NovelToon NovelToon
Kukira Kita Spesial

Kukira Kita Spesial

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat
Popularitas:224
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha Aprila

Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.

Semua terasa nyata. Terasa spesial.

Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.

Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.

Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ulang Tahun yang Tak Pernah Kuingat

Aku tidak sadar berapa lama aku tertidur. Saat terbangun, kamar sudah agak gelap. Cahaya sore masuk lewat jendela dan membuat ruangan terasa hangat.

Tiba-tiba terdengar ketukan pintu.

Tok tok tok.

Aku mengucek mata lalu bangun dari tempat tidur. Masih sedikit bingung, aku berjalan ke pintu dan membukanya.

Begitu pintu terbuka—

“Selamat ulang tahun~~”

Aku langsung terdiam.

Di depan pintu ada Kak Marisa yang membawa kue kecil dengan lilin menyala di atasnya. Di sampingnya, Ibu tersenyum sambil ikut menyanyikan lagu ulang tahun.

Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

“Eh…?” hanya itu yang keluar dari mulutku.

Kak Marisa tertawa kecil.

“Lho? Jangan bilang kamu lupa.”

“Lupa apa?”

“Hari ini ulang tahun kamu, Rendra.”

Aku terdiam beberapa detik.

Ulang tahun?

Aku mencoba mengingat-ingat. Baru kemudian aku sadar… memang benar.

Hari ini tanggal lahirku.

Entah kenapa aku malah merasa bingung. Di kampung dulu, ulang tahun tidak pernah dirayakan. Bahkan aku sendiri hampir tidak pernah mengingatnya.

Jadi saat tiba-tiba ada kue dan lagu seperti ini… rasanya aneh.

Aku tidak tahu harus senang atau biasa saja.

“Kenapa bengong begitu?” tanya Kak Marisa.

“Enggak… cuma kaget saja.”

Ibu tersenyum lembut.

“Cepat tiup lilinnya sebelum meleleh semua.”

Aku melihat kue kecil itu. Beberapa lilin kecil menyala di atasnya.

Akhirnya aku meniupnya pelan.

“Yeaaay!” Kak Marisa langsung bertepuk tangan sendiri.

Aku hanya tersenyum kecil, masih sedikit canggung.

“Harusnya kamu bikin permohonan dulu,” kata Kak Marisa.

“Permohonan apa?”

“Ya doa lah! Masa gitu saja enggak tahu.”

“Oh…”

Aku menggaruk kepala sedikit malu.

Ibu lalu memotong kue itu dan memberikan potongan pertama kepadaku.

“Selamat ulang tahun ya, Rendra.”

“Terima kasih, Bu.”

Aku menerima potongan kue itu. Rasanya biasa saja… tapi entah kenapa hatiku terasa sedikit hangat.

Kak Marisa tiba-tiba menepuk pundakku.

“Mulai sekarang kamu sudah tambah tua, jadi jangan makin nyebelin ya.”

“Emang aku nyebelin ya?”

“Iya.”

“Ya Allah… baru berapa hari di sini sudah nyebelin aja.”

“Enggak,” kata Kak Marisa sambil tertawa kecil. “Kakak cuma lihat potensi ke depannya.”

Aku hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum.

Mungkin ini pertama kalinya ulang tahunku dirayakan seperti ini.

Dan meskipun rasanya masih agak aneh… aku tidak benar-benar keberatan.

Setelah kue hampir habis, Ibu tiba-tiba berdiri.

“Tunggu sebentar ya,” katanya.

Ibu pergi ke ruang kerja lalu kembali membawa laptop. Ia meletakkannya di meja ruang tengah.

“Kamu pasti penasaran kan sama foto-foto waktu kecil?” kata Ibu sambil membuka laptop.

Aku langsung teringat sesuatu.

Album foto di lemari tadi… memang tidak ada fotoku sama sekali.

Ibu membuka sebuah folder. Lalu satu per satu foto muncul di layar.

Foto pertama menunjukkan aku yang masih sangat kecil, duduk di pangkuan Ibu.

Aku terdiam.

“Itu… aku?” tanyaku pelan.

Ibu tersenyum.

“Iya. Kamu waktu itu baru bisa duduk.”

Kak Marisa ikut mendekat.

“Ini waktu Lebaran,” kata Ibu sambil mengganti foto.

Di layar terlihat rumah di kampung. Aku memakai baju koko kecil berdiri di samping Ibu.

“Aku dulu cuma bisa pulang waktu Lebaran,” lanjut Ibu. “Makanya foto-foto kamu kebanyakan dari waktu itu.”

Aku memperhatikan layar lebih serius.

Ternyata memang ada banyak foto diriku.

Hanya saja… semuanya tersimpan di sini.

Bukan di album rumah.

“Lucu banget kamu waktu kecil,” kata Kak Marisa sambil tertawa.

Aku hanya menggaruk kepala.

Entah kenapa melihat foto-foto itu membuat perasaanku campur aduk.

Setidaknya sekarang aku tahu satu hal.

Aku memang pernah ada dalam kenangan keluarga ini.

Tidak lama kemudian Kak Marisa berdiri dan pergi ke kamarnya.

Ia kembali membawa sebuah kotak kecil.

“Ini buat kamu,” katanya sambil menyerahkannya padaku.

“Apa ini?”

“Buka saja.”

Aku membuka kotak itu perlahan.

Di dalamnya ada sebuah handphone baru.

Aku langsung menatap Kak Marisa dengan bingung.

“Kak… ini buat aku?”

“Iya lah. Kakak lihat handphone kamu sudah tua banget. Layarnya saja sudah retak begitu.”

