NovelToon NovelToon
JANJI PERNIKAHAN TUAN AROGAN

JANJI PERNIKAHAN TUAN AROGAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: La Rumi

Zenna Amalia bukanlah perempuan suci. Ia memiliki masa lalu yang kelam, pernah menjadi simpanan pewaris kaya bernama Rendy Wangsa demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit kanker.

"Di luar sana, mana ada laki-laki yang sudi bersamamu, apalagi kalau mereka tahu, kamu bukan lagi perempuan yang punya kesucian dan kehormatan?" kata Rendy keji, sebelum mencampakkan Zenna.

Setelah kehilangan segalanya, Zenna berusaha kembali ke jalan yang benar, rela menebus dosa dengan menikahi seorang lelaki arogan bernama Bram Atmaja.

Bram tahu semua masa lalu Zenna, bersedia menikahinya, demi memenuhi wasiat mendiang ayah tirinya, yang juga merupakan ayah kandung Zenna. Meski dari awal, ia juga sudah memperingatkan Zenna bahwa dirinya adalah pria kasar dan arogan, dan barangkali tak akan pernah mencintai Zenna seumur hidupnya.

Pernikahan yang berlangsung dengan itikad penebusan dosa, tanpa cinta pada awalnya, dan dikejar bayang-bayang gelap masa silam, akankah berujung bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji Pernikahan Tuan Arogan - Bab 23

"Ada yang ingin melenyapkan Zenna... tetapi siapa?"

Sore itu, Ridwan dan Suri duduk di bangku pekarangan belakang kediaman keluarga Mardani sambil minum teh dan mengobrol pelan--tentang topik yang sama sejak tragedi mengerikan itu terjadi seminggu lalu.

"Kemungkinan orang di sekitar Bram yang memiliki motif tertentu... barangkali dendam?" terka Ridwan pelan.

"Atau, orang yang dendam kepada Zenna," gumam Suri sambil meletakkan cangkir tehnya. "Ada mantan kekasih Zenna di pesta malam itu, kan?"

"Rendy Wangsa?" Ridwan menatap istrinya ragu. "Menurutmu dia sungguh nekat berbuat sejauh itu? Apa untungnya buat dia?"

"Entah," Suri mengangkat bahu. "Laki-laki kalau dibutakan cemburu dan nafsu mungkin bisa berbuat apa saja..."

"Rendy memang sudah menyiksa Zenna dalam hubungan beracun itu, tetapi aku ragu dia ingin membunuh Zenna... apalagi dengan cara seperti itu," kata Ridwan lambat-lambat. "Maksudku, terlalu mencolok dan mencurigakan. Ia bisa langsung dituduh jika Zenna tewas di depannya. Kalau aku jadi dia, aku tak akan membunuh dengan cara yang membuatku mudah jadi tersangka..."

"Berarti pelakunya orang yang tak ada di pesta itu?"

"Belum tentu juga... karena caranya membunuh kali ini tak langsung. Racun itu dimasukkan ke dalam gelas Zenna oleh salah satu pelayan, kan?"

"Ya, rekan-rekanku di kantor sudah mengembangkan penyelidikan dan menemukan bukti sampai sejauh itu," angguk Suri. "Pelayan itu sudah ditangkap. Tapi sampai sekarang tak mau mengaku. Ia lebih memilih dihukum berat daripada mengaku."

"Pasti karena dia dibayar sangat mahal, atau diberi jaminan tertentu sampai berani tak mau mengaku. Itu artinya, dalang utamanya jelas orang yang punya kuasa dan uang," Ridwan menghela napas panjang. "Tetapi siapa? Untuk apa?"

"Terus saja pacaran--sampai lupa kalau punya anak. Atau sudah kebelet mau cetak anak lagi?"

Kalila muncul sambil menggendong Isa. Suri tertawa dan meraih Isa ke dalam pelukannya.

"Maaf ya, Isa Sayang... tapi seru kan jalan-jalan sorenya sama Tante Kalila?"

"Seru dong! Tante Kalila kan tante terbaik di seluruh dunia," kata Kalila riang. Tetapi sejurus kemudian, senyumnya hilang.

"Gimana kondisi Zenna sore ini, ya? Apa dia sudah bangun dari komanya?"

Mata Kalila berkaca-kaca saat teringat sahabatnya.

"Bram pasti akan mengabari jika ada perkembangan--baik maupun buruk," kata Ridwan sembari menghirup tehnya dengan muram. "Dia tak pernah beranjak dari sisi Zenna. Bahkan sampai mengambil cuti panjang demi bisa menjaga Zenna selama dua puluh empat jam di kamar perawatan..."

"Kalau dia cuti, siapa yang mengurus perusahaan Atmaja?" tanya Suri penasaran.

"Tuan Darwin Atmaja, adik sepupu mendiang Tuan Zahir... Paman Zenna yang menjadi wali nikahnya waktu itu."

