NovelToon NovelToon
Susahnya Jadi Mantan Pacar

Susahnya Jadi Mantan Pacar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / CEO
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Menceritakan tentang Novita gadis berumur 27 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan besar PT Kencana samudra jaya. perusahaan yang sangat bagus untuk memperbaiki kehidupannya. Namun semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya saat mantannya dulu muncul sebagai direktur di perusahaan. Andra yang dulu dia kenal sebagai Arya muncul kembali. Dia berusaha keras menghindar dari masa lalunya namun masa lalunya justru datang kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23

Suatu sore, Andra berdiri di seberang toko ponsel tempat Novita bekerja. Matahari mulai turun perlahan di ufuk barat, memantulkan cahaya jingga ke kaca etalase yang dipenuhi berbagai model ponsel terbaru. Pantulan cahaya itu membuat toko terlihat berkilau dari kejauhan.

Beberapa pelanggan keluar masuk toko, sebagian membawa kantong belanja kecil, sebagian lagi masih sibuk membandingkan harga di depan etalase. Namun Andra tetap berdiri di tempatnya.

Sesekali ia melirik ke arah pintu kaca toko.

Ia menunggu.

Tangannya dimasukkan ke saku celana, sementara pikirannya dipenuhi bayangan wajah Novita. Sudah beberapa hari ini mereka sering bertukar pesan. Obrolan ringan yang awalnya hanya sekadar basa-basi kini berubah menjadi percakapan panjang yang kadang berlangsung sampai larut malam.

Bahkan beberapa kali mereka sempat berbicara lewat telepon.

Hari ini Andra sengaja datang untuk menjemputnya pulang.

Andra melirik jam di pergelangan tangannya.

"Harusnya sudah selesai kerjanya," gumamnya pelan.

Saat itulah seseorang tiba-tiba menghampirinya.

"Mas Arya, ya?"

Andra menoleh.

Di hadapannya berdiri seorang pria yang tampak seumuran dengannya. Rambutnya disisir rapi dengan gaya yang terlalu dibuat-buat. Senyum di wajahnya terlihat ramah, tetapi entah kenapa memberi kesan tidak tulus.

"Siapa kamu?" tanya Andra datar.

Pria itu tersenyum lebar seolah mereka sudah lama saling mengenal.

"Saya Riski. Teman kerja Novita di toko itu." Ia menunjuk ke arah toko ponsel di belakang mereka.

Andra hanya menatapnya tanpa menjawab.

Riski tampaknya tidak terganggu dengan sikap dingin itu. Ia malah berdiri di samping Andra, seolah mereka sedang menunggu seseorang bersama.

"Sering ke sini juga ya, Mas?" katanya santai.

Andra mengerutkan dahi. Nada bicara pria itu membuatnya tidak nyaman.

"Ada perlu apa?" tanya Andra langsung.

Riski terkekeh kecil.

"Santai saja, Mas. Saya cuma mau bicara sedikit." Ia berhenti sebentar, lalu menatap Andra dengan ekspresi pura-pura prihatin. "Soalnya... saya kasihan sama Mas."

Alis Andra terangkat.

"Kasihan?" ulangnya dingin.

Riski mengangguk pelan.

"Mas kelihatannya dekat sama Novita. Betul, kan?"

Andra tidak langsung menjawab. Tatapannya mulai tajam.

"Kalau iya, kenapa?"

Riski menghela napas panjang seolah sedang memikirkan cara menyampaikan sesuatu yang sulit.

"Saya sebenarnya ragu mau ngomong ini. Tapi kalau saya diam saja, nanti Mas yang rugi."

Andra mulai kehilangan kesabaran.

"Langsung saja."

Riski menoleh ke arah toko ponsel, lalu kembali menatap Andra.

"Novita itu bukan wanita baik-baik, Mas."

Kalimat itu membuat udara di antara mereka seolah membeku.

Andra menatapnya tajam.

"Jaga bicaramu."

Namun Riski hanya mengangkat bahu.

"Saya tidak bicara sembarangan."

"Lalu apa maksudmu?"

Riski mendekat sedikit.

"Dia sering menggoda pelanggan toko yang kelihatan kaya."

Andra langsung mencengkeram kerah baju Riski dengan kasar.

"Hei!" Riski terkejut.

Wajah Andra berubah gelap.

"Kalau kamu bicara sembarangan tentang dia lagi, aku tidak akan segan menghajarmu di sini," ancam Andra dengan suara rendah namun penuh tekanan.

Beberapa orang yang lewat mulai melirik mereka dengan rasa penasaran.

Riski mengangkat kedua tangannya seolah menyerah.

"Tenang, Mas. Saya tidak bohong."

Andra tidak melepas cengkeramannya.

"Buktinya apa?"

Riski perlahan mengambil ponsel dari sakunya.

"Ini."

Ia membuka galeri dan memperlihatkan sebuah foto.

Andra menurunkan tangannya perlahan lalu melihat layar ponsel itu.

Di dalam foto terlihat Novita.

Gadis itu sedang berdiri di depan sebuah mobil. Di hadapannya ada seorang pria paruh baya yang menyerahkan sesuatu ke tangannya.

Uang.

Banyak lembar uang.

Andra menatap foto itu beberapa detik tanpa berkedip.

"Siapa pria itu?" tanya Andra.

Riski mengangkat bahu.

"Saya juga tidak tahu namanya. Tapi dia sering datang ke toko."

Ia tersenyum tipis.

"Kelihatannya pria hidung belang yang suka cari gadis muda."

Andra mengepalkan tangan.

