di bawah umur di larang membaca.
Rina adalah definisi dari "anak muda zaman now"—ekspresif, jahil, dan sedikit re-og. Baginya, dunia sosial adalah tempat bermain untuk menggoda siapa saja, termasuk seorang pria misterius di aplikasi HelloTalk yang ia panggil dengan sebutan "Mas Arab". Rina mengira ia sedang memegang kendali, sampai akhirnya takdir membawanya bertemu langsung dengan sosok tersebut.
Ternyata, "Mas Arab" adalah Rohman, seorang Ustadz muda yang kaku, alim, namun memiliki tingkat kesabaran setebal kamus bahasa Arab. Pertemuan pertama mereka langsung meledak dengan kekonyolan Rina yang mencoba mengetes iman sang Ustadz.
Namun, Rina salah besar. Di balik sikap tenangnya, Rohman adalah tipe pria "sat-set" yang tidak suka membuang waktu. Saat Rina terus-menerus menguji batasan kesabarannya, Rohman justru membalas dengan sebuah langkah skakmat: Mempercepat akad nikah sore itu juga!
Kini, Rina terjebak dalam status sebagai istri sah. Niat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5 kepanikan di balik kekesalan
Rina menggeledah tumpukan belanjaannya di atas kasur dengan panik. Sprei kasurnya sampai berantakan karena ia sibuk membolak-balik bantal dan guling.
"Aduh, mana kantong plastik softex aku?! Salsa, gue mau ke warung bentar!" seru Rina tanpa berpikir panjang.
"Lho, Rin! Tunggu!" Salsa mencoba menahan, tapi Rina sudah melesat keluar kamar seperti anak panah.
Rina berlari ke ruang tengah dengan wajah panik. Ia benar-benar lupa—atau mungkin otaknya sedang korslet karena panik—bahwa di ruang tamu masih ada "si orang aneh" alias Ustadz Rohman yang sedang berbincang serius dengan Ayah dan Imron.
"Mau ke mana kamu, Nak? Ini sudah sore?" tanya Bunda yang kebetulan sedang lewat membawa nampan kosong.
Rina berhenti mendadak di tengah ruangan, tepat di hadapan semua orang. "Aduh, Bunda! Ini gawat! Kantong kresek aku hilang!" ucapnya sambil celingukan mencari plastik hitam yang ia beli tadi pagi.
"Itu ada di dapur, Nak, tadi Bunda pindahkan," jawab Bunda tenang.
"Waduh, Bunda! Bukan plastik itu yang aku maksud! Ini pokoknya gara-gara orang aneh tadi softex aku hilang! Mana harus ganti lagi!" Rina mengomel tanpa sadar bahwa kata "orang aneh" itu ditujukan langsung pada tamu yang duduk hanya berjarak dua meter darinya.
Mendengar kata "softex" disebut dengan lantang di depan tamu laki-laki, wajah Ayah langsung berubah jadi warna kepiting rebus karena malu. Imron tersedak kopinya sampai terbatuk-batuk hebat. Sementara itu, Salsa yang baru muncul di pintu kamar hanya bisa menepuk jidatnya sendiri.
Rina tidak peduli, ia langsung berlari keluar rumah menuju warung depan dengan kecepatan penuh.
Di ruang tamu, keheningan menyelimuti. Rohman berdehem pelan, mencoba mengalihkan pandangannya ke arah cangkir teh. Meskipun ia seorang Ustadz yang paham agama, mendengar seorang gadis berteriak soal pembalut di depan umum tetap saja membuatnya sedikit salah tingkah. Namun, ada binar geli yang tertahan di matanya.
"Maaf, Nak Rohman... Rina memang kalau panik suka tidak punya saringan bicara," ucap Ayah dengan suara lirih karena menanggung malu yang luar biasa.
"Tidak apa-apa, Pak RT," jawab Rohman tenang, suaranya tetap stabil meskipun telinganya sedikit memerah. "Mungkin karena kejadian di depan masjid tadi, konsentrasinya jadi buyar."
Imron akhirnya berhenti batuk dan menatap Rohman dengan tatapan simpati. "Ustadz, saya ingatkan sekali lagi, adik saya itu unik. Kalau sampeyan jadi nikah sama dia, setiap hari bakal jadi hari penuh kejutan. Barusan itu baru level satu."
Sementara itu, di warung depan, Rina sedang sibuk mengomel sendiri sambil menunggu kembalian.
"Gara-gara cowok tinggi itu, fokus gue ilang! Mana tadi plastik gue ketinggalan di mana sih? Masa jatuh pas gue lari ngejar dia? Duh, malu-maluin aja!" gumam Rina sambil menghentak-hentakkan kakinya ke tanah.
