Kaniya, seorang wanita muda yang berani, menolak perjodohan yang diatur oleh orang tuanya. Dia kabur dari rumah dan mencari perlindungan di perusahaan tempatnya bekerja. Di sana, dia bertemu dengan atasannya, Agashtya, yang juga kabur dari perjodohan orang tua. Mereka berdua bekerjasama untuk menjaga rahasia masing-masing, tapi suatu malam, mereka tak sengaja tidur bersama.
Beberapa bulan kemudian, mereka berdua terkejut ketika mengetahui bahwa orang yang dijodohkan oleh orang tua mereka tak lain adalah mereka sendiri. Kaniya dan Agashtya harus menghadapi kenyataan bahwa mereka telah jatuh cinta, tapi adakah kesempatan bagi mereka untuk bersama? Dan apa yang terjadi ketika adik mereka, Bintang dan Shanaya, juga saling jatuh cinta satu sama lain?
Kaniya dan Agashtya duduk di ruang kantor, mencoba memahami situasi mereka.
"Apa bapak percaya ini?" tanya Kaniya, suaranya hampir tidak terdengar
Agashtya menggelakkan kepalanya. "Saya tidak tahu apa yang harus dikatakan. Aku tidak pernah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Wilis , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Tak Terduga
Agashtya datang ke ruang ganti hanya sekedar mengecek tuxedo yang sudah di pilihkan oleh Kaniya. Pasalnya dia agak curiga dengan Kaniya.
Alex menceritakan yang tengah terjadi dilobi lewat satu jam yang lalu. Namun yang Agashtya bingung kan adalah saldo black card nya sama sekali tidak berkurang dan tidak ada data transaksi keluar maupun masuk
"Pilihannya tidak buruk juga. Aku suka. Tapi aneh dia gak ada pake blackcard dari gue..." Gumam Agashtya saat membuka ruangan itu
Sebelum makan siang memang Kaniya datang keruang kerja Agashtya untuk menyerahkan kunci ruang ganti yang sudah dikunci olehnya untuk antisipasi dari tangan-tangan tak bertanggungjawab.
Sesuai dugaan Kaniya, benar saja jika Sherly akan datang keruangan ganti Agashtya dan mungkin saja akan bermain-main dengan tuxedo yang telah disiapkan oleh Kaniya dengan susah payah.
Kaniya memang bekerja di perusahaan milik Agashtya baru sekitar 4 bulan lamanya. Tetapi sejak sekretarisnya berganti pencapaian royalty perusahaan Agashtya meningkat.
Sekretaris lama Agashtya tidak terlalu buruk hanya saja dikarenakan kerap mendapatkan penekanan dari Sherly. Bahkan disaat memergoki Sherly menggelapkan uang perusahaan disitulah dirinya difitnah oleh Sherly.
Bukan pihak perusahaan yang memecatnya melainkan satu hari setelah kejadian itu, dirinya sendiri lah yang mengundurkan diri dari perusahaan Agashtya.
Semua terjadi karena ulah Sherly yang menginginkan kedudukannya berpindah menjadi sekretaris Agashtya.
Namun disaat yang sama hadirlah Kaniya yang melamar pekerjaan di PT. Wijaya's New Era Group sehingga disaat itu pula lah Agashtya langsung memberikan Kaniya kedudukan sebagai sekretarisnya.
Seiring berjalannya waktu tumbuh pula benih-benih cinta dalam hati Agashtya pada Kaniya. Akan tetapi rasa gengsinya lebih besar sehingga sulit tuk menyatakannya.
Sebaliknya pula Kaniya yang kekanak-kanakan itu pun ternyata juga memiliki perasaan yang sama dengan Agashtya, namun dirinya tak pernah mau berterus terang.
Jangankan mengenai identitas aslinya berasal dari keluarga mana, perasaan hatinya pun ia simpan dengan rapat.
Entah apa yang dipikirkan oleh Kaniya tak ada yang memahaminya sama sekali termasuk kedua orang tuanya.
"Lama-lama aku tertarik pada gadis satu itu. Tapi aku juga gak punya keberanian buat ungkapin perasaan aku ke dia. Alex mungkin dia bisa bantu aku..." Gumam Agashtya yang masih berdiri di depan dua tuxedo pilihan Kaniya
Pemuda berusia 29 tahun ini pun melangkah keluar ruangan dan tak lupa pula ia mengunci kembali ruangan itu seperti semula.
Agashtya kembali ke ruang kerjanya. Ia duduk di kursi kebesarannya lalu menelepon Alex asisten pribadinya untuk segera ke ruangannya.
Tak lama kemudian datanglah Alex yang membawa dua cup es cofe late minuman sebagai pelepas dahaga. Tentu yang satu cup diberikan pada Agashtya.