"Hmm," Suri mengerutkan alis, memikirkan sesuatu.

"Kenapa?" Ridwan memandang istrinya ingin tahu.

"Tiba-tiba saja aku kepikiran... jika bukan Rendy pelakunya dengan motif asmara, mungkinkah pelakunya orang-orang Atmaja sendiri... dengan motif warisan? Zenna adalah pewaris utama dan sah kekayaan Atmaja sekarang... kalau dia wafat tanpa anak, maka harta sebanyak itu akan jatuh ke anggota keluarga Atmaja yang lain..."

"Kalau mau dibahas, sampai tahun depan juga nggak bakal kelar," gerutu Kalila. "Daftar tersangkanya terlalu banyak. Tapi kalau motifnya asmara, aku yakin Aurel Sanjaya bisa jadi pelakunya. Dia cewek gila yang menghalalkan segala cara demi mendapat apa yang diinginkan--"

"Kamu yang menambah daftar itu jadi semakin panjang," Ridwan menggeleng. "Semoga polisi bisa mengusut kasus ini sampai tuntas. Tapi entah mengapa, rasanya aku tak bisa berharap banyak..."

"Kemampuan teman-temanku sebetulnya tak perlu diragukan," Suri menimpali dengan masam. "Tapi ada kalanya, terbentur sesuatu yang membuat penyelidikan tak bisa dikembangkan lebih jauh..."

"Bahkan polisi pun mengakui kelemahannya sendiri," Kalila mendengus. "Kalau kebenaran dan hukum terus-terusan bisa disetir uang dan kekuasaan, negeri ini tak akan pernah maju."

"Sudahlah. Tak ada gunanya dibahas lebih jauh," tukas Ridwan sambil melambaikan tangan. "Aku mau pergi ke rumah sakit. Siapa tahu Bram butuh sesuatu. Kamu mau ikut, Kal?"

"Tentu. Aku mau ikut menjaga Zenna... siapa tahu dia sadar kalau aku ada di sana," sahut Kalila dengan suara bergetar.

"Ya sudah. Kalian hati-hati, ya. Salam buat Bram. Kabari aku jika butuh bantuan, atau sesuatu terjadi," kata Suri pelan.

Ridwan mengangguk. "Pasti, Sayang."

***

Bip. Bip. Bip.

Bunyi monitor detak jantung itu memberi harapan sekaligus kesedihan bagi Bram. Ia lega nadi Zenna terus berdetak. Tetapi ia juga nyaris putus asa kala Zenna tak juga membuka mata meski dokter sudah mengupayakan segala cara untuk memulihkan kondisi dan kesadarannya.

"Zenna..."

Bram menggenggam tangan Zenna, kesedihannya sudah melampaui air mata.

"Bangun, Zenna... kumohon, kembalilah... bukalah matamu..."

Tak ada jawaban.

"Zenna... kumohon..."

"Kamu memang brengsek--sudah menyebabkan Zenna jadi begini, Bram."

Suara yang dipenuhi amarah dingin itu membuat Bram mengejang waspada dan menoleh.

"Kamu...!"

Bram menggeram saat melihat Rendy sudah berdiri tak jauh darinya sambil membawa seikat bunga mawar putih. Bunga kesukaan Zenna.

"Kenapa kamu bisa masuk ke sini? Keluar!"

"Kenapa tidak? Ini rumah sakit milik keluargaku. Aku bebas masuk ke lubang tikus yang ada di dinding rumah sakit ini sekalipun," balas Rendy tak gentar. "Dan aku juga tak melakukan tindakan kriminal sehingga berhak diusir. Aku tak seperti kamu, Bram."

"Apa maksudmu?" Bram menatap tajam Rendy.

"Bukankah sudah jelas? Ada yang mencoba menghabisi Zenna. Dan itu semua gara-gara kamu!"

"Jangan sembarangan kamu!" bentak Bram. "Baik--kalau kamu tak mau keluar, akan kupindahkan Zenna ke rumah sakit lain sekarang juga--"

"Ternyata memang kamulah pembunuh Zenna," Rendy menelengkan kepalanya, tatapannya berkilat seperti orang gila. "Kamulah yang memesan minuman untuk Zenna. Kamulah yang ada di sisinya saat Zenna jatuh. Dan sekarang kamu akan memindahkannya dalam kondisi sekritis ini--gigih sekali upayamu untuk membuat Zenna mati. Apa kamu nekat melakukan semua ini demi merebut warisan Atmaja?"

"Lancang!" Bram mengacungkan tinjunya. "Kuingatkan kamu, Rendy, satu patah kata lagi--"

"Diam! Kamulah yang harus kuperingatkan! Jika sampai Zenna meninggal, aku sendiri yang akan membunuhmu--dasar bajingan!"

"Ada apa ini?"

