NovelToon NovelToon
Will You Marry Me

Will You Marry Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang muda mudi yang lama berteman dan memulai dengan saling ada ikatan cinta Siska namanya paras cantik dan menawan mendapatkan masalah dari keluarganya dia adalah seorang tepandang namun ia harus menikah untuk mewarisi perusahaan keluarganya bertemulah Andi dan menjalin asmara dengan berbagai masalah namun di ujung mereka resmi menjalani pernikahan dengan bahagia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32

Tahun-tahun berlalu, dan Arlan bukan lagi sekadar nama koordinat di peta Borneo; ia telah menjadi unit pengukuran bagi kesehatan planet. Liman tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi ketenangan kakeknya, Andi, dan ketajaman teknis ibunya, Arla. Namun, ia memiliki satu kelebihan yang tidak dimiliki generasi sebelumnya: ia mampu berkomunikasi dengan "bahasa" hutan dan laut secara intuitif.

Di bawah kepemimpinan Liman, Arlan memasuki fase yang disebut "The Great Integration" (Integrasi Agung).

Inovasi Saraf Planet (The Planetary Nerve)

Liman tidak lagi melihat teknologi sebagai alat pantau, melainkan sebagai sistem saraf. Ia mengembangkan "Arlan Synapse", sebuah jaringan sensor organik yang terbuat dari jamur miselium yang dimodifikasi secara genetik.

 * Internet Hutan Alami:

   Miselium ini tumbuh di bawah tanah, menghubungkan akar-akar pohon ulin dengan terumbu karang di pesisir. Jaringan ini mengirimkan sinyal biokimia secara real-time, memungkinkan hutan untuk "memberitahu" laut jika ada polusi nutrisi yang berlebih, dan laut akan merespons dengan mengatur penguapan air melalui turbin Arlan Flow.

 * Ekonomi Berbasis Restorasi:

   Mata uang dunia mulai bergeser. "Arlan Coin" menjadi standar baru, di mana nilai kekayaan seseorang tidak dihitung dari tumpukan emas, melainkan dari kontribusi oksigen dan keanekaragaman hayati yang mereka lindungi melalui portofolio Arlan.

Ujian Terakhir: Badai Besar 2045

Ujian sesungguhnya datang ketika perubahan iklim yang terakumulasi selama berabad-abad memicu badai super yang mengancam pesisir Borneo dan Mediterania secara bersamaan. Dunia menahan napas, melihat apakah infrastruktur hijau Arlan mampu bertahan melawan kemurkaan alam yang mereka coba sembuhkan.

Di pusat kendali, Arla yang sudah berambut perak menatap layar dengan cemas. Namun, Liman justru mematikan semua layar monitor.

"Ibu," kata Liman lembut. "Kita sudah membangun ini bukan untuk meluncurkan perintah, tapi untuk membiarkan alam bekerja."

Liman membawa ibunya dan Elias ke dermaga. Mereka melihat pemandangan menakjubkan: saat ombak raksasa menghantam, terumbu karang Reef-Genesis tidak pecah; mereka justru melentur dan menyerap energi ombak, sementara hutan mangrove di muara mengunci tanah dengan akar-akar ulin yang telah diperkuat. Arlan tidak melawan badai; Arlan menelan badai itu dan mengubah energinya menjadi daya listrik bagi ribuan desa di sekitarnya.

Perpisahan Siska

Di tengah badai yang mulai mereda, Siska duduk di kursi goyangnya, memandangi foto tua Andi yang sedang memegang palu kayu. Ia merasa waktunya sudah cukup. Ia telah melihat benih yang ia tanam bersama Andi tumbuh menjadi hutan yang mampu melindungi dunia.

"Ndi," bisiknya pada angin yang berhembus melalui celah dinding kayu ulin. "Jembatannya sudah sampai ke seberang."

Siska pergi dengan damai di pelukan Arla dan Elias, tepat saat pelangi pertama setelah badai besar muncul di atas muara. Kematiannya menandai berakhirnya era para perintis dan dimulainya era para penjaga.

Epilog: Peradaban Simbiosis

Kini, Arlan telah menjadi kota hutan pertama yang sepenuhnya mandiri. Manusia tinggal di rumah-rumah yang tumbuh dari pohon, bernapas dengan udara yang disaring oleh teknologi bio-mekanik, dan makan dari hasil laut yang melimpah karena sistem rotasi otomatis Elias.

Mahesa, yang kini menjadi legenda hidup di usia seratus tahun lebih, sering terlihat duduk di bawah pohon ulin induk—pohon yang dulu diselamatkan Siska. Ia tidak lagi memegang tablet atau data. Ia hanya mendengarkan suara angin.

Dunia di luar sana perlahan mulai mengikuti jejak Arlan. Gurun-gurun di Afrika mulai menghijau dengan teknik irigasi Arlan Flow, dan es di kutub mulai stabil berkat audit karbon global yang tak tergoyahkan.

Arlan telah membuktikan sebuah kebenaran sederhana: bahwa bisnis terbaik adalah bisnis yang mencintai pemiliknya—yaitu Bumi itu sendiri.

