NovelToon NovelToon
Dicampakan Suami Gila Harta, Diratukan Oleh Mafia Jahat

Dicampakan Suami Gila Harta, Diratukan Oleh Mafia Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: de banyantree

Ternyata di belahan dunia ini masih tersisa seorang pria berhati malaikat. Meski semua orang tak mempercayai itu. Sebab yang mencintaiku itu adalah seorang mafia jahat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Liburan untuk Jasmine

Langkah kaki Zayn bergema di koridor rumah sakit yang sunyi. Setelah memastikan Laila tertidur pulas di bawah pengawasan ketat tim medis dan sepuluh pengawal bertubuh kekar, Zayn melangkah keluar. Matanya yang biasanya tenang kini berkilat seperti belati.

​Ia tidak menuju rumah, melainkan ke sebuah apartemen mewah di pusat kota—tempat persembunyian Jasmine setelah kekacauan di ballroom.

​Sesampainya di sana, Zayn tidak mengetuk. Ia menendang pintu ganda itu hingga terbuka lebar. Di dalam, Jasmine sedang duduk di sofa dengan segelas anggur di tangan, rambutnya acak-acakan, dan tawa sinis masih tersisa di bibirnya.

​"Oh, lihat siapa yang datang," Jasmine berdiri, sempoyongan namun matanya menyalang. "Pahlawan kesiangan kita sudah datang. Bagaimana kabar si jalang kecil itu? Masih hidup?"

​Zayn melangkah maju, auranya begitu menekan hingga Jasmine mundur selangkah sampai terbentur meja. "Jaga bicaramu, Jasmine. Kamu baru saja menghancurkan masa depan keluargamu sendiri dalam satu malam."

​Jasmine tertawa terbahak-bahak, suara yang terdengar parau dan menyakitkan telinga. "Hancur? Kamu pikir aku peduli dengan saham ayahku? Kamu yang mempermainkan aku, Zayn! Kita sudah direncanakan menikah sejak lama! Lalu tiba-tiba kamu membawa perempuan rendahan itu ke depan publik? Kamu pikir aku ini apa? Sampah yang bisa dibuang begitu saja?"

​Zayn menarik kursi, duduk dengan tenang di hadapan Jasmine yang sedang meledak-ledak. Ketenangan Zayn justru membuat Jasmine semakin meradang.

​"Aku tidak pernah menjanjikan cinta padamu, Jasmine. Itu hanya kesepakatan bisnis orang tua kita," ucap Zayn dingin.

​"Bisnis?! Aku mencintaimu sampai gila, Zayn! Aku memberikan segalanya!" teriak Jasmine sembari melempar gelas anggurnya ke dinding. Prang! Serpihan kaca berserakan, persis seperti vas bunga di ballroom tadi.

​Zayn menarik napas panjang, lalu merogoh saku jasnya. Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dan meletakkannya di atas meja.

​"Kamu bilang kamu memberikan segalanya?" Zayn tersenyum miring, sebuah senyum yang tidak mencapai mata. "Termasuk memberikan dirimu pada pria lain di kelab malam tiga bulan lalu saat aku sedang dinas di Singapura?"

​Wajah Jasmine seketika pucat pasi. "A-apa maksudmu? Jangan mengada-ada!"

​"Buka amplopnya, Jasmine. Aku bukan tipe pria yang bicara tanpa data," ujar Zayn santai, menyilangkan kakinya.

​Dengan tangan gemetar, Jasmine membuka amplop itu. Isinya bukan hanya foto-foto dirinya yang sedang mabuk berat keluar dari hotel bersama seorang pria yang dikenal sebagai model playboy, tapi ada satu lembar kertas medis dengan kop surat rumah sakit ternama.

​Mata Jasmine terbelalak. Ia hampir kehilangan keseimbangan.

​"Hasil tes laboratorium itu akurat, kan?" tanya Zayn, suaranya kini merendah, nyaris berbisik namun tajam. "Usia kandunganmu sudah jalan delapan minggu. Selamat, Jasmine. Kamu hamil."

​Jasmine terdiam seribu bahasa. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Keangkuhan yang tadi ia tunjukkan luruh seketika.

​"Zayn... ini... aku bisa jelaskan. Malam itu aku mabuk karena sedih kamu mengabaikanku..." Jasmine mencoba meraih tangan Zayn, tapi Zayn menepisnya dengan jijik.

​"Jangan sentuh aku dengan tangan yang baru saja melukai Laila," desis Zayn. "Lucu sekali, ya? Kamu menyebut Laila jalang di depan ratusan orang, sementara kamu sendiri membawa benih pria lain di rahimmu sambil terus memaksaku untuk bertunangan."

