NovelToon NovelToon
TERJEBAK OBSESI

TERJEBAK OBSESI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Duda
Popularitas:505
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

update setiap tanggal genap

Lin Yinjia adalah mahasiswi biasa yang hidupnya sederhana namun hangat bersama keluarganya. Ketika adiknya mengalami kecelakaan dan terbaring koma, kehidupannya perlahan berubah. Demi membantu biaya pengobatan, Yinjia terpaksa mempertahankan perjodohan yang sudah diatur keluarganya dengan Gu Zhenrui, pewaris keluarga kaya yang arogan dan penuh kesombongan.

Di kampus, Yinjia harus menghadapi berbagai gosip, sindiran, dan pengkhianatan dari orang-orang yang dulu ia percaya. Ketika ia mulai menyadari bahwa tunangannya berselingkuh, Yinjia memutuskan untuk berhenti menjadi gadis yang hanya diam menerima semuanya.

Kesempatan datang saat ia diterima magang di sebuah perusahaan ekspor impor besar di Shanghai. Di sanalah ia bertemu Guo Linghe—presiden direktur perusahaan yang dingin, kaku, dan memiliki dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupan Yinjia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah yang Hangat

Lin Yinjia selalu mengatakan bahwa rumahnya kecil. Bukan kecil dalam arti benar-benar sempit, tapi kecil jika dibandingkan dengan apartemen mewah milik keluarga Gu yang pernah ia lihat di foto-foto media sosial. Rumahnya hanyalah bangunan dua lantai di pinggir Shanghai yang sudah ditempati keluarganya sejak ia kecil.

Cat dindingnya tidak selalu rapi. Ada beberapa bagian yang mulai memudar. Tangga kayunya kadang berderit jika diinjak terlalu keras. Tapi bagi Yinjia, rumah itu selalu terasa hidup.

Pintu depan terbuka ketika ia mendorongnya dengan bahu sambil masih melepas sepatu.

“Aku pulang!” Suara langkah kaki cepat terdengar dari dapur. “Jiejie!”

Seorang remaja laki-laki berlari keluar sambil membawa sendok kayu di tangannya. Rambutnya sedikit berantakan, dan ada sedikit noda saus di pipinya.

Lin Yichen.

Adik laki-laki Yinjia yang baru berusia tujuh belas tahun. Yinjia menatapnya lalu tertawa kecil. “Kamu masak lagi?”

“Aku cuma bantu Mama,” jawab Yichen cepat. “Kamu terlambat hari ini.”

Yinjia menaruh tasnya di kursi dekat pintu.

“Kelompok tugas. Mereka ribut soal presentasi.”

“Berarti kamu yang akhirnya mengerjakan semuanya lagi.”

Yinjia meliriknya dengan mata menyipit. “Kamu kenapa bisa tahu?”

Yichen hanya mengangkat bahu sambil tersenyum nakal. Dari dapur, suara seorang wanita terdengar. “Yinjia, cuci tangan dulu sebelum makan!”

“Iya, Ma!” Ibunya, Mei Lan, muncul dari dapur dengan apron yang masih terikat di pinggangnya. Tangannya memegang piring besar berisi tumis sayur yang masih mengepul. Wajahnya terlihat lelah, tapi tetap hangat seperti biasa.

Mei Lan selalu seperti itu. Tidak pernah benar-benar terlihat santai, tapi juga tidak pernah terlihat marah. Ia meletakkan piring di meja makan kecil mereka. “Ayahmu belum pulang,” katanya.

Yinjia sudah mencuci tangan dan duduk di kursi. “Masih kerja?”

“Katanya ada lembur di toko.”

Ayahnya, Lin Wei, memiliki toko kecil yang menjual peralatan listrik rumah tangga. Bukan usaha besar, tapi cukup untuk menjaga keluarga mereka tetap hidup dengan layak.

Yinjia mengambil sumpit. “Aku bisa bantu di toko akhir pekan nanti.”

Mei Lan langsung menatapnya. “Kamu fokus kuliah saja.”

“Tapi—”

“Kamu mahasiswa universitas bagus, Yinjia,” kata ibunya pelan. “Itu sudah cukup membuat kami bangga.”

Yinjia tidak menjawab. Kadang kalimat itu membuatnya sedikit bersalah. Ia tahu orang tuanya bekerja keras agar ia bisa kuliah di universitas di Shanghai.

Di sisi lain, ia juga tahu ia bukan mahasiswa yang luar biasa. Ia sering gugup saat presentasi. Sering salah bicara. Dan kadang ceroboh dalam hal kecil.

Yichen duduk di kursi seberangnya sambil mengambil nasi. “Kak, hari ini ada cerita apa di kampus?”

