"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.
Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Rafa tidak percaya begitu saja dengan ucapan tiga siswi yang mengatakan kalau Dara mungkin sudah pulang lebih dulu. Entah mengapa feelingnya mengatakan kalau Dara masih ada di sana.
Rafa bergegas menyusuri koridor sekolah. Dia mengintip kelas satu persatu mulai dari kelas sepuluh hingga kelas dua belas.
Nihil, Dara tidak ada di semua kelas. Sambil terus berjalan, Rafa kembali mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi Dara tapi ponsel istrinya itu tetap tidak aktif.
Dengan napas yang terdengar memburu, Rafa kembali melanjutkan pencariannya. Melirik sejenak ke arah toilet perempuan yang terpasang plang "toilet ini rusak" kemudian kembali melanjutkan langkahnya lagi.
Rafa berhenti sejenak, entah mengapa jantungnya berdebar kencang saat dia kembali melirik ke arah toilet perempuan yang dia lewati barusan.
Di waktu yang bersamaan, Rafa melihat petugas kebersihan yang hendak masuk. Gegas guru tampan itu menghampiri petugas kebersihan yang membawa seperangkat peralatan bersih-bersih lantai itu.
"Maaf, Mang. Ini kan toilet perempuan, apa gak ada petugas perempuan juga?" tanya Rafa.
Petugas kebersihan bernama Mang Dirman itu tersenyum ramah dan menggelengkan kepalanya. "Kalau udah jam segini biasanya udah sepi, Pak. Saya juga suka pastiin dulu di dalam ada orangnya apa engga."
Rafa lalu menunjuk ke arah plang di bawah. "Lalu ini? Ini tulisannya toilet rusak. Apa bener?"
Mang Dirman pun terlihat kaget, "Waduh. Saya gak tau. Seinget saya enggak rusak kok."
Perasaan Rafa langsung tidak enak, saat itu juga dia langsung akan membuka pintu namun terkunci.
"Ini kok sudah dikunci juga, apa macet pintunya?" tanya Rafa.
"Eh, bentar, Pak. Biar saya coba buka. Tadi kunci yang saya pegang emang sempet ilang, tapi tau-tau ketemu di deket pantry." Sambil mencoba beberapa kunci, Mang Dirman bercerita tentang kunci yang sempat hilang.
"Permisi, gak ada orang 'kan di dalam?" tanya Mang Dirman itu.
Hening, tidak ada suara.
"Aman, Pak."
Klek!
Saat hendak mendorong pintu, Mang Dirman bingung karena seperti ada yang menahan dari dalam. Saat kembali didorong, terdengar suara seperti benda jatuh dan itu membuat keduanya jadi saling lirik.
"Astaghfirullah!" pekik Mang Dirman saat melihat seorang siswi tergeletak tidak sadarkan diri di dalam.
"Ada apa, Mang?" tanya Rafa.
"Ada yang pingsan!"
Rafa langsung masuk setelah Mang Dirman sudah masuk duluan. Kedua matanya melebar saat melihat Dara lah yang pingsan di sana.
"Dara!"
Rafa langsung jongkok di samping Dara, menopang kepala istri kecilnya itu dan menepuk pelan pipinya.
"Dara, bangun. Ini aku."
Tidak ada reaksi, wajah Dara pun terlihat pucat. Rafa langsung membopong tubuh Dara dan membawanya keluar.
"Ya ampun, si Neng itu berda-rah, Pak!"
Ucapan Mang Dirman membuat langkah Rafa terhenti. Jantungnya semakin berdebar kencang kala melihat telapak tangannya terdapat da-rah di sana.
Sudah tidak bisa berpikir jernih, Rafa langsung berlari dengan Mang Dirman yang menyusul membawakan tas milik Dara.
Aiden dan Braden yang kebetulan sedang berjalan keluar dari ruang guru pun kaget saat melihat Dara yang dibopong dan dalam keadaan tidak sadar.
Keduanya saling lirik dan langsung berlari menyusul ke arah parkiran.
"Dara kenapa, Pak?" tanya Braden.
"Jangan tanya dulu, bantu saya bukain pintu!" ujar Rafa.
Aiden langsung membukakan pintu mobil yang sebelumnya sudah dibuka kuncinya oleh Rafa sejak tadi.
"Dara kenapa?" Braden bertanya lagi.
Kesal karena dia sedang buru-buru dan Braden terus bertanya. Terlebih yang bertanya adalah mantan kekasihnya Dara, Rafa pun memberikan tatapan tajamnya.
"Dia pingsan di kamar mandi yang dikunci dari luar. Sudah, saya mau bawa ke rumah sakit."
