Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.
Dihina. Ditolak. Dilupakan.
Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.
Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.
Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.
Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?
Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:
Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.
Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Misteri Akik Biru
Tanpa berpikir panjang, Siman bangkit dan bergegas masuk ke dalam rumah. Langkahnya ringan, seperti ingin segera memenuhi permintaan si nenek. Hanya butuh beberapa detik baginya untuk mencapai dapur, mengambil gelas kosong, dan mengisi air dari teko. Jantungnya masih berdebar, sedikit bertanya-tanya tentang apa yang baru saja terjadi.
Begitu gelas terisi penuh, ia berbalik, dan dengan langkah sigap kembali ke teras. Di luar, hujan mulai mereda, menyisakan jejak basah dan aroma sejuk. Senja semakin merambat naik, mengganti rona oranye dengan warna ungu kelam.
"Ini, Nek airnya," ucap Siman sambil menyodorkan gelas berisi air. Namun, tidak ada sahutan. Keheningan aneh menelannya. Kerongkongannya tercekat.
Bangku di teras, yang sedetik lalu diduduki oleh nenek misterius itu, kini kosong. Bahkan tidak ada jejak basah di permukaannya. Tidak ada rempah yang berceceran. Seolah nenek itu tidak pernah ada. Siman mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dari ujung jalan becek hingga balik pohon asem tua. Kosong. Bahkan bayang-bayang nenek itu lenyap, hilang secepat kilat. Ia tidak terlihat di mana pun. Padahal, hanya dalam hitungan beberapa detik Siman meninggalkannya. Hanya untuk mengambil segelas air.
Tangannya lemas. Gelas air putih yang dipegangnya terjatuh, pecah membentur lantai teras dan memercikkan sisa airnya. Hati Siman berdegup kencang, kali ini bukan karena ancaman penggusuran atau kenangan buruk tentang Dina, melainkan oleh perasaan kaget yang murni. Keheranannya bercampur dengan semacam ketakutan.
Bulu kuduknya meremang. Apa yang sebenarnya baru saja terjadi? Mungkinkah itu hanya ilusi? Halusinasi? Siman mencubit tangannya kuat-kuat, memastikan dirinya terjaga. Sakit.
Ia menunduk, matanya menatap akik biru laut yang masih digenggam erat dalam kepalan tangannya. Benda itu kini terasa sedikit lebih hangat, berdenyut pelan, seperti makhluk hidup yang bernapas. Warnanya yang tadinya terlihat biru laut biasa, kini memancarkan cahaya redup, seolah memiliki kehidupan sendiri di tengah senja yang gelap. Semuanya terasa mustahil, tak masuk akal.
Angin berembus pelan, menerbangkan beberapa helai daun kering. Suara adzan magrib berkumandang dari mushola di kejauhan, menampar kesadaran Siman yang masih diliputi kebingungan.
Akik itu tahu pemilik sejatinya, dan dia akan menuntun pemiliknya. Bukan untuk jalan pintas, tapi sebagai penuntun untuk melewati badai dan terowongan takdir.
Suara nenek itu terngiang-ngiang di kepalanya, bercampur dengan gambaran lenyapnya wanita tua itu dari pandangannya. Apakah ini sebuah lelucon? Sebuah sihir? Siman mendapati dirinya tersentak kaget dengan denyutan tak terduga yang ia rasakan pada akiknya. Denyutan yang tiba-tiba. Siman mencengkeram erat akik itu. Rasa takut yang misterius menjalar di dadanya.
"Aku… aku harus apa sekarang?" ucap Siman, berbisik pada dirinya sendiri, sambil menatap akik biru laut itu lekat-lekat.
"Apa yang harus aku lakukan padamu?"
*
Pekatnya malam memeluk Siman. Tubuhnya terasa lemas setelah nenek itu raib seolah ditelan bumi, meninggalkan secangkir air yang pecah dan akik biru laut yang kini seperti menempel di genggamannya. Ada getaran aneh yang berulang, menjalar dari benda dingin nan eksotis itu hingga ke hatinya. Pertanyaan “Apa yang harus aku lakukan padamu?” terus menggema, namun tidak ada jawaban, hanya desiran angin yang semakin memperdalam kebingungannya.