"Dan Novita... selalu melayaninya dengan manis."

Andra masih menatap foto itu.

"Mas tahu berapa uang yang dia dapat?" lanjut Riski. "Lumayan banyak."

Ia menatap Andra dengan ekspresi seolah bersimpati.

"Sudah banyak pria yang jadi korban Novita. Mereka didekati, dimanja, dibuat jatuh cinta... lalu diperas."

Andra akhirnya mengembalikan ponsel itu.

Wajahnya tegang.

"Setelah uangnya habis," kata Riski lagi pelan, "pria-pria itu langsung dibuang."

Andra menggeleng pelan.

"Aku tidak percaya."

Riski menghela napas.

"Saya juga dulu tidak percaya."

Ia memasukkan kembali ponselnya.

"Tapi Mas bebas mau percaya atau tidak. Saya cuma tidak tega melihat Mas jadi korban berikutnya."

Andra menatap toko ponsel itu lagi.

Pintu kaca masih tertutup.

Novita belum keluar.

Pikiran Andra mulai kacau.

Gadis yang selama ini ia kenal sebagai sosok sederhana dan polos tiba-tiba terasa asing di kepalanya.

Apakah semua itu hanya sandiwara?

"Mas kelihatannya orang baik," kata Riski lagi. "Makanya saya ingatkan."

Andra tiba-tiba mendorong dada Riski dengan keras.

Riski terhuyung satu langkah ke belakang.

"Jangan coba-coba mengadu domba," kata Andra dingin.

Tanpa berkata apa pun lagi, Andra berbalik dan berjalan pergi dengan langkah cepat.

Riski tidak mengejarnya.

Ia hanya berdiri di tempat sambil memperhatikan punggung Andra yang semakin menjauh.

Perlahan senyum muncul di wajahnya.

"Percaya atau tidak... sekarang pikiranmu pasti sudah kacau," gumamnya pelan.

Ia melirik ke arah toko ponsel.

Di balik kaca, ia melihat bayangan Novita yang sedang berbicara dengan seorang pelanggan.

Senyum Riski semakin lebar.

"Sebentar lagi kamu akan sendirian, Novita," bisiknya.

Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana dan berjalan santai menjauh.

Dalam pikirannya, semuanya sudah berjalan sesuai rencana.

Jika Andra menjauh dari Novita, maka tidak akan ada lagi pria yang menghalanginya.

Dan saat gadis itu sedang terluka dan butuh tempat bersandar...

Riski yakin dirinya akan menjadi orang pertama yang menawarkan pelukan.

Sebuah pelukan yang sejak lama ia inginkan.

 

Beberapa menit kemudian, pintu kaca toko ponsel akhirnya terbuka.

Novita keluar sambil membawa tas kecilnya. Ia menghela napas lega setelah seharian melayani pelanggan.

Matanya langsung mencari seseorang di seberang jalan.

Arya.

Namun orang yang ia tunggu tidak ada.

Novita mengerutkan kening.

"Loh... ke mana?" gumamnya pelan.

Ia mengeluarkan ponselnya dari tas lalu membuka aplikasi pesan.

Novita mengetik cepat.

"Aku sudah selesai kerja. Kamu di mana?"

Pesan itu terkirim.

Ia menunggu.

Satu menit.

Dua menit.

Tidak ada balasan.

Novita mulai merasa aneh.

Biasanya Arya selalu membalas pesannya dengan cepat.

Ia mencoba menelepon.

Nada sambung terdengar.

Tut... tut... tut...

Namun panggilan itu tidak diangkat.

Novita menurunkan ponselnya perlahan.

Wajahnya terlihat bingung.

"Tumben sekali..." gumamnya.

Ia mencoba menelepon sekali lagi.

Kali ini panggilan tetap tersambung, tetapi tetap tidak ada jawaban.

Novita menggigit bibirnya pelan.

Perasaan tidak enak mulai muncul di dadanya.

"Apa dia marah?" pikirnya.

Namun ia segera menggeleng.

"Tidak mungkin..."

Ia mencoba berpikir positif.

"Mungkin dia sedang sibuk," katanya menenangkan dirinya sendiri.

Novita akhirnya memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.

Ia berdiri sebentar di depan toko sambil melihat ke arah jalan yang mulai ramai oleh kendaraan sore.

Meski berusaha tenang, ada perasaan aneh yang terus mengganggu pikirannya.

Ia tidak tahu bahwa beberapa menit sebelumnya seseorang telah menanamkan keraguan di hati pria yang sedang ia tunggu.

1
Siti Nugraheni
seneng aja bacanya, kosakatanya rapi, alur ceritanya menarik buat dibaca, dan selalu bikin penasaran lanjutan ceritanya
gaby
Resign dong. Bukannya wkt itu Novita bikin beberapa surat lamaran. Masa iya satu pun ga ada yg manggil. Atau jgn2 othornya lupa sm jalan critanya. Gimana nasib surat lamaran itu smua
Black Rascall: mengingatkan saat itu belum ada 19 JT lapangan pekerjaan jadi susah nyari dan Novita bisa kerja berkat om Danu yang merekomendasikan Novita ke HRD jadi tunggu ya kak 19 JT lapangan pekerjaannya 🙏🙏🙏
total 1 replies
falea sezi
bos kurang ajar mundur aja resain
Black Rascall: tunggu 19 JT lapangan pekerjaan dulu kak baru resain
total 1 replies
falea sezi
moga bagus ampe ending
Black Rascall: gak yakin karena baru pertama kali nulis genre seperti ini jadi mohon maklum
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!