"Ada apa mas boss? Tiba-tiba banget jam segini nyuruh kesini?" Tanya Alex sembari menyesap minuman dingin ditangannya
Agashtya tak langsung menjawab pertanyaan dari Alex itu. Agashtya tampak berpikir terlebih dahulu. Disesapnya sebatang rokok ditangannya. Barulah ia menjawab pertanyaan Alex.
"Loe pernah gak suka sama orang Lex?" Awalan kata yang dilontarkan oleh Agashtya sempat membuat terkejut Alex
Disaat yang bersamaan Agashtya pun langsung mengambil satu cup es cofe late yang masih utuh dari tangan kanan Alex.
Kini ekspresi Alex tentu agak terkejut dan bingung ingin menjawab apa. Pasalnya dirinya sendiri pun masih single.
"Aa...kalau soal ini mending mas boss tanya aja ke yang lain. Oh ya coba tanya ke mbak Kaniya siapa tahu dia pernah suka sama cowok atau mungkin ada pacarnya..." Jawab Alex berusaha memberi saran
Agashtya pun bingung sehingga dirinya pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Dirinya baru ingat jika asisten pribadinya satu ini pun masih single.
'Mana mungkin gue tanya ke orang yang gue suka langsung yang ada gak surprise dong...' Ucap Agashtya dalam hati
"Gue malu lah Lex. Masa tanya beginian ke cewek yang ada turun harga diri gue..." Jawab Agashtya jujur apa adanya
"Iya juga sih ya..." Jawab Alex ikutan bingung
Mereka berdua pun saling berjalan mondar-mandir satu sama lain seperti orang kebingungan. Disaat itu pula datanglah Kaniya ke ruangan Agashtya dengan membawa sebuah proposal baru ditangannya.
"Tok...tok..."
Tak ada suara yang menyahut sama sekali sehingga Kaniya pun membuka pintu ruangan kerja Agashtya yang ternyata tidak dikunci.
Saat menutup kembali pintu ruangan itu, Kaniya pun terkejut tapi juga ingin tertawa saat melihat Agashtya dan Alex yang saling mondar-mandir tak jelas seperti setrikaan.
"Permisi pak Agashtya!" Panggil Kaniya dengan suara lantang
Kedua pemuda yang tengah berjalan mondar-mandir itu pun sama-sama terkejut dengan kehadiran Kaniya yang tak mereka sadari sama sekali.
"Eeeh...iya, ada apa? Kapan kamu masuk?" Respon Agashtya yang buyar dari lamunannya
"Tiga kali saya panggil-panggil lho ya pak ya, udah saya ketok-ketok itu pintu tapi gak ada sahutan sama sekali jadi saya nerobos masuk aja whoa...gak sopan banget rasanya dah main terobos aja..." Jawab Kaniya menjelaskan
Agashtya dan Alex pun saling melempar pandangan satu sama lain. Mereka bingung sekaligus heran dengan tingkah gadis di depannya itu.
"Aa...sebaiknya saya pamit duluan pak Agash, permisi..." Ujar Alex yang berpamitan keluar ruangan Agashtya
Dengan nafas pasrah Agashtya pun berjalan menuju Kaniya. Bahkan jarak diantara keduanya kini saling berdekatan satu sama lain.
Kaniya sesekali mengerjapkan matanya dikarenakan tak kuasa menahan gejolak hatinya yang berdegub kencang saat jaraknya begitu dekat dengan Agashtya demikian pula dengan Agashtya.
Saat bibir mereka hampir saja saling bersentuhan satu sama lain tiba-tiba saja Alex datang kembali untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di ruangan Agashtya.
"Hoophs...sorry aku salah masuk, maaf mengganggu silahkan dilanjut lagi hehehehe..." Ujar Alex sembari menyengir kuda
Agashtya dan Kaniya pun saling salah tingkah satu sama lain. Wajah keduanya sama-sama memerah seperti buah tomat.
Mereka sama-sama menggaruk kepala yang tak gatal sama sekali sembari saling tertawa haha hihi seperti orang bodoh.
"Aa...maaf, mana dokumennya?" Ucap Agashtya berusaha mencairkan suasana yang semula tegang itu
Kaniya yang kini pipinya merona dan menunduk tersipu malu itu pun akhirnya memberikan dokumen ditangannya barulah berpamitan pada Agashtya.
"Ini pak. Kalau begitu saya permisi dulu ya pak..." Ucap Kaniya menahan gejolak hatinya
Gadis itu pun berjalan dengan langkah lebar seolah tengah dikejar depkolektor yang akan menagih cicilan uang pinjaman darinya.