Ia akhirnya memutuskan masuk ke dalam rumah. Akik itu diselipkan di balik kantong celana jeans lusuhnya, menempel dekat kulitnya, berdenyut pelan di sana sepanjang malam. Pikiran Siman melayang ke mana-mana; kebayangan nenek misterius, aroma rempah yang tertinggal di udara, dan kini, denyutan kecil yang tak henti dari benda asing yang menjadi satu-satunya 'hadiah' atas kebaikan tak seberapa yang telah ia lakukan. Tidurnya tak nyenyak. Bahkan ia tak bisa memejamkan mata sampai adzan subuh kembali membangunkan seluruh warga permukiman padat itu.
Pagi berikutnya, sama saja. Bapak dan Ibunya sudah di dapur, aroma minyak jelantah kembali menguar dari penggorengan. Ancaman penggusuran kemarin masih terbayang-bayang di benaknya, tetapi sebuah tugas harus diemban: mencari nafkah. Saat Siman akan mengenakan kembali celana kerjanya, tangannya tanpa sadar merogoh saku, tempat akik itu bernaung. Ada tarikan aneh untuk mencobanya. Bukan, bukan ingin langsung percaya pada ‘kekuatan’ takhayul seperti yang disindir Bapaknya dulu. Ini lebih karena rasa penasaran, seperti seorang anak kecil yang ingin mencoba baju baru. Ia lantas mengenakan akik berbentuk cincin itu di jari manis kirinya yang terasa agak longgar, karena jemarinya yang memang kurus.
Perasaannya, yang selalu pesimis dan sinis, menertawakan tindakannya sendiri. Masa iya batu begini bisa bawa keberuntungan? Ini cuma konyol. Tetapi, ia memutuskan untuk mencobanya. Siapa tahu.
Keluar dari rumah reyot, suasana pasar tumpah sudah hidup, tapi Siman memutuskan mengambil jalan memutar, jalan yang lebih sepi yang sering ia gunakan untuk menembus ke terminal angkot terdekat. Aroma sampah dan debu di jalan setapak yang biasa ia lewati masih menyambutnya, tak ada yang berbeda. Angin pagi masih membawa hawa dingin menusuk tulang. Keringat masih menetes. Rasa cemas dan gelisah akan mencari nafkah hari ini masih membebani pikirannya, dan akik di jarinya terasa tak berdaya mengubah apa pun. Cincin itu justru terasa begitu dingin.
Langkah kakinya terseret pelan, mengamati bebatuan kerikil di sepanjang jalan, mengenyahkan angan-angan kosong. Mungkin ia harus pergi ke toko Pak Haji, toko kelontong di seberang sana. Barangkali ada tumpukan karung beras yang perlu diangkat. Penghasilan hari itu, bagaimanapun, tetap harus didapatkan.
Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti. Di balik seonggok batu besar yang sering ia injak, mata Siman menangkap sesuatu yang berkilau. Warnanya kuning kusam, memudar oleh tanah basah. Itu… seperti karung goni kecil, yang diikat rapi. Iseng saja, Siman mencungkilnya dengan ujung sepatu. Gerakannya membuat batu yang menutupi karung itu sedikit bergeser.
Kriing! Krooong! Cring!
Suara gemerincing keras membuyarkan keheningan pagi. Siman membeku di tempatnya. Karung goni itu terbuka, menumpahkan isinya. Seketika, ratusan keping uang koin berhamburan, memenuhi celah bebatuan dan jalan setapak. Bukan cuma koin seratusan, tapi juga dua ratusan, lima ratusan, bahkan ribuan rupiah. Matanya terbelalak.
Siman memandang sekeliling, berharap ada seseorang yang juga mendengar, atau siapa tahu pemiliknya sedang mencarinya. Namun, jalanan itu sepi. Sepi sekali, kecuali deru suara motor yang berjarak ratusan meter dari dirinya.
"Ini... apa ini?" gumam Siman, tak percaya. Ini terlalu banyak koin. Terlalu banyak untuk sekadar "kebetulan". Uang sebanyak ini, setidaknya bisa untuk makan seminggu, bahkan dua minggu!
Siman jongkok perlahan, gemetar, dan mulai mengumpulkan koin-koin yang berserakan itu. Rasa ragu bercampur takut menyergapnya. Siapa yang punya uang sebanyak ini? Tapi anehnya, tak ada siapa pun di sana. Apa ini juga 'hadiah' dari akik?
Tangannya yang kurus meraih goni kecil itu, memasukinya satu per satu. Ia berusaha rasional. Ini mungkin punya seseorang yang terjatuh tanpa disadari. Bisa saja.
***