Rafa langsung masuk meninggalkan dua cowok yang saling lirik karena bingung.
"Ini semua pasti kerjaan cewek lo," ucap Aiden.
Braden langsung mendelikkan matanya. "Jangan asal nuduh lo!"
"Tadi dia izin gak ikut rapat, 'kan? Mungkin karena hal ini juga," sahut Aiden.
Braden diam. Dia sedang mengira-ngira apa mungkin semua ini memang kerjaan Monica?
Di dalam mobil, Rafa terus melirik ke arah Dara yang masih belum sadarkan diri. Dia langsung memutuskan untuk membawa Dara ke rumah sakit karena Bu Nindi tadi siang izin pulang lebih awal dan tidak ada yang berjaga di UKS.
"Kamu kenapa, Sayang?" batin Rafa cemas.
Pria tampan itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pikirannya sudah ke mana-mana. Rafa mengira kalau Dara ada yang melukai dan mengunci di toilet.
Saat sudah belok ke area rumah sakit, di saat itu pula Dara terbangun dan kelopak matanya perlahan terbuka.
Dia celingukan menatap sekitar yang dia tahu betul itu area rumah sakit karena sudah beberapa hari ini dia bolak balik ke sana.
Dara menoleh ke samping kirinya saat pintu terbuka dan Rafa muncul dengan wajah cemasnya.
"Kamu sudah sadar?" tanya Rafa.
Dara mengangguk lemah. "I-iya. Tapi... kenapa Mas Rafa bawa aku ke sini? Ayah kan katanya udah pulang tadi pagi."
"Kamu pingsan dan berda-rah. Aku jelas cemas dan langsung membawamu ke sini." Rafa langsung menggendong tubuh Dara dan berlari membawanya ke arah IGD.
"Da-rah?" batin Dara bingung.
Sesaat kemudian, kedua matanya melebar dan dia langsung meminta Rafa untuk menurunkan dirinya.
"Gak bisa. Kamu harus diperiksa dulu, takutnya kamu ada luka makanya sampai berda-rah begitu." Rafa tetap membawa Dara masuk dan mendudukkannya di ranjang yang kosong.
"Mas Rafa, aku baik-baik sa-"
"Tolong periksa is-emm ... saudara saya. Tadi dia pingsan di toilet dan belakangnya berda-rah," ucap Rafa pada dokter yang datang.
Dara menggelengkan kepalanya cepat. Dia menatap ke arah Rafa dengan tatapan memohon agar dia pergi saja dari sana.
"Aku gak apa-apa, Dok. Beneran deh."
"Gak apa-apa gimana? Kalau kamu gak apa-apa, gak mungkin sampai pingsan dan berda-rah begitu!" ujar Rafa.
Dokter pun meminta Rafa untuk menunggu di luar dan mengurus administrasi terlebih dahulu. Dokter yang kebetulan perempuan itu juga menutup sekeliling ranjang dengan tirai.
Rafa mondar mandir dengan cemas. Dia bahkan belum mencuci telapak tangannya. Rafa menyugar rambutnya kasar, takut terjadi sesuatu pada istri kecilnya itu.
Dia juga menduga-duga, siapa sebenarnya yang tega mengurung Dara di toilet?
Saat sedang menunggu, Braden dan Aiden datang dan itu tentu membuat Rafa tak suka.
"Bagaimana keadaan Dara, Pak?" tanya Aiden.
Rafa mendelik. Dia menyentak napas kasar karena kesal dua cowok itu terlihat perhatian kepada Dara.
"Dia masih diperiksa. Kalian ngapain ke sini?" tanyanya judes.
"Kami juga khawatir sama Dara, Pak." Braden yang menjawab.
"Ada saya, kalian pulang saja!" usir Rafa.
"Saya gak akan pulang sebelum tau keadaan Dara," sahut Aiden.
Braden mengangguk setuju. "Saya juga."
"Ish. Mereka ini ngapain sih? Mau caper? Gak bisa. Dara istriku!" batin Rafa.
Rafa menoleh ke pintu ruang IGD yang terbuka. Suster yang tadi ikut memeriksa Dara memanggilnya. Gegas dia menghampiri suster tersebut.
"Gimana keadaannya? Apa dia ada luka? Apa lukanya parah?" tanya Rafa dengan raut wajah khawatir yang tidak bisa dia sembunyikan.
Suster itu tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.
"Pasien tidak apa-apa, tidak ada luka juga. Tapi ... sebelumnya boleh Anda belikan dulu dalaman untuk ganti juga dengan pembalutnya? Kebetulan di dekat sini ada toko pakaian wanita lengkap dan untuk pembalutnya ada di minimarket samping."