Malam itu, Liman berdiri di puncak menara pemantau tertinggi. Ia melihat cahaya lampu desa-desa Arlan yang berpendar lembut, menyatu dengan cahaya bintang di langit dan pendar biru di laut. Ia mengambil palu tua milik kakeknya yang selalu ia bawa, lalu mengetukkannya tiga kali ke tiang kayu utama.

"Kita masih di sini," bisiknya. "Dan kita akan selalu di sini."

Suara ketukan itu merambat melalui miselium, turun ke akar, menyeberangi sungai, dan bergema jauh di kedalaman samudera Mediterania. Sebuah janji yang kini dijaga oleh seluruh planet.

Di bawah kepemimpinan Liman, Arlan tidak lagi hanya sekadar perusahaan restorasi, melainkan telah menjadi "Sistem Operasi Bumi". Namun, tantangan terbesar bagi Liman bukan datang dari musuh luar, melainkan dari dalam: bagaimana menjaga kemanusiaan di tengah teknologi yang sudah hampir menyerupai dewa.

Inisiatif "Akar Kesadaran" (The Roots of Consciousness)

Liman menyadari bahwa dunia yang terlalu otomatis akan membuat manusia kehilangan koneksi emosional dengan tanah. Ia memperkenalkan kebijakan yang mengejutkan dewan direksi Arlan Global: "Waktu Tangan Kosong".

 * Mandat Manual:

   Setiap teknisi Arlan, termasuk para ahli AI tingkat tinggi, diwajibkan menghabiskan satu bulan dalam setahun untuk menanam bakau atau memahat kayu tanpa bantuan robotika. Mereka harus merasakan lecet di tangan, sama seperti yang dirasakan Andi dulu.

 * Kurikulum Simbiosis:

   Anak-anak di seluruh dunia kini belajar menggunakan "Arlan Glass"—kacamata augmented reality yang tidak menunjukkan iklan, melainkan menunjukkan aliran nutrisi di dalam pohon atau migrasi paus di bawah samudera secara real-time.

Penemuan "Gema Purba" (The Ancient Echo)

Suatu hari, saat Liman melakukan penyelaman di palung terdalam Mediterania menggunakan kapal selam bertenaga gravitasi, sensor Arlan Blue menangkap frekuensi yang belum pernah tercatat. Itu bukan suara mesin, bukan pula suara hewan. Itu adalah suara pergeseran tektonik yang berirama—seolah bumi sedang bernapas dalam tidur panjangnya.

Liman menyebutnya sebagai "Gema Purba". Ia menyadari bahwa selama ini manusia hanya mendengarkan permukaan. Dengan bantuan algoritma ibunya dan intuisi biologis ayahnya, ia berhasil menerjemahkan frekuensi tersebut.

"Ini bukan data bencana, Ibu," lapor Liman kepada Arla yang kini menghabiskan masa tuanya di kebun botani. "Ini adalah instruksi. Bumi sedang memberitahu kita di mana titik-titik panas yang butuh pendinginan alami. Ia sedang menuntun tangan kita."

Arlan Sebagai Organisme Global

Visi Siska tentang "satu petak hutan" kini telah meluas menjadi visi "satu planet yang bernapas". Arlan meluncurkan proyek "The Great Canopy", sebuah jaringan jembatan gantung raksasa yang menghubungkan hutan-hutan di seluruh dunia, memungkinkan satwa liar bermigrasi lintas benua tanpa pernah menyentuh jalan aspal buatan manusia.

Di Borneo, pusat dari segalanya, rumah kecil Andi kini telah menjadi museum sekaligus jantung saraf dunia. Tidak ada beton di sana. Semuanya tumbuh. Dindingnya adalah jalinan ulin hidup, atapnya adalah daun-daun yang memanen air hujan dan cahaya matahari dengan efisiensi 99%.

Malam Terakhir Sang Penjaga

Di usia senjanya, Liman duduk di dermaga, persis di tempat ayah dan ibunya dulu sering berdiskusi. Di tangannya, ia memegang fosil kerang Mediterania pemberian Elias dan palu kayu milik Andi.

Dunia di tahun 2100 adalah tempat yang sangat berbeda. Langit kembali berwarna biru muda yang murni, dan es di kutub telah mencapai ketebalan yang aman. Manusia tidak lagi takut pada alam; mereka adalah bagian dari harmoni itu.

Liman melihat seorang anak kecil—cucunya—sedang asyik berbicara dengan sebuah sensor miselium di akar pohon ulin.

"Apa yang dia katakan, Nek?" tanya anak itu pada Arla yang masih setia mendampingi perjalanan waktu ini.

Arla tersenyum, melihat kemiripan antara anak itu dengan mendiang suaminya, Elias. "Dia bilang, terima kasih karena sudah mendengarkan."

Liman memejamkan mata, merasakan denyut nadi bumi di bawah telapak kakinya. Ia tahu, tugas keluarganya telah selesai. Jembatan telah dibangun, samudera telah disembuhkan, dan hutan telah kembali berkuasa dengan bijaksana. Arlan bukan lagi sebuah nama bisnis. Arlan adalah nama dari janji yang ditepati.

Sejarah baru manusia dimulai di sini—bukan sebagai penguasa planet, melainkan sebagai saudaranya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!