Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fortune
Namun, ketenangan itu hanya bertahan selama beberapa jam.
Pukul 05.30 Pagi.
Suara alarm ponsel Alessia bukan musik lembut yang biasa ia dengar, melainkan sebuah notifikasi pesan masuk yang berbunyi bertubi-tubi. Dengan nyawa yang belum terkumpul penuh, Alessia meraba nakas dan membuka ponselnya. Matanya yang mengantuk seketika membelalak lebar melihat nama pengirimnya.
[Nathaniel Luca]:
Mobil jemputan kantor sudah di depan gerbang. Saya beri waktu 15 menit untuk Anda turun. Jika lewat satu detik saja, Anda harus berangkat sendiri menggunakan transportasi umum.
Catatan: Gunakan pakaian formal yang fungsional. Kita tidak sedang pergi ke pesta minum teh.
Alessia terlonjak dari tempat tidur.
"Transportasi umum?! Lima belas menit?!"
Mimpi indahnya tentang 'Kak Nathaniel yang baik hati' hancur berkeping-keping. Pria itu ternyata bukan hanya galak, tapi dia adalah mimpi buruk yang datang lebih awal dari alarm pagi mana pun.
Dengan panik, Alessia berlari ke arah walk-in closet-nya, menyadari bahwa mulai detik ini, hidupnya sebagai putri yang dimanja resmi berakhir.
Alessia melangkah keluar gerbang dengan napas tersengal, namun tetap berusaha menjaga martabatnya sebagai seorang Sinclair. Pilihan pakaiannya pagi ini adalah setelan blazer dan celana kain berwarna navy gelap yang dipotong sangat presisi, membalut tubuh jenjangnya dengan kesan profesional yang mahal. Rambut panjangnya ia ikat ponytail tinggi, memperlihatkan leher jenjangnya yang biasanya dihiasi kalung berlian, namun kini polos tanpa aksesori.
Tanpa riasan. Benar-benar nihil. Wajahnya yang biasanya glowing sempurna kini tampak seperti kanvas kosong yang baru bangun tidur.
Pintu mobil dibuka oleh sopir, dan Alessia langsung merosot masuk ke jok belakang. Di sana, Nathaniel sudah duduk tegap dengan tablet di tangan, seolah-olah ia sudah bekerja selama tiga jam.
"Morning, Kak," sapa Alessia pendek sembari berusaha mengatur napasnya yang memburu.
Nathaniel tidak langsung menjawab. Ia mengalihkan pandangannya dari layar tablet, menatap Alessia dengan observasi yang dingin.
Alisnya yang tebal bertaut sedikit saat melihat wajah polos gadis di sampingnya.
"Wajahmu pucat sekali. Ketakutan?" tanya Nathaniel kaku, suaranya sedatar aspal jalanan.
Alessia mendengus pelan, tangannya mulai meraba tas makeup kecil yang ia bawa dengan terburu-buru. "Hm... bagaimana bisa berdandan kalau cuma dapat waktu lima belas menit?" gerutu Alessia. Meski mengomel, nada bicaranya tetap lembut dan manis, ciri khasnya yang sulit dihilangkan bahkan dalam kondisi kesal sekalipun.
Nathaniel melirik jam tangan Patek Philippe di pergelangan tangannya. "Waktu adalah komoditas paling berharga di Sinclair Mall, Nona. Lima belas menit itu cukup untuk kehilangan satu kontrak besar jika Anda tidak disiplin."
Alessia mulai membuka cermin kecilnya, mengabaikan ceramah singkat itu. Dengan lincah, jemarinya mulai mengaplikasikan cushion dan sedikit liptint untuk memberi warna pada bibirnya. Mobil yang melaju mulus membuat pekerjaannya sedikit lebih mudah, namun tetap saja, ini adalah rekor tercepatnya dalam berdandan.
"Dan jangan panggil saya 'Kak' di kantor atau di dalam mobil ini," tambah Nathaniel tanpa menoleh, kembali fokus pada laporan di tabletnya.
