⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan asal mula jatuhnya Sang Sultan!
SINOPSIS PART 2: BULAN KUTUKAN & KEBANGKITAN RAJA
Dulu, uang triliunan adalah solusi mutlak bagi Raka Adiyaksa. Namun, bagaimana jika kekayaan itu tak lagi bisa melindunginya?
Sistem menjatuhkan hukuman terberat: "Roda Nasib Buruk". Selama 30 hari, Raka harus bertahan hidup tanpa cheat Sistem di tengah badai musibah.
Mampukah Raka melewati bulan kutukan ini dan merebut kembali takhtanya? Siapa yang akan setia, dan siapa yang akan berkhianat?
Roda nasib telah berputar. Pembalasan dendam baru saja dimulai. Selamat datang di neraka Sang Sultan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RESTORAN
Suasana di ujung telepon hening selama tiga detik.
"Oh, begitu ceritanya! Kalau begitu saya akan langsung memecat karyawan itu sekarang juga!" Saat kembali berbicara, nada suara Bambang seketika berubah jadi sok tegas dan menjunjung tinggi keadilan. Mungkin dalam hatinya dia membatin, si Raka ini baperan dan pendendam banget sih masalah sepele aja sampai lapor ke owner. Tapi mau bagaimanapun juga, dia sama sekali tidak berani menyinggung Raka.
"Nggak usah repot-repot," potong Raka, mengambil alih ponsel dari tangan Wahyu. "Mending Pak Bambang sebut nominal aja deh, jual restoran ini ke saya."
"Waduh..." Pihak di seberang sana langsung ragu-ragu. Jelas sekali dia masih sangat puas dengan operasional dan omzet restorannya saat ini. Terlihat jelas dia enggan melepaskannya.
"Sepuluh miliar, gimana?" pancing Raka.
"Ehhh..." Bambang kembali bimbang.
"Lima puluh miliar!" Raka langsung menaikkan tawarannya lima kali lipat.
"Deal!" Bos Bambang langsung setuju tanpa pikir panjang.
Restoran ini toh baru saja buka. Kalau dihitung-hitung dari biaya renovasi, sewa ruko di Senopati, sampai gaji karyawan, modalnya sama sekali tidak sampai menyentuh angka segila itu. Ditambah lagi, di awal buka ini margin keuntungannya memang lumayan bagus. Dijual 50 Miliar jelas cuan gila-gilaan!
Wahyu cuma bisa membuang napas kasar. Belum sempat dia menarik lengan Raka untuk mencegahnya, angka 50 miliar itu sudah meluncur mulus dari mulut bosnya. Bos Raka ini emang bener-bener sultan yang kelakuannya out of the box!
Setelah panggilan ditutup, keduanya mengobrol sambil berjalan menuju lift.
"Wahyu, lu atur waktu deh buat ngurus proses akuisisi restoran tadi," perintah Raka saat mereka sudah berada di dalam lift.
"Siap." Wahyu hanya bisa mengiyakan dengan pasrah. Bosnya yang puas foya-foya, ujung-ujungnya dia juga yang ketiban repot ngurusin berkasnya. "Bos, aset lu kan udah merajalela di mana-mana, ngapain repot-repot beli restoran steak segala sih?"
Dalam hati Wahyu, dia yakin bosnya ini cuma kepancing emosi sesaat dan niatnya cuma mau ngasih pelajaran ke manajer tengil tadi. Tapi kalau dipikir pakai logika bisnis, mengakuisisi restoran yang main trik antrean palsu jelas berpotensi jadi investasi bodong yang merugi.
"Ya jelas buat cari cuan lah!" Raka merentangkan kedua tangannya, menatap Wahyu seolah asistennya itu baru saja menanyakan hal paling bodoh sedunia. "Kalau bukan buat cari duit, ngapain gua beli restoran? Lu kira cuma sekadar pengen punya tempat makan siang doang?"
Wahyu pun membeberkan analisis logisnya: "Industri F&B itu pengelolaannya ribet banget, margin keuntungannya tipis, dan turnover karyawannya tinggi. Terus, kalau menu makanannya gitu-gitu aja, lama-kelamaan customer juga bakal bosan dan kabur. Yang paling krusial, Bos sendiri kan yang sadar dari awal kalau mereka cuma main trik hunger marketing. Jelas-jelas pelanggannya sepi, jangan-jangan aslinya mereka tuh lagi bakar duit atau merugi. Terus ngapain malah dibeli?"
