata Amara melebar sesaat karena terkejut. Namun, ketakutan yang biasanya menghiasi wajahnya kini telah lenyap, digantikan oleh kilat amarah yang menyala.
“Lepaskan aku,” desis Amara tajam.
“Di mana rasa malumu? Menari dengan pria lain saat kau masih menyandang status istriku?” tuduh Tobias, cengkeramannya semakin menguat hingga kulit Amara memerah.
Amara tertawa getir. Ironis sekali mendengar kata 'malu' keluar dari bibir pria yang baru saja menelanjangi dirinya beberapa malam lalu, lalu menuntut cerai di menit berikutnya. Ia menyentakkan tangannya sekuat tenaga hingga lolos.
“Kau cukup lucu, Tobias. Suamiku yang terhormat, simpan khotbahmu untuk wanita di sampingmu itu,” sindir Amara sembari melirik Celestine yang baru saja menyusul dengan wajah pura-pura prihatin.
Celestine mencoba mendekat, memasang raut wajah manis yang beracun. “Toby, jangan marah padanya. Mungkin Amara hanya bingung. Wajar jika ia mencoba mencari sandaran lain setelah tahu ia akan kehilangan kemewahan keluarga Larsen.”
“Membiayai hidupku?” Amara mengulang kata-kata itu dengan nada datar, bibirnya melengkung membentuk senyum yang lebih tajam dari sembilu. “Lucu sekali, Celestine. Kau belum pernah mendengar lelucon yang lebih baik dari itu?”
Tobias menyeringai sinis. “Dia tidak sepenuhnya salah, kan? Kau melakukan semua drama ini karena aku menolak memberimu uang lebih? Baiklah, lima puluh juta pound. Mintalah maaf pada Celestine sekarang, dan uang itu milikmu.”
Dunia seolah membeku. Amara menatap suaminya—pria yang dulu ia puja—dan menyadari betapa kerdilnya jiwa pria di depannya ini. Ia melangkah maju hingga napasnya terasa di wajah Tobias.
“Aku sudah mengajukan gugatan cerai, Tobias. Lebih dulu darimu,” bisik Amara dingin. “Dan percayalah, lima puluh jutamu itu bahkan tidak cukup untuk membeli harga diriku. Simpan uang kotor itu untuk menutupi kebusukan hubungan kalian.”
Tanpa menunggu balasan, Amara berbalik. Gaun hitamnya berayun dengan penuh wibawa, meninggalkan Tobias yang terpaku dengan harga diri yang hancur berkeping-keping.
Di luar klub, angin malam yang menggigit tak mampu mendinginkan bara di dada Tobias. Amarahnya memuncak saat melihat asisten pribadinya, Dean, memberikan kabar buruk melalui telepon.
“Apa katamu? Woodlands Cosmetics sudah dibeli oleh pihak lain?”
“Benar, Pak. Seseorang yang sangat misterius menutup kesepakatan itu hanya dalam hitungan jam.”
Tobias menutup telepon dengan kasar. Matanya menyipit saat menangkap sosok yang familiar di kejauhan. Di depan sebuah GMC Yukon hitam yang berkilau, Amara berdiri tegak. Di sampingnya, seorang pria tua berambut perak—Xavier—menunduk hormat sambil menyerahkan sebuah kartu hitam premium. Black Card dengan akses tanpa batas yang hanya dimiliki oleh segelintir elite dunia.
Darah Tobias naik ke kepala. Sugar daddy? Jadi ini alasan Amara begitu berani menantangnya? Karena ia sudah menemukan sponsor baru?
“Beraninya kau mempermainkanku, Amara Miller,” gumam Tobias dengan suara yang bergetar karena emosi.
Ia segera menghubungi informan gelapnya. “Cari tahu segalanya tentang Amara Miller. Siapa yang dia temui, siapa pria tua itu, dan dari mana asal setiap sen yang dia pegang. Kau punya waktu dua puluh empat jam, atau kau tidak akan pernah bekerja lagi di kota ini!”