Ridwan masuk dan menyela tepat saat Bram dan Rendy hampir saling hantam. Kalila mengekor di belakang kakaknya, netranya seketika membundar.

"Astaga!" seru Kalila berang. "Bagaimana Zenna akan pulih kalau haknya sebagai pasien untuk istirahat dengan baik tak terpenuhi di sini? Akan kutuntut kalian kalau terus berbuat keributan di sini, aku serius!"

"Kalila benar," timpal Ridwan. "Bicarakan semua masalah kalian di luar. Jangan di sini."

Sejenak, baik Bram maupun Rendy bergeming. Tatapan mereka saling menusuk bagai pedang beradu tanpa denting.

Kalila sudah meraih ponselnya untuk menelepon polisi, namun Ridwan dengan cepat maju dan menyambar lengan kedua pria crazy rich itu sambil berkata tak sabar, "Apa kalian tidak dengar? Kita bicarakan semua di luar! Ikut aku! Sekarang!"

"Aku bisa jalan sendiri!" bentak Rendy sembari menepis Ridwan. "Baik! Aku pergi!"

"Aku tak memintamu pergi--kita perlu bicara. Bertiga. Sekarang!" sergah Ridwan tajam.

"Aku tak perlu bicara denganmu!" tolak Rendy angkuh. "Minggir!"

"Sungguh? Bukankah kamu ingin menyelamatkan Zenna? Jadi aku keliru?" balas Ridwan tajam.

"Apa maksudmu, Ridwan?" Bram memicingkan pandang, rahangnya mengeras.

"Kita bicarakan di luar."

Ketiga laki-laki yang memiliki tempat berbeda di hati Zenna itu berjalan meninggalkan kamar perawatan. Rendy memimpin mereka menyusuri lorong dan memasuki kamar perawatan lain yang kosong.

"Katakan, apa yang sebenarnya kamu rencanakan?!" tuntut Rendy begitu Ridwan menutup pintu, tanpa basa-basi.

Ridwan menegakkan punggung, ekspresinya sangat serius.

"Kerja sama. Kita bertiga kerja sama menemukan pembunuh itu demi menyelamatkan Zenna, karena aku yakin, orang itu tak akan berhenti di sini. Bagaimana? Kalian bersedia?"

***

1
Shamira Zee
Aduh plis Zenna jangan pergi /Sob/
Shamira Zee
Author nyindirnya ngena banget deh soal polisi /Tongue/ Wah bisa nggak tuh Bram dan Rendy kerja sama buat nemuin pembunuhnya? Kira-kira siapa ya?
Shamira Zee
Duh ngeri kali diracun demi dapat warisan /Gosh/
Lord Aaron
Racun?
Nyonya Billy
Narasinya bagus. Ceritanya cukup menghanyutkan emosi.
Nyonya Billy
Ada apa dengan Zenna...?
Shamira Zee
Ceritanya bagus, gak kacangan, alurnya unik, penuh intrik. Gak bisa berhenti baca soalnya tiap babnya bikin penasaran terus. /Angry//Good/
Shamira Zee
Aduuuh Zenna kenapa ini thor? /Gosh/
Shamira Zee
Keren Bram bisa atur pesta jadi gitu. Tapi gak ketemu Rendy malah ketemu Aurel /Grimace/
La Rumi: sama aja ya 😅
total 1 replies
Shamira Zee
Pengantin baru malah ngurus kerjaan /Facepalm/ Duh ada Rendy ntar... gimana tuh Zenna? Semoga baik-baik aja yaa
La Rumi: pengantin teladan 😅
total 1 replies
Nyonya Billy
Selamat dan semangat menempuh hidup baru, Zenna ❤️
La Rumi: ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
total 1 replies
Nyonya Billy
Manisnya Bram
La Rumi: Like sugar 🤭
total 1 replies
Shamira Zee
Horee akhirnya sah! Selamat Ze-Bra! /Angry/
La Rumi: Yaaay
total 1 replies
Shamira Zee
Kenapa Bram bisa manis begini? Duuuh meleleh lho denger dia bilang "perlukah alasan" /Proud/
La Rumi: So sweet yesss
total 1 replies
Lord Aaron
Melahirkan seratus kurawa dong... othor bisa aja /Facepalm/
La Rumi: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nyonya Billy
Parah kelakuan rendy
Nyonya Billy
Hubungan toxic juga bisa bikin hubungan ke sekitar hancur...kasihan Zenna
Shamira Zee
Dia yang inisiatif hamilin, terus dia juga yang nyuruh gugurin... fix emang titisan iblis nih rendy
La Rumi: Benerrr
total 1 replies
Shamira Zee
Duh lama-lama bisa ketahuan Aurel tuh...🤔
La Rumi: Bisa jadi...
total 1 replies
Shamira Zee
Nah lho... bestie lama pun sampai tahu... ya bukan kekasih gelap lagi itu namanya 😅
La Rumi: jadi terang ya kak 😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!