Wahyu sangat tidak percaya. Fakta senyata itu saja bisa dia baca dengan mudah, masa iya insting investasi sekelas Raka bisa sebodoh itu sampai kebobolan?
Mendengar penjelasan detail itu, Raka malah tertawa lepas.
"Lu tuh yang nggak paham big picture-nya. Kita emang ngeluarin duit, keliatannya mahal, tapi aslinya kan cuma 50 miliar doang."
Wahyu tidak berani membantah, tapi dalam hatinya dia mengumpat bosnya ini terlalu sering flexing merendah untuk meroket. Uang 50 miliar itu bukan daun woi!
Raka melanjutkan argumennya, "Tapi kan ini jatuhnya restoran selebgram yang lagi viral! Lu sadar nggak sih? Jaman sekarang, bisnis apa pun kalau udah ditempelin embel-embel 'viral' atau 'kekinian', pasti jadinya cuma gimmick doang. Kelihatannya mentereng dari luar, padahal dalemnya kopong. Ibarat macan kertas doang."
Penjelasan itu malah bikin Wahyu makin pusing tujuh keliling. "Terus masalahnya di mana? Kita berdua sepakat kalau produk viral itu kebanyakan cuma gimmick kosmetik. Sorry ya Bos, bukannya bermaksud nyinggung status lu yang juga sempet viral di sosmed... tapi ngapain kita repot-repot beli restoran yang cuma modal gimmick?"
Di mata Wahyu, seandainya Raka mau merintis restoran baru dari nol pakai namanya sendiri, restoran itu dijamin bakal jauh lebih meledak daripada tempat steak abal-abal tadi.
"Kata siapa barang kopong nggak bisa ngasilin cuan?" Kalimat Raka berikutnya tiba-tiba membuka pikiran Wahyu. "Sekarang tuh zamannya semua sektor industri lagi sibuk ngerampok 'Pajak Orang Bodoh' (FOMO). Selama produk viral pamornya udah naik, netizen dari ujung mana pun pasti bakal kepo dan maksain diri buat nyobain."
"Intinya sih rasa makanannya enak atau nggak tuh urusan belakangan kan? Bisnis model ginian mah yang penting sekali pukul untung, manfaatin gelombang FOMO buat ngeruk duit customer yang gampang dibodohin, habis itu cabut," ucap Wahyu, akhirnya menangkap maksud si Bos.
"Salah besar!" Di luar dugaan, Raka punya visi yang jauh lebih licik. "Rasanya tetep wajib enak, Bro! Kita bakal hire Executive Chef paling top di seantero Jakarta. Kita bangun reputasinya beneran, terus kita sikat dengan gelombang promosi dari KOL dan food vlogger ternama. Dalam sekejap, netizen dari Sabang sampai Merauke bakal berbondong-bondong datang ke sini cuma buat nyicip."
"Oh, jadi lu mau bikin mereka ketagihan setelah gigitan pertama, terus balik lagi dan lagi? Sampe-sampe mereka ngerasa biaya tiket pesawat sama hotel buat ke mari itu sepadan sama harga makanannya?" Wahyu membelalak kaget.
Raka tersenyum tipis, lalu berkata dengan penuh percaya diri, "Nah, ini yang otak lu belum sampai. Percaya nggak kalau gua bilang, gua bisa mendongkrak roda perekonomian satu kota ini cuma dari modal restoran steak doang?"
"Nantinya, ekosistem kuliner, perhotelan, dan pariwisata di sekitar sini bakal meledak gila-gilaan. Jakarta bakal bertransformasi jadi destinasi hotspot nomor satu di Indonesia buat para pencari konten, bahkan perlahan bakal level up jadi kota pariwisata bintang lima."
Wahyu melongo. Kalau cuma ngomongin restoran balik modal, dia masih bisa percaya. Tapi khayalan tingkat tinggi Raka barusan rasanya kelewat halu dan absurd.