Tanpa ia sadari, saat ia kembali ke rumah nanti, kejutan yang lebih besar sudah menunggunya. Karena ternyata, barang yang ia cari tidak hilang di jalan, melainkan terselip di dalam mobil mewah milik Ustadz Rohman saat mereka berpapasan tadi.
Rina melangkah gontai memasuki teras rumah. Bahunya merosot, wajahnya ditekuk sedalam mungkin. Sepanjang jalan dari warung, ia tak henti-hentinya menggerutu tentang kesialan yang menimpanya hari ini.
"Lho, Nak? Kenapa kamu?" tanya Bunda yang menyambut di depan pintu tengah, melihat putri bungsunya yang tadi pergi dengan api kemarahan kini kembali dengan wajah yang lebih mendung.
Rina tidak langsung menjawab. Ia melempar tas kecilnya ke kursi kosong, tepat di hadapan Ayah, Imron, dan tentu saja... Ustadz Rohman. Rina benar-benar sedang berada di titik "masa bodoh".
"Ini semua pokoknya salah orang aneh tadi! Andai aku nggak sok baik ngasih kunci mobilnya, mungkin barang aku nggak bakal hilang!" ujar Rina meledak-ledak. Ia masih berdiri membelakangi tamu tersebut, mengomel sambil menunjuk-nunjuk ke arah jalanan seolah-olah Rohman masih berada di masjid.
Imron yang melihat adiknya mulai bertingkah di luar batas hanya bisa mengurut dada. "Beli lagi, Dek, kalau memang hilang. Jangan marah-marah terus, nggak enak didengar tamu," tegur Imron, mencoba memberi kode lewat kedipan mata.
"Enak saja kamu ngomong ya, Cak! Capek tau bolak-balik! Mana ini..." Rina tiba-tiba berhenti bicara, ia memutar tubuhnya dan sedikit mengangkat bagian samping gamis birunya dengan wajah mau menangis. "...tembus darahnya ke gamis kesayangan aku lagi! Dan juga, di warung stoknya udah habis!"
Hening.
Suasana ruang tamu seketika membeku. Ayah menunduk dalam-dalam, ingin rasanya menghilang dari bumi saat itu juga. Rohman yang baru saja hendak menyesap tehnya, kembali meletakkan cangkir itu dengan gerakan kaku.
"Lho, tadi kan Bunda lihat masih banyak, Dek?" tanya Bunda bingung.
"Maksudnya stok uangnya nggak ada! Mana aku mau minta uang sama Cacak, sekalian mau beli es krim buat nenangin diri!" bentak Rina sambil menghentakkan kakinya.
Saat itulah, pandangan Rina tidak sengaja beradu dengan mata tajam Rohman. Pria itu kini tidak lagi menatap cangkir, melainkan menatap Rina dengan ekspresi yang sulit ditebak—campuran antara kasihan, geli, dan sesuatu yang lebih dalam.
Tiba-tiba, Rohman merogoh saku kemeja kokonya. Ia mengeluarkan sebuah kantong plastik hitam kecil yang terlipat rapi, yang sejak tadi ia simpan.
"Mungkin... ini yang kamu cari?" suara bariton Rohman memecah keheningan. "Tadi tersangkut di spion mobil saya saat kamu lari. Saya mau memberikan di masjid tadi, tapi kamu sudah lebih dulu lari seperti dikejar hantu."
Rina mematung. Matanya menatap plastik hitam itu, lalu beralih ke wajah Rohman yang tampak sangat tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mendengar teriakan tentang "darah tembus".
"Itu..." Rina terbata. Rasa malu yang tadi hilang karena amarah, kini kembali menyerang dengan kekuatan sepuluh kali lipat. Ia melihat gamis birunya, teringat teriakannya, dan menyadari bahwa pria di depannya ini baru saja menyelamatkan "rahasia pribadinya".
"Ambil saja, Dek. Nak Rohman ini sudah niat baik menjaga barangmu," ucap Ayah dengan nada pasrah, seolah-olah tenaganya sudah habis menghadapi kelakuan putrinya.
Rina maju selangkah dengan kaku. Ia menyambar plastik itu dari tangan Rohman secepat kilat. "Makasih! Dan... jangan kepedean! Ini tetap salah kamu karena parkir sembarangan!" ketus Rina, lalu ia segera berbalik dan lari masuk ke dalam rumah secepat kilat, meninggalkan aroma parfum bunga dari gamisnya yang berkibar.
Salsa yang melihat dari kejauhan hanya bisa menutup wajah dengan kedua tangannya. "Aduh Rin... lo bener-bener legend," bisiknya.
Di ruang tamu, Rohman hanya bisa menggelengkan kepala pelan. "Sepertinya, saya harus menyiapkan stok es krim yang banyak jika nanti tinggal bersama dia," gumam Rohman pelan, membuat Imron tersenyum lebar dan Ayah sedikit merasa lega karena ternyata calon menantunya ini punya selera humor yang tangguh.