Eleanor Lichtenzell adalah pewaris takhta bisnis raksasa kedua di Inggris, namun baginya, kemewahan adalah penjara. Setelah merusak sepuluh kencan buta dengan lidahnya yang tajam, ia memilih melepaskan marga dan kekayaannya demi sebuah kebebasan. Namun, dunia luar lebih kejam dari yang ia duga. Di bawah bayang-bayang pengaruh ayahnya yang mencoba memutus jalannya, Eleanor berakhir menjadi pelayan di sebuah kafe eksklusif pinggir laut.
Disana, ia bertemu dengan Edward Zollern, sang penguasa ekonomi Inggris yang dingin, perfeksionis, dan memiliki segalanya. Ketertarikan Edward yang awalnya hanya karena rasa penasaran berubah menjadi obsesi yang gelap saat ia menyadari bahwa Eleanor adalah teka-teki yang tak bisa ia pecahkan. Edward tidak tahu bahwa gadis tanpa asal-usul yang ingin ia tundukkan itu sebenarnya adalah putri dari pebisnis yang setara dengannya. Sebuah permainan kekuasaan dimulai, di mana cinta bukanlah tentang kasih sayang, melainkan tentang siapa yang lebih dulu berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skandal "Calon Istri" yang Fenomenal
Pagi itu, kediaman mewah keluarga Lichtenzell terasa sangat ceria, sesuatu yang jarang terjadi sejak Eleanor kabur. Tuan Lewis Lichtenzell sedang duduk di meja makan sambil menyesap kopi paginya ketika ia membaca berita utama di tabletnya. Sebuah senyum lebar merekah di wajahnya yang biasanya kaku.
"Edward Zollern... kau benar-benar pria yang luar biasa," gumam Lewis sambil tertawa rendah. "Hanya dalam satu hari, kau berhasil membuat putriku mengakuinya sendiri di depan umum. Sepertinya aku tidak perlu khawatir lagi."
Bagi Lewis, ini adalah bukti bahwa Edward adalah satu-satunya pria yang memiliki "frekuensi" yang sama dengan Eleanor. Pria yang bisa membuat Eleanor menyerah pada egonya sendiri.
Kantor Lichtenzell Group – 09:00 Pagi. Eleanor melangkah masuk ke kantornya dengan kacamata hitam besar, berharap tidak ada yang mengenalinya setelah kejadian memalukan kemarin. Namun, suasana kantor terasa sangat aneh. Semua staf yang biasanya sibuk mendadak berhenti dan membungkuk lebih dalam dari biasanya. Beberapa sekretaris tampak berbisik-bisik sambil menatapnya dengan pandangan kagum sekaligus iri.
Begitu sampai di ruangannya, Tata, asisten pribadinya yang biasanya sangat kalem, tiba-tiba masuk dengan wajah pucat dan tangan gemetar memegang sebuah majalah bisnis dan tabloid gosip nomor satu di London.
"Nona... Nona Eleanor," Tata terbata-bata.
"Ada apa, Tata? Apa ada saham yang anjlok?" Tanya Eleanor sambil melepas kacamatanya, mencoba bersikap tenang.
"Bukan saham, Nona. Tapi... nama baik Nona," Tata meletakkan tablet dan majalah itu di depan Eleanor. "Beritanya sudah menjadi headline di mana-mana. Fenomenal, Nona!"
Eleanor membaca judul besar di layar tersebut:
"Misteri Calon Permaisuri Zollern Terungkap! Putri Mahkota Lichtenzell Melabrak Kantor Pusat Zollern Group dan Mengaku Sebagai Calon Istri Sang Kaisar!"
Di sana bahkan ada foto buram saat Eleanor berdebat dengan resepsionis, lengkap dengan keterangan saksi mata yang mengatakan bahwa Eleanor datang dengan wajah "penuh gairah" dan ingin segera bertemu "calon suaminya".
Eleanor merasa dunianya runtuh. Ia memegangi kepalanya yang mendadak pening tujuh keliling. "Gairah?! Aku datang ingin melempar bunga ke wajahnya, bukan karena gairah!" teriak Eleanor frustrasi. "Ini salahku... kenapa aku harus menyebut kata 'calon istri' kemarin?! Bodoh, Eleanor! Bodoh!"
"Tapi Nona, Tuan Edward tidak membantahnya sama sekali. Perwakilan Zollern Group justru mengeluarkan pernyataan 'No Comment' yang justru menguatkan berita ini," tambah Tata dengan polos.
"Tentu saja dia tidak membantah! Dia menyukai kekacauan ini!" Eleanor menggebrak meja. Ia merasa terjebak dalam jaring yang ia buat sendiri.
Di sisi lain kota, Lyodra baru saja membanting majalah yang sama ke lantai. Wajahnya yang cantik kini tampak mengerikan karena amarah. Matanya merah menatap foto Eleanor di majalah tersebut.
"Jadi wanita ini? Eleanor Lichtenzell?" Desis Lyodra. "Pantas saja Edward begitu sombong. Ternyata dia bukan sekadar pelayan kafe biasa, tapi putri mahkota dari rival bisnisnya sendiri."
Lyodra berjalan mondar-mandir di ruang tamunya yang luas. Ia pikir Eleanor hanyalah gadis miskin yang mudah disingkirkan dengan uang atau intimidasi. Tapi mengetahui bahwa Eleanor adalah seorang Lichtenzell, jalannya menjadi seribu kali lebih sulit.
"Lichtenzell dan Zollern... jika mereka bersatu, aku tidak akan pernah punya celah untuk kembali," gumam Lyodra sambil mengepalkan tangan. "Tapi Edward tidak mencintainya, aku yakin itu. Ini pasti hanya masalah bisnis. Aku harus mencari cara untuk menghancurkan citra 'wanita sempurna' ini di mata publik."
Siang Hari – Kantor Edward Zollern. Edward sedang berdiri di depan jendela besar kantornya, melihat berita yang sama di layar ponselnya. Ia tidak terlihat marah sedikit pun. Sebaliknya, ia tampak sangat puas.
"Rey," panggil Edward.
"Ya, Sir?"
"Kirimkan satu tangkai bunga kali ini. Jangan seribu, cukup satu," perintah Edward dengan senyum miring yang sangat menyebalkan.
"Bunga apa, Sir? Mawar lagi?"
"Bukan. Kirimkan bunga Baby’s Breath. Dan tulis di kartunya: 'Terima kasih atas pengakuan publiknya, Calon Istriku. Kau membuat harga sahamku naik lima persen pagi ini. Sepertinya pernikahan kita memang membawa hoki.'"
Rey hanya bisa menggelengkan kepala melihat tuannya yang semakin hari semakin mahir menggoda Eleanor. "Nona Eleanor pasti akan langsung datang ke sini untuk membunuh Anda, Sir."
"Aku menantikannya, Rey. Beritahu keamanan, jika 'Calon Istriku' datang lagi, jangan ditahan. Langsung antarkan ke ruanganku."
Edward tahu, permainan ini baru saja dimulai. Dan bagi pria yang selalu hidup dalam kaku dan dingin, amarah Eleanor adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa benar-benar hidup.