Agashtya pun tak bisa menahan gadis itu. Dirinya sendiri pun sama salah tingkahnya dengan gadis itu. Ia merasa bahwa pikirannya agak berbeda akhir-akhir ini.
"Gila dah gue, entah kenapa otak gue akhir-akhir ini agak ngeres ya? Apa perlu gue cuci pake rinso anti noda yang banyak kali ya, andai aja bisa udah gue cuci dari kemaren-kemaren hihihihi..." Gumam Agashtya terkekeh sendiri
"Tapi...walaupun dia agak sedikit kekanakan tapi dia cantik juga, imut dan yang paling penting IQ dia diatas rata-rata. Gue suka sama loe Kaniya, apa boleh gue gantiin posisi calon tunangan loe itu..." Gumam Agashtya makin tak jelas
*********
Bertepatan pada pukul 18.48 Agashtya menyusun segala perlengkapannya, ia juga mengenakan tuxedo yang telah di siapkan oleh Kaniya siang tadi.
Ada dua model dan warna disana namun Agashtya lebih memilih tuxedo yang berwarna putih.
Kini Agashtya berjalan beriringan dengan Kaniya dan Alex yang mendampinginya menghadiri meeting besar malam hari ini.
Kaniya yang berdiri disisi kanan Agashtya dengan casual dress berwarna putih panjang hingga ke mata kaki yang dikenakannya semakin menambah aura kecantikannya.
Sementara itu Alex yang berdiri di sisi kirinya dengan setelan tuxedo warna senada dengan Agashtya dan Kaniya.
Ketiganya keluar dari pintu lift menuju ruang utama di Green Hyatt Hotel's yang akan digunakan untuk meeting malam ini.
"Sudah siap semuanya?" Tanya Agashtya memastikan
"Siap pak!!" Sahut Kaniya dan Alex bersamaan dengan suara lantang
Semua pandangan tertuju pada Kaniya sekretaris baru Agashtya yang dinilai memancarkan aura yang elegan berbeda dengan sekretaris lama Agashtya.
Hal itu tanpa sadar membuat Agashtya merasa kesal karena adanya percikan api cemburu dalam hatinya yang tak bisa ia ungkapkan. Dia berusaha menahan diri dengan cara mengepalkan tangannya.
"Busyet...sekretaris baru pak Agashtya auranya mahal banget..." Cicit salah satu kolega Agashtya
"Tapi chemistrynya kayak bukan atasan sama sekretaris sih lebih kelihatan kayak pasangan serasi banget..." Imbuh seorang kolega lainnya
"Kalau gue jadi pak Agashtya udah gue ajak ngamar sih kalau perlu gue jadiin simpanan..." Cicit kolega bisnis lainnya yang sudah menikah tentunya
"Cantik banget sekretaris pak Agashtya yang sekarang rasanya insecure deh...kalau mau interaksi sama dia..." Cicit sekretaris salah satu kolega bisnis Agashtya
Tatapan mata nyalang Agashtya tertuju pada para kolega bisnisnya yang bermata keranjang. Tentu Agashtya tidak suka jika orangnya dilirik oleh orang-orang bermoral minim seperti mereka.
Agashtya dan yang lainnya pun duduk di kursi yang sudah disediakan untuk meeting.
Agashtya tersenyum dingin, mata tajamnya menyapu para kolega bisnisnya yang berani melirik Kaniya.
"Sudah cukup, mari kita mulai meetingnya," katanya dengan nada tegas, sambil menepuk lembut bahu Kaniya.
Kaniya tersenyum manis, "Baik, pak."
Alex yang duduk di sebelah kiri Agashtya, tersenyum simpul, "Semua sudah siap, pak."
Meeting dimulai, tapi Agashtya tidak bisa melepaskan pandangannya dari Kaniya yang duduk di sebelah kanannya, yang sibuk mencatat setiap detail pembicaraan.
Para kolega bisnisnya terus melirik Kaniya, membuat Agashtya semakin tidak nyaman.
'Gak bakal aku biarin kalian dengan mudah mendekati Kaniya,' gumamnya dalam hati.
Kaniya yang tidak menyadari perhatian Agashtya, terus fokus pada pekerjaannya.
Tapi saat dia mengangkat kepala, mata mereka bertabrakan, membuat keduanya tersenyum tidak jelas.
Agashtya dengan cepat mengalihkan pandangannya ke depan, berusaha menyembunyikan perasaannya.
Kaniya, masih sibuk mencatat, tidak menyadari apa yang baru saja terjadi. Meeting terus berlanjut, tapi Agashtya tidak bisa fokus.
Dia terus memikirkan Kaniya, dan bagaimana caranya untuk mendekatinya. Setelah meeting selesai, Agashtya berdiri dan mengucapkan terima kasih kepada para kolega bisnisnya.
Bersambooo....