Nara menjalin hubungan asmara dengan Dewa sejak duduk di bangku SMA. Lima tahun kemudian Nara dilamar sang kekasih. Tetapi, di hari pernikahan, Nara menikah dengan orang lain yaitu Rama.
Rama adalah tunangan sepupunya yang bernama Gita.
Hidup memang sebercanda itu. Dewa dan Gita diam-diam menjalin hubungan di belakang Nara. Hubungan itu hingga membuahkan kehidupan di rahim Gita.
Demi ayahnya, Nara menerima Rama. Menjadi istri dari lelaki yang tidak punya pekerjaan tetap.
Simak cerita selengkapnya 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_va, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Rama menaruh helm di kursi meja makan. Berjalan mendekati istrinya yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi. Ditariknya tubuh Nara ke dalam pelukan.
"Maaf." Bisiknya di atas kepala Nara.
"Aku dikuasai cemburu. Tidak seharusnya mencurigai mu."
Nara menghela napas. Sempat kecewa karena melihat keraguan di wajah Rama. Suaminya itu selain manis kayak permen, juga seperti api yang mudah tersulut.
"Bau debu, Mas." Nara mendorong tubuh suaminya pelan. Tidak menanggapi permintaan maaf sang suami.
"Bikin mual."
"Oh, maaf." Rama mengurai pelukan.
Nara keluar dari pelukan suaminya mengambil teh celup dan cangkir. Nara bersendawa dua kali, tetapi rasa mual masih ada.
"Kita makan di luar, bagaimana?" tanya Rama yang sudah tidak memakai jaket.
"Males ...." Nara menyahut cuek. Menekan tombol di dispenser. Mengisi air panas di cangkir.
"Mas Rama mandi deh."
"Iya, ini juga mau mandi." Rama mengambil handuk di tempat jemuran.
"Atau mau jalan jalan ke mana gitu? Mall, toko buku, nonton." Masih berusaha membujuk istrinya yang terlihat sebal.
Nara menggeleng. Membawa cangkir ke ruang depan. Tampak motor suaminya terparkir tepat di depan pintu. Bahkan kunci motor belum dicabut. Motor itu produk lama, belum memakai sistem keyless.
"Ceroboh," omel Nara, mendorong motor ke depan jendela. Lalu mencabut kunci motor.
"Mbak Nara, sini!" Tika memanggil Nara seraya melambaikan tangannya.
"Ngumpul sini!"
Nara melihat tetangga lain seperti Bu Nur dan Emi. Bu Nur berusia lima puluh tahunan, tinggal berdua dengan suaminya yang bekerja sebagai staf TU di sekolah. Emi usia tiga puluhan, punya suami dan dua anak.
Nara mengantongi kunci motor. Kedua kakinya memakai sandal Rama yang kebesaran. Berjalan pelan menuju rumah kontrakan Tika.
Ngomong-ngomong soal Rena, Nara sudah tidak pernah melihat perempuan itu selama seminggu. Rumah kontrakannya tertutup terus. Karena penasaran, Nara pun bertanya.
"Katanya mau nikah di kampung halamannya, Mbak Nara. Katanya Rena sendiri. Waktu aku jemur sepatu di depan rumah, dia nunggu taksi bawa koper besar," jelas Emi panjang lebar. "Aku tanyain deh."
"Oh, gitu." Nara menyeruput tehnya yang masih agak panas.
"Agak lega ya, Mbak Nara. Si Rena dari dulu naksir Mas Rama. Tapi bertepuk sebelah tangan," kata Bu Nur.
"Udah jadi rahasia umum dia ngejar-ngejar Mas Rama," imbuh Tika.
"Ayo, dimakan gehu nya."
"Kenapa disebut gehu, Mbak? Ada yang nyebut tahu isi juga...." Nara mengambil satu tahu.
"Ada toge di dalam tahu. Kalau tahu isi sama aja sih, ketambahan kol dan wortel," seloroh Tika.
"Tahu isi pokoknya," timpal Emi.
"Mbak Nara, dicari suami tuh."
Nara melihat Rama yang berdiri di ambang pintu. Nara cuek saja, duduk agak menyamping. Meneruskan obrolan ringan dibumbui gosip. Fase menjadi ibu-ibu yang suka nongkrong di rumah tetangga.
Rama masuk ke dalam rumah. Duduk sendirian di sofa, menonton siaran berita tentang perang dunia. Sesekali menoleh ke belakang, melihat dari kaca jendela. Tampak Nara tertawa. Ia menarik napas panjang, sepertinya tidak mudah mendapatkan maaf dari istrinya.
Menunggu istrinya yang ngobrol di rumah tetangga, Rama mengecek nomor ponsel yang mengirim foto. Sepertinya nomor baru karena saat dilacak lewat aplikasi tidak ada kontak yang menyimpan nomor tersebut.
...****************...
"Des, Desi! Di mana sikat gigiku!?" Bianca yang berada di dalam kamar berteriak keras.
Terdengar suara bayi yang menangis karena kaget. Bianca pun keluar dari kamar mandi. Memarahi pengasuh yang bernama Ria.
"Maaf, Nyonya. Non Nindy terkejut karena suara Nyonya ...."
"Harusnya....."
"Ada apa ini?" Sekar memasuki kamar, di belakangnya ada Desi.
"Aku cari sikat gigi." Bianca mendelik ke arah Desi.
