Lanjutan dari "Pesona Si Kembar (Ada Cerita Di Balik Gerbang Sekolah)"
Rachel dan Ronand menapaki jenjang pendidikan kuliah. Jurusan yang mereka ambil pun berbeda. Ronand dengan sifat serius dan sikap misteriusnya membuat banyak orang penasaran. Sedangkan Rachel, dengan gaya selengekannya namun selalu mencengangkan tentang prestasinya.
Di balik gerbang kampus, mereka mengukir cerita yang baru. Dimulai dari kekeluargaan, persahabatan, dan percintaan yang rumit. Semua akan menjadi satu padu dalam cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rengekan
"Rachel..." panggil seorang mahasiswi sambil melambaikan tangannya ke arah Rachel.
Hari ini Rachel berangkat kuliah tanpa drama. Bahkan Rachel tidak terlambat sama sekali karena Susan menjemputnya satu jam sebelum berangkat. Kini Rachel dan Susan sedang berada di kantin setelah jam pertama mata kuliah. Keduanya memutuskan ke kantin, menunggu jam kuliah selanjutnya. Keadaan kantin sangat ramai sehingga Rachel dan Susan bingung akan duduk dimana. Padahal mereka sudah membawa nampan berisi makan.
Tiba-tiba saja ada orang yang memanggil nama Rachel sambil melambaikan tangannya. Rachel mengalihkan pandangannya, ternyata salah satu panitia OSPEK yang memanggilnya. Dia adalah Karin yang dengan senang hati menawarkan agar duduk bersamanya. Terlihat di sana juga masih ada tiga kursi kosong.
"Itu orang kesambet setan apaan? Kok nawarin kita duduk bareng. Apa jangan-jangan mau ngerjain kita lagi?" bisik Rachel pada Susan yang berdiri di sampingnya.
"Dia cuma nawarin kamu duduk. Tapi nggak nawarin aku. Berarti aku nggak diajak," Entah mengapa, hari ini Susan merasa perasaannya sedikit sensitif. Pasalnya yang dipanggil hanya lah Rachel saja. Sehingga Susan merasa bahwa hanya Rachel saja yang diajak.
"Kita ini kan satu dan tidak dapat dipisahkan. Kalau aku duduk di sana, maka kamu juga dong. Masa aku sendirian menghadapi kakak tingkat yang kaya mak lampir itu," ucap Rachel yang langsung merangkul bahu Susan dengan sebelah tangannya. Sedangkan satu tangannya yang lain, memegang nampan berisi soto, siomay, dan jus strawberry.
"Ayo," ajaknya pada Susan agar mendekati Karin. Keduanya segera saja mendekati meja yang ditempati oleh Karin dan ketiga sahabatnya. Mereka mengabaikan bisik-bisik dari beberapa mahasiswa yang tampak mencemooh saat keduanya mendekati Karin.
"Halo, Kak Karin." sapanya pada Karin sambil tersenyum. Lebih tepatnya senyum basa-basi saja.
"Hai... Duduk sini. Nggak ada kursi kosong kan?" ucap Karin dengan senyum manisnya. Namun bagi Rachel dan Susan, tampak sangat aneh dan membuat mereka was-was.
Karin menawarkan Rachel untuk ikut duduk di tempatnya bersama ketiga sahabatnya. Apalagi melihat tak ada lagi kursi kosong di sana. Rachel dan Susan melihat ke arah ketiga sahabat dari Karin. Keduanya tengah menilai apakah ketiga sahabat Karin itu menerima mereka untuk duduk di sana atau tidak. Pasalnya Rachel dan Susan tidak mau ada rasa canggung pada meja yang ditempati mereka.
"Duduk aja. Ini fasilitas mahasiswa, bukan tempat khusus untuk kita." ucap salah satu sahabat Karin, Margaretha Adisya dengan acuh. Dia adalah sahabat Karin yang paling waras dibandingkan lainnya. Retha adalah nama panggilannya, tahu bahwa Rachel dan Susan tampak ragu untuk bergabung dengan mereka.
"Terimakasih," ucap Susan mewakili Rachel yang sudah duduk.
Rachel dan Susan tampak santai makan makanan mereka. Padahal Karin dan ketiga sahabatnya itu tampak terus memperhatikan keduanya. Lebih tepatnya memperhatikan Rachel karena waktu itu berurusan dengan Karin. Mereka sudah mendengar cerita tentang Karin yang harus berurusan dengan kembaran Rachel. Namun Rachel yang dilihat, tampak tak peduli. Pasalnya dia dan Susan berada di sana karena ajakan Karin sendiri.