Alessia yang sedang memegang maskara langsung terhenti. Ia melirik Nathaniel dari pantulan cermin kecilnya. "Lalu aku harus panggil apa? Pak Nathaniel? Itu terdengar sangat... tua."
"Panggil saya 'Mentor' atau 'Direktur Luca'. Kita di sini untuk bekerja, bukan untuk reuni keluarga," jawab Nathaniel tegas.
Alessia memutar bola matanya, namun sebuah senyum kecil yang tersembunyi muncul di sudut bibirnya. Nathaniel memang kaku seperti robot, tapi entah kenapa, Alessia merasa tertantang. Ia pun menutup tas makeupnya dengan bunyi klik yang mantap. Wajahnya kini sudah kembali segar, siap menghadapi dunia bisnis yang katanya kejam itu.
"Baik, Mentor," sahut Alessia dengan penekanan yang sedikit menggoda. "Jadi, apa menu sarapan kita pagi ini? Laporan keuangan setebal kamus, atau inspeksi mendadak ke gudang?"
Nathaniel menutup tabletnya, lalu menatap Alessia dengan tatapan yang sulit diartikan. "Lebih buruk dari itu. Kita akan bertemu dengan perwakilan brand yang ingin memutus kontrak karena merasa Sinclair Mall sudah mulai kehilangan sentuhan 'eksklusif'-nya. Dan Anda, Nona Sinclair, yang akan meyakinkan mereka untuk tetap bertahan."
Suasana di dalam ruang rapat itu seketika membeku. Pendingin ruangan yang disetel di suhu terendah terasa kalah dingin dibandingkan tatapan tajam Mrs. Hana, perwakilan dari brand mewah asal Prancis yang sudah menjadi penyewa utama di Sinclair Mall selama satu dekade.
Ketika pintu terbuka, Mrs. Hana tidak menyembunyikan kekecewaannya. Ia mengharapkan wibawa William Sinclair, namun yang muncul di hadapannya adalah seorang gadis muda dengan riasan tipis yang tampak terlalu segar untuk dunia bisnis yang penuh polusi taktik.
"Selamat pagi, Mrs. Hana. Perkenalkan, beliau adalah Ms. Alessia Sinclair," suara Nathaniel memecah keheningan.
Alessia sempat mengerjapkan mata. Nada bicara Nathaniel berubah drastis, hangat, profesional, dan sangat persuasif. Benar-benar topeng yang sempurna. Namun, Alessia tidak punya waktu untuk mengagumi akting mentornya itu. Ia harus mengambil kendali.
"Selamat pagi, Mrs. Hana. Saya mendengar Anda mengeluhkan Sinclair Mall telah kehilangan kesan eksklusifnya, ya?" buka Alessia. Ia duduk dengan punggung tegak, membiarkan aura 'Putri Sinclair' yang tenang menyelimuti ruangan.
Mrs. Hana melipat tangan di dada, senyum sinis tersungging di bibirnya yang merah darah. "Tepat sekali. Citra brand kami adalah kemewahan yang tak tersentuh. Namun belakangan ini, saya melihat Sinclair Mall mulai... kehilangan arah."
Alessia terdiam sejenak, menyesap air mineralnya dengan anggun sebelum meletakkan gelas itu kembali ke meja tanpa suara. "Hm... soal itu... saya ingin bertanya. Apakah semua itu karena mall saya, atau karena kualitas brand Anda sendiri yang mulai meredup?"
Deg.
Pertanyaan itu meluncur seperti setrum di pagi hari. Nathaniel, yang biasanya tidak tergoyahkan, hampir tersedak napasnya sendiri. Ia memberikan 'lirikan maut' pada Alessia, sebuah peringatan keras agar gadis itu menjaga lidahnya sebelum kontrak miliaran won terbang tertiup angin.
"Jadi maksud Anda, brand saya yang bermasalah?" jawab Mrs. Hana dengan nada meninggi, wajahnya memerah karena merasa terhina.
Namun, Alessia tidak gentar. Ia justru mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya yang jernih menatap langsung ke manik mata Mrs. Hana tanpa rasa takut.
