Episode 1 – Pertemuan yang Tak Pernah Terduga
Arga Wibawa adalah putra dari seorang ayah yang memiliki perusahaan ternama di Jakarta. Takdir mempertemukannya kembali dengan Alya Putri Kirana, cinta pertamanya yang tak pernah bisa ia lupakan.
Sejak perpisahan mereka di bangku SMA, Arga harus mengikuti kedua orang tuanya pindah ke Bali karena ayahnya mendapatkan proyek besar di sana. Mau tak mau, Arga meninggalkan Jakarta dan melanjutkan pendidikan kuliahnya di Pulau Dewata. Meski waktu terus berjalan, bayangan Alya tak pernah benar-benar pergi dari pikirannya.
Bertahun-tahun kemudian, Arga akhirnya lulus dari kuliahnya. Dengan tekad yang kuat, ia memutuskan kembali ke Jakarta untuk mencari sang pujaan hati. Sebulan setelah kelulusannya, Arga bersiap dan terbang menuju kota yang penuh kenangan itu.
Setibanya di Jakarta, Arga mulai mencari pekerjaan sambil berusaha menelusuri keberadaan Alya.
Sementara itu, kehidupan Alya tak berjalan semulus ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandi Wabaswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 – Tekanan dan Air Mata
Hari itu terasa lebih berat dari biasanya. Suara orang tua Alya di ruang tamu terdengar tegas, hampir menuntut, sementara Rayhan berdiri di dekat mereka dengan ekspresi dingin, seperti raja yang mempertahankan wilayahnya. Alya duduk di kursi, tangan terkepal di pangkuan, menahan gemetar yang datang bukan dari dingin, tetapi dari tekanan yang menyesakkan hatinya.
“Ibu dan ayah tidak ingin melihatmu salah langkah, Alya,” kata ibunya, nada tegas dan penuh otoritas. “Rayhan adalah pria yang tepat untukmu. Masa depanmu aman bersamanya.”
Alya menunduk, menahan air mata. “Tapi… hatiku…” suaranya nyaris tak terdengar.
Ayahnya menambahkan, “Hati memang penting, tapi Alya, dunia tidak bisa diatur hanya oleh perasaan. Kau harus realistis. Rayhan punya semua yang kau perlukan.”
Rayhan tersenyum tipis, angkuh, namun tatapannya menusuk. “Alya, lihat aku. Masa depanmu jelas bersamaku. Jangan biarkan kenangan masa lalu menjerumuskanmu ke pilihan yang salah.”
Alya menutup mata sejenak. Dunia di sekitarnya penuh suara-suara yang menekan, membuat dadanya sesak. Tetapi dalam hatinya, satu hal terasa jelas: cinta pertamanya, Arga, tidak pernah pergi. Setiap kenangan, setiap senyuman yang pernah mereka bagi, masih hidup di hatinya. Cinta itu sederhana, tulus, dan tidak pernah padam—tidak seperti kemewahan dan kesempurnaan Rayhan yang dingin dan angkuh.
Dengan napas berat, Alya berdiri. Matanya merah karena menahan tangis, tapi sorot matanya kini tegas. “Aku sudah lelah dipaksa. Aku tidak bisa hidup sesuai keinginan orang lain. Dan aku tidak bisa bersama seseorang yang membuat hatiku menutup, Rayhan.”
Rayhan memandangnya, matanya berkilat marah. “Apa yang kau katakan?” Suaranya tinggi, menuntut kepatuhan.
“Yang aku katakan jelas!” Alya menatap Rayhan lurus ke mata. “Hatiku bukan milikmu, dan aku tidak bisa mencintaimu. Aku memilih… Arga. Cinta pertamaku, yang tulus, yang selalu ada dalam hatiku.”
Rasa lega dan takut bercampur dalam dada Alya. Ia tahu keputusan ini akan memicu amarah orang tua, akan menimbulkan konflik, bahkan mungkin membuat Rayhan marah besar. Namun hatinya telah memilih. Ini bukan tentang kemewahan, status, atau masa depan yang terlihat aman. Ini tentang cinta sejati, tentang keberanian untuk mengikuti perasaan sendiri.
Rayhan menatapnya dingin, tubuhnya tegap, namun aura angkuhnya mulai goyah. “Kau… benar-benar memilih dia?” suara Rayhan rendah, penuh kemarahan dan kecewa. “Setelah semua yang kuberikan…”
“Tidak ada yang bisa memaksaku mencintai,” jawab Alya, suara tegas tapi lirih. “Aku menghargai apa yang kau lakukan, Rayhan, tapi hatiku milikku sendiri.”
Di sisi lain, Arga muncul dari belakang, langkahnya tenang, senyum hangatnya tetap sama seperti dulu. Ia menatap Alya, matanya berbicara tanpa kata: ia menerima keputusan Alya, dan ia siap menghadapi segala konsekuensi bersamanya.
Alya menangis, air mata campur antara lega dan sedih. Ia tahu bahwa keputusannya tidak mudah, bahwa ia akan menghadapi pertengkaran, ejekan, dan tekanan dari keluarga, bahkan kemungkinan kehilangan sebagian kenyamanan hidup. Namun satu hal jelas di hatinya: ia memilih cinta yang tulus, bukan dunia yang dipaksakan.
Ibunya memandangnya, wajahnya merah karena marah. “Alya! Kau tidak memikirkan masa depanmu!”
“Justru karena memikirkannya, aku memilih hatiku sendiri!” balas Alya dengan suara lantang. “Aku tahu apa yang aku inginkan. Aku memilih Arga, karena dia mencintaiku tanpa syarat, bukan karena status atau uang!”
Ayahnya terdiam sejenak. Rayhan menatap Alya dengan mata penuh kemarahan, namun tidak ada lagi kata-kata yang bisa menahan keputusan Alya.
Momen itu menandai titik balik. Alya menangis bukan karena takut, tetapi karena melepaskan beban yang menekan hatinya selama bertahun-tahun. Air mata itu adalah simbol keberanian, keberanian untuk mengatakan “aku memilih cinta pertamaku, Arga,” meski dunia menentang.
Sore itu berakhir dengan ketegangan yang masih tersisa, tetapi juga ada kedamaian dalam hati Alya. Ia tahu jalan ke depan tidak mudah, bahwa ia harus menghadapi reaksi keluarga, menghadapi Rayhan yang marah, bahkan menghadapi dunia yang menilai pilihannya. Namun satu hal pasti: ia tidak akan menyesal memilih cinta yang tulus dan hatinya sendiri.
Dan di sanalah Bab 8 berakhir: Alya berdiri tegas, air mata mengalir, tetapi hatinya telah menemukan jalannya. Ia siap menghadapi konsekuensi, karena cinta pertamanya, Arga, adalah satu-satunya yang ia pilih.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