Aku menggaruk kepala, sedikit malu.

“Padahal masih bisa dipakai…”

Ibu yang sedari tadi memperhatikan kami lalu ikut bicara.

“Kalau begitu sekalian saja. Ibu juga mau kasih kamu hadiah.”

Aku menoleh.

“Apa, Bu?”

“Nanti Ibu belikan kamu sepeda motor baru. Biar kalau sekolah atau pergi ke mana-mana lebih gampang.”

Aku langsung menggeleng.

“Enggak usah, Bu.”

Ibu terlihat heran.

“Kenapa?”

“Aku cuma mau motor yang di kampung dibawa ke sini saja.”

“Itu kan motor lama…”

“Enggak apa-apa. Aku sudah biasa pakai itu.”

Ruangan mendadak hening.

Tiba-tiba Ibu menutup mulutnya dengan tangan. Matanya mulai berkaca-kaca.

Aku bingung.

“Bu… kenapa?”

Tanpa berkata apa-apa, Ibu langsung memelukku erat.

Tangannya terasa gemetar.

“Ibu cuma… kangen,” katanya pelan.

Baru kali ini Ibu bisa merayakan ulang tahunku seperti ini.

Selama ini aku tumbuh jauh darinya.

Melihatku sekarang… dengan sikap yang sederhana seperti ini… membuatnya tidak bisa menahan perasaan.

Kak Marisa yang melihat itu ikut terdiam.

“Ih… jangan gitu dong. Aku jadi sedih,” katanya dengan suara serak.

Dadaku terasa penuh.

Biasanya aku gengsi sekali kalau sampai menangis di depan orang.

Tapi kali ini… rasanya sulit sekali menahannya.

Akhirnya air mata itu jatuh juga.

Setelah suasana sedikit tenang, Ibu memanggilku dari dapur.

“Rendra, nanti tolong antarkan kue ini ke rumah Cila ya. Sekalian berbagi dengan tetangga dekat.”

“Iya, Bu. Tapi aku mandi dulu.”

“Iya, sana.”

Setelah mandi dan mengganti baju, aku mengambil kotak kue di meja makan lalu berjalan ke halaman belakang.

Di antara rumah kami dan rumah Cila ada sebuah gerbang kecil yang biasa dipakai untuk lewat.

Aku membuka gerbang itu lalu masuk ke halaman belakang rumah Cila.

“Sil… Cila…” panggilku pelan dari teras.

Tidak lama kemudian seseorang keluar.

“Lho, Den Rendra?”

Ternyata Bude Wati.

“Oh Den Rendra, mari masuk.”

Dari dalam rumah terdengar suara wanita.

“Siapa, Bi?”

Seorang wanita keluar dari ruang tengah.

“Ini Den Rendra, Bu,” jawab Bude Wati.

Wanita itu tersenyum ramah.

“Oh, jadi ini Rendra ya? Cila sering cerita tentang kamu.”

Aku menyerahkan kotak kue.

“Ini dari Ibu, Tante. Katanya mau berbagi.”

“Wah, terima kasih ya.”

Tiba-tiba terdengar langkah cepat.

“Siapa sih, Bi?”

Cila muncul dari dalam rumah.

“Eh? Rendra?”

“Aku disuruh Ibu nganter kue.”

Cila menoleh ke kotak kue di tangan ibunya.

“Hah? Memangnya ada acara apa?”

Ibunya tersenyum.

“Ini kue ulang tahun Rendra.”

Cila langsung menatapku.

“Hah? Serius? Hari ini ulang tahunmu?”

Aku mengangguk.

“Maaf ya. Aku enggak tahu.”

“Enggak apa-apa. Kita kan baru kenal beberapa hari. Doanya saja.”

“Ya tetap aja rasanya enggak enak,” gumamnya.

Aku kemudian diperkenalkan dengan ayahnya.

“Selamat ulang tahun ya,” kata beliau sambil menepuk bahuku.

“Terima kasih, Om.”

Tidak lama kemudian Cila tiba-tiba berkata,

“Oh iya, Pa!”

“Apa?”

“Kita kan mau mancing besok.”

Ayahnya tertawa kecil.

“Oh iya. Tempatnya agak jauh sih, di luar kota.”

Cila menatapku.

“Kamu suka mancing, kan?”

“Suka.”

“Kalau gitu ikut saja sama kita.”

Aku berpikir sebentar.

“Aku sih mau… tapi izin dulu ke Ibu ya.”

Ayah Cila mengangguk.

“Betul. Izin orang tua dulu.”

Saat itu Cila memperhatikan tanganku.

“Wih… HP baru?”

“Oh ini? Iya… hadiah dari Kak Marisa.”

“Pantesan kelihatan baru.”

Tiba-tiba dia baru sadar sesuatu.

“Eh bentar…”

“Kita kan belum tukeran nomor HP ya?”

“Iya juga.”

Cila langsung mengeluarkan ponselnya.

“Sini kasih nomormu.”

Kami pun bertukar nomor.

Setelah itu aku pamit pulang.

Langit sudah mulai gelap saat aku kembali melewati gerbang kecil di halaman belakang.

Angin sore terasa lebih sejuk dari biasanya.

Hari ini terasa aneh.

Banyak hal terjadi dalam satu hari.

Ulang tahun yang tiba-tiba dirayakan.

Pelukan Ibu yang penuh rindu.

Dan rencana mancing besok bersama Cila dan Ayahnya.

Aku berjalan pelan menuju rumah.

Entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak datang ke kota ini… rasanya tempat ini mulai terasa sedikit seperti rumah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!