NovelToon NovelToon
Kuroda-san No Himitsu

Kuroda-san No Himitsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:89
Nilai: 5
Nama Author: virgilius theodoro

menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 20

BAB 20: Tanda Merah di Balik Kerah Kaku

Fajar di Paris menyelinap malu-malu melalui celah tirai beludru, menyentuh sisa-sisa badai gairah yang baru saja berlalu di kamar penthouse itu. Setelah kepergian Hana yang sunyi bersama Yoto, Aurelius tidak langsung kembali ke dunianya yang kaku. Ia berdiri mematung di tengah ruangan, menghirup sisa aroma melati dan hujan yang tertinggal di bantal, sebuah kenangan fisik yang lebih nyata daripada ribuan dokumen saham di mejanya.

Ia melangkah menuju kamar mandi utama yang berlapis marmer Carrara putih. Air panas menyembur dari shower emas, membasuh sisa keringat dan rindu yang membekas di kulitnya. Aurelius memejamkan mata, membiarkan uap panas menyelimuti tubuhnya. Ia merasa hidup kembali. Selama berbulan-bulan di Berlin, ia merasa seperti mesin yang dipaksa bekerja tanpa pelumas, kering dan nyaris pecah. Namun semalam, Hana telah menghidupkan kembali percikan api di dalam dirinya.

Selesai mandi, Aurelius memilih pakaiannya dengan hati-hati. Ia menanggalkan kemeja formal dan dasi sutra yang mencekik. Sebagai gantinya, ia mengenakan turtleneck berbahan kasmir berwarna hitam pekat yang dipadukan dengan celana kain berpotongan modern dan jaket panjang trench coat berwarna abu-abu gelap. Ia terlihat santai, modis, namun tetap memancarkan aura otoritas yang tak tergoyahkan.

Aurelius menatap cermin untuk menyisir rambut wolf cut-nya yang sedikit basah. Ia tersenyum tipis melihat pantulan matanya yang kini kembali memiliki cahaya. Namun, ia terlalu fokus pada binar matanya hingga ia tidak menyadari sebuah tanda di sisi lehernya, tepat di bawah rahang. Sebuah tanda kemerahan yang jelas—hickey yang ditinggalkan Hana dalam puncak gairah mereka semalam. Tanda itu sebagian tertutup oleh kerah turtleneck-nya, namun setiap kali ia menggerakkan kepala, bercak merah itu akan mengintip dengan nakal.

"Siapkan mobil, Yoto. Kita kembali ke Kediaman Hohenzollern di Paris," ucap Aurelius melalui interkom.

Kediaman utama keluarga Hohenzollern di Paris adalah sebuah Hôtel Particulier abad ke-18 yang megah di kawasan Place des Vosges. Saat limosin Aurelius memasuki gerbang, suasana terasa tegang. Para pelayan membungkuk lebih rendah dari biasanya, menyadari bahwa sang pewaris tunggal telah kembali setelah "menghilang" semalam.

Di ruang tamu utama yang berlangit-langit tinggi dengan lukisan fresco klasik, Sophia sudah menunggu. Ia duduk di kursi louis xv, mengenakan gaun pagi berbahan sutra merah yang tajam. Wajahnya cantik, namun matanya yang jeli menyiratkan kecurigaan yang mendalam.

Saat Aurelius melangkah masuk, Sophia segera berdiri. Ia tertegun sejenak. Ia terbiasa melihat Aurelius yang muram, lelah, dan dingin selama di Berlin. Namun pria yang berdiri di depannya sekarang tampak berbeda. Kulitnya tampak lebih segar, langkahnya lebih ringan, dan ada energi bugar yang terpancar dari tubuhnya seolah ia baru saja mendapatkan hadiah paling berharga di dunia.

"Kau pulang, Aurelius," suara Sophia manis, namun mengandung racun yang tersembunyi. "Aku mencarimu semalam setelah kau pamit tidur. Pelayan bilang kau tidak ada di kamarmu."

Aurelius berjalan melewati Sophia menuju meja bar mini untuk menuangkan air mineral. "Aku butuh udara segar. Paris terlalu indah untuk dihabiskan hanya dengan tidur, bukan?"

Sophia mendekat, langkah sepatunya berbunyi ritmis di atas lantai kayu ek. "Kau terlihat sangat... bugar pagi ini. Apakah jalan-jalan malammu begitu menyenangkan?"

Sophia berdiri tepat di samping Aurelius, mencoba menghirup aroma tubuh tunangannya. Ia tidak mencium bau bensin atau wiski. Ia mencium aroma sabun hotel mewah dan... sesuatu yang feminin. Sangat samar, namun cukup untuk membuat naluri kewanitaannya berteriak.

Tiba-tiba, Aurelius menoleh untuk meletakkan gelasnya. Gerakan lehernya membuat kerah turtleneck-nya bergeser.

Mata Sophia membelalak. Di sana, di atas kulit putih Aurelius, sebuah bercak merah keunguan terlihat sangat kontras. Itu bukan luka gores, bukan pula alergi. Itu adalah tanda kepemilikan.

