Di dunia ini, ada aturan yang tidak tertulis namun absolut: Terang tidak akan pernah bisa bersatu dengan gelap, dan nyawa seorang mafia tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu keluarganya.
Bagi Kaelan, aturan itu adalah kutukan.
Di dalam ruang rapat utama kediaman klan, yang dihiasi lampu gantung kristal senilai ratusan juta, udara terasa mencekik. Lima pria tua dengan jas rapi duduk mengelilingi meja mahoni panjang. Mereka adalah para Tetua—urat nadi dari bisnis gelap yang Kaelan pimpin. Di atas meja, tergeletak sebuah foto wanita bergaun sutra merah dengan senyum anggun yang memuakkan.
"Isabella dari klan Vivaldi. Cantik, penurut, dan yang paling penting... dia akan memperkuat aliansi bisnis senjata kita di Eropa, Kaelan," ucap salah satu Tetua dengan suara seraknya yang penuh tuntutan. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Tidak ada penolakan."
Kaelan bersandar di kursi kebesarannya. Mata elangnya menatap foto itu d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saerin853, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Malam itu, setelah kekacauan di jalanan berhasil dibereskan oleh anak buah Kaelan dan polisi yang disuap tutup mulut, suasana penthouse terasa mencekam.
Anya duduk di sofa ruang tengah, mengompres lututnya yang sedikit memar akibat melompat di atas kap mobil. Ia terus melirik ke arah pintu ruang kerja Kaelan yang tertutup rapat sejak tiga jam lalu. Tidak ada suara, tidak ada makian, hanya keheningan yang menyesakkan.
Di dalam ruang kerja yang temaram, Kaelan duduk bersandar di kursi kulitnya, mencengkeram erat pinggiran meja mahoni hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi dahi dan lehernya. Napasnya memburu, tidak teratur.
Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan van hitam dan rentetan tembakan tadi sore kembali berputar bagai kaset rusak. Namun, wajah yang ia lihat bukanlah wajah Anya.
Melainkan wajah ibunya.
Dua puluh tahun yang lalu. Hujan deras. Sebuah mobil sedan yang terbalik. Darah yang mengalir di aspal. Kaelan kecil, yang saat itu baru berusia delapan tahun, hanya bisa menangis melihat tubuh ibunya terbujur kaku setelah diberondong peluru oleh klan musuh. Dan hari ini, bayangan kehilangan orang yang berharga itu nyaris terulang kembali di depan matanya sendiri.
"Argh!" Kaelan mengerang tertahan, menyapu bersih tumpukan dokumen di atas mejanya dengan satu sapuan kasar. Kertas-kertas beterbangan memenuhi lantai.
Kepalanya berdenyut hebat. Rasa sakit yang tajam menusuk pelipisnya. Trauma masa lalu yang selama ini ia kubur dalam-dalam di balik tembok es ketegasannya, kini meronta keluar, dipicu oleh ketakutan luar biasa bahwa ia akan kehilangan Anya. Preman pasar cerewet yang entah sejak kapan telah mengisi ruang kosong di dadanya.
Pintu ruang kerja perlahan berderit terbuka.
Anya melongokkan kepalanya ke dalam, wajahnya memancarkan kekhawatiran yang jarang ia perlihatkan. "Hei, Bos Es. Kau belum keluar sejak tadi. Kau... baik-baik saja?"
Anya melangkah masuk dengan hati-hati, menghindari kertas-kertas yang berserakan. Saat ia melihat wajah Kaelan, langkahnya terhenti. Pria perkasa yang selalu tampil sempurna itu kini terlihat sangat berantakan, pucat pasi, dan seolah sedang bertarung dengan iblis tak kasatmata.
"Kaelan!" seru Anya, berlari menghampiri pria itu. Ia menyentuh bahu Kaelan, namun pria itu tersentak dan menepis tangannya dengan kasar.
"Jangan sentuh aku," desis Kaelan, suaranya parau dan bergetar. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangannya yang gemetar. "Keluarlah, Anya. Tinggalkan aku sendiri."
Anya, yang keras kepala, tentu saja tidak menuruti perintah itu. Ia justru menarik kursi dan duduk tepat di hadapan Kaelan. Preman pasar ini mungkin tidak paham tata krama, tapi ia sangat paham apa itu rasa sakit.