“Tidak ada.”

“Kamu pasti bohong.”

Yinjia menghela napas panjang. “Baiklah, sedikit.”

Yichen langsung terlihat tertarik. “Cerita!”

“Di kelas pemasaran tadi aku salah menyebut nama dosen.”

Yichen langsung tertawa keras. “Kamu memanggilnya apa?”

“Aku bilang ‘Profesor Zhang’ padahal dia ‘Profesor Wang’.”

“Ya Tuhan.”

Mei Lan ikut tertawa kecil sambil menuangkan sup ke mangkuk mereka.

“Dia marah?”

“Tidak juga,” jawab Yinjia. “Dia cuma menatapku lama sekali.”

“Kalau aku jadi dia juga begitu,” kata Yichen.

Yinjia melempar sumpitnya ke arah adiknya.

“Diam kamu.”

Meja makan kecil itu dipenuhi suara tawa. Hal-hal seperti itu sering terjadi di rumah mereka. Tidak ada kemewahan. Tidak ada drama besar. Hanya percakapan sederhana, makanan hangat, dan kebiasaan lama yang membuat semuanya terasa aman.

Beberapa menit kemudian pintu depan terbuka. “Ah, akhirnya pulang.” Suara Lin Wei terdengar dari pintu. Ia masuk sambil melepas jaket tipisnya.

Pria itu berusia hampir lima puluh tahun, tapi wajahnya masih terlihat kuat meskipun ada garis lelah di sekitar matanya.

“Ayah!” Yichen berdiri dan membantu mengambil tasnya.

“Kamu makan dulu,” kata Mei Lan.

Lin Wei duduk di kursi kosong. “Aku hampir menutup toko ketika pelanggan terakhir datang,” katanya. “Lampu rumahnya rusak.”

Yinjia tersenyum. “Berarti ayah menyelamatkan rumah seseorang.”

Lin Wei tertawa pelan. “Kalau begitu ayah harus dibayar seperti pahlawan.”

Makan malam berlanjut dengan percakapan ringan. Yichen bercerita tentang latihan basketnya.

Mei Lan bercerita tentang tetangga baru di ujung jalan. Dan Yinjia hanya mendengarkan sambil sesekali menambahkan komentar.

Setelah makan selesai, Yinjia membantu mencuci piring. Air hangat mengalir di tangannya. bunya berdiri di sebelahnya sambil mengeringkan piring. “Kamu terlihat lelah,” kata Mei Lan.

“Sedikit.”

“Kuliah sulit?”

“Tidak juga.”

Mei Lan menatapnya sebentar. “Apakah keluarga Gu menghubungimu lagi?”

Yinjia berhenti sebentar. Pertanyaan itu selalu datang cepat atau lambat. “Belum,” jawabnya.

Ibunya tidak mengatakan apa-apa. Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Perjodohan itu sudah ada sejak dua tahun lalu. Keluarga Gu membantu toko ayahnya saat sedang kesulitan waktu itu.

Sebagai balasan, mereka membuat kesepakatan yang tidak pernah benar-benar dijelaskan secara rinci pada Yinjia. Ia hanya tahu satu hal.

Suatu hari nanti, ia akan menikah dengan Gu Zhenrui. Pria yang bahkan hampir tidak ia kenal.

“Ma,” kata Yinjia pelan.

“Hm?”

“Menurut Mama… apakah orang bisa menikah dengan seseorang yang tidak mereka kenal?”

Mei Lan tidak langsung menjawab. Ia menaruh piring terakhir di rak. “Kadang orang menikah bukan karena cinta,” katanya akhirnya. “Tapi karena waktu membuat mereka saling memahami.”

“Dan kalau tidak?”

Ibunya tersenyum kecil. “Kalau tidak, mereka belajar untuk kuat.”

Jawaban itu tidak benar-benar menenangkan. Tapi juga tidak membuatnya semakin takut. Yinjia mengeringkan tangannya dengan handuk.

Di ruang tamu, ayah dan Yichen sedang menonton berita sambil berdebat soal pertandingan basket. Suasana itu terasa sangat biasa. Sangat normal.

Yinjia berdiri di ambang pintu dapur dan memperhatikan mereka. Rumah kecil itu dipenuhi suara yang ia kenal sejak kecil. Tawa ayahnya. Komentar keras Yichen. Langkah ibunya yang sibuk. Ia selalu berpikir hidupnya akan terus seperti ini. Tenang. Sederhana. Hangat.

Ia tidak tahu bahwa beberapa minggu lagi semuanya akan berubah. Dan rumah yang terasa begitu aman itu akan menjadi tempat yang penuh kecemasan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!