​Jasmine mulai terisak, tapi bukan isak tangis penyesalan, melainkan ketakutan. "Zayn, tolong... jangan kasih tahu Ayah. Dia bisa membunuhku. Dia sangat menjaga kehormatan keluarga Baskoro."

​Zayn mengeluarkan ponselnya, mengutak-atik layar sebentar, lalu menunjukkannya pada Jasmine. Di layar itu sudah siap sebuah draf unggahan media sosial dan kontak beberapa wartawan gosip papan atas.

​"Bayangkan tajuk beritanya besok pagi," kata Zayn dengan nada santai seperti membicarakan cuaca. "'Putri Tunggal Keluarga Baskoro, Tunangan Zayn yang Teraniaya, Ternyata Hamil Duluan dengan Pria Lain'. Bagaimana menurutmu? Ratingnya pasti tinggi, kan?"

​"Jangan! Aku mohon, Zayn!" Jasmine jatuh berlutut di lantai. "Apa yang kamu mau? Aku akan melakukan apa saja! Tolong jangan hancurkan aku seperti ini!"

​Zayn membungkuk, menatap langsung ke mata Jasmine yang sembab. "Simpel saja. Pertama, kamu akan menandatangani surat pernyataan bahwa kamu menyerang Laila secara sadar dan bersedia menerima tuntutan hukum jika aku mau."

​"Iya, aku akan tanda tangan!" sahut Jasmine cepat.

​"Kedua," lanjut Zayn, "Kamu dan keluargamu akan menghilang dari kota ini. Pergi ke luar negeri, berobat, atau apa pun itu terserah. Aku tidak mau melihat wajahmu lagi di sekitar Laila. Jika aku melihatmu dalam radius satu kilometer dari dia, bukti kehamilan ini akan sampai ke tangan wartawan dalam hitungan detik."

​Jasmine menunduk, bahunya terguncang hebat. "Kamu benar-benar kejam, Zayn. Demi perempuan itu, kamu tega melakukan ini padaku?"

​Zayn berdiri, merapikan jasnya yang sedikit berdebu. "Kejam itu relatif, Jasmine. Bagiku, membiarkanmu tetap bebas setelah menyentuh Laila adalah bentuk ketidakadilan."

​Zayn berjalan menuju pintu, namun berhenti sejenak tanpa menoleh. "Oh, satu lagi. Jangan repot-repot mencari pria yang menghamilimu itu. Aku sudah memastikan dia 'pindah' ke tempat yang jauh di mana kamu tidak bisa meminta pertanggungjawaban darinya. Kamu sendirian sekarang."

​"Zayn!" teriak Jasmine histeris.

​Namun Zayn sudah melangkah keluar. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara malam yang dingin. Ponselnya bergetar—pesan dari pengawalnya di rumah sakit: “Nona Laila sudah bangun dan mencari Anda, Tuan.”

​Raut wajah Zayn yang tadinya sekeras batu seketika melunak. Ia segera masuk ke mobilnya.

​"Ke rumah sakit. Sekarang," perintahnya pada supir.

​Di dalam mobil, Zayn menatap jalanan kota yang lampunya mulai meredup. Ia tahu perang ini belum benar-benar berakhir, tapi setidaknya satu duri besar telah ia cabut. Baginya, melindungi Laila bukan lagi sekadar kewajiban, melainkan candu yang membuatnya merasa hidup.

​Sesampainya di kamar rawat, Zayn melihat Laila duduk bersandar di tempat tidur, tampak pucat namun sudah jauh lebih tenang.

​"Zayn? Kamu dari mana?" tanya Laila lirih.

​Zayn duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan Laila dan mencium punggung tangannya dengan lembut. "Hanya menyelesaikan sedikit sampah yang berserakan, Sayang."

​Laila menatapnya bingung. "Maksudmu Jasmine? Apa yang terjadi dengannya?"

​Zayn tersenyum manis, senyum yang sangat berbeda dengan yang ia berikan pada Jasmine tadi. "Dia memutuskan untuk 'liburan' panjang ke luar negeri untuk menjaga kandungannya. Dia tidak akan mengganggumu lagi. Janji."

​Laila tertegun. "Kandungan? Dia hamil?"

​Zayn mengangguk pelan. "Ya, dan dia cukup bijak untuk tahu bahwa tempat terbaiknya sekarang bukan di sini. Sekarang, fokuslah pada pemulihanmu. Kamu mau makan sesuatu? Atau mau aku bacakan buku sampai kamu tidur?"

​Laila tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Zayn. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya dilakukan pria itu, tapi di dalam dekapan Zayn, ia merasa dunia yang tadinya begitu kacau tiba-tiba menjadi sangat aman.

​Zayn mengelus rambut Laila, matanya menatap lurus ke depan dengan tatapan yang dingin. Siapa pun yang berani mengusik ketenangan ini, ia tidak akan segan-segan membakar seluruh dunia mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!