"Aku tidak akan ke mana-mana," ucap Anya tegas. "Kau pucat sekali, Kaelan. Kau sakit? Perlu kupanggilkan dokter atau semacamnya? Atau kau pusing karena hidung anak buah Paman Arthur tadi kupatahkan dan biayanya mahal?"
Kaelan perlahan mengangkat wajahnya. Ia menatap Anya lekat-lekat. Gadis itu utuh. Tidak berdarah, tidak terluka parah. Kaelan menarik napas panjang, mencoba mengusir bayangan kelam di kepalanya. Ia tidak akan membiarkan sejarah terulang. Tidak akan.
Tiba-tiba, Kaelan berdiri, auranya kembali mengeras, meski wajahnya masih memancarkan kelelahan yang luar biasa.
"Berkemaslah," perintah Kaelan singkat, berbalik membelakangi Anya dan menatap pemandangan kota dari jendela kaca besar.
Anya mengerutkan kening. "Hah? Berkemas? Mau ke mana malam-malam begini? Ke pasar malam?"
"Bawa pakaian secukupnya. Dan jangan banyak tanya. Kita akan pergi jauh dari kota ini untuk sementara waktu," nada Kaelan mutlak, tidak menerima bantahan.
"Tunggu, tunggu," Anya berdiri, berkacak pinggang. "Kau aneh sekali malam ini. Tadi siang kau menyuruhku melawan pembunuh bayaran, lalu tiba-tiba memelukku di tengah jalan seperti orang gila, sekarang kau menyuruhku berkemas? Jelaskan dulu kita mau ke mana, Tuan Mafia!"
Kaelan berbalik, melangkah maju hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Ia menunduk, menatap dalam-dalam ke mata cokelat Anya. Ada keputusasaan dan dominasi yang campur aduk dalam tatapannya.
"Jika kau ingin tetap hidup, dan jika kau ingin aku tidak membunuh Arthur malam ini juga yang akan memicu perang saudara di klan..." suara Kaelan merendah, sangat pelan, namun bergetar hebat. "Turuti saja perintahku, Anya. Kumohon."
Kata 'kumohon' dari mulut seorang Kaelan Obsidian adalah sebuah anomali. Sesuatu yang sangat langka hingga membuat Anya terdiam membeku. Ia bisa melihat ketakutan yang disembunyikan pria itu. Ketakutan akan keselamatannya.
Anya akhirnya menghela napas pasrah, mengusap tengkuknya dengan canggung. "Baiklah, baiklah. Berapa lama kita pergi? Aku harus bawa celana training berapa potong?"
"Bawa pakaian musim panas. Kita akan pergi ke pulau pribadiku," jawab Kaelan, wajahnya sedikit melunak.
"Pulau pribadi?" Rahang Anya nyaris jatuh. "Wow. Kalian orang kaya benar-benar tidak masuk akal."
Satu jam kemudian, Anya mendapati dirinya duduk terpaku di kursi kulit empuk di dalam sebuah pesawat jet pribadi yang mewah. Interiornya didominasi kayu mahogany dan aksen emas. Ada pramugari pribadi yang menyajikan sampanye mahal—yang langsung ditolak Anya karena ia lebih memilih es teh manis.
Di seberangnya, Kaelan duduk bersandar sambil memejamkan mata. Wajahnya masih terlihat lelah, tapi napasnya sudah kembali teratur.
"Jadi," Anya memecah keheningan, memandang keluar jendela pesawat yang hanya menampilkan kegelapan malam. "Pulau pribadi ini... ada Wi-Fi-nya, kan? Aku belum menamatkan drakor yang kutonton kemarin."
Kaelan membuka sebelah matanya, mendengus pelan melihat tingkah ajaib istrinya. Di tengah situasi hidup dan mati, yang dipikirkan gadis ini hanyalah drama Korea.
"Ada. Dan ada pantai pribadi, pelayan pribadi, dan tidak ada Arthur," jawab Kaelan.
Anya tersenyum lebar, menyandarkan kepalanya di kursi yang sangat nyaman itu. "Bagus. Sepertinya liburan kontrak satu miliar ini tidak terlalu buruk."
Pesawat pribadi itu membelah awan malam, membawa mereka menjauh dari intrik berdarah kota, menuju sebuah surga tersembunyi di mana mereka hanya akan berdua. Namun, baik Kaelan maupun Anya belum menyadari bahwa pelarian ini akan menguji batas antara sandiwara kontrak dan perasaan mereka yang sesungguhnya.