NovelToon NovelToon
The Dancer And The Night King

The Dancer And The Night King

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:306
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

Di panggung, Laras adalah doa yang dipanjatkan lewat gerak tubuh. Setiap jengkal gerak Laras adalah perpaduan antara kesucian tradisi dan kelembutan yang menghanyutkan. Ia adalah bidadari yang dikagumi banyak mata, namun hatinya tetap tulus, tak tersentuh oleh gemerlap dunia yang fana.​Di dunianya, Elang adalah hukum yang tak terbantahkan.​Sebagai pemilik nightclub terbesar di ibu kota, Elang terbiasa dengan kegelapan, dentum musik yang memekakkan, dan kepatuhan mutlak. Baginya, hidup adalah tentang kendali. Ia dingin, tegas, dan tak pernah membiarkan apa pun lepas dari genggamannya.​Dua dunia yang tak seharusnya bersinggungan itu bertabrakan saat Elang melihat Laras menari. Bagi orang lain, Laras adalah sebuah pertunjukan seni. Namun bagi Elang, Laras adalah kepemilikan.​Elang tidak hanya ingin melihat Laras menari; ia ingin mengurung sang penari dalam dunianya yang gelap. Ia ingin menjadi satu-satunya pria yang menyaksikan setiap lekuk gemulai dan kerlingan mata Laras yang mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ruang Kaca

Lantai parket kayu di studio latihan Nusantara Arts Foundation pagi itu berkilau tertimpa cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela besar. Studio itu sunyi, hanya ada suara deru napas Laras yang teratur dan gesekan halus telapak kakinya yang telanjang di atas kayu. Laras sengaja datang lebih awal. Ia perlu bicara dengan tubuhnya sendiri; ia perlu melepaskan beban pikiran yang semalam ditinggalkan oleh Maya melalui tarian.

Laras mengenakan baju latihan tipis berwarna putih tulang yang menempel erat di tubuhnya. Rambutnya diikat asal, menyisakan beberapa helai yang basah oleh keringat halus. Ia mulai bergerak.

Kali ini, gerakannya tidak memiliki struktur. Ia tidak sedang berlatih untuk pementasan besar itu. Ia sedang menari untuk jiwanya. Gerakannya melambat, meliuk seperti asap yang tertiup angin, penuh dengan gestur yang menggambarkan kesunyian dan kesedihan yang mendalam. Ia merendahkan tubuhnya, jemarinya menggapai lantai seolah sedang mencari sesuatu yang hilang, lalu bangkit dengan getaran di pundaknya yang menggambarkan kerapuhan.

Ia tidak sadar bahwa di ambang pintu yang sedikit terbuka, seorang pria berdiri mematung.

*

Elang Dirgantara telah berdiri di sana selama sepuluh menit. Ia datang untuk menjemput Laras, namun tarian itu menahannya. Elang, yang biasanya hanya melihat Laras sebagai objek keindahan yang harus ia lindungi dan miliki, kini melihat sesuatu yang lain.

Ia melihat kesedihan dalam setiap liukan tubuh Laras. Ia melihat bagaimana tangan Laras seolah mencoba mendobrak dinding transparan yang tak terlihat. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Elang merasakan sebuah hantaman di dadanya yang bukan berasal dari amarah atau gairah. Itu adalah rasa bersalah.

Apakah aku benar-benar mencekiknya? batin Elang.

Kata-kata Maya yang semalam sempat ia dengar melalui penyadap suara di apartemen Laras kembali terngiang. Tawanan yang jatuh cinta pada penculiknya. Elang menatap Laras yang kini sedang berputar pelan, wajahnya tampak sangat melankolis. Elang mulai berpikir, apakah sifat posesifnya yang membabi buta justru mematikan cahaya yang ia cintai dari wanita ini? Apakah ia sedang mengubah bidadari yang lincah ini menjadi burung dalam sangkar kaca yang sayapnya perlahan melayu?

Elang menarik napas panjang, mencoba menenangkan gejolak di hatinya. Ia tidak ingin menjadi monster yang ditakuti Laras, namun ia juga tidak tahu bagaimana cara mencintai tanpa menggenggam erat.

***

Laras mengakhiri tariannya dengan posisi berlutut, kepalanya tertunduk lesu. Saat itulah, suara tepukan tangan yang pelan dan berirama terdengar. Laras tersentak, ia mendongak dan menemukan Elang berjalan mendekatinya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Tuan... sejak kapan Anda di sana?" tanya Laras, suaranya sedikit parau.

Elang tidak menjawab. Ia melepas jas abu-abunya, menyisakan kemeja putih yang pas di tubuhnya, lalu duduk di kursi panjang di pinggir studio. Ia mengulurkan tangannya, sebuah isyarat yang kini sudah dipahami Laras sebagai undangan.

Laras berdiri, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, lalu berjalan mendekat. Tanpa ragu, ia duduk di pangkuan Elang, menyandarkan tubuhnya yang masih hangat dan lelah pada dada bidang pria itu.