Tobias menatap arah perginya mobil mewah itu dengan tatapan gelap. Ia tidak akan membiarkan Amara menang. Jika ia tidak bisa memiliki wanita itu dalam pengabdian, maka ia akan menghancurkannya hingga tak ada satu orang pun yang berani menyentuhnya.
Tobias Crawford tidak pernah kalah. Terutama tidak dari wanita yang ia pikir hanyalah seekor burung dalam sangkar emasnya. Ia tidak menyadari, bahwa sangkar itu baru saja terbuka, dan yang terbang keluar bukanlah seekor burung pipit, melainkan seekor rajawali yang siap mencabik-cabik kerajaannya.“Apakah Larsen belum menandatanganinya?”
Amara memutar kemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memegang ponsel. Di ujung telepon, suara Philip—pengacaranya—terdengar penuh tekanan.
“Maaf, Nyonya Crawford. Pihak Tuan Larsen terus mengabaikan kami. Hakim menyarankan agar Anda melakukan komunikasi personal terlebih dahulu sebelum prosedur pengadilan dilanjutkan.”
Amara tertawa getir. Tawa yang kering dan tanpa rasa. Tobias, pria yang awalnya sangat bernafsu ingin bercerai, kini justru bertingkah seperti tembok besar yang menghalangi kebebasannya. Apa pria itu belum puas menghancurkan hatinya? Apakah dia ingin menikmati penderitaan Amara sedikit lebih lama?
“Baiklah, Philip. Kalau dia ingin bermain tarik ulur, aku akan membawakannya talinya.”
Amara menutup telepon. Ia memarkirkan mobilnya dan melangkah menuju gedung pencakar langit yang angkuh—Labyrinth, pusat kerajaan bisnis Tobias Larsen.
Baru saja Amara melewati pintu putar lobi, sebuah suara yang melengking tajam menghentikan langkahnya.
“Amara?”
Amara memejamkan mata sesaat. Ia tidak perlu berbalik untuk tahu siapa pemilik suara itu. Giselle dan Fiona Larsen. Ibu mertua dan adik ipar yang telah mengubah enam tahun hidupnya menjadi rangkaian siksaan mental yang tak berujung.
“Apa yang kau lakukan di sini, Amara?” tanya Giselle dengan tatapan menghina, memindai jeans biru dan kardigan yang dikenakan Amara. Ia mencengkeram pergelangan tangan Amara dengan kasar. “Berpakaian seperti gembel? Kau ingin mempermalukan putraku di kantornya sendiri?”
Amara menatap tangan yang mencengkeramnya, lalu beralih ke mata Giselle. Tidak ada lagi ketakutan di sana. Hanya ada es yang membeku.
“Sebaiknya jaga ucapanmu, Nyonya Larsen. Sebelum kau menyesali setiap kata yang keluar dari mulutmu,” desis Amara. Ia menyentakkan tangannya dengan kekuatan yang membuat Giselle terhuyung.
“Berani sekali kau!” teriak Fiona. “Kalau bukan karena belas kasihan Kakek, kau sudah membusuk di jalanan sejak lama!”
“Cukup,” potong Amara, mengangkat dagunya dengan martabat seorang Crawford yang selama ini ia tekan. Ia mengeluarkan amplop cokelat dari tasnya. “Aku tidak butuh belas kasihan kalian. Begitu surat ini ditandatangani oleh putra kebanggaanmu, aku akan lenyap dari hidup kalian yang menyedihkan.”
Tepat saat itu, kerumunan staf di lobi terbelah. Tobias Larsen muncul dengan aura otoritasnya yang dingin, didampingi oleh seorang pria paruh baya yang tampak sangat berwibawa.
“Apa yang terjadi di sini?” tanya Tobias. Matanya langsung tertuju pada Amara. Ada kilatan kemenangan di matanya; ia mengira Amara datang untuk berlutut memohon pembatalan cerai.
“Kakak!” seru Fiona dramatis. “Wanita ini datang untuk menceraikanmu! Bukankah itu lucu? Dia pikir dia punya posisi untuk menawar!”