"Apa ada masalah dengan wajah kami? Muka kita ada kuah soto atau sambal kacangnya? Atau muka kita terlalu glowing dibandingkan kalian?" tanya Susan tiba-tiba membuat Karin dan ketiga sahabatnya gelagapan. Mereka terus memandang dan menilai wajah dari Rachel juga Susan secara bergantian.
"Mereka belum pernah lihat bidadari yang turun dari langit, Ucan. Makanya pada melamun dan bengong ngelihatin kita," ucap Rachel sambil terkekeh pelan. Namun pandangannya sama sekali tak teralihkan dari siomaynya.
"Kami lihat hidungmu itu kok bengkok," ceplos Karin dengan asal.
"Nggak papa bengkok, ciptaan Tuhan udah begini kok. Mau diapain lagi coba? Operasi plastik, nggak deh. Mending duitnya buat beli berlian," ucap Rachel dengan santainya sambil mengibaskan rambut panjangnya.
Rachel seperti sengaja memamerkan atau memperlihatkan kalung juga anting berlian yang dipakainya. Bahkan gelang yang dipakainya juga terlihat di depan mata keempat kakak tingkatnya itu Sedangkan Karin dan ketiga sahabatnya tampak meringis kecil. Mereka tak menyangka kalau akan kalah telak jika berdebat dengan Rachel. Walaupun Karin pernah berdebat dengan Rachel, namun kali ini lawannya seperti ingin menunjukkan kelasnya.
Sedangkan Susan tampak menahan tawanya. Melihat wajah ketiga sahabat Karin sedikit pucat melihat perhiasan berlian yang dipakai oleh Rachel. Sahabat sekaligus adik iparnya ini jika sudah memamerkan sesuatu dan sombong, jagonya. Apalagi jika ditambah ada Mika dan Mama Martha. Perpaduan kesombongan yang lengkap.
"Daripada mengomentari fisik orang, mending belajar menghargai sesuatu dengan benar." ucap Susan dengan sindirannya.
"Oh ya... Kak Karin dicari tuh sama keponakanku. Dia minta ganti rugi sepedanya yang ditendang sama Kak Karin." ucap Rachel mengalihkan pembicaraan.
"Ini..." Tiba-tiba saja Karin mengambil dompet dan menyerahkan selembar uang seratus ribu sebagai ganti rugi.
"Apaan nih seratus ribu?" tanya Rachel dengan tatapan bingungnya.
"Buat bayar kerugian sepeda kecil pink waktu itu. Tinggal bawa aja itu ke tempat cuci motor, kan cuma kotor doang. Nggak rusak yang gimana-mana," ucap Karin dengan santainya.
Tiba-tiba saja, Rachel langsung berdiri dan berkacak pinggang. Susan juga ikut berdiri, menjaga agar Rachel tidak emosi. Sepeda Mika itu walaupun kecil, harganya jutaan. Namun bukan seperti yang dikatakan oleh Mika bahwa sepeda itu ada emas atau berliannya. Karin yang melihat Rachel tampak emosi pun hanya bisa meringis pelan. Sejak kejadian waktu OSPEK kemarin, Karin lebih kalem apalagi sekarang berhadapan dengan Rachel. Hal itu juga yang membuat semua mahasiswa dan ketiga sahabat yang mengenalnya, merasa aneh.
Enak aja. Itu ada yang bengkok,
Mana itu sepeda ada emas dan berliannya,
Sepeda apa yang ada berlian dan emasnya? Jangan aneh-aneh dong,
50 juta buat ganti rugi,
Ini namanya pemerasan,
Kalau tidak mau ganti, siap-siap aja buat jadi pembantunya keponakanku.
Rachel... Rachel...
Aduh...
***
"Nggak dapat ganti rugi kemarin traktir bakso," rengek Rachel pada Susan yang berjalan di sampingnya.
Ternyata Rachel sengaja minta ganti rugi 50 juta kepada Karin untuk mengganti uang yang keluar saat mentraktir bakso dan mie ayam. Walaupun habisnya tidak sampai 50 juta. Namun ia malah tidak mendapatkan ganti rugi apapun dari Karin. Susan yang mendengar hal itu hanya bisa menghela nafasnya pelan.
"Kalau traktir orang itu yang ikhlas. Pantas saja Mika selalu bilang kalau kamu jarang sedekah," ucap Susan dengan sindirannya.
"Ikhlas kok, tapi caranya nggak gitu. Masa kesalahan oranglain tapi aku yang bayar," Rachel menghentakkan kakinya berulangkali sambil berjalan ke arah kelasnya.
Rachel...
Baby Rachel...
Ngapain kamu panggil-panggil kekasihku?
Baru juga kekasih, belum suami.
Heh...