Rafa langsung bengong, dia mengorek telinganya takut salah dengar.
"Be-beli apa barusan?" tanyanya memastikan.
Suster itu pun langsung kembali menyebutkan dua barang yang harus Rafa beli. "Kalau bisa sekalian dengan rok atau celana nya, Mas."
Suster itu langsung kembali, meninggalkan Rafa yang masih membatu di tempatnya. Jadi ... Dara ini kenapa? Rafa lupa menanyakannya.
Dia berbalik dan menatap Braden serta Aiden yang masih ada di sana.
"Dara kenapa katanya, Pak?" tanya Braden.
"Tidak apa-apa. Kalian pulang saja sana!" jawab Rafa sekaligus mengusir dua cowok yang sudah masuk daftar hitamnya.
"Tunggu apa lagi? Pulang sana!" Rafa kembali mengusir karena Braden dan Aiden masih saja berdiri di depannya.
Keduanya mengangguk. Meski masih penasaran dan tentunya ingin melihat langsung keadaan Dara, tapi mereka tidak ada pilihan lain. Apalagi yang mengusirnya adalah saudara Dara sendiri.
Iya, mereka 'kan tahunya kalau Rafa itu saudara sepupu Dara.
Kini giliran Rafa yang masih ada di sana. Dia bingung dalam yang dimaksud oleh suster tadi tuh apa.
"Apa mungkin ... celana segitiga?" batinnya.
Di dalam ruang IGD sini, Dara menutup wajahnya. Dia merasa sangat malu kalau nantinya Rafa tahu dia kenapa.
"Ya ampun. Kenapa juga sampe harus di bawa ke sini sih?" gumamnya.
Dara melirik ke arah ponselnya yang sedang di charge di sampingnya. Meminjam chargeran milik suster di sana barusan.
Selain memikirkan rasa malunya, Dara juga memikirkan siapa yang sudah menguncinya di toilet tadi.
"Apa mungkin si Monica?"
Ya. Tebakan Dara langsung ke sana. Siapa lagi di sekolah itu yang sering membuat masalah dengannya selain Monica?
Kedua tangannya meremat selimut tipis yang dia gunakan. "Awas aja kalau itu beneran lo. Gue gak bakal tinggal diam!"
.
Di toko pakaian yang dimaksud oleh suster tadi, Rafa berdiri di depan bawahan wanita yang banyak macamnya.
"Dia pake ukuran berapa?" batinnya.
Rafa membayangkan ukuran pinggang Dara, dia mengambil celana panjang yang ukurannya dia yakin akan muat.
Tiba saat harus membeli dalaman, dia meneguk ludahnya susah payah, di bagian khusus celana dalam lumayan ramai oleh pembeli yang kebanyakan seorang wanita.
Rafa berjalan pelan menuju rak dalaman pria yang bersebelahan dengan dalaman wanita. Dia melihat ibu-ibu yang mencoba kacamata rambo meski dari luar, ada juga yang memegang dalaman berbagai motif.
Rafa memegang kepalanya yang jadi pusing. Untuk pertama kalinya dia harus membeli dalaman wanita dan hanya Dara yang membuatnya seperti ini.
"Dia harus membayar mahal untuk semua yang aku lakukan hari ini," batin Rafa.
"Eh, ada mas ganteng. Yang pria mah di sebelah sana," celetuk seorang ibu-ibu pada Rafa.
"Sa-saya mau beli yang wanita, Bu," jawab Rafa.
"Aduh. Buat istrinya atau ibunya?"
"Istri saya."
"Wah. Udah punya istri rupanya. Udah ganteng, baik hati pula. Aduh, suami idaman sekali ini. Mau beli yang motif apa? Renda-renda atau yang banyak talinya?"
"Tali?" Rafa bingung. Kenapa dalaman harus banyak talinya?
Rafa bingung melihat dalaman yang berjejer di depan matanya. Dia menggaruk kepalanya yang jadi gatal itu, bingung beli ukuran berapa.
Ingat sudah ambil celana, dia pun menyamakan saja ukurannya dengan celana panjang yang tadi dia pilih.
Buru-buru mengambil dan pergi ke kasir lalu menyerahkan dua barang yang dia ambil kemudian membayarnya.
Rafa menghembuskan napas lega saat berhasil keluar dari toko sana dengan kantong plastik di tangannya.
Rafa tertawa pelan. Pengalaman pertama yang sungguh mendebarkan dan cukup nggelitik hatinya.
