NovelToon NovelToon
Dekapan Maut Gadis Manja

Dekapan Maut Gadis Manja

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:110
Nilai: 5
Nama Author: Cloud_berry

Crystal Kusuma sih bungsu dari keluarga Kusuma yang terobsesi pada sang daddy sejak bayi.
Sedari dalam kandungan bayi mungil berusia dua tahun tersebut selalu ingin berada dekat dengan Jimmy Kusuma sang daddy.
Mereka pikir itu hanya ketertarikan biasa putri kecil pada daddynya. Siapa sangka obsesi tersebut malah berubah menjadi dosa terlarang selama belasan tahun?

Dosa terlarang dimana sang daddy Jimmy Kusuma pun tidak menyadarinya.

Selama ini kematian-kematian pegawai di kantor hukumnya, jimmy kira semata hanya kecelakaan biasa.

Tapi mereka salah, semua itu adalah dosa yang dilakukan Crystal kecil.....

Lalu dosa apa itu? Apa yang bisa dilakukan oleh bayi berusia dua tahun?

Saksikan eklusif disini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cloud_berry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 16 : Ratu itu adalah Aku

Malam itu, suasana di kediaman mewah keluarga Kusuma terasa begitu hangat—setidaknya bagi siapa pun yang melihat dari permukaan.

Jimmy baru saja menyelesaikan beberapa berkas terakhirnya di ruang kerja pribadi yang terhubung langsung dengan kamar tidur utamanya.

Di atas karpet bulu domba yang tebal, Crystal tengah asyik menata deretan boneka porselen dan beberapa figurin pahlawan super milik sang Daddy yang ia pinjam secara paksa.

​"Daddy, sini! Ratu mau minum teh," panggil Crystal sambil menepuk-nepuk tempat di sebelahnya.

​Jimmy tersenyum tipis, sebuah ekspresi langka yang hanya muncul jika ia sedang bersama putri kecilnya.

Ia melepaskan kacamata bacanya, melonggarkan kancing kerah kemejanya, lalu duduk bersila di samping Crystal.

Pria yang ditakuti di Menara Kusuma itu kini rela memegang cangkir plastik kecil berisi "teh khayalan" demi menuruti kemauan sang tiran mungil.

​"Pengawal siap melayani Ratu Crystal," jawab Jimmy lembut, sembari berpura-pura menyesap isi cangkir tersebut.

​Crystal tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat murni jika orang tidak tahu apa yang ia lakukan pada Riana beberapa jam yang lalu.

Ia menyandarkan tubuh kecilnya pada lengan kokoh Jimmy, merasa sangat aman karena wilayah kekuasaannya tidak diganggu oleh siapa pun.

Baginya, momen seperti inilah yang paling berharga. Menara Kusuma, kekayaan, dan segala kemewahan hanyalah hiasan, yang terpenting adalah perhatian penuh dari daddynya.

​Namun, kedamaian itu pecah saat pintu kamar terbuka. Alice Kusuma masuk dengan langkah anggun, masih mengenakan terusan sutra setelah pulang dari salah satu pertemuan yayasan sosialnya.

​"Ah, kalian di sini rupanya. Pantas saja di bawah sepi sekali," ujar Alice dengan senyum lembutnya yang cantik.

​Crystal segera menghentikan aktivitas bermainnya. Matanya yang bulat kini mengikuti setiap gerak-gerik sang Mommy. Ada kilatan tidak suka yang ia sembunyikan rapat-rapat saat melihat Alice berjalan mendekati posisi mereka duduk.

​"Capek sekali hari ini, Jim," keluh Alice pelan. Tanpa rasa curiga sedikit pun, ia mendudukkan dirinya di sisi lain Jimmy, tepat berlawanan dengan posisi Crystal.

​Karena merasa sangat lelah, secara refleks Alice menyandarkan kepalanya pada bahu bidang Jimmy. Meski Alice sangat membenci suaminya. Menyenderkan tubuhnya pada Jimmy dapat menghilangkan lelah secara instan.

Ia memejamkan matanya sejenak, mencari kenyamanan dari suaminya setelah seharian berurusan dengan birokrasi yayasan.

​"Ada masalah di yayasan?" tanya Jimmy sambil merangkul pundak Alice sekilas, sebuah gerakan kasih sayang yang sangat wajar antara sepasang suami istri. Momen yang Jimmy tunggu-tunggu sejak lama. Istrinya kembali menyenderkan tubuhnya pada bahunya.

​Detik itu juga, udara di dalam kamar seolah membeku bagi Crystal. Matanya menatap tajam ke arah bahu daddynya yang kini ditempeli oleh kepala sang Mommy.

Baginya, pemandangan itu seperti melihat penyusup yang mencoba mencuri harta paling berharganya tepat di depan matanya sendiri.

​Gelas plastik di tangan Crystal terlepas begitu saja.

​"HUUWAAAAAAA......!!!"

​Tangisan Crystal pecah seketika, begitu kencang dan tersedu-sedu hingga membuat Jimmy dan Alice terlonjak kaget.

Crystal langsung menarik dirinya menjauh, meringkuk di sudut karpet sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan mungilnya. Bahunya naik turun karena isakan yang sangat hebat.

​"Crystal? Sayang, ada apa?" Jimmy panik. Ia segera melepaskan sandaran Alice dan merangkak mendekati putrinya.