"Emang beneran ada orang sebanyak itu yang rela bakar duit gila-gilaan cuma demi nyenengin lidah?"
Menghadapi keraguan Wahyu, Raka hanya membalas bahwa asistennya itu masih terlalu polos dalam melihat dunia. Di otaknya, sebuah masterplan sudah tersusun rapi. Di era di mana industri viral merajai pasar, hospitality atau layanan jasa adalah mata uang yang paling berharga.
Saat ini, stigma masyarakat tentang produk viral itu selalu identik dengan kualitas abal-abal dan harga yang kelewat mahal (overpriced). Namun, saat garis batas semua industri menyatu menjadi industri pelayanan (service), maka hospitality-lah yang menjadi indikator utama penentu apakah dompet pelanggan mau terbuka lebar atau tidak.
"Bayangin, kalau ada turis luar daerah yang dateng ke sini murni cuma penasaran pengen makan siang. Terus, mereka notice kalau hotel-hotel di sekitar sini ternyata super nyaman tapi harganya gila-gilaan murahnya. Menurut lu, mereka bakal balik lagi buat kedua kalinya nggak?" tanya Raka pada Wahyu, walau sebenarnya dia seakan sedang meyakinkan dirinya sendiri.
Ini adalah manuver strategis pertama dalam grand design-nya untuk memonopoli Jakarta. Dalam waktu dekat, kota ini akan sepenuhnya dikuasai oleh gurita bisnis Kerajaan Adiyaksa miliknya.
Wahyu memutar otak, sampai akhirnya dia mencapai aha-moment. Untuk mengikat hati orang-orang, modal kuliner enak saja tidak cukup. Seandainya Jakarta bisa disulap jadi kota wisata estetik yang bikin orang ketagihan staycation, didukung dengan fasilitas layanan publik dan hospitality paripurna namun ramah di kantong, menciptakan user experience kelas atas bagi wisatawan... Astaga, ini ladang bisnis yang potensinya nyaris tak terbatas!
Memang benar, kemajuan industri pariwisata akan secara otomatis mengatrol roda ekonomi kota secara masif. Tapi, apa mesin penggerak utamanya untuk memompa turis datang? Jawabannya jelas: Industri Viral.
"Nah, karena lu udah paham, Wahyu, sekarang lu sebar tim buat ngeberesin urusannya. Jangan cuma make sure proses handover dari Bos Bambang berjalan mulus, tapi lu juga harus akuisisi semua hotel dan kedai kopi di radius sekitar restoran itu!" Raka langsung tancap gas. Pria ini memang perwujudan sejati dari orang yang mengutamakan aksi di atas teori belaka.
"Buat start awal, gua cairin dana tiga ratus miliar. Langsung gua transfer ke rekening lu sekarang juga," ucap Raka dengan flexing brutalnya.
Wahyu sampai gemetar saking kagetnya memegang tanggung jawab sebesar itu. Dia ini tipe orang yang minim hasrat materialistis, obsesinya pada uang nyaris nol. Tapi entah kenapa, pesona karisma bosnya yang gila namun visioner ini sukses membuatnya bertekuk lutut kagum.
"Oh ya, sekadar beli asetnya doang kagak cukup. Lu wajib rombak dan kasih training ulang buat semua pegawainya. Siapapun yang attitude pelayanannya jelek dan nggak memenuhi standar kompetensi operasional kita, langsung pecat detik itu juga!" pesan Raka panjang lebar. "Terus, lu wajib lobby vendor provider internet raksasa. Gua mau fasilitas Wi-Fi di setiap kamar hotel kita tembus kecepatan dewa, nggak boleh ada kata 'lag'!"
"Habis itu, lu kerahkan tim untuk ngelobi semua supplier amenities hotel kelas atas se-Jakarta. Stok minuman minibar sampai perlengkapan kontrasepsinya harus pakai brand premium. Peras harga belinya seminim mungkin dari vendor! Konsepnya: kita ngasih rate kamar paling murah di pasaran, tapi kualitas pelayanannya five-star luxury supaya tamu berasa dimanjain bak raja di rumah sendiri."
Rangkaian strategi bisnis radikal yang mengalir lancar dari mulut Raka itu sukses membuat Wahyu merinding takjub hingga ke ubun-ubun.