Kini dia langsung pergi ke minimarket, bingung lagi karena banyaknya merk pembalut di sana.
Rafa mengabaikan rasa malunya. Dia mengambil dua merk dan keningnya mengkerut karena yang satunya tertera tulisan bersayap dan yang satunya lagi tidak.
"Kenapa harus ada sayapnya? Memangnya mau terbang?" batin Rafa heran.
Takut salah, dia mengambil dua bungkus pembalut itu dan pandangannya tertuju pada pembalut yang tertulis lebih panjang juga ukurannya.
Rafa jadi bingung. Dara biasanya pakai yang berapa senti?
"Ambil lagi aja deh." Akhirnya Rafa pergi ke kasir dengan tiga bungkus pembalut di tangannya.
.
Dara terkesiap saat tirai terbuka dan ternyata Rafa yang datang.
"Ini, ganti dulu," ucap Rafa sambil menyodorkan dua kantong plastik berisi tiga benda yang tadi diminta oleh suster.
Wajah Dara langsung bersemu merah. Dia menerima pemberian Rafa dan menganggukkan kepalanya.
"Makasih."
"Hm. Aku tunggu di depan," ucap Rafa.
Dara menjerit dalam hati. Sumpah, dia malu sekali oleh suaminya itu. Membayangkan Rafa membeli dalaman dan pembalut, semakin membuat rasa malunya seakan tidak terbendung lagi.
Dara membuka kantong plastik warna putih dengan logo lebah itu dan melotot karena ada tiga bungkus besar pembalut di sana.
"Ya ampun, banyak banget."
.
Sambil menunggu, Rafa menghampiri dokter yang tadi memeriksa Dara. Bertanya mengenai kondisi Dara yang sebenarnya.
"Pasien mengalami dismenore, yang merupakan istilah medis untuk nyeri haid. Ini adalah kondisi yang umum dan dialami oleh banyak wanita. Biasanya, dismenore ditandai dengan kram di perut bagian bawah yang bisa sangat menyakitkan."
"Apa itu normal?" tanya Rafa.
Dokter itu mengangguk pelan, "Ya, ini cukup umum, terutama pada wanita muda. Dismenore bisa disebabkan oleh kontraksi rahim yang kuat selama menstruasi, yang dipicu oleh zat kimia yang disebut prostaglandin. Pada beberapa wanita, kadar prostaglandin ini lebih tinggi, yang menyebabkan kram lebih parah," jelas dokter dengan nametag Nia tersebut.
Rafa menghembuskan napas lega. Dia bersyukur karena Dara tidak mengalami apa yang sempat dia bayangkan tadi.
"Kini tinggal mencari tahu siapa dalang yang sudah menguncinya di toilet."
.
"Kalau sakit lagi, minum saja obat pereda nyeri yang tadi saya berikan ya. Kompres hangat juga," ujar Dokter Nia memberi saran.
Dara mengangguk paham. Dia keluar dari ruang IGD bersama dengan Rafa yang berjalan di sampingnya.
"Maaf udah bikin khawatir," ucap Dara saat sudah duduk di mobil.
Rafa mengangguk. Dia menyerongkan posisi duduknya dan menatap Dara dengan tatapan yang membuat Dara sedikit salah tingkah.
"Sekarang ceritakan. Bagaimana bisa kamu dikunci di toilet. Kamu ada masalah dengan seseorang?" tanya Rafa.
Dara terdiam sejenak dan menggelengkan kepalanya. "Aku juga gak tau. Tadi ke toilet karena pengen pipis. Tapi pas baru selesai, kedenger suara pintu dikunci dari luar," jawabnya.
"Ada seseorang yang kamu curigai?" tanya Rafa.
"Apa sih Braden? Kamu kenapa kasar kayak gini sama aku?!" sentak Monica kesal karena Braden datang ke rumahnya dan langsung menarik tangannya dengan paksa.
"Lo 'kan yang udah ngunciin Dara di toilet tadi?" tanya Braden.
Kedua mata Monica membeliak, Braden datang ke rumah dan langsung bertanya mengenai Dara. Terlebih pacarnya itu malah menuduhnya.
"Lo ke sini buat nanya hal itu?" tanya Monica.
"Gak usah basa basi. Jawab pertanyaan gue dengan jujur, lo 'kan yang udah ngunciin Dara di toilet tadi?"
Monica menyugar rambut panjangnya, dia juga menyentak napasnya kasar.
"Dara, Dara, Dara aja terus." Monica bicara dalam hatinya. "Lo bukan nanya, tapi nuduh!"
