tiba-tiba terbangun di tubuh Lady Genevieve, seorang bangsawan wanita yang sedang diasingkan di sebuah kastil tua karena fitnah kejam di ibukota. Suaminya sendiri, Duke of Blackwood, mengabaikannya. Saat dia bangun, sebuah "Sistem" muncul dan memberitahunya bahwa ada pelayan di kastil ini yang pelan-pelan meracuninya setiap malam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19
Sebuah reruntuhan.
Di dasar Jurang Hitam yang diyakini hanyalah tempat pembuangan mayat dan sarang binatang buas, tersembunyi sebuah arsitektur peradaban masa lalu yang sangat masif. Terdapat sisa-sisa lengkungan batu gapura yang puncaknya telah hancur, sebagian bangunannya telah tertelan oleh batu tebing yang runtuh berabad-abad lalu.
Genevieve melangkah masuk ke area reruntuhan itu dengan sangat waspada. Instingnya mengatakan bahwa tempat ini tidak dibangun oleh para pendiri House Blackwood. Desainnya terlalu kuno, terlalu brutal. Pilar-pilarnya tebal dan memancarkan aura penindasan yang kuat.
Saat ia melewati salah satu pilar raksasa yang roboh dan bersandar pada dinding tebing, matanya menangkap sebuah anomali visual yang memantulkan cahaya kelabu.
Sesuatu yang berkilau di balik lapisan es yang sangat tebal, terperangkap di sudut gelap antara reruntuhan gapura dan dinding tebing.
Genevieve melangkah mendekat, napasnya tertahan pelan. Langkahnya tidak bersuara, mengantisipasi kemungkinan bahwa itu adalah predator lain yang sedang tertidur. Namun, objek itu sama sekali tidak memancarkan hawa kehidupan. Tidak ada pergerakan, tidak ada napas.
Ketika ia berdiri hanya satu lengan jauhnya dari bongkahan es tersebut, bola mata biru Genevieve sedikit membesar.
Di dalam bongkahan es transparan setebal telapak tangan pria dewasa itu, membeku sosok seorang ksatria.
Tubuh pria itu terawetkan dengan sempurna oleh es abadi selama entah berapa puluh atau ratus tahun. Ksatria itu mengenakan zirah pelat hitam yang desainnya sama sekali tidak menyerupai seragam militer standar Aethelgard yang pernah dilihat Genevieve di ibukota. Zirahnya dihiasi oleh ornamen duri-duri halus di bagian bahu, dan di dada pelat bajanya, terukir sebuah lambang: Naga Berkepala Tiga yang sedang melilit sebuah pedang patah.
Wajah pria di balik es itu tertutup oleh helm bervisor, namun dari postur tubuhnya yang bersandar pasrah pada dinding batu, jelas pria ini tewas perlahan karena membeku, bukan karena pertempuran langsung. Ksatria ini mungkin terjebak di sini, persis seperti Genevieve, mencoba mencari jalan keluar dari reruntuhan bawah tanah namun gagal melawan badai salju abadi.
Namun, bukan lambang atau sejarah ksatria itu yang membuat jantung Genevieve berdetak lebih cepat. Perhatiannya sepenuhnya tersita pada apa yang digenggam oleh sarung tangan baja ksatria beku tersebut.
Di tangan kanannya, menyilang menutupi dadanya, ksatria itu mencengkeram sebuah belati tempur.
Belati itu luar biasa indah sekaligus mengerikan. Panjangnya melebihi belati standar, nyaris seukuran pedang pendek (*shortsword*). Bilahnya melengkung sedikit di bagian ujung, memancarkan warna hitam kebiruan yang menandakan bahwa senjata itu ditempa dari logam meteorit langka, bukan baja biasa yang mudah berkarat. Gagangnya dibalut oleh kulit binatang buas yang masih utuh, dilindungi oleh pelindung tangan berbentuk sayap naga.
Di tempat yang dipenuhi oleh serigala raksasa dan entah monster apa lagi, memiliki paku berkarat sebagai senjata utama adalah undangan menuju kematian konyol. Genevieve membutuhkan belati itu. Senjata itu adalah garis pemisah antara menjadi mangsa dan menjadi pemburu mematikan.
Genevieve menempelkan telapak tangannya pada bongkahan es yang memenjarakan sang ksatria. Es itu keras seperti berlian. Memukulnya dengan batu obsidian hanya akan membuat tangannya hancur, dan tidak akan cukup untuk memecahkan ketebalan pelindung bekunya.
"Sistem," panggil Genevieve secara mental, suaranya dipenuhi oleh fokus tajam yang menyisir setiap kemungkinan. "Analisis titik struktural terlemah dari formasi es ini. Bagaimana cara tercepat untuk menghancurkannya tanpa merusak senjata di dalamnya?"
Panel biru berpendar tepat di atas permukaan es, memindai objek di baliknya dengan jaring-jaring cahaya perak.
**[Memindai Integritas Material Es...]**
**[Analisis Selesai. Es terbentuk secara alami selama kurang lebih 120 tahun. Kepadatan sangat tinggi.]**
**[Kelemahan Terdeteksi: Terdapat retakan mikro di sekitar area tangan ksatria akibat perbedaan suhu logam belati saat awal proses pembekuan. Menggunakan benda tumpul untuk menghantam retakan ini dengan kekuatan terarah akan menyebabkan kerusakan struktural berantai (efek kaca pecah) pada bongkahan es.]**
Sebuah titik merah kecil berkedip di layar panel Sistem, menunjukkan sebuah lekukan mikroskopis di permukaan es, tepat di atas pergelangan tangan sang ksatria beku.
