NovelToon NovelToon
Terjebak Satu Malam Dengan Mafia Kejam

Terjebak Satu Malam Dengan Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Mafia
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dini Andreina

Lyra Aldebaran hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan pertunangannya. Namun satu malam di klub hotel mewah mempertemukannya dengan pria yang tidak seharusnya ia kenal.

Darius Baskara, Pria dingin dan berbahaya yang menguasai dunia gelap kota. Sebuah kejadian membuat mereka terjebak bersama sepanjang malam. Lyra mengira semuanya akan berakhir saat pagi datang. Ia salah,Karena bagi seorang mafia seperti Darius Baskara, sekali ia menginginkan sesuatu, ia tidak akan pernah melepaskannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Andreina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jika aku tidak bia Memilikimu

Lorong rumah sakit sunyi, Ara baru saja keluar dari tangga darurat ketika sebuah suara menghentikannya.

"Ara."

Langkahnya langsung berhenti, Perlahan ia menoleh.

Darius berdiri beberapa meter di belakangnya, Tatapannya dingin, Sangat dingin. Ara tersenyum kecil seolah tidak ada yang salah.

"Kau masih di sini?"

Namun Darius melemparkan sesuatu ke lantai di depan kakinya,.Sebuah tablet,.Rekaman suara berhenti tepat di kalimat terakhir.

"...yang kita inginkan tetap sama. Darius."

Wajah Ara akhirnya berubah, Sedikit, Hanya sedikit.

Namun cukup untuk menunjukkan bahwa dia tahu semuanya, Darius melangkah mendekat.

"Sekarang aku ingin mendengar langsung darimu."

Ara menghela napas pelanLalu tertawa kecil"Jadi kau sudah tahu."Tatapannya berubah tajam.

"Ya."

"Saya bekerja sama dengan Viktor."

Sunyi beberapa detik, Darius menatapnya tanpa emosi."Kenapa?"

Ara menatapnya lama, Matanya yang biasanya lembut kini dipenuhi sesuatu yang jauh lebih gelap.

"Aku sudah berada di sisimu selama bertahun-tahun, Darius."Ia melangkah lebih dekat.

"Membantumu."

"Melindungimu."

"Menunggumu."

Namun Darius tetap tidak bereaksi, Ara tersenyum pahit "Lalu dia muncul." Matanya berkilat marah.

"Lyra."

Suara itu terdengar seperti racun, Ara berkata pelan,

"Aku tahu pria seperti kamu." "Kau tidak pernah benar-benar peduli pada siapa pun."

"Tapi untuk pertama kalinya…"

"...kau melihat seseorang seperti itu."

Ia menatap Darius langsung.

Dan berkata pelan,

"Jika aku tidak bisa memilikimu…"

Senyumnya perlahan muncul.

"...dia pun tidak."

Kalimat itu membuat mata Darius berubah tajam.

"Apa yang kau lakukan?"

Ara tidak menjawab.

Namun saat itu juga

**ALARM ICU BERBUNYI.**

Suara mesin monitor terdengar panik dari ujung lorong, Darius langsung menoleh, Tanpa berkata apa pun dia berlari. Pintu ICU terbuka keras. Di dalam ruangan Lyra sedang kejang hebat di ranjang.

Tubuhnya menegang, Mesin monitor berbunyi liar.

Bip! Bip! Bip!

Seorang dokter berdiri di dekat infusnya, Namun ketika Darius masuk pria itu langsung mencoba keluar, Leon yang datang dari belakang langsung menangkapnya.

"Berhenti!"

Syringe kecil jatuh dari tangan pria itu, Cairan transparan masih menetes, Leon langsung memahami. "Dia menyuntikkan sesuatu ke infus!"

Darius sudah tidak peduli dengan apa pun lagi.

Ia langsung berada di sisi ranjang Lyra."Lyra!"

Tubuh wanita itu bergetar hebat, Tangannya mencengkeram udara seperti mencari sesuatu.

Matanya terbuka namun kosong, Dokter berlari masuk.

"Apa yang terjadi?!"

Leon berteriak,"Racun!"

Lyra menegang lagi, Tubuhnya hampir melengkung karena spasme, Darius langsung memeluknya.

Menahan tubuhnya agar tidak jatuh dari ranjang.

"Lyra! Tetap bersamaku!"

Namun tubuh Lyra terus bergetar, Napasnya terputus-putus, Tangannya mencengkeram kemeja Darius. Matanya kabur. "D… Darius…"

Suara itu hampir tidak terdengar, Untuk pertama kalinya Darius terlihat benar-benar panik.

"Dokter, lakukan sesuatu!"

Dokter langsung menyuntikkan obat penawar.

Namun efek racun itu sangat kuat, Lyra menegang sekali lagi, Lalu tubuhnya tiba-tiba melemah. Mesin monitor berbunyi panjang.