"Jawab pertanyaan gue!" bentak Braden.
"Bukan gue! Gue malah gak tau kalau dia ada yang ngunci di toilet!" jawab Monica dengan kesal.
"Lo gak bohong 'kan?" tanya Braden dengan tatapan menyelidik.
"Astaga. Gue udah jujur, gue beneran gak tau!"
"Lo kenapa khawatir banget sama dia? Dia siapa bagi lo? Atau jangan-jangan ... lo pernah ada hubungan sama dia? Apa bener yang udah bilang cewek itu kalau lo cowoknya waktu itu?" Monica memancing Braden. Dia ingin tahu Braden akan jujur atau tidak kali ini.
Braden langsung memalingkan wajahnya. Dia tidak mungkin mengakui kalau Dara adalah mantan kekasihnya. Dia sudah terang-terangan mengatakan kalau dia tidak mengenal Dara saat gadis itu masih dengan penampilan culunnya.
"Lo ngomong apa sih? Gue cuman gak mau lo kena masalah andai bener lo pelakunya. Gue yakin Pak Rafa bakal nyelidikin masalah ini," kilah Braden.
Monica tersenyum miring. Braden bohong padanya. Dia mendekati Braden dan memegang tangan cowok yang udah jadi pacarnya selama dua tahun ini.
"Makasih karena lo udah perhatian sama gue," ucapnya.
"Hm." Braden hanya menjawab dengan gumaman. Dia bahkan tidak melirik ke arah Monica.
"Kalau bukan Monica, lalu siapa?" batin Braden bertanya-tanya.
.
Mobil yang dikemudikan oleh Rafa sudah sampai di halaman rumah. Tidak jadi ke rumah Ayah Aldi karena Dara sendiri yang memintanya.
Dara meringis saat melihat noda kemerahan yang ada di kursi yang barusan dia duduki. Gadis itu menatap penuh rasa bersalah ke arah Rafa yang masih duduk di kursi kemudi.
"Maaf, nanti aku bantu cucinya deh," ucap Dara.
Rafa menggelengkan kepalanya. "Gak apa-apa. Aku pergi ke tempat cuci mobil dulu aja sekarang. Kamu masuk dan istirahat," sahutnya.
"Mas Rafa gak marah, 'kan?" tanya Dara memastikan.
Rafa tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya. "Enggak. Masuk gih!"
Dara mengangguk. Dia menutup pintu mobil itu dan langsung masuk ke dalam rumah.
Rafa menghela napas melihat tubuh Dara menghilang di balik pintu rumah. "Bagaimana mungkin aku marah karena hal sepele seperti ini di saat tadi saja aku sudah seperti orang gila karena mengkhawatirkanmu?" gumamnya.
.
"Kok udah pulang lagi? Gak jadi nginep di rumah orang tuamu? Trus Rafa kemana?" tanya Oma Atira.
Dara mencium punggung tangan Oma Atira dan duduk di sampingnya. "Gak jadi, Oma. Tadi ada sedikit kejadian dan ini baru pulang dari rumah sakit. Mas Rafa pergi lagi katanya mau ke tempat cuci mobil."
"Kejadian apa?" tanya Oma Atira cemas.
Dara menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia menceritakan kejadian yang menimpanya berikut dengan Rafa yang membeli dalaman serta pembalut untuknya.
Oma Atira menutup mulutnya. Dia kaget, kesal tapi akhirnya ingin tertawa juga saat membayangkan cucunya membeli barang yang Dara sebutkan.
"Kamu tahu siapa pelakunya?" tanya Oma Atira.
Dara menggeleng. Meski dia sudah menebak kalau Monica lah pelakunya, tapi tebakannya belum tentu benar. Dia takut salah menuduh orang.
"Sekarang kamu naik dan istirahat," ucap Oma Atira.
Beliau diam sejenak, memperhatikan Dara yang sudah menaiki tangga lalu mengambil ponselnya yang ada di atas meja.
"Cari tahu tentang siapa pelaku yang sudah mengurung Dara di toilet sekolah tadi siang!" titahnya pada seseorang lewat panggilan telepon.
Selesai dari tempat cuci mobil, Rafa tidak langsung pulang. Dia kembali ke sekolah untuk memeriksa rekaman CCTV di koridor dekat toilet.
Sudah mendapat izin juga dari kepala sekolah lewat panggilan telepon, Rafa pun memeriksa rekaman CCTV dan keningnya mengkerut saat melihat seorang siswi yang mengunci pintu toilet lalu memasang plang warna kuning bertulisan 'toilet ini rusak'.
"Dia ... dia bukannya ...."