"Jika yang Anda maksud kehilangan eksklusivitas adalah karena saya mengizinkan lapak untuk brand lokal terpilih masuk ke area sayap utara, saya rasa Anda terlalu berlebihan, Mrs. Hana," jelas Alessia dengan nada yang sangat tenang namun menusuk.
"Eksklusivitas bukan berarti menutup mata pada inovasi. Brand lokal yang kami pilih memiliki kualitas artisan yang setara dengan brand global Anda. Jika brand Anda merasa terancam hanya karena berdampingan dengan kreativitas lokal, bukankah itu berarti Anda sendiri yang merasa tidak cukup eksklusif untuk bersaing?"
Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Nathaniel bisa merasakan detak jantungnya sendiri. Alessia baru saja melakukan manuver yang sangat berisiko: menantang ego sang klien besar.
"Mrs. Hana..." Alessia melanjutkan, suaranya kini melunak, kembali ke nada manisnya yang mematikan.
"Saya adalah pecinta brand mewah. Saya tumbuh besar dengan produk-produk Anda di lemari saya. Jadi saya tahu, ada yang berubah dengan brand Anda akhir-akhir ini. Desainnya mulai kehilangan jiwa, dan pelayanan di gerai bawah terasa... mekanis."
Alessia menopang dagunya dengan jemari yang lentik. "Bagaimana jika Anda melakukan riset pasar lagi dan menjalin hubungan langsung dengan pengguna setia brand Anda? Bukan sekadar menjual logo, tapi menjual pengalaman. Itu sepertinya akan membuat nama Anda kembali melejit tanpa perlu menyalahkan kehadiran brand lokal di sebelah Anda."
Mrs. Hana tampak goyah. Ia tidak menyangka seorang gadis muda yang baru hari pertama bekerja bisa melihat keropos di dalam fondasi bisnisnya.
"Lalu," Alessia memberikan penawaran puncaknya, "sebagai bentuk dukungan Sinclair Mall, saya akan bantu untuk memasangkan iklan brand Anda di megatron besar di depan gedung. Posisi paling premium yang biasanya diperebutkan puluhan vendor. Dengan satu syarat: benahi kualitasnya. Kembalikan standar yang membuat saya jatuh cinta pada brand Anda sepuluh tahun lalu."
Nathaniel hampir saja melepaskan napas lega yang tertahan. Itu adalah tawaran win-win solution yang sangat cerdik. Alessia tidak hanya mempertahankan penyewa, tapi dia juga memberikan tekanan agar kualitas mall mereka tetap terjaga.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Mrs. Hana akhirnya mengembuskan napas panjang. Ketegangan di bahunya luruh. "Anda benar-benar putri William Sinclair, ya? Tajam dan tidak mau kalah."
"Saya anggap itu sebagai pujian, Mrs. Hana," jawab Alessia dengan senyum kemenangan yang paling cantik.
Begitu pintu ruang rapat tertutup dan Mrs. Hana pergi dengan wajah yang jauh lebih tenang, suasana di koridor kantor mendadak berubah. Nathaniel berhenti melangkah, membuat Alessia hampir menabrak punggung tegapnya.
Pria itu berbalik, menatap Alessia dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Apa?" tanya Alessia, sedikit gugup karena mentornya itu hanya diam. "Aku melakukan kesalahan? Tadi itu berhasil, kan?"
Nathaniel melangkah satu tapak lebih dekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Alessia bisa mencium aroma maskulin yang menenangkan dari jas pria itu. Nathaniel menunduk sedikit, menyejajarkan wajahnya dengan Alessia.
"Berisiko," gumam Nathaniel rendah. "Sangat berisiko, Nona Sinclair. Jika dia tersinggung, kita kehilangan kontrak sepuluh tahun."
"Tapi dia tidak tersinggung, kan?" tantang Alessia, meski jantungnya mulai berdegup kencang karena posisi mereka yang terlalu dekat.
"Keberuntungan tidak akan selalu ada di pihakmu," ucap Nathaniel pelan, suaranya kini tidak sedingin tadi. "Tapi... untuk hari pertama, kamu tidak mengecewakan."
Setelah mengatakan itu, Nathaniel langsung berbalik dan berjalan pergi dengan langkah lebar.