NovelToon NovelToon
Gormod

Gormod

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dark Romance / Cinta Terlarang
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Penyatuan dua dinasti bisnis raksasa melalui pernikahan mendadak Fank Manafe dan Renata Batistuta memaksa Ezzvaro dan Gabriel terjebak dalam satu atap sebagai saudara tiri.
Namun, di balik status formal itu, tersimpan sejarah kelam: mereka adalah mantan kekasih yang berpisah dengan luka menganga akibat pengkhianatan dan kecemburuan fatal tiga tahun lalu.
Ketika gairah terlarang dan dendam masa lalu mulai membakar batasan moral, mereka terseret ke dalam konspirasi bisnis yang berbahaya.
Di tengah desingan peluru dan pengkhianatan keluarga, Ezzvaro harus memilih antara melindungi wanita yang paling ia benci atau membiarkan dunia menghancurkannya.
Di dunia di mana "cinta adalah kelemahan dan kekuasaan adalah segalanya," kelebihan/melampaui batas akan memaksa mereka menghadapi pilihan tersulit: bersatu dalam kehancuran atau saling menghancurkan demi bertahan hidup 🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#30

Delapan belas tahun telah berlalu sejak badai besar menghantam dinasti Manafe dan Batistuta. London tidak banyak berubah, namun penguasanya kini memiliki wajah baru yang jauh lebih berbahaya. Zendaya Manafe-Batistuta tumbuh menjadi perwujudan sempurna dari penggabungan dua darah biru paling dominan di Eropa. Dengan rambut hitam legam yang selalu tertata sempurna dan mata tajam yang mewarisi kedinginan Ezzvaro serta keanggunan manipulatif Gabriel, ia adalah ratu tanpa mahkota di Saint Jude’s Elite Academy.

Zendaya bukan sekadar gadis kaya; ia adalah pemegang otoritas. Di sekolah tempat anak-anak diplomat dan pemilik bank berkumpul ini, nama belakangnya adalah hukum yang tak tertulis. Namun, kekuasaan itu tidak ia gunakan untuk kebaikan. Zendaya adalah definisi dari antagonis yang elegan. Ia tidak perlu mengotori tangannya sendiri; ia memiliki "anjing penjaga" yang setia untuk melakukan pekerjaan kotor itu.

Pagi itu, di lorong utama yang berlapis marmer, Zendaya berjalan dengan langkah angkuh, membiarkan bunyi sepatu stiletto desainer-nya bergema, menuntut perhatian. Di sisi kiri dan kanannya, dua sahabat setianya—Cristin dan Blora—berjalan dengan dagu terangkat, seolah-olah mereka adalah bagian dari protokol kepresidenan.

Langkah mereka terhenti di depan seorang siswi beasiswa yang sedang merapikan loker. Gadis malang itu tidak sengaja menghalangi jalan sang ratu.

"Lihat rambutmu..." Cristin memulai, suaranya melengking dengan nada menghina yang sangat kental. Ia menarik ujung rambut gadis itu dengan ujung jarinya seolah sedang menyentuh sampah. "Itu murahan sekali. Apa kau mencucinya dengan sabun cuci piring? Baunya merusak seleraku pagi ini."

Blora tertawa kecil, menatap siswi itu dengan pandangan rendah. "Tentu saja, Cristin. Orang-orang seperti dia tidak tahu bedanya sampo organik dengan deterjen."

Zendaya hanya diam. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun cacian. Ia hanya berdiri di sana, menyilangkan tangan di depan dada, memperhatikan pemandangan itu dengan senyum puas yang tipis dan mematikan. Baginya, melihat orang lain gemetar di bawah kaki sahabatnya adalah hiburan terbaik sebelum kelas bisnis dimulai.

Di sekolah elit ini, hukum rimba berlaku dengan cara yang sunyi. Para siswa lain hanya melirik sekilas lalu memalingkan wajah. Mereka lebih pusing memikirkan nilai Advanced Placement atau persiapan masuk Ivy League daripada mencampuri urusan orang lain. Membela korban Zendaya berarti bunuh diri sosial.

...****...

Kantin Saint Jude’s lebih menyerupai restoran bintang lima daripada fasilitas sekolah. Namun, ada satu area yang dianggap suci dan tak tersentuh. Di bagian sayap kanan, terdapat sebuah ruangan berdinding kaca transparan yang kedap suara. Itu adalah wilayah kekuasaan Rex Hernandez, cucu dari pemilik yayasan sekolah, sekaligus pewaris tunggal konglomerat media Hernandez.

Di dalam ruangan kaca itu, Rex duduk bersama dua sahabat karibnya, Alistair dan George. Ketiganya adalah antitesis dari grup Zendaya. Jika Zendaya adalah api yang menghanguskan, Rex adalah es yang membekukan.