Genevieve tidak membuang waktu. Ia menyingkirkan paku karatnya dan berjalan memutar untuk mencari batu yang lebih besar di antara reruntuhan sungai. Ia mengabaikan nyeri yang membakar pergelangan kaki dan rusuknya saat ia mengangkat sebongkah batu kali yang cukup berat, seukuran kepala manusia, menggunakan kedua tangannya yang dibalut sisa kain linen.
Ia kembali ke depan balok es tersebut. Ia memosisikan kakinya kuda-kuda, mengambil napas dalam-dalam, menahan rasa sakit di dadanya, dan mengayunkan batu berat itu dengan seluruh sisa kekuatan dari lengan, bahu, dan pinggulnya, meniru presisi seorang algojo yang menjatuhkan kapak.
*TRAK!*
Batu itu menghantam titik merah yang ditunjukkan Sistem dengan akurasi yang mematikan. Benturannya menghasilkan suara retakan yang sangat nyaring, bergema di antara pilar-pilar batu kuno. Rasa sakit menjalar dari telapak tangan hingga ke bahu Genevieve akibat pantulan tenaga kinetik, namun ia menolak melepaskan batu tersebut.
Permukaan es itu tidak langsung hancur. Namun, dari titik benturan, jaringan retakan putih menyebar seperti jaring laba-laba dalam gerakan lambat. Retakan itu merambat ke dalam, mencari celah di sekitar logam belati.
Genevieve mengangkat batu itu sekali lagi, giginya bergemeretak rapat, wajahnya sekeras patung pualam.
"Ini milikku," desisnya rendah ke arah sang ksatria yang telah mati.
Ia menghantamkan batu itu untuk kedua kalinya di titik yang sama persis.
*PRANG!*
Kali ini, bongkahan es itu menyerah. Seluruh area di sekitar dada dan tangan ksatria itu meledak dalam hujan serpihan es tajam. Pecahan-pecahannya berhamburan ke udara, beberapa di antaranya menggores pipi pucat Genevieve dan meninggalkan garis merah tipis, tetapi ia bahkan tidak berkedip. Matanya hanya terpaku pada celah yang kini terbuka.
Tangan ksatria yang terbungkus sarung tangan baja itu kini terekspos ke udara bebas untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu abad. Kulit sarung tangan itu kaku dan rapuh.
Genevieve melempar batunya ke lantai bersalju. Ia mengulurkan tangannya, menyelipkan jemarinya yang dingin di antara sela-sela jari sarung tangan baja ksatria tersebut. Ia menarik gagang belati itu. Pria beku itu mencengkeram senjatanya dengan cengkeraman kematian (*rigor mortis*) yang sangat kuat. Genevieve memiringkan gagangnya, menggunakan tuas tubuhnya sendiri, menginjak dada zirah ksatria itu dengan satu kaki untuk mendapatkan tumpuan, lalu menarik sekuat tenaga.
Suara tulang yang patah terdengar mengerikan dari dalam sarung tangan baja itu. Jari-jari sang ksatria akhirnya patah dan menyerah.
Belati itu terlepas bebas, meluncur mulus ke dalam genggaman Genevieve.
Seketika, ia bisa merasakan bobot logam yang sangat sempurna. Tidak terlalu berat hingga memperlambat gerakannya, namun memiliki massa yang cukup untuk membelah daging dan tulang dengan momentum yang tepat. Bilah hitam kebiruannya tidak memiliki satu pun noda karat, memantulkan cahaya redup jurang dengan kilau mematikan.
**[Akuisisi Senjata Tingkat Tinggi Terdeteksi!]**
**[Identifikasi Objek: 'Nightfang' (Taring Malam) - Belati Pendek Tempaan Meteorit Hitam.]**
**[Ketajaman: Kelas Ekstrem (Mampu menembus zirah kulit tebal dan tulang tanpa hambatan berarti).]**
**[Bonus Atribut: +15 Efisiensi Serangan Fisik. Pegangan kulit menyerap panas tubuh, mencegah senjata menempel pada kulit Tuan Rumah dalam suhu ekstrem.]**
Sebuah senyum yang sangat, sangat dingin melengkung di bibir Lady Genevieve. Ia memutar belati itu di tangannya, membiasakan diri dengan keseimbangannya. Dengan senjata ini, statusnya telah berubah. Ia bukan lagi gadis bangsawan yang menunggu diselamatkan, dan bukan lagi mangsa yang harus bersembunyi di bawah akar pohon.
Namun, senyumannya tidak bertahan lama.
Saat ia memutar tubuhnya menjauh dari ksatria beku itu untuk melanjutkan perjalanannya, pendengarannya menangkap sesuatu yang membuat rambut di tengkuknya meremang.
Bukan suara lolongan serigala. Bukan pula gemuruh Sungai Umbra.
Itu adalah suara derik halus. Suara sesuatu yang keras dan bergerigi yang bergesekan dengan pilar batu reruntuhan di kejauhan. Dan yang paling mengerikan... suara itu tidak berasal dari permukaan tanah, melainkan dari langit-langit kegelapan di atas pilar reruntuhan, bergerak dengan kecepatan yang sangat hening dan tidak wajar, memutarinya dari atas kabut.
Sesuatu yang jauh lebih kuno dan lebih berbahaya dari serigala salju baru saja menyadari bahwa ada penyusup yang merusak kuburan esnya. Genevieve mengangkat *Nightfang* ke depan dada, matanya membelah kabut, bersiap menyambut apa pun bentuk kematian yang turun dari bayang-bayang.