Amara melangkah maju, menyerahkan amplop itu tepat di depan dada Tobias. “Turunlah dari singgasana arogansimu, Tobias. Tanda tangani ini, atau kita akan bertemu di pengadilan yang akan mempermalukan namamu.”
Rahang Tobias mengeras. Namun sebelum ia sempat membalas, sebuah tangan melayang di udara.
PLAKKK!
Tamparan keras dari Giselle mendarat di pipi Amara hingga wajahnya terlempar ke samping.
“Beraninya kau bicara begitu pada putraku!” teriak Giselle.
Amara terdiam. Ia merasakan denyut panas di pipinya, dan rasa besi dari darah di sudut bibirnya. Ia perlahan menoleh, menatap Giselle dengan tatapan yang bisa membunuh. Tanpa sepatah kata pun, Amara mengayunkan tangannya.
PLAAKKK!
Balasan itu jauh lebih keras. Giselle tersungkur ke lantai marmer, perhiasan rambutnya terlepas dan berdenting di lantai.
“Beraninya kau memukul ibuku?!” Tobias mengaum, matanya merah karena amarah saat ia membantu ibunya berdiri. Namun, saat ia melihat bekas telapak tangan yang mencolok di kulit pucat Amara, lidahnya mendadak kelu. Ada rasa sakit asing yang menusuk dadanya melihat luka itu.
“Setimpal,” ujar Amara datar, tanpa setetes pun air mata.
“Cukup.”
Suara itu tenang namun penuh wibawa. Timothy Carson—klien paling berharga bagi Larsen Group—melangkah maju dan menahan tangan Fiona yang hendak menyerang Amara.
“Tuan Carson, ini hanya masalah keluarga…” Giselle mencoba membela diri dengan wajah pucat.
“Masalah keluarga?” Timothy mendengus jijik. “Apakah ini cara kau mengatur keluargamu, Tuan Larsen? Membiarkan ibu dan adikmu merundung istrimu di depan umum? Tak heran Nyonya ini ingin segera bebas. Aku harus meninjau ulang semua kontrak kerja sama kita.”
Kepanikan melanda keluarga Larsen. Dengan paksaan dari Timothy, Giselle dan Fiona akhirnya menggumamkan permintaan maaf yang tidak tulus dengan wajah tertunduk malu.
“Bagaimana denganmu, Tuan Larsen?” tantang Amara, matanya menembus langsung ke jiwa Tobias. “Masih ingin bersembunyi di balik punggung ibumu?”
Tobias mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. Di bawah tekanan tatapan Timothy dan harga dirinya yang hancur, ia berucap lirih, “Maafkan aku.”
“Bagus.” Amara menepuk jasnya seolah baru saja menyentuh sampah. “Tanda tangani surat itu. Jangan biarkan aku menunggu lebih lama.”
Amara berjalan pergi dengan langkah anggun, diikuti oleh Timothy Carson yang bahkan tidak sudi melirik Tobias lagi.
Di dalam kantornya yang mewah, Tobias membanting ponselnya ke meja setelah mendengar laporan dari James, informannya.
“Dua puluh empat jammu sudah lewat! Mana datanya?!”
“Tuan Larsen… ada kekuatan misterius yang melindungi informasi tentang Nyonya Amara. Setiap kali saya mencoba meretas basis datanya, sistem saya langsung hancur. Data Nyonya Larsen dijaga dengan protokol tingkat tinggi!”
Tobias terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Gagal mengakuisisi perusahaan Melanie, kehilangan kepercayaan Timothy Carson, dan sekarang… istrinya yang ia anggap yatim piatu miskin ternyata dilindungi oleh kekuatan yang tidak bisa ia sentuh?
Ia melirik amplop cokelat di mejanya. Tangannya gemetar saat menyentuh kertas itu.
“Berapa banyak hal yang telah kau sembunyikan dariku, Amara?!” teriaknya pada ruangan yang sunyi.
Penyesalan adalah benih yang baru saja ditanam, dan Tobias tidak menyadari bahwa sebentar lagi, benih itu akan tumbuh menjadi hutan yang akan menelan seluruh hidupnya.