BEEEEEP....

Dokter berteriak,

"Dia kehilangan denyut!"

Darius masih memeluk tubuh Lyra."Lyra!"

Namun tidak ada jawaban,.Dokter mulai melakukan CPR,.Ruangan penuh kekacauan. Namun di tengah semua itu Darius tetap memegang tangan Lyra. Dan untuk pertama kalinya sejak siapa pun mengenalnya

setetes air mata jatuh dari matanya, Diam, Tanpa suara. Jatuh ke tangan Lyra yang dingin. Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya Darius sadar.

Dia mungkin benar-benar akan kehilangan seseorang.

Suara mesin monitor yang tadi memekakkan telinga… sekarang hanya menyisakan satu garis lurus.

BEEEEEEEEEP....

Dokter berhenti melakukan CPR, Keringat mengalir di dahinya, Ruangan itu menjadi sunyi,Sangat sunyi.

Darius masih memegang tubuh Lyra di pelukannya.

"Teruskan." Suaranya rendah.

Dokter menatapnya ragu.

"Pak…"

Darius mengangkat kepalanya perlahan, Tatapannya tajam. "Saya bilang lanjutkan." Dokter mencoba sekali lagi, Kompresi dada, Satu, Dua, Tiga, Tidak ada reaksi. Seorang perawat menatap monitor dengan wajah pucat. Garis lurus itu tidak berubah. Dokter berhenti. Tangannya gemetar sedikit, Ia menatap jam di dinding. Kemudian berkata pelan dengan suara yang terasa sangat berat di ruangan itu.

"Maaf, Pak."Sunyi beberapa detik.

"Waktu kematian…"

"...03.56."

Kalimat itu menggema seperti palu yang, menghantam ruangan, perawat menunduk. Dokter perlahan melepas sarung tangan, Namun Darius tidak bergerak. Tidak satu inci pun Lyra masih berada di pelukannya. Tubuhnya mulai dingin. Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajahnya. Darius menyentuh pipinya dengan pelan, Seolah menunggu sesuatu.

Apa pun, Namun tidak ada."Tidak."Suaranya hampir seperti bisikan.

"Tidak." Ia menggeleng perlahan"Tidak…"Tangannya menggenggam tubuh Lyra lebih erat.

"Lakukan sesuatu lagi."

Dokter menatapnya dengan ekspresi sedih.

"Pak… kami sudah..."

"TIDAK!"

Suara Darius menggema di ruangan, Untuk pertama kalinya pria yang dikenal paling dingin di kota itu terlihat benar-benar hancur, Matanya merah. Air mata jatuh tanpa bisa dihentikan"Dia tidak boleh mati."

Suaranya pecah "Dia tidak boleh mati…" Namun ruangan tetap sunyi, Tidak ada mesin yang berbunyi, Tidak ada napas, Tidak ada denyut, Hanya kesunyian.

Akhirnya Leon melangkah maju perlahan.

"Tuan…" Darius tidak menoleh.

Namun setelah beberapa detik yang terasa sangat lama ia akhirnya menurunkan tubuh Lyra kembali ke ranjang.Tangannya masih memegang tangan wanita itu. Lalu perlahan ia berdiri, Ekspresinya berubah.

Air mata masih ada,.Namun sesuatu yang lain juga muncul, Sesuatu yang jauh lebih gelap, Lebih dingin, Lebih berbahaya Ia menatap Leon.

"Leon."

"Ya, Tuan."

Suaranya sekarang kembali tenang.

Namun ketenangan itu terasa seperti badai sebelum kehancuran.

"Cari Viktor."

Leon langsung mengangguk.

"Bawa dia kepadaku." Tatapan Darius berubah semakin gelap, "Hidup."

Leon menelan ludah.

"Tentu."

Namun Darius belum selesai."Dan siapa pun yang berhubungan dengannya."

Tangannya mengepal.

"Bawa mereka."

Kemudian satu nama keluar dari bibirnya Pelan.

Namun penuh racun.

"...Ara."

Sunyi sejenak.

Leon mengangguk lagi.

"Akan kami temukan."

Darius tidak menjawab.

Ia hanya menoleh kembali ke tubuh Lyra di ranjang.

Seprai putih perlahan ditarik menutupi tubuhnya.

Namun Darius menghentikannya.

"Jangan."

Perawat berhenti.

Darius berjalan mendekat lagi, Tangannya menyentuh rambut Lyra dengan lembut, Sangat lembut. Seperti sesuatu yang rapuh.

"Lyrabelle."

Untuk pertama kalinya ia memanggil nama aslinya.

"Ini belum selesai."Di luar rumah sakithujan turun sangat deras,Dan malam itu perang benar-benar dimulai.

1
Dini Andreina
sabar ya ka hari ini langsung banyak
Tanece Alu Bunga
update lama.kali thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!