"Kamu buang? Kalau dibuang diganti yang baru dong."
"Sa... saya nggak buang sikat gigi, Nyonya," sanggah Desi.
Sekar pun menyuruh Desi mengambil sikat gigi baru di tempat penyimpanan. Desi bergegas keluar kamar.
"Hal sepele nggak perlu marah-marah. Kamu hanya kehilangan sikat gigi," ucap Sekar.
"Kamu seorang ibu, kasihan Nindy yang terganggu."
"Spontan, Ma...." Bianca mendecak pelan.
Sekar menghela napas pendek. Memandangi Nindy yang ditimang pengasuh.
"Bagaimana asi mu, sudah lancar?" tanya Sekar.
"Belum lancar, Ma. Makanya sambung susu formula," jawab Bianca bersamaan dengan Desi yang memberikan sikat gigi.
Sekar kembali menghela napas. Tidak ingin menyalahkan atau menghakimi. Memang ada beberapa perempuan yang asinya tidak lancar karena berbagai faktor.
"Aku mau mandi dulu," ucap Bianca, masuk ke kamar mandi.
"Apa kamu membuang sikat gigi, Des?" Sekar ikutan bertanya.
"Atau mungkin terjatuh saat kamu bersih-bersih?"
"Saya nggak buang, Nyonya. Kemungkinan terjatuh, nanti saya cari-cari dulu," sahut Desi.
"Benar katamu. Mungkin terjatuh." Sekar berlalu dari kamar. Bibirnya menyungging senyum tipis. Sikat gigi itu tidak jatuh melainkan diambil.
Bianca yang di dalam kamar mandi. Tidak langsung mandi, duduk di pinggiran bathtub. Menghubungi Karina.
"Halo, Ma. Bagaimana-?"
"Bia stop ngurusi Rama. Fokus pada tujuanmu yang ingin menghancurkan kebahagian keluarga Restu. Kalau kamu ketahuan sekarang mata-matai Rama, kamu akan gagal."sela Karina.
"Aku ingin Rama cerai dari istrinya itu."
"Oh, mama mohon, Bianca. Kamu bisa melakukan itu setelah menyingkirkan orang-orang yang telah membuatmu menderita. Jangan gegabah karena obsesi."
Bianca mendengus. Dia tahu mengenai hubungan yang melingkari Nara, Rama, Dewa, dan Gita. Ia ingin mencari celah menghancurkan kebahagian Rama. Tidak rela dimiliki oleh perempuan lain.
"Bianca, ingat tujuan awalmu. Ingat itu! Mama telah memerintah orang suruhanmu segera pergi sebelum ketauan!"
"Jangan marah marah. Daa.. aku tutup." Bianca mengacak rambutnya. Dia tertarik karena setiap hari bertemu Rama. Radit juga tampan, tapi Rama lebih memesona.
...****************...
Nara berjalan pulang ke rumah kontrakannya. Saat masuk, ia melihat suaminya tertidur di sofa dengan posisi duduk bersandar. Merasa kasihan sekaligus sebal, Nara membiarkan Rama di ruang tamu.
Cangkir dan kunci motor diletakkan di meja makan. Nara duduk sendirian di dapur. Memikirkan kehidupan rumah tangga yang tidak mudah.
"Masih marah?"
Nara tidak menoleh, tetapi beranjak dari kursi. Boleh, kan, sesekali merajuk? Bilang tidak marah, tetapi wajah manyun dan memilih mencuci cangkir bekas teh.
Rama menarik napas, bingung juga menghadapi istrinya yang ngambek untuk pertama kalinya.
Nara melewati Rama setelah mencuci cangkir. Duduk di sofa, tangan kanannya memegang remot mengganti siaran berita ke acara musik. Berpindah lagi ke sinetron. Dia pikir, suaminya akan menyusul duduk di sebelahnya. Ternyata dugaannya meleset.
Si suami lewat membawa kunci motor. Nara melirik pun tidak. Rama mengendarai motor entah pergi kemana.
Nara membuang napas kasar. Televisi itu pun padam, remot ditaruh di tempat semula.
Lima menit kemudian, suaminya pulang. Sekalian memasukkan motor karena hari mulai gelap dan ingin istirahat. Membawa kantong plastik berisi wedang ronde.
Nara menyalakan lampu teras, lantas duduk lagi. Merasa dicueki Rama yang langsung ke dapur setelah menutup dan mengunci pintu. Nara pun pindah tiduran di kasur, tidur miring menghadap dinding.
"Sudah maem?" tanya Rama.
"Belum."
"Mau makan apa?"
"Nggak lapar."
"Masih ngambek?"
"Enggak tahu
"Setidaknya udah mau bicara." Rama terkekeh.
*
*
*
*
*
*
Selamat berbuka puasa.
Up dikit dulu sembari nunggu tarawih. Jangan lupa pada tarawih 🙏🥰
Org yg berpacaran kalau sudah menikah n tinggal brng akan ketahuan sifat nya
Nindy juga bukan anak radit kah 🤨🤨
Siapa dibelakang Bianca, yg pasti org penting yg bisa melindungi nya 👀
Selalu menilai diri perfect, pdhal etikamu 0 NOL, , , , pamer sana sini ciihh, , , ,
Org macam spt mu harus di panasi sama kemesraan Nara & Rama
nanggung kelanjutan nya 😬😬