Elang segera melingkarkan lengannya di pinggang Laras, menariknya hingga tidak ada jarak di antara mereka. Ia membenamkan wajahnya di leher Laras, menghirup dalam-dalam bau parfum melati yang bercampur dengan aroma keringat yang segar. Bagi pria lain, mungkin itu aroma biasa, namun bagi Elang, itu adalah aroma paling manis yang pernah ada.

"Tarianmu tadi... sangat sedih," bisik Elang, suaranya bergetar tepat di kulit leher Laras.

Laras terdiam sejenak, ia memainkan kancing kemeja Elang dengan jemarinya yang lentik. "Hanya sedang ingin melepaskan emosi, Tuan."

Elang menjauhkan wajahnya sedikit, menatap mata Laras dengan intensitas yang lebih lembut dari biasanya. "Laras, jawab jujur. Apakah kamu merasa tertekan bersamaku? Apakah kamu merasa aku telah mencuri kebebasanmu hingga kamu harus menari sesedih itu?"

Pertanyaan itu membuat Laras tertegun. Ia bisa melihat kejujuran dan sedikit kerapuhan di mata Elang. Ketulusan Elang untuk bertanya hal seperti itu menunjukkan bahwa pria ini benar-benar peduli pada perasaannya, melampaui sekadar keinginan untuk memiliki.

Laras tersenyum tipis, tangannya mengusap rahang tegas Elang dengan lembut. "Saya baik-baik saja, Tuan. Saya merasa aman di sini. Perhatian Anda... itu lebih dari cukup untuk meyakinkan saya kalau saya berharga."

Ia terdiam sebentar, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih rendah. "Namun, terkadang... hanya terkadang, saya rindu melihat dunia luar. Bukan untuk lari, tapi hanya untuk melihat bahwa dunia masih berputar di luar sana. Sesekali, saya ingin menghirup udara tanpa merasa harus bersembunyi"

Elang mendengarkan setiap kata Laras dengan seksama. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa terus-menerus menyembunyikan Laras jika ia ingin wanita ini tetap bahagia. Kepercayaan adalah sesuatu yang harus ia bangun, bukan paksaan yang harus ia tanamkan.

"Aku mengerti," ucap Elang pelan. Ia mencium kening Laras dengan penuh kasih sayang. "Aku tidak ingin kamu merasa terkekang. Aku hanya ingin kamu aman."

Elang terdiam sejenak, seolah sedang mengambil keputusan besar di dalam kepalanya. "Kalau begitu, bersiaplah nanti malam. Pakailah baju terbaikmu. Aku akan membawamu keluar."

Laras mendongak dengan mata berbinar. "Ke mana?"

"Ke The Eagle," jawab Elang dengan nada yang lebih serius. "Bukan sebagai penari panggilan seperti waktu itu. Tapi sebagai wanitaku. Di sana, kamu akan melihat sebagian besar dari duniaku yang sebenarnya. Kamu akan mengenal siapa pria yang memegang tanganmu ini."

Laras merasakan getaran aneh di dadanya. The Eagle adalah tempat di mana semuanya dimulai. Kembali ke sana bersama Elang sebagai pasangannya adalah sebuah langkah besar. Itu adalah pengakuan resmi di depan dunia hitam Elang bahwa Laras adalah miliknya.

"The Eagle adalah tempat yang keras, Laras. Banyak orang di sana yang tidak sepertimu. Tapi kamu akan bersamaku. Tidak akan ada yang berani menatapmu dengan cara yang salah," Elang mempererat pelukannya, seolah sedang menegaskan janjinya sendiri. "Ini adalah langkah pertama bagimu untuk mengenal siapa aku di luar apartemen ini."

Laras mengangguk, ia menyandarkan kepalanya di pundak Elang. Ia merasa takut, namun rasa penasarannya jauh lebih besar. Ia ingin tahu sisi lain dari pria yang posesif ini. Ia ingin tahu apa yang membuat Elang menjadi sosok yang begitu dominan sekaligus rapuh.

"Saya akan bersiap, Tuan," bisik Laras.

Pagi itu, di studio yang sunyi, sebuah kesepakatan baru terbentuk. Bukan kesepakatan tertulis di atas kertas kontrak, melainkan kesepakatan hati. Laras memberikan kepatuhannya, dan Elang mulai memberikan celah kecil pada sangkar emasnya.

Elang tetap memangku Laras dalam diam, menatap pantulan mereka di cermin besar studio. Di cermin itu, mereka tidak lagi terlihat seperti majikan dan tawanannya, melainkan seperti dua jiwa yang sedang mencoba menemukan frekuensi yang sama di tengah badai obsesi yang belum sepenuhnya mereda.

1
falea sezi
laras tak ubah nya jalang. bego bgt qm. laras mau. ma. laki celup. sana sini
Indryana Imaniar
woou awal yang keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!