​"Pergi! Mommy nakal! Pergi!" teriak Crystal di sela tangisannya yang semakin histeris. Air mata membanjiri pipinya yang kemerahan, hidungnya mulai beringus, membuat penampilannya tampak benar-benar hancur karena kesedihan yang mendalam.

​Alice yang merasa bingung mencoba mendekat. "Sayang, Mommy cuma mau duduk di sini..."

​"TIDAK MAU! Mommy mau ambil Daddy! Daddy punyaku! Daddy jangan sama Mommy!" Crystal menjerit sambil menepis tangan Alice yang mencoba menyentuhnya. Ia memeluk lututnya erat, badannya gemetar seolah-olah baru saja mengalami trauma yang luar biasa.

​"Hikss... hikss... Daddy... Daddy tidak sayang aku lagi... Daddy mau kasih bahu Daddy buat Mommy... Daddy mau buang Crystal..." racun-racun kecemburuan mulai keluar dari bibir mungilnya dengan nada yang sangat menyayat hati.

​Jimmy yang tidak tahan melihat putrinya menderita seperti itu segera menarik Crystal ke dalam pelukannya. Ia menggendong gadis kecil itu, menimang-nimangnya dengan penuh perasaan bersalah.

​"Sshh... tidak, Sayang. Daddy tidak buang Crystal. Daddy tetap sayang Crystal nomor satu," bujuk Jimmy sambil mencium berkali-kali puncak kepala putrinya.

​Alice berdiri terpaku di sana, merasa seperti orang asing di kamarnya sendiri. "Jim, aku cuma nyender sebentar..."

​"Alice, tolong... lihat kondisinya. Dia sepertinya masih trauma karena kejadian di kantor tadi sore," potong Jimmy dengan nada yang sedikit tegas, namun penuh tekanan.

​Bagi Jimmy, tangisan Crystal adalah alarm bahaya. Ia teringat kata-kata psikiater bahwa kejadian Stella dan Riana mungkin meninggalkan luka psikologis yang dalam, membuat Crystal menjadi sangat posesif dan takut kehilangan figur pelindungnya.

Jimmy tidak menyadari bahwa semua ini adalah bagian dari "perang wilayah" yang sedang dilancarkan oleh putrinya sendiri.

​"MOMMY JAHAT! Mommy mau rebut Daddy! Huuuwaaaaaa...." Crystal semakin mengeraskan tangisannya saat melihat Alice masih berdiri di sana. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jimmy, memeluk leher pria itu seerat mungkin seolah-olah ada orang yang akan menarik Jimmy menjauh darinya.

​"Mungkin lebih baik kamu keluar dulu, Alice. Biarkan dia tenang," ujar Jimmy tanpa menatap istrinya. Fokusnya seratus persen tercurah pada Crystal yang sedang "hancur".

​Alice menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca karena merasa tertolak oleh anak kandungnya sendiri.

Ia tidak mengerti mengapa Crystal begitu membencinya saat ia berdekatan dengan suaminya sendiri. Dengan berat hati, Alice melangkah keluar dari kamar, menutup pintu perlahan.

​Begitu pintu tertutup dan suara langkah kaki Alice menghilang, isakan Crystal perlahan mulai mereda. Ia masih menyembunyikan wajahnya di leher Jimmy, namun air matanya sudah berhenti mengalir.

Di balik pundak sang Daddy, mata Crystal terbuka perlahan. Tidak ada lagi ketakutan di sana, yang ada hanyalah sorot mata dingin yang penuh kemenangan.

​"Daddy jangan kasih bahu Daddy ke siapa-siapa lagi, ya? Ke Mommy juga jangan," bisik Crystal dengan suara serak pasca menangis.

​"Iya, Sayang. Maafkan Daddy, ya?" Jimmy merasa sangat bodoh karena telah membuat putrinya menangis sedalam itu.

​Crystal tersenyum tipis di ceruk leher Jimmy. Ia merasa sangat puas. Baginya, tidak peduli itu sekretaris, staf logistik, atau bahkan Mommynya sendiri siapa pun yang mencoba mengambil "posisi utama" di hidup Jimmy adalah musuh yang harus disingkirkan.

​Ia tahu Alice tidak bisa ia singkirkan dengan minyak udang atau jebakan fisik seperti staf kantor, karena Alice adalah bagian dari keluarga.

Namun ia bisa menggunakan "senjata mental". Selama ia bisa membuat Jimmy merasa bahwa kehadiran Alice adalah ancaman bagi kestabilan mental putrinya, maka Jimmy akan secara otomatis menjauhkan diri dari istrinya sendiri.

​"Aku lapar, Daddy... mau susu cokelat," pinta Crystal manja, kembali ke mode anak manis setelah berhasil memenangkan pertempuran kecil malam itu.

​Jimmy mengangguk cepat. "Tentu, Daddy buatkan sekarang. Jangan menangis lagi, ya? Hati Daddy sakit lihatnya."

​Crystal mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya dengan nyaman di bahu daddynya—bahu yang beberapa menit lalu ia klaim kembali secara mutlak. Ia memandangi pintu kamar yang tertutup, membayangkan Alice yang mungkin sedang menangis di luar.

​Salah Mommy sendiri, batin Crystal dingin. Siapa suruh mencoba menyentuh milikku? Di dunia ini, Jimmy Kusuma hanya punya satu ratu, dan itu adalah aku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!