"Apa itu?" Sophia bertanya, suaranya naik satu oktav. Jarinya menunjuk dengan gemetar ke arah leher Aurelius. "Ada tanda merah di lehermu, Aurelius!"

Aurelius secara naluriah menyentuh lehernya. Ia merasakan sedikit perih di sana. Dalam sekejap, ia menyadari apa yang terjadi. Namun, wajahnya tidak berubah. Ia tetap tenang, sedingin es yang tidak bisa retak.

"Ini? Hanya gigitan serangga di balkon hotel," jawab Aurelius datar. Ia menarik kerah kemejanya lebih tinggi untuk menutupi tanda itu.

"Gigitan serangga?!" Sophia tertawa histeris, tawa yang penuh dengan kecemburuan yang membakar. "Jangan membodohiku! Aku tahu persis apa itu! Kau menghabiskan malam dengan wanita itu, bukan? Gadis Jepang itu! Hana Asuka!"

Aurelius menatap Sophia dengan tatapan yang bisa membekukan darah siapa pun. "Kau mulai berhalusinasi, Sophia. Cemburu membuat kecantikanmu memudar."

"Aku tidak berhalusinasi!" Sophia berteriak, wajahnya yang cantik kini memerah karena amarah. "Kau mengabaikanku di pesta, kau memperlakukanku seperti hiasan, lalu kau pergi menemui jalang itu dan kembali dengan tanda memalukan ini di tubuhmu? Kau adalah tunanganku! Nama Hohenzollern dan Sophia sedang dipertaruhkan!"

Aurelius melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka hingga Sophia terpaksa mundur satu langkah. Tekanan udara di ruangan itu mendadak menjadi sangat berat.

"Dengarkan aku baik-baik, Sophia," suara Aurelius rendah, hampir seperti bisikan iblis. "Hubungan kita adalah transaksi. Kau mendapatkan namaku, aku mendapatkan akses perbankanmu. Jangan pernah mencampuri urusan pribadiku, dan jangan pernah menyebut Hana dengan sebutan rendah seperti itu lagi. Jika kau melakukannya, aku tidak keberatan menghancurkan penggabungan aset ini sekarang juga dan membiarkan keluargamu bangkrut sendirian."

Sophia terpaku. Ia melihat kegelapan yang murni di mata Aurelius. Ia menyadari bahwa pria ini tidak hanya mencintai Hana, tapi ia siap membakar dunia demi melindunginya.

"Kau... kau gila," bisik Sophia dengan air mata kemarahan yang mulai mengalir.

Aurelius mengabaikannya. Ia berbalik dan berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Sophia yang terus memaki dan mengecoh di tengah ruangan besar itu. Suara teriakan Sophia hanya terdengar seperti kebisingan angin bagi Aurelius.

Di sisi lain Paris, di sebuah butik mewah di kawasan Champs-Élysées, Hana sedang mencoba sebuah setelan jas wanita berwarna putih tulang. Ia melihat dirinya di cermin, dan tanpa sadar menyentuh bibirnya yang masih sedikit bengkak.

Tiba-tiba, asistennya masuk dengan wajah cemas. "Nona Hana, ada kiriman bunga dari seseorang yang tidak mencantumkan nama. Tapi mawar-mawar ini... semuanya dicat hitam dengan tinta emas."

Hana tersenyum. Mawar hitam dengan tinta emas adalah kode rahasia yang pernah ia diskusikan dengan Ren di bengkel dulu. Itu adalah bunga yang mustahil ada di alam, melambangkan cinta mereka yang menentang logika.

Hana mengambil salah satu mawar dan mencium aromanya. Di dalam kelopak bunga itu, ada sebuah kartu kecil dengan tulisan tangan yang ia kenal:

"Tanda di leherku hari ini adalah saksi bahwa aku milikmu. Biarkan mereka curiga, biarkan mereka marah. Karena saat badai ini berakhir, hanya kau yang akan berdiri di sampingku di takhta ini. Teruslah berlari, Ratu-ku."

Hana melipat kartu itu dan menyimpannya di dalam sakunya. Ia menatap pantulannya di cermin dengan kekuatan baru. Jika Aurelius berani memakai "tanda" darinya di depan seluruh keluarga Hohenzollern, maka ia juga harus berani menghancurkan segala rintangan yang ada di depannya.

"Sarah," panggil Hana pada asistennya. "Batalkan agenda belanja hari ini. Hubungi tim hukum kita. Aku ingin mempercepat akuisisi saham anak perusahaan Hohenzollern di Asia. Jika Aurelius sedang menyerang dari dalam di Eropa, maka aku akan menyerang dari luar di Timur."

Perang telah bergeser dari ranjang hotel menuju meja perundingan global. Namun bagi mereka berdua, setiap langkah strategi yang diambil adalah sebuah surat cinta tersembunyi yang hanya bisa dibaca oleh satu sama lain. Di balik kemarahan Sophia dan kedinginan Maximilian, dua hati ini sedang merajut jaring yang akan menjerat musuh-musuh mereka dalam kehancuran yang indah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!