Rex menyesap espresso-nya sambil menatap lurus ke arah luar kaca, tepat ke arah meja utama di tengah kantin di mana Zendaya dan kelompoknya baru saja duduk dengan gaya sok kuasa. Rahang Rex mengeras. Ia sangat membenci "Anak Manafe" itu.

"Dia melakukannya lagi," gumam George sambil menyandarkan punggungnya, memperhatikan dari jauh bagaimana Blora menyiramkan jus jeruk ke tas salah satu siswa junior atas instruksi bisikan dari Zendaya. "Gadis itu benar-benar tidak punya hati."

Alistair mendengus. "Zendaya pikir sekolah ini adalah properti milik keluarganya. Dia bertingkah semena-mena seolah-olah dunia ini berputar hanya untuk melayaninya."

Rex tetap diam, namun tatapan matanya tajam seperti belati yang diarahkan langsung pada Zendaya. Baginya, kehadiran Zendaya adalah noda di sekolah kakeknya. Rex tumbuh dengan prinsip kedisiplinan dan harga diri yang tinggi; melihat Zendaya membully orang lain hanya karena "mengganggu pemandangannya" membuat Rex merasa muak.

"Dia sombong karena merasa tidak ada yang berani menyentuhnya," ucap Rex akhirnya, suaranya rendah dan berat, penuh dengan nada permusuhan. "Dia pikir nama Manafe-Batistuta adalah perisai abadi. Dia lupa bahwa di sekolah ini, akulah yang memegang kunci gerbangnya."

Zendaya yang sedang tertawa mendengar lelucon Cristin, tiba-tiba menoleh. Entah karena insting atau kebetulan, matanya bertemu dengan mata Rex di balik dinding kaca itu. Zendaya tidak membuang muka. Ia justru mengangkat gelas air mineralnya ke arah Rex, sebuah gestur provokatif yang seolah menantang: Apa yang akan kau lakukan, Pangeran Sekolah?

Rex tidak membalas provokasi itu. Ia hanya memberikan tatapan dingin yang seolah menjanjikan kehancuran bagi siapa pun yang berani merusak ketenangan di wilayahnya.

Bagi Rex, Zendaya adalah sebuah anomali yang harus disingkirkan. Baginya, kecantikan Zendaya hanyalah topeng dari kepribadian yang busuk. Dan bagi Zendaya, Rex adalah tantangan besar terakhir yang belum berhasil ia tundukkan.

Malam itu, di kamar mewahnya, Zendaya menatap pantulan dirinya di cermin. Ia teringat tatapan Rex tadi siang. Ada sesuatu dalam diri pria itu yang membuatnya marah sekaligus penasaran. Namun, satu hal yang pasti: Zendaya tidak akan berhenti. Ia adalah pewaris Ezzvaro dan Gabriel. Menghancurkan orang lain adalah cara hidupnya, dan Rex Hernandez hanyalah nama berikutnya dalam daftar target yang akan ia buat bertekuk lutut.

Di sisi lain kota, Rex sedang melihat berkas-berkas beasiswa sekolahnya, termasuk daftar siswa yang baru saja diganggu oleh grup Zendaya. Ia mengepalkan tangannya. "Cukup sudah, Zendaya. Kau sudah melangkah terlalu jauh," gumamnya dalam gelap.

Perang dingin antara Sayap Kanan dan Meja Utama baru saja dimulai. Dan kali ini, nama besar Manafe mungkin tidak akan cukup untuk menyelamatkan sang putri sombong dari kemarahan sang pemilik sekolah.

🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
winpar
kerennnnn
winpar
pokoknya lnjut thorrrrrt💪💪💪💪
ros 🍂: ma'aciww kak😍
total 1 replies
winpar
hahhahHaa🤣🤣🤣
ros 🍂: Jangan ketawa sendiri kak🙏🤣🤣🤣
total 1 replies
winpar
bener2 seruuuuuuuuuu
ros 🍂: ma'aciww kak🥰
total 1 replies
winpar
yg ditunggu2 akhirny up jg💪
ros 🍂: semoga suka kak🥰🙏
total 1 replies
winpar
lnjut thorrr💪
ros 🍂: siapp kak🥰
total 1 replies
Mifta Nurjanah
cieee junior nya bngun wkwkwk
ros 🍂: Jangan dibongkar disini kak🙏🤣
total 1 replies
Lfa🩵🪽
Semangatt ✨
ros 🍂: Ma'aciww kak🥰
total 1 replies
winpar
thor ceritanya selalu seru🥰😍
ros 🍂: Ma'aciww kak🥰
total 1 replies
@RearthaZ
awal cerita yang bagus thor
